Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN BAYANGAN EKSEKUSI
Tiga bulan berlalu semenjak kedatangan Putri Kanya di Kerajaan Solaria. Dalam kurun waktu singkat tersebut, Solaria mengalami masa-masa paling stabil dan sejahtera. Roda perekonomian berputar sempurna, jaringan perdagangan internasional makin meluas, dan sistem keamanan yang dipandu oleh Melodina menjamin tidak ada satu pun percikan perang yang sanggup menembus domain kerajaan.
Selama tinggal sementara di istana, Kanya banyak menghabiskan waktunya bersama Putri Sena. Hari itu, Sena sengaja diminta Alan untuk meliburkan diri dari aktivitas sekolah agar bisa beristirahat di istana.
Di taman utama istana yang membentang indah dengan hamparan rumput hijau dan ribuan bunga sihir yang bermekaran harum, Sena dan Kanya sedang duduk melantai. Sepuluh pelayan istana berdiri siaga di kejauhan dengan sikap penuh hormat, sementara Yumi mendampingi tepat di sisi mereka seraya menyajikan teh hangat dan camilan manis.
Jemari mungil Sena sibuk merangkai tangkai-tangkai bunga menjadi sebuah lingkaran cantik. Dengan senyuman manisnya yang polos, Sena mendongak lalu memahkotai kepala Kanya dengan mahkota bunga ciptaannya.
"Kak Kanya cantik banget pakai mahkota bunga!" seru Sena riang seraya bertepuk tangan kecil.
Kanya tertegun sejenak, meraba lembut mahkota bunga di kepalanya. Di tengah kedamaian Solaria dan gelak tawa Sena, rasa hangat yang belum pernah ia rasakan di Istana Granvalia merayap di dadanya. Ia merasa sangat tenang dan nyaman.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Alan melangkah masuk ke area taman, membuat Yumi dan para pelayan membungkuk hormat.
"Ayah!" panggil Sena riang.
Alan tersenyum, menepuk lembut kepala keponakannya sebelum menatap Kanya secara personal.
"Kanya, bisa kita bicara sebentar?" tanya Alan tenang.
Kanya mengangguk dan berdiri melangkah sedikit menjauh dari Sena.
Alan menatap ke arah garis langit kota seraya bersuara datar. "Sudah tiga bulan kamu berada di sini. Bagaimanapun juga, kamu adalah seorang putri dari Kerajaan Granvalia. Kamu memiliki rakyat dan kewajiban yang ditinggalkan di sana."
Kata-kata Alan meresap dalam ke pikiran Kanya. Ia tahu Alan benar. Merenungkan nasib rakyat Granvalia yang mungkin makin menderita di bawah pemerintahan ayahnya yang diktator, Kanya akhirnya memantapkan hatinya.
Keesokan harinya, sebuah kereta kuda istana telah bersiap di depan gerbang utama. Kanya berdiri mengenakan pakaian bepergian yang rapi untuk berpamitan.
Namun, berpisahnya Kanya tak berjalan mudah. Sena menggenggam erat gaun Kanya dengan mata berkaca-kaca, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Nggak mau... Kak Kanya jangan pergi..." tangis Sena pelan, memanyunkan bibirnya.
Kanya berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Sena lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangatnya. "Sena... nanti kita pasti ketemu lagi, ya? Janji Kak Kanya bakal main lagi sama Sena."
Mendengar janji lembut tersebut, Sena perlahan menyapu air matanya, mengangguk kecil dan melepaskan pegangannya pada gaun Kanya.
Kereta kuda pun mulai meluncur meninggalkan gerbang Solaria membawa Kanya kembali menuju Kerajaan Granvalia.
Tanpa sepengetahuan Kanya, di atas balkon istana, Alan berdiri menyaksikan keberangkatan kereta tersebut. Di sisinya, seorang mata-mata elit bayangan ber-Level tinggi menyatu dalam samar.
"Kawal dia sampai ke Istana Granvalia tanpa terdeteksi," perintah Alan dingin pada mata-mata tersebut. "Jika terjadi sesuatu dan nyawanya terancam, amankan dia dan bawa kembali ke kerajaan ini."
"Pesan Anda adalah perintah mutlak, Tuan Alan!" bisik sang mata-mata bayangan sebelum melesat hilang tanpa jejak.
Beberapa hari kemudian, di ibu kota Kerajaan Granvalia.
Mata-mata elit Solaria telah menyamar sempurna di antara kerumunan penduduk lokal, mengawasi setiap pergerakan Istana Granvalia dari balik bayang-bayang.
Saat Kanya melangkah masuk melewati pintu gerbang kerajaannya dengan niat berdiplomasi, ia tidak disambut dengan kehangatan. Puluhan prajurit berzirah berat langsung mengepungnya, mengarahkan tombak dan memborgol kedua tangannya secara paksa!
Di Aula Utama, Raja Granvalia menatap putrinya dengan tatapan murka dan penuh rasa malu.
"Anak tidak tahu diri!" bentak sang Raja menggelegar di hadapan seluruh menteri. "Kamu kabur berbulan-bulan dan mempermalukan nama kerajaan ini! Dan yang lebih parah... kamu melarikan diri ke Solaria untuk membocorkan seluruh rahasia militer kita!"
Kanya terperanjat, matanya melebarkan rasa tidak percaya. "B-Bercakap apa Ayahanda?! Aku tidak pernah membocorkan rahasia apa pun! Aku hanya—"
"Cukup!" potong sang Raja tanpa ampun. "Hukum mati dia besok pagi di alun-alun kota! Biar seluruh rakyat melihat takdir seorang pengkhianat!"
Kanya ditarik paksa. Ia mencoba melawan dan memohon, namun suaranya diredam oleh kurungan besi penjara.
Keesokan harinya, suasana di alun-alun kota Kerajaan Granvalia dipenuhi ketegangan mencekam. Ribuan penduduk berkumpul menyaksikan panggung eksekusi di tengah kota.
Kanya berlutut di atas panggung kayu dengan kedua tangan terikat rantai besi dan kaki terbelenggu. Kepalanya diletakkan di atas balok eksekusi, sementara di atas tengkuknya, sebuah pisau guillotine raksasa bernoda darah sudah tergantung siap dipotongkan oleh algam istana.
"Ampun... Aku tidak bersalah..." cicit Kanya lirik dengan air mata menetes di balok kayu, pasrah pada takdirnya.
"Laksanakan hukuman!" teriak komandan algojo.
Tali guillotine dilepaskan! Pisau raksasa bermassa ratusan kilogram itu meluncur turun dengan kecepatan tinggi menuju leher Kanya!
Namun, kurang dari satu milidetik sebelum mata pisau menyentuh kulit Kanya...
BRAYYY!
Sebuah kilatan bayangan hitam membelah panggung eksekusi!
CRASHHH!
Pisau guillotine raksasa itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan besi di udara! Dalam hitungan detik yang tak sanggup ditangkap oleh mata telanjang para prajurit maupun rakyat Granvalia, rantai besi di tangan dan kaki Kanya telah terputus sempurna.
Mata-mata elit Solaria telah bergerak. Tanpa membuang waktu sekejap pun, ia menyambar tubuh Kanya yang mendadak pingsan akibat syok, lalu melesat menembus barisan prajurit dan menghilang ke udara seperti asap!
"P-Penyusup! Kakanda Putri diculik!" teriak para pengawal panik, namun panggung eksekusi sudah kosong melompong.
Kembali di Aula Istana Kerajaan Solaria.
Kanya terbaring pingsan di atas sofa empuk istana, dirawat secara medis oleh para pelayan. Di dekatnya, sang mata-mata elit berlutut melaporkan seluruh kronologi kejadian di Granvalia kepada Alan.
[Memulai Sinkronisasi Intelijen dan Analisis Hukum Dunia,] suara Melodina bergema jernih di dalam benak Alan seraya menampilkan skema informasi di layar keemasan.
[Laporan Analisis Melodina:] tutur Melodina memaparkan data. [Kebenaran dari laporan pengintai konfirmasi seratus persen. Putri Kanya dijadikan kambing hitam atas kekalahan militer Granvalia sebelumnya. Tuduhan membocorkan rahasia negara dibuat murni untuk menutup malu Raja Granvalia dan mengeksekusi suara oposisi di kerajaannya.]
Alan menyandarkan tubuhnya di singgasana, menatap sosok Kanya yang masih belum sadarkan diri dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin.
"Mereka hampir membunuh seorang putri yang berusaha menyelamatkan rakyatnya sendiri hanya demi ego..." gumam Alan rendah.
Alan memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan aura penguasa yang sangat dominan.
"Mulai hari ini," ucap Alan tegas menggetarkan udara di aula istana. "Kanya tidak akan pernah kembali lagi ke Kerajaan Granvalia. Tempat ini adalah rumahnya."