Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Satu jam perjalanan membelah jalanan antarkota, Papa Joni memutuskan untuk langsung mengarahkan kemudi menuju rumah Karno, adiknya.
Rasa ganjal dan kelelahan tak menghalangi niatnya untuk segera menyelesaikan persoalan yang mencoreng nama baik keluarga besar ini.
Mobil berhenti tepat di halaman rumah Karno. Papa Joni dan Ibu turun dari mobil dengan langkah mantap namun tenang.
Karno yang memang sudah menunggu sejak tadi langsung keluar menyambut kedatangan sang kakak dengan raut wajah serba salah dan penuh penyesalan.
"Mas Joni, Mbak, silakan masuk," panggil Karno liris.
Begitu melangkah ke ruang tamu, Papa Joni melirik Mia yang duduk menundukkan kepalanya di pojok sofa.
Wajah keponakannya itu pucat pasih, tak berani sedikit pun mengangkat pandangan untuk menatap mata pamannya.
Di sampingnya, Sari dan ibunya duduk tegang menunggu arah pembicaraan.
Papa Joni mengambil tempat duduk tepat di hadapan Karno dan Mia.
Suasana ruangan seketika menjadi hening dan sangat menekan.
"Karno, Mia," buka Papa Joni dengan suara rendah namun berwibawa, memecah keheningan.
"Aku sengaja langsung ke sini sebelum pulang ke rumah. Aku mau mendengar langsung dari mulut Mia, apa yang sebenarnya terjadi."
Mia makin menunduk dalam, jemarinya meremas kain celananya gemetar.
"Mia," panggil Papa Joni tegas.
"Kenapa kamu tega melakukan ini? Kamu ini punya suami yang begitu bertanggung jawab seperti Narendra, tapi kenapa kamu malah mengejar Gio—suami dari sepupumu sendiri? Kurang apa Naren sama kamu?"
Dengan air mata yang menetes deras, Mia akhirnya membuka suara
"Aku, khilaf, Pakde. Aku tergiur sama janji-janji manis Gio dulu. Aku pikir dia lebih mengerti aku daripada Mas Naren yang sibuk kerja."
"Khilaf kamu bilang?!" potong Sari yang tak tahan mendengarnya.
"Kamu itu bukan cuma merusak rumah tangga kamu sendiri, Dek! Kamu bikin Tiyas masuk rumah sakit, kamu bikin malu Bapak sama Ibu!"
Papa Joni menarik napas panjang, meredam emosinya agar tetap berkepala dingin.
"Nasi sudah menjadi bubur," ujar Papa Joni menatap adiknya, Karno.
"Narendra dan Tiyas sudah resmi bercerai dari pasangan masing-masing. Di Yogyakarta tadi, Narendra sudah melamar Tiyas secara resmi di hadapanku dan istriku. Kami sudah merestui mereka."
Karno dan istrinya terperanjat kaget, sementara Mia mendongak pelan dengan mata membelalak tak percaya.
"Mas, Naren sama Tiyas?" bisik Mia bergetar.
"Iya," tegas Papa Joni.
"Narendra pria bertanggung jawab yang tahu cara menghargai wanita, tidak seperti Gio yang sekarang menelantarkan kamu. Ini keputusan keluarga besar. Jangan ada lagi di antara kalian, terutama kamu Mia, yang mencoba mengganggu kehidupan Tiyas dan Narendra ke depannya. Bapak tidak akan tinggal diam kalau sampai Tiyas tersakiti lagi."
Pak Karno menunduk malu, lalu menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Mas Joni, aku selaku orang tua Mia minta maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan anakku. Aku malu sekali sama Mas Joni dan Tiyas."
"Sudahlah, Kar," balas Papa Joni teduh. "Jadikan ini pelajaran keras buat Mia. Biar dia belajar mandiri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Jangan dimanja lagi."
Rapat keluarga yang berlangsung penuh ketegangan dan rasa haru itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan tegas: keluarga besar Magelang sepenuhnya mendukung hubungan Tiyas dan Narendra, serta memutus segala urusan dengan Gio.
Papa Joni dan Ibu bangkit dari tempat duduk mereka, berpamitan kepada Karno dan istrinya untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Karno mengantarkan sang kakak sampai ke depan pintu dengan kepala menunduk penuh rasa bersalah.
Sementara di ruang tamu, Mia menangis tersedu-sedu, memukuli dadanya yang terasa begitu sesak. Rasa iri dan ketidakadilan membakar hatinya.
"Kenapa harus Tiyas yang selalu bahagia?!" jerit Mia terisak, suaranya melengking menumpahkan segala kekesalan dan penyesalan yang terlambat.
"Kenapa Mas Naren harus sama Tiyas?! Kenapa cuma aku yang hancur di sini?!"
Sari yang berdiri di dekatnya menatap adiknya itu dengan tatapan geram bercampur iba.
"Dek, sadar!" gertak Sari sambil memegang kedua bahu Mia dan mengguncangnya pelan.
"Kamu itu sebelumnya sudah bahagia sama Narendra! Dia kurang apa coba? Mapan, setia, kurang perhatian apa lagi dia sama kamu? Tapi kamu yang menyia-nyiakannya demi Gio, dan sekarang ini yang kamu dapat!"
"Tapi aku nggak terima, Mbak!" ratap Mia makin menjadi.
"Nggak terima gimana?!" potong Sari tegas, tak memberi ruang bagi Mia untuk merasa menjadi korban.
"Ini semua hasil dari kelakuan kamu sendiri! Kamu yang milih menghancurkan rumah tangga kamu, kamu yang milih rebut suami orang. Sekarang begitu Gio buang kamu dan Naren memilih bahagia sama Tiyas, kamu mau menyalahkan siapa lagi? Sadar, Mia, berhenti menyalahkan Tiyas!"
Mia tak mampu membalas kata-kata kakaknya. Ia merosot ke lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Di tengah keheningan rumahnya di Magelang, kejujuran pahit dari ucapan Sari merobek kesadarannya, meninggalkan rasa penyesalan mendalam yang akan menghantuinya sepanjang hidup.
"Sekarang ikut Mbak ke dokter. Mbak mau periksa kandungan. Mas Ferdy masih antar dagangan di Semarang," ucap Sari seraya mengambil tas sandang dan kunci motor di atas meja, berusaha mengalihkan suasana yang semakin keruh.
Mia menganggukkan kepalanya pelan tanpa berani membantah sepatah kata pun.
Ia segera menyapu air matanya dengan punggung tangan, lalu beranjak berdiri mengikuti langkah kakaknya dari belakang.
Ada rasa takut yang amat besar menyusup di relung hati Mia.
Ia sadar betul posisinya saat ini sangat tidak menguntungkan.
Jika sampai ia kembali berulah atau menunjukkan sikap membangkang, ia sangat takut jika Sari atau orang tuanya benar-benar kehilangan kesabaran dan mengusirnya dari rumah.
Di dunia ini, ia sudah tidak punya tempat tinggal maupun pria yang bisa dijadikan sandaran lagi.
Di sepanjang perjalanan menuju klinik kandungan, Mia hanya bisa membisu di jok belakang motor Sari.
Tatapannya kosong menatap jalanan kota Magelang yang ramai.
Angin segar yang menerpa wajahnya sama sekali tak mampu mengusir penyesalan yang terus menggerogoti pikirannya.
Setibanya di klinik, Sari menuntun adiknya untuk duduk di ruang tunggu yang dipenuhi oleh pasangan suami istri yang tampak bahagia menyambut calon buah hati mereka.
Melihat pemandangan itu, dada Mia kian berdenyut nyeri.
Dulu, ia bisa saja berada di posisi sebahagia itu bersama Narendra jika saja akal sehatnya tidak tertutup oleh rasa serakah dan buaian manis Gio.
"Mia, kamu tunggu di sini sebentar ya, Mbak mau daftar dulu," ucap Sari datar.
"Iya, Mbak." jawab Mia lirih, menunduk makin dalam sambil meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.
Mia duduk terdiam di kursi tunggu plastik berwarna biru, memperhatikan ibu-ibu hamil yang didampingi suami mereka dengan penuh kasih sayang.
Ada pria yang membelai lembut perut istrinya, ada yang sibuk menyuapi minuman, dan ada pula yang merapikan rambut istrinya dengan tatapan hangat.
Pemandangan itu seperti sembilu yang menusuk dada Mia secara perlahan.
Bayangan masa lalu mendadak berputar kembali di ingatan.
Dulu, Narendra selalu melakukan hal yang sama padanya.
Menjaga dengan tulus, mengutamakannya dalam segala hal, dan tak pernah biarkan dirinya kesulitan.
Namun, semua kehangatan itu hangus tak berbekas karena kebodohannya sendiri.
"Mia," panggil Sari yang baru saja selesai menyerahkan berkas pendaftaran di loket.
Mia tersentak kaget dari lamunannya. "I-iya, Mbak?"
Sari duduk di samping Mia, menghela napas panjang melihat adiknya yang terus-terusan melamun dengan wajah pucat.
"Kamu jangan melamun terus. Kalau mau ikut Mbak di rumah, kamu harus janji ubah kelakuan kamu. Jangan bikin Bapak sama Ibu kepikiran lagi," ujar Sari dengan nada lebih tenang namun tetap menyiratkan ketegasan.
"Nanti kalau Mas Ferdy sudah pulang dari Semarang, Mbak mau bantu kamu cari pekerjaan serabutan dulu di pasar atau di toko baju temannya Mbak. Yang penting kamu ada kegiatan dan punya penghasilan sendiri."
Mia menoleh perlahan, menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa haru bercampur malu karena di saat ia berada di titik terendah dan dibuang oleh Gio, keluarganya masih mau membantunya walau harus menanggung rasa malu yang besar.
"Iya, Mbak. Mia mau kerja apa saja. Mia minta maaf ya, Mbak," bisik Mia dengan suara bergetar.
Sari mengangguk tipis, menepuk pelan bahu adiknya.
"Bagus kalau kamu sadar. Yang lalu biarlah berlalu. Mulai sekarang kamu fokus tata hidup kamu sendiri, dan jangan pernah usik kebahagiaan Tiyas sama Naren lagi."
Tak lama kemudian, nama Sari dipanggil oleh perawat klinik.
Mia bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Sari masuk ke dalam ruang pemeriksaan, mencoba menerima kenyataan pahit bahwa jalan hidup yang harus ia tempuh mulai hari ini benar-benar dimulai dari nol.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘