Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenyataan yang sulit diterima 2
CHANGE POV: Ila
Sangat aneh, benar-benar di luar nalar manusia. Aku tidak sepenuhnya tahu apa yang tengah terjadi pada tubuhku. Tapi ini sering terjadi di keadaan tertentu, seperti saat ini. Aku bisa merasakan banyak hal yang tidak kuketahui secara fisik di sekitarku. Ada yang terasa hangat menyentuh kulit, dingin, mengalir cepat dan banyak lagi. Intinya satu, keanehan ini membuatku dapat membuka pembatas manusia terhadap energi yang sebenarnya sulit di rasakan melalui panca indra biasa.
Aku berdiri di celah terbuka di antara mobil-mobil yang terparkir.
“HEI” Seruku. “Di sini bodoh!”
Rasa takutku telah hilang puluhan menit yang lalu, di dalam bis, ketika Aro meyakinkanku jika semua masalah akan terasa berat jika terus di pikirkan. Maka, solusi yang tepat adalah dengan menghadapinya, dan menganggap masalah itu menjadi mudah. Ini memang hanya kata-kata biasa. Dan tidak selamanya membantu. Namun saat itu, aku merasa ada energi lain yang merasuk ke dalam tubuhku, dan secara instan membuat rasa takutku lenyap, seakan tidak pernah muncul sama sekali.
Belasan meter di hadapanku, para petugas dan beberapa tantara –lengkap dengan senapan semi otomatis yang dapat mengeluarkan ratusan hingga ribuan peluru dalam satu kali tembakan, mulai berlari mendekat. Mereka teralihkan. Membuat formasi sederhana di atas lahan parkir.
Senyap sejenak. Selongsong-selongsong yang dari tadi basah terkena hujan mulai di naikkan, tertuju kepadaku. Anehnya. Aku tidak gentar sama sekali. Aku juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi padaku. Mentalku sudah dimanipulasi agar tidak merasa takut.
“Buat ini jadi mudah nak!! Kami akan memberikanmu cara mati yang lebih baik dan sama sekali tidak menumpahkan peluru! Sesuai perintah ketua umum Keamanan Negara. Kau akan tetap di musnahkan demi eksistensi keamanan” Seorang petugas berkata dengan lantang.
Aku terkesima. Demi apa? “Ini jelas-jelas deskriminasi” Ujarku datar.
Lengang menyisakan hujan, tidak ada yang mau membalas ucapanku barusan.
Sekilas terdiam. Tapi aku mendeteksi sesuatu. Mataku berpindah pada suatu gerakan kecil dari jari seorang tantara. Sebuah isyarat. Tentara yang lain pasti memperhatikan walau mereka terlihat tidak menyadari suatu aba-aba. Mereka adalah tantara yang terlatih.
Lamat-lamat gerakan jari itu kuperhatikan. Aku jadi tahu mereka akan menembak dalam.
Tiga. Dua.
DERRRRTTTTT! DERRRRT!!!! Senapan otomatis di iringi pistol petugas serentak memuntahkan peluru. Kilatan api dari moncong berkedip ngeri.
Bergerak cepat. Aku lebih dulu berkelebat menghindar, berlindung di balik mobil. Tidak berguna, peluru-peluru itu tetap mengincar. Lanjut menembaki bodi mobil hingga mengelupas hancur dan berlubang.
Jujur saja, aku banyak menyembunyikan kenyataanku pada Aro ketika bercerita kemarin. Aku sudah pernah terlibat dalam aksi penembakan beberapa tahun lalu. Padahal aku masih belia. Namun tidak lepas dari keanehan yang terjadi padaku. Peluru-peluru yang seharusnya sangat mustahil untuk di hindari, berbalik menjadi sangat mudah. Aku akhirnya mengetahui arah dari sekian banyak peluru, ada energi lain yang memberi respon pada tubuhku. Di tambah satu hal penting lagi. Tubuhku selalu merasa ringan dan bertambah kuat atau bahkan kokoh jika keanehan ini muncul. Ada sesuatu yang merubah kemampuan tubuhku. Sekarang jelas, kenapa aku dari tadi bisa bermanuver menghindari banyak peluru dengan lihai, juga menumbangkan para petugas sebelumnya dengan satu serangan tangan. Itu karena tubuhku seperti di buff habis-habisan ketika keanehan ini berlangsung.
Aku kembali bergerak sigap –tanpa disadari para petugas. Mulai melompat, melengking jauh dari mobil barusan. Sepuluh meter terlewati dengan mudah, berakhir di belakang mobil container. Aku tersenyum dalam hati. Ini benar-benar sangat membantu. Aku seperti mendapat kekuatan super.
Semua petugas di tempat barusan berhenti menembak. Dua orang mulai maju memeriksa hingga di balik mobil yang mulai berasap. Semuanya seketika terkesima, sosok yang mereka tembak menghilang secara misterius. Mereka segera membuang pandangan ke sembarang arah, mencoba mencari diriku.
Aku tidak akan terlihat. Posisiku dua puluh meter luar jangkauan mereka dan tertutup cargo container.
Aku berhembus dalam hati. Tugas mengalihkanku telah selesai. Aku tidak boleh melakukan hal lain atau masalah akan semakin bertambah. Aku harus segera bergegas.
Berlari menuju pembatas parkir. Mempelanting diri, melompati tembok setinggi empat meter begitu mudahnya. Mendarat mulus, lari lagi, secepat-cepatnya.
Jantungku berdegup kuat. Aku mendengar suara tembakan di belakang sana. Pikiranku langsung tertuju pada orang yang ku perintah mengambil motor. Aro. Semoga dia baik-baik saja.
Tubuhku kembali merespon sesuatu. Sebuah energi besar dari sisi kanan. Aku menoleh, seketika terkesima. Mobil berat militer melaju cepat di jalan raya, itu adalah Komodo v4. Mobil baja nano stanag level VII.
Laju mobil tersebut mengiringi langkah lariku. Berkelebat terhalangi pagar besi dan tembok —pagar juga.
Lamat ku perhatikan. Sesuatu lain mucul dalam intuisiku –bagiku adalah efek pergerakan energi yang tak kasat mata sebab geraknya kendaraan tersebut, namun dapat ku rasakan. Dari sinilah aku bisa menyadari gerakan energi bagaimanapun keadaannya, cepat-lambat, dingin atau hangat, kecil atau besar.
Sambil terus berlari, mataku mulai memicing. Instingku juga semakin tajam ketika mode –kedepannya akan ku anggap mode khusus, ini berlangsung. Aku kemudian tahu ada sebuah moncong senapan keluar dari sela-sela bodi kendaraan berat belasan meter di depan sana.
SZEB! Tembakan tunggal di lesatkan. Barusan adalah tembakan yang suaranya diredam alat.
Aku melompat ringan kedepan. Menghindar –memang suara peluru barusan terbungkam hujan, tapi intuisiku menyadari energinya. Peluru akhirnya mengenai udara kosong.
Masih terus berlari, satu halaman bangunan terlewati. Ini sedikit rumit. Aku tidak bisa menjauh dari jalan raya, kemungkinan Aro menyusul dari sana. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, apa yang akan di lakukan orang-orang di dalam mobil tersebut.
Deru hujan dan tegang mengisi suasana
Sial, ternyata tidak hanya satu mobil Komodo v4, satu unit yang sama menyusul dari belakang. Gemuruh suara helikopter samar-samar terdengar, menyatu dengan suara hujan. Keadaan semakin buruk.
Optimis berlari tidak dapat diandalkan. Meskipun laju kakiku ini berkali-kali lebih cepat dari orang biasa. Tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan tenaga mesin.
Aku mendengus, Aro kemana sih?
Satu Komodo v4 di jalan raya mulai menambah kecepatan, menuju gerbang masuk halaman gedung di sampingku saat ini. Aku akan dikepung.
Aku berdecak. Bagaimana ini.
Tunggu, ada yang sedang terbang di atasku. Aku mendongak.
TRRRRRRRRTATATATATATATATATATATATAT!!!
Serangan dadakan datang. Sebuah drone tiba dan langsung menghujani peluru. Aku terlelap menghindar. Mundur tiga langkah. Menjauh lima meter. Hujanan peluru mengejar cepat. Membuat aspal berlubang.
Aku mengatupkan rahang, sekejap kembali melompat jauh ke belakang. Sepatu menghentak tanah. Tubuh mulai merendah, mengambil ancang-ancang. Beringsut melompat tinggi. Mengincar drone barusan di ketinggian sepuluh meter. Hap!
Drone tertangkap. Daya terbangnya tidak kuat menahan bobotku. Aku terjun deras. Sepatu kembali menghentak, mendarat.
Belum selesai. Dua drone datang dari suatu arah.
Tanpa pikir panjang aku langsung melempar drone yang ada di tanganku. Barang itu terlempar kuat di udara. Meluncur cepat menuju dua drone yang baru datang.
Tepat sasaran. Dua-duanya terlalu dempet. Berakhir sama, terhantam drone lemparanku lalu terjatuh.
Lanjut melihat ke depan. Mobil Komodo v4 telah berbelok, masuk ke area halaman bangunan. Beberapa orang terlihat keluar dari kaca mobil tersebut, serentak mengerahkan senjata apinya.
Beberapa moncong siap menembak. Mobil terus melaju cepat ke arahku. Aku juga mulai bersiap, lari maju, mengambil sebuah ancang-ancang.
DERRRRTTTTT!DERRRRT!DRRRRRRRRT!!DERRRRRRRRTTDERRRRRRRTTTTT!
Ratusan peluru termemuntahkan sepersekian detik. Mereka serentak menembak. Kilat api berkedip terlihat tercampur asap, suaranya memekakan telinga. Aku merasakan semua energinya. Namun reaksiku jauh lebih cepat. Kini aku telah melanting belasan meter di atas permukaan. Meluncur mulus melewati atas mobil.
Sampai di pemurkaan. Mobil Komodo v4 kini di belakangku. Bannya berdenyit, segera mengerem.
Aku menoleh. Hanya untuk melihat orang-orang bersenjata menarik pelatuknya.
DERRRRTT!!!DERRRT!!!!DERRRRTTTT!!!DERRRRRRTT!!!!
Tubuhku spontan berkelir cepat. Berlari ke samping. Lagi-lagi tidak ada satupun peluru yang mengenai tubuhku. Lanjut menuju pembatas tembok, mungkin sepuluh meter lagi. Aku menghentakkan kaki, tubuhku melesat, langsung menatap tembok. Lompat lagi.
DERRTTTTT!!DERRRRRTT!!!
Lari lagi, mulai menyebrangi jalan raya. Aku tidak tahu harus kemana? Aku harus menunggu Aro.
Aku menoleh ke arah gerbang halaman, mobil Komodo v4 kedua yang mebuntut sebelumnya baru saja masuk ke halaman. Aku mendengus sebal. Ngapain coba?
Sejauh ini, yang kurasakan hanya usaha yang sia-sia, meskipun seakan mereka memang di tugaskan untuk membunuhku, peluru terus di muntahkan tanpa memikirkan konsekuensi lain? –bagaimana jika ada peluru nyasar yang akhirnya mengenai seseorang? Apakah begitu cara kerja konstitusi yang ada sampai-sampai menuntut hingga menghalalkan berbagai cara? Terpenting aku harus terbunuh— Tapi mana? Mereka hanya terus membuang material yang patutnya di gunakan untuk keperluan berguna lain. Bukan malah ngincer individual demi eksistensi keamanan berkedok deskriminasi.
Memang agak miris. Entah apa yang di pikirkan oleh ketua keamanan negara agar memberi perhatian khusus untuk membunuh seoarang gadis berbakat sepertiku? Sangat aneh bila alasan di baliknya adalah kesenjangan sosial, aku punya kekuatan sementara yang lain tidak? Terus gak adil dan kena pidana gitu?
Arhhhhh, ini menyebalkan. Mau sampai kapan hidupku di babibuta seperti ini. Apa yang harus aku lakukan agar mereka.
"Ila!" Seseorang memanggilku. Akhirnya, tentu aku tahu itu siapa.
“Aro!”Aku segera menoleh, seketika tertegun. Lelaki itu benar-benar mendapat motor yang ku maksud sebelumnya. Sepertinya dia memang bukan orang biasa.
Motor berbelok menghampiri. Lalu berhenti di depanku. Senyap, Hujan masih membasahi. Aku menatap wajah pengemudinya. "Lama sekali"
Wajah Aro terlihat serius. Tidak minat mebalas ucapanku. "Ayo, langsung naik! Di belakang banyak unit yang mulai datang. Helikopter dan drone juga"