Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Harga Sebuah Panggung
Bella memilih kafe kecil di Darmo yang tidak menyediakan ruang privat.
"Kalau ada banyak orang, Reno tidak akan berani membuat keributan," katanya ketika Arya duduk di seberangnya.
Pagi baru lewat pukul sembilan. Kafe itu dipenuhi pekerja dengan laptop, aroma kopi, dan bunyi sendok beradu dengan cangkir. Bella memakai kacamata hitam besar meski mereka duduk jauh dari jendela. Rina, manajernya, berada dua meja di belakang sambil mengawasi pintu.
Arya datang tanpa Anindya. Bukan karena ia menyembunyikan pertemuan itu. Sebelum berangkat, ia sudah menunjukkan pesan Bella dan lokasi kafe kepada istrinya.
"Kamu punya waktu lima belas menit," kata Arya. "Mulai dari hal yang membuatmu takut."
Bella melepaskan kacamatanya. Bekas kebiruan tipis tampak di bawah lapisan riasan dekat pelipis.
"Aku jatuh di kamar mandi."
"Kalau kamu ingin saya percaya kebohongan, pilih yang lebih baik."
Bella menunduk. Kedua tangannya memeluk cangkir yang belum disentuh.
"Reno tidak selalu memukul," katanya. "Kadang dia cuma membanting barang. Kadang dia mengunci pintu dan mengambil teleponku sampai aku minta maaf. Dia bilang aku tidak tahu berterima kasih."
"Untuk apa?"
"Proyek comeback."
Kontrak baru Bella memberikan album, film pendek, dan kampanye merek nasional. Di depan media, itu tampak seperti kesempatan kedua. Dalam lampirannya, menurut Bella, manajemen baru berhak memilih semua pekerjaan, mengendalikan akun media sosial, memotong penghasilan untuk biaya pemulihan citra, dan memperpanjang kontrak otomatis jika target tertentu tidak tercapai.
"Targetnya mereka yang menentukan," kata Arya.
Bella mengangguk. "Kalau aku menolak satu pekerjaan, target gagal. Kalau target gagal, kontrak diperpanjang dua tahun."
"Siapa yang menyuruhmu menandatangani?"
"Reno dan Pak Hendra. Mereka bilang keluarga Halim sudah membayar utangku."
"Utangmu kepada siapa?"
Bella mengeluarkan sebuah amplop. Di dalamnya ada salinan lembar pembayaran tanpa kepala surat. Nama penerima adalah agensi Jakarta, tetapi pengirimnya sebuah perusahaan yang tidak ia kenal.
"Rina menemukan ini di berkas digital. Beberapa pembayaran datang sebelum aku menyetujui proyek."
Arya memotret dokumen tanpa menyentuh aslinya. "Apakah kamu punya salinan kontrak lengkap?"
"Rina simpan. Mereka menarik berkas dari surelku setelah tanda tangan."
"Jangan bawa ke saya sekarang. Buat salinan di dua tempat dan serahkan satu kepada pengacara independen."
"Kamu tidak mau menolong?"
"Saya sedang menolongmu agar bukti tidak hanya berada pada orang yang mudah dituduh punya dendam kepada mantan istri."
Bella terdiam. Dulu ia akan menyebut jawaban itu dingin. Sekarang ia memandang pintu sebelum berbisik, "Ada orang bernama Andi."
Arya menahan ekspresi.
"Nama lengkap?"
"Aku tidak tahu. Reno memanggilnya Pak Andi. Orang Jakarta. Dia datang malam saat kontrak diperbarui dan bilang proyek ini harus membuat semua orang ingat siapa Bella Anggraini. Uang perpanjangan datang setelah dia bicara dengan Pak Hendra."
"Bagaimana rupanya?"
"Sekitar empat puluh tahun. Kacamata tipis, cincin hitam. Dia tidak pernah mengangkat suara. Reno justru diam kalau dia bicara."
Rina berdiri dari mejanya dan berjalan ke dekat kasir. Ia berpura-pura melihat etalase kue, lalu menyentuh telinganya. Sinyal yang mereka sepakati.
Sebuah SUV hitam berhenti di seberang jalan.
Kacanya terlalu gelap untuk melihat penumpang. Mesin tetap menyala. Pengemudinya tidak turun.
"Apakah mobil itu mengikuti kalian?" tanya Arya.
Bella tidak perlu menoleh. Bahunya langsung menegang. "Sejak tiga hari lalu. Mereka bilang pengawal dari manajemen."
"Dan kamu tidak pernah meminta pengawal."
"Tidak."
Arya mengirim nomor pelat kepada Herman. Balasan datang kurang dari semenit: pelat terdaftar atas perusahaan rental, disewa bulanan oleh vendor acara yang terhubung ke Agensi Trending Nusantara.
Lingkaran itu mengecil.
"Dengarkan," kata Arya. "Jangan pulang sendirian. Jangan menghadapi Reno. Jangan beri tahu siapa pun soal salinan kontrak. Rina harus memindahkan bukti hari ini."
Bella tertawa pendek dan pahit. "Kamu bicara seolah aku saksi perkara besar."
"Kamu mungkin memang begitu."
"Kalau aku keluar, mereka akan menghancurkan karierku lagi."
"Kalau kamu tetap tinggal, mereka akan memastikan karier itu menjadi tali di lehermu."
Bella menatap Arya. "Mudah bagimu bilang begitu. Kamu punya nama Adiwangsa, PE, dan istri yang berdiri di depan kamera membelamu. Aku punya apa?"
"Pilihan untuk berhenti berbohong pada dirimu sendiri. Selebihnya bisa kita bangun dengan bukti dan hukum."
Untuk pertama kalinya pagi itu, Bella menyentuh kopinya. Tangannya masih gemetar.
"Reno pernah bilang aku hanya berguna selama publik kasihan atau membenciku," katanya. "Pak Hendra ingin aku tampil sebagai perempuan yang dibuang pewaris Adiwangsa. Mereka ingin wawancara khusus tentang pernikahanmu."
"Dan kamu setuju?"
"Belum."
Satu kata itu menyimpan rasa malu. Arya tidak menghiburnya.
"Berarti kamu masih punya kesempatan mengatakan tidak."
Ponsel Bella menyala. Nama Reno memenuhi layar. Panggilan pertama dibiarkan mati. Panggilan kedua datang. Lalu pesan masuk: Aku tahu kamu di mana.
Di seberang jalan, lampu depan SUV hitam menyala dua kali.
Rina kembali ke meja. "Kita harus pergi lewat dapur."
Arya berdiri lebih dulu dan meminta pelayan memanggil manajer kafe. Ia tidak akan membuat mereka menyelinap seperti penjahat. Dua kamera keamanan menghadap pintu depan; tempat umum justru memberi mereka perlindungan.
"Rina, bawa Bella pulang ke tempat yang tidak terdaftar atas namanya. Saya kirim pengacara."
"Aku belum bilang aku mau melawan," kata Bella.
"Saya juga belum memintamu melawan. Saya meminta kamu tetap hidup dan memegang bukti sampai berani memilih."
Bella menahan langkah. "Kenapa kamu masih peduli setelah semua yang kulakukan?"
Arya menatapnya tanpa kemarahan lama. "Saya tidak sedang menyelamatkan pernikahan kita. Itu sudah selesai. Saya sedang mencegah orang memakai ketakutanmu untuk melukai lebih banyak orang."
"Termasuk Anindya?"
"Termasuk kamu."
Jawaban itu tidak membawa harapan untuk kembali. Justru karena tidak memberi harapan palsu, wajah Bella runtuh sesaat. Ia mengusap air mata sebelum merusak riasan, lalu memasang kacamata hitam lagi.
Rina meraih siku Bella dengan hati-hati. "Saya pegang tasnya. Mbak jalan di samping saya."
Bella mengangguk. Kali ini, ketika Reno menelepon lagi, ia mematikan ponselnya sendiri dan menyerahkannya kepada Rina untuk dimasukkan ke kantong pelindung sinyal.
Mereka keluar melalui pintu samping bersama manajer kafe. Mobil Rina sudah menunggu di gang. Ketika kendaraan itu bergerak, SUV hitam di depan ikut melaju, lalu berhenti setelah sebuah mobil Herman memotong jalurnya tanpa benturan.
Arya tetap berdiri di trotoar. Melalui kaca gelap, ia merasakan seseorang menatapnya.
Ponselnya bergetar. Kevin mengirim hasil pertama pemeriksaan nama Andi: tidak ada jabatan resmi, tidak ada alamat kantor, tetapi nomor teleponnya pernah aktif di dekat gedung PT NCM pada malam kontrak Bella diperbarui.
Arya memasukkan ponsel ke saku.
Kini perang itu tidak lagi hanya mengetuk layar. Ia sudah memarkir mobil di depan orang yang ingin bicara.