Indonesia
NovelToon NovelToon
Dituduh Lintah Darat, Aku Bangun Kerajaan Anggur

Dituduh Lintah Darat, Aku Bangun Kerajaan Anggur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menjadi Pengusaha / Bertani
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: KOHAPU

“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”

Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.

“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”

“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.

Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.

Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…

Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."

Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Lumbung Emas

Desa lumbung emas adalah tempatnya memijakan kaki saat ini.  Pemuda yang baru saja turun dari mobil pick up miliknya. 

Sedangkan ayah dan ibunya turun dari mobil yang terpisah. Dirinya sudah membeli rumah di tempat ini. Sebuah rumah siap huni, walaupun mereka tidak bisa pilih-pilih mengingat kedua orang tuanya yang pindah mendadak. 

Desa Makmur tidak aman lagi untuk mereka. Tristan menyadari hal itu lebih cepat, sifat warga yang serakah dan mudah terprovokasi adalah penyebabnya.

“Ayah dan ibu pelan-pelan…” ucapnya penuh senyuman, ketika membimbing ayah dan ibunya masuk ke dalam rumah. 

Rumah yang tidak begitu besar juga tidak begitu kecil. 

Sang ayah meraih handphone Android miliknya, duduk di kursi kayu rumah baru mereka. Pria yang terdiam, menatap ke arah media sosial milik salah satu keluarganya. Disana terpampang jelas rumahnya yang sudah hancur berantakan.

Air matanya mengalir di wajah keriputnya. Rumah yang dibangunnya susah payah, kini rata dengan tanah, hanya tersisakan arang dan abu. 

Tristan yang tengah membawa barang-barang pindahan. Menatap ke arah perubahan ekspresi ayahnya. 

“Apa Ayah tidak suka rumah baru kita? Sebenarnya aku punya rumah di kabupaten. Tapi, desa lumbung emas sudah menghubungiku dari setahun lalu. Memintaku mengajari mereka caranya bertani. Jadi nanti kita akan pindah ke rumah di kota kabupaten.” Ucap Tristan penuh senyuman. 

“Kamu punya rumah lagi selain ini!?” Sang Ibu membulatkan matanya.

“Aku punya, aku pernah mengatakan kepada ibu dan ayah untuk pindah. Tapi kalian mengatakan sudah cukup untuk tinggal di rumah, para tetangga di desa makmur juga lumayan baik. Jadi aku tidak ingin memaksa ibu dan ayah beradaptasi di lingkungan baru.” Jelas Tristan pelan. 

Sang Ibu melangkah mendekati putranya.”Kenapa kamu tidak bilang, setidaknya ajak kami ke sana terlebih dahulu. Rumah ini saja sudah jauh lebih luas daripada rumah sebelumnya. Apalagi rumahmu yang di kabupaten. Tristan, sebenarnya ayah dan Ibu sungkan bicara padamu. Tapi, orang-orang di desa makmur bahkan keluarga ayahmu sendiri. Mereka tidak terlalu menyukai kami.” 

“Tidak terlalu menyukai kalian? Apa yang terjadi saat aku berada di luar negeri dulu?” Tristan mengerutkan keningnya.

“Lahan jeruk ayahmu dikelola oleh pamanmu. Katanya mau bagi hasil, tapi setelah mendapatkan untung 30 juta, bapakmu hanya kebahagiaan 200.000. Pamanmu itu orangnya keras, sedangkan bapakmu sakit-sakitan. Jadi…untungnya kamu selalu mengirimkan uang untuk bapak dan ibu setiap bulan.” Anggraini menghela nafas penuh senyuman.

“Kami tidak ingin menceritakan ini padamu. Tapi tetangga sering mengucilkan ibumu, itu karena mereka menganggap kami tidak memiliki apapun. Sudah tua tidak memiliki anak yang menjaga…karena kamu merantau jauh.” Sang ayah mengucapkannya dengan begitu jelas kali ini. 

Tristan mengepalkan tangannya. Mungkin kedua orang tuanya ingin dirinya pulang bukan hanya untuk mengembangkan desa. Tapi juga untuk menjaga mereka di masa tua. 

Pria yang mengingat, bagaimana ketika dirinya baru pulang ke desa. Setelah sempat bekerja di pabrik wine Prancis. Desa yang bagaikan tidak ada kehidupan. 

Semuanya berpakaian lusuh. Beberapa anak-anak berangkat ke sekolah bahkan dengan pakaian merah putih yang telah menguning. Tapi perlahan, ketika kehidupan di desa makmur membaik. Rumah yang pada awalnya terbuat dari anyaman bambu menjadi rumah batako yang kokoh. Mereka mulai menginjak harga dirinya. 

Jelas ini karena sifat dasar manusia…

“Kamu sudah punya rumah, sudah juga punya penghasilan tetap. Lebih baik jangan bertani anggur lagi. Sebaiknya kamu menikah…ibu akan mencarikan calon untukmu.” Sang Ibu menggenggam jemari tangan putranya. 

Tristan menghela nafas menggeleng pelan.”Aku tidak bisa menerima harga diriku dilukai. Selain itu, untuk pabrik wine aku juga memerlukan perkebunan untuk mendapatkan pasokan dengan kualitas yang tetap. Buah anggur itu seperti anak, sedangkan minuman wine seperti guru tua yang bijak. Semakin baik anak itu diajari, maka semakin matang juga guru tua yang akan tercipta.” Kata demi kata aneh dari putranya. 

“Kamu melantur lagi, usiamu sudah 33 tahun. Lupakan Juni, Ibu juga tidak begitu menyukainya.” Anggraini meraih jemari tangan putranya. Wajah keriput itu sama sekali tidak muda lagi. 

“Hargai saja keputusan putra kita. Jika bukan kita yang minta Tristan kembali. Mungkin karirnya sudah lebih bagus lagi di luar negeri.” Kalimat hangat dari Cakra. 

“Tapi putra kita sudah menjadi bujang lapuk.”

“Bujang lapuk yang penting kaya! Seperti duren makin matang makin jadi.” Sang ayah malah mendukung putranya. 

Inilah kedua orang tuanya, selalu membuatnya tertawa dalam keadaan terpuruk sekalipun. Setengah dari uang kerja kerasnya di luar negeri sudah habis, hanya untuk membantu warga desa yang tidak tahu terima kasih. 

Mungkin hanya saham dari pabrik wine patungan yang dimiliki olehnya. 

***

Dirinya perlahan mendaki ke arah sekitar. Mungkin karena desa makmur yang sukses akibat menanam anggur. Warga desa sekitar sini juga menanam anggur varietas lokal.

Pria yang melangkah sepanjang kebun. Kemudian berjalan lagi ke area tanah yang kosong. Lahan yang hanya ditumbuhi rumput liar dan semak belukar. Tanah di sekitarnya berbatu. 

Pria yang membawa alat pengukur PH tanah.”pH tanah 6,5, tempat ini mendapatkan penyinaran matahari yang lebih baik daripada desa makmur. Sungai dengan air jernih, kadar air juga bagus. Hanya saja tempat ini kekurangan unsur hara. Tanah berbatu dangkal, ada lapisan tanah gembur di bagian bawah. Bisa…sepertinya bisa. Tidak! Harus bisa.” 

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Suara seorang wanita terdengar. Seorang wanita cantik yang menggunakan pakaian dokter, walaupun menggunakan pakaian tertutup. Tapi benar-benar sulit untuk menutupi bentuk tubuhnya yang begitu indah. Bahkan kancing kemejanya pun menjerit, karena tidak bisa menahan ukuran bagian depannya yang menantang.

Tristan perlahan bangkit, matanya melirik ke arah keberadaan Puskesmas yang memang berada di dekat sini.

“Namaku Tristan, Aku baru saja pindah ke desa ini, atas permintaan kepala desa lumbung emas.” Pria yang mengulurkan tangannya, berusaha untuk berkenalan. 

“Aku tidak peduli, Apa yang kamu lakukan di tanah ayahku.” Wanita yang menyipitkan matanya, menatap curiga.

“Aku hanya sedang meneliti…” pria itu terkekeh, menunjukkan deretan gigi putih bagaikan iklan pasta gigi. 

“Apa kamu sedang mengukur tanah? Kamu pasti orang-orang dari perusahaan penggusuran. Aku sudah pernah mendengar, tempat ini ingin dijadikan sebagai TPA. Aku tidak bisa terima sama sekali.” Vivian mengerutkan keningnya, masih menatap curiga kepada orang ini. 

“Aku kemari ingin mendirikan rumah kaca. Bukan dari perusahaan penggusuran yang kamu katakan.” Tristan masih berusaha keras untuk tersenyum. 

“Kamu kira aku mudah untuk dibohongi. 6 tahun aku tinggal di kota, hingga berhasil meraih gelar dokter spesialis. Kemudian aku kembali ke desa, orang-orang di desa ini begitu polos dan baik. Saat orang-orang dari perusahaan kalian mengatakan bahwa, tempat ini akan menjadi tempat pembuangan sampah. Warga desa menerima dana relokasi, warga desa juga akan mendapatkan pekerjaan untuk mengolah sampah. Tapi kamu tahu dampaknya untuk lingkungan? Petani sekitar tidak akan dapat menanam apapun. Kamu itu orang kota yang serakah dan licik! Aku dan kepala desa sudah bersatu, untuk melawanmu, dan perusahaan yang ada di belakangmu!” Teriak wanita ini bagaikan prajurit wanita yang galak. 

Tristan memutar bola matanya malas. Dirinya memang pernah mendengar, akibat kemiskinan dari warga desa lumbung emas. Ada perusahaan yang akan mengambil alih lahan dari warga. Untuk dijadikan tempat pembuangan sampah, dibeli dengan harga yang paling rendah. 

“Bukan itu tujuanku ke tempat ini!” Tristan bersikeras. 

“Kalau bukan itu tujuanmu ke tempat ini lalu apa? Aku akan menghubungi polisi!” Wanita itu mengambil handphonenya. 

Namun Tristan bergerak dengan cepat. Memegang pergelangan tangan wanita itu”Tujuanku adalah bertemu denganmu.”

Wajah wanita yang bersemu merah.”Bertemu denganku?” 

1
Biyan Narendra
🤣🤣🤣
Muft Smoker
lama2 tu buah anggur cuma bisa jdi pupuk krn udh keburu busuk🤭🤭🤭
mimief
Wkwkkwkw
mimpi basah🫣
yesi yuniar
apakah benar2 berakhir dgn membusuk di mobil tanpa laku sedikitpun ???
Nur Wahyuni
mbok diliat yg bener itu loh buahnya hen.. buah udah mau busuk ditawarin harga tinggi siapa yg mau
mery harwati
Author coba jelaskan mimpi basahnya itu apa 🤣😜
Suka gitu author mah, setengah² ngasih clue na teh 😄
yula
💪💪💪💪💪thor
Ufiyyyy
🤣🤣🤣🤣
ahs@
belum apa" warga desa makmur sudah rugi...🤣🤣..warga desa makmur terlanjur termakan janji manis Hendra yang katanya bos....🤭eh ternyata penipu ulung...
lyani 1984
Rasain kalian 🤣🤣🤣
Biyan Narendra
taraaaaa
pedagangpun menolak
Muft Smoker
pas di buka ciluuuk baaaa ,,
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
mimief
Wkwkwkw
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
mimief
🫣🫣🫣🤣🤣🤣🤣
mimief
wow..dia kyk ensklopedia berjalan
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
Biyan Narendra
Beneran berguru ya,wicak
😁😁😁
yula
💪💪💪💪💪thor
Biyan Narendra
Dan tristan pun masabodoh
yesi yuniar
udah dibawa keliling 3 hari 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Nur Wahyuni
mampus Hendra kali ini.. mesti anggur2 itu udah pada busuk 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!