Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Kehebohan di Medan Latihan dan Strategi Es Sirup

BAB 16: Kehebohan di Medan Latihan dan Strategi Es Sirup

Di bawah terik matahari siang yang menyengat di area Lapangan Tembak dan Latihan Taktis Batalyon, suasana yang tadinya tegang, kaku, dan penuh kedisiplinan militer mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

Kehadiran Mayang seorang gadis berkacamata tebal yang mengenakan topi rimba kedodoran, kacamata hitam berukuran jumbo, serta mengapit toa pengeras suara kecil berwarna kuning menyala sukses menghentikan ritme latihan lima puluh prajurit yang sedang merayap di atas tanah berlumpur.

"Ayo semangat, Bapak-Bapak Prajurit ganteng!" suara nyaring Mayang membahana lewat toa kecilnya, menggema ke seluruh penjuru lapangan latihan.

"Merayapnya jangan lemas begitu! Anggap saja lumpur itu cokelat lelehan! Ingat, es sirup merah manis dingin dan nasi kotak ayam geprek sudah menunggu di bawah tenda!"

Beberapa prajurit muda yang berada di barisan depan tidak sanggup lagi menahan tawa mereka. Bahu mereka berguncang-guncang menahan geli di atas lumpur.

Bahkan Kapten Yoga yang bertugas mengawasi jalannya latihan di pinggir lapangan terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat memakai papan jalan kayu agar tawanya tidak pecah di hadapan Komandan Batalyon.

Dokter Siska yang berdiri di Pos Kesehatan Utama melangkah keluar dengan raut wajah berlipat amarah.

Pakaian dinas medisnya yang putih bersih tampak begitu kontras dengan debu dan lumpur lapangan latihan.

Dengan langkah kaki kaku berkecepatan tinggi, ia menghampiri Mayang dengan tatapan mata tajam bagaikan pisau bedah.

"Mayang! Kamu ini gila, ya?!" tegur Dokter Siska dengan suara tertahan namun dipenuhi nada intimidasi yang sangat kentara.

"Ini medan latihan taktis militer resmi, bukan pasar kaget atau acara jalan santai! Aksi konyol dan kekanak-kanakanmu ini merusak disiplin prajurit dan mengacaukan simulasi latihan penting!"

Mayang menurunkannya toanya dengan santai, lalu mengetuk-ngetuk bingkai kacamata hitam jumbonya seraya menatap Dokter Siska tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Lho, Dokter Siska yang cantik dan anggun..." jawab Mayang dengan nada suara polos yang dibalut nada menyindir halus, "disiplin militer itu memang penting, tapi stabilitas cairan tubuh dan kebahagiaan batin prajurit itu jauh lebih utama! Cuaca panas mendidih begini, kalau prajurit dehidrasi, lemas, lalu pingsan massal, kasihan kan? Nanti tim medis Dokter Siska juga yang repot mengurusi infus berantakan."

"Tugas menangani dehidrasi dan kesehatan prajurit adalah wewenang mutlak tim medis profesional!" potong Dokter Siska dingin, menepuk logo Korps Kesehatan di dada baju medisnya.

"Warga sipil yang tidak paham pengetahuan medis dilarang keras ikut campur dalam operasional Batalyon!"

Mayang tersenyum semakin lebar, dengan sengaja merapikan letak bros perak ukiran pita pemberian Ibu Diah di dadanya agar berkilat diterpa sinar matahari.

"Wah, Mayang memang tidak paham medis, Dok. Tapi Mayang paham betul kalau es sirup buatan Mayang ini bisa bikin semangat pasukan langsung meroket seratus persen!"

Sebelum Dokter Siska sempat membalas ucapan Mayang, suara dentuman langkah kaki tegap beradu keras dengan tanah kering menyita perhatian seluruh orang di lokasi.

Mayor Aris berjalan mendekat dari arah mimbar pengawas utama.

Pakaian Dinas Lapangan (PDL) hijau zaitun milik sang Mayor basah kuyup oleh keringat, mempertegas postur tubuhnya yang tegap, bidang, dan memancarkan aura ketegasan komando yang sangat dominan.

Dokter Siska seketika merapikan sanggul rambutnya, menegakkan badan, dan mengatur nada suaranya menjadi seprofesional mungkin.

"Mas Aris... maksud saya Mayor Aris, mohon tertibkan warga sipil ini. Dia mengacaukan barikade latihan, membuat bising dengan toa, dan tidak mematuhi protokol keamanan Batalyon."

Namun, Mayor Aris sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kepada Dokter Siska.

Tatapan matanya yang tajam, pekat, dan dalam langsung terkunci sepenuhnya pada sosok Mayang yang berdiri cengengesan di balik topi rimba kedodorannya.

"Mayang," panggil Aris dengan suara bass-nya yang dalam, tegas, dan berwibawa.

"Siap, Mas Mayor Ganteng!" sahut Mayang nyaring sambil memberi hormat militer dengan posisi tangan yang agak miring dan konyol.

Aris melangkah makin mendekat hingga posisi tubuh tegapnya berdiri hanya satu jengkal di hadapan Mayang.

Bukannya marah, menegur, atau memberikan hukuman atas kekacauan tersebut, jemari tangan Aris yang kekar dan berurat justru terulur secara perlahan.

Dengan gerakan yang sangat telaten dan lembut di hadapan puluhan pasang mata, Aris merapikan tali topi rimba Mayang yang agak melintir di dekat leher gadis itu.

Aksi perhatian tak terduga dari Sang Komandan Batalyon yang terkenal dingin dan tanpa kompromi itu seketika membuat seluruh prajurit di lapangan dan staf medis terpaku tak percaya.

Suasana mendadak hening.

"Siapa yang mengizinkan kamu membawa termos es dan kotak berat begini sendirian ke lapangan tembak?" tanya Aris dengan nada suara yang mendadak melunak, dipenuhi rasa khawatir dan perhatian yang tak sanggup ia sembunyikan.

"Mayang diantar Sertu Bambang pakai jeep dinas kok, Mas Mayor!" jawab Mayang ceria sambil mengedipkan matanya di balik kacamata hitam.

"Mayang tidak tega membayangkan Mas Aris dan para prajurit latihan berpanas-panasan sampai gosong di bawah matahari terik begini. Makanya Mayang inisiatif meracik es sirup dingin spesial!"

Aris memutar tubuhnya sedikit, menatap Kapten Yoga yang masih berdiri kaku di pinggir lapangan. "Yoga!"

"Siap, Mayor!" Yoga langsung berdiri dengan posisi siap sempurna.

"Perintahkan seluruh anggota untuk istirahat di tempat selama dua puluh menit. Bagikan es sirup dan bekal dari Mayang ini ke seluruh pasukan!" perintah Aris lantang dan tegas.

"Siap, laksanakan Mayor!" seru Kapten Yoga gembira. Tanpa menunggu lama, Yoga langsung berbalik menghadapi para prajurit.

"Seluruhnya... istirahat di tempat, gerak! Mari kita serbu es sirup Mbak Mayang! Horeee!"

"Horeee! Terima kasih, Mbak Mayang! Terima kasih, Komandan!" sorak puluhan prajurit bergemuruh gembira.

Mereka langsung membubarkan barisan merayap dan berlarian menuju tenda dengan wajah berseri-seri.

Dokter Siska terperangah di tempatnya berdiri. Wajah cantiknya memerah padam menahan rasa malu, marah, dan keheranan yang luar biasa.

"Mayor Aris! Ini jelas melanggar alokasi waktu dan efisiensi alur latihan taktis!"

Aris memutar tubuhnya penuh, menatap Dokter Siska dengan pandangan mata yang sangat dingin, lurus, dan berwibawa khas seorang pimpinan tertinggi satuan.

"Dokter Siska," ujar Aris dengan suara berat yang menekan, "sebagai Komandan Batalyon di sini, saya yang memegang kendali dan wewenang penuh atas kondisi fisik maupun mental pasukan saya. Dukungan moral, perhatian tulus, dan kehadiran dari calon istri saya adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh Batalyon ini. Harap kembali ke pos medis Anda jika tidak ada situasi darurat medis yang perlu ditangani."

Kata-kata tegas nan menohok dari Mayor Aris bagaikan pukulan telak yang meruntuhkan seluruh gengsi dan kesombongan Dokter Siska.

Tanpa sanggup membantah sepatah kata pun, Dokter Siska menghentakkan kakinya dan berbalik cepat melangkah kembali ke pos medis dengan gigi gemeletuk menahan amarah yang membakar dada.

Mayang tertawa kecil, lalu dengan manjanya melingkarkan jemari tangannya di lengan kekar Aris yang terbungkus kain seragam PDL basah.

"Terima kasih banyak ya, Mas Mayor... selalu pasang badan paling depan buat membela Mayang."

Aris menunduk, melirik jemari mungil Mayang di lengannya.

Sudut bibir sang Mayor terangkat membentuk senyuman tipis nan menawan yang sangat langka. Ia lalu menundukkan kepala, berbisik pelan dan hangat tepat di dekat telinga Mayang:

"Bukan cuma pasang badan, Mayang. Selama saya masih bernapas dan memimpin Batalyon ini, tidak akan ada satu orang pun siapa pun dia yang boleh membuat kamu merasa tidak dihargai."

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!