Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Katanya Laras Mengusir Mertua

Ia harus mendahului bus itu.

Pukul enam pagi, Laras sudah berada di dapur. Ketika Ratih keluar dari kamar, meja sarapan siap dan sebuah daftar buku veteriner terletak di samping cangkirnya.

"Bunda, saya butuh bantuan."

Ratih langsung duduk. "Bantuan apa?"

Laras menunjukkan daftar buku tentang penyakit ternak menular dan manajemen peternakan. "Referensi di sini terbatas. Saya dengar Bunda punya kenalan di penerbit dan universitas Jakarta. Kalau Bunda bisa berangkat lebih pagi, mungkin dokumen ini sempat dititipkan hari ini agar saya cepat melengkapi berkas Puskeswan."

"Bus Bunda baru berangkat pukul sembilan."

"Ada travel pukul tujuh yang memakai rute alternatif sebelum bergabung ke jalan utama. Saya sudah cek lewat nomor terminal. Kursinya masih ada satu."

Bram menatap Laras dari seberang meja. Ia tahu alasan buku itu bukan seluruh kebenaran, tetapi tidak membongkarnya.

Ratih membaca daftar tersebut. "Kenapa mendadak sekali?"

"Karena saya baru sadar kesempatan di Puskeswan tidak akan menunggu lama. Tolong, Bunda."

Nada Laras terlalu tegang untuk sekadar urusan buku. Ratih akhirnya mengangguk. "Baik. Kalau ini penting untuk pekerjaanmu, Bunda berangkat lebih pagi."

Mereka tiba di terminal sebelum pukul tujuh. Tiket bus biru dibatalkan, lalu Ratih membeli satu kursi travel kecil yang berangkat melalui rute timur sebelum menuju kota transit.

Saat menyerahkan barang, Laras melihat pengumuman bahwa bus lama Ratih mengalami penundaan pemeriksaan kendaraan dan kondisi jalur. Belum ada penutupan resmi, tetapi petugas terminal sudah menerima permintaan agar operator menunggu informasi jalan.

"Sepertinya mimpimu membuat semua orang ikut hati-hati," kata Bram pelan.

"Belum cukup. Busnya masih bisa berangkat nanti."

Ratih memeluk Laras. "Bunda akan menelepon setiap kali berhenti. Jangan terus cemas."

"Janji?"

"Janji."

Travel bergerak meninggalkan terminal. Laras menunggu sampai kendaraan itu hilang dari pandangan.

Bram harus kembali ke satuan. Sebelum pergi, ia memberi Laras nomor kantor Dinas PU dan pos polisi lalu lintas. "Kalau laporanmu ditolak, telepon saya. Saya tidak akan memaksa mereka, tapi saya bisa membantu memastikan laporan tercatat."

"Saya akan melakukannya sendiri dulu."

Laras berjalan ke warung telekomunikasi kecil di luar kawasan asrama. Ia memilih telepon umum agar cerita tentang firasatnya tidak langsung dikaitkan dengan keluarga militer, tetapi saat petugas meminta identitas, ia memberikan nama dan nomor yang bisa dihubungi.

"Saya melewati jalur pegunungan saat datang ke NTT," katanya kepada petugas. "Di tikungan setelah jembatan kecil, saya mendengar percakapan pekerja jalan bahwa bagian bawah aspal tergerus dan ada retakan dekat gorong-gorong. Setelah hujan di dataran tinggi, saya khawatir tebing atau badan jalan longsor. Tolong periksa sebelum bus berikutnya lewat."

"Ibu melihat sendiri retakannya?"

"Saya melihat bagian jalan turun dan mendengar peringatannya. Saya tidak punya foto."

"Laporan seperti ini bisa menghentikan perjalanan banyak orang. Ibu bersedia bertanggung jawab atas keterangan?"

Laras menggenggam gagang telepon. "Saya bersedia. Catat nama dan nomor saya. Lebih baik diperiksa lalu dinyatakan aman daripada kita menunggu korban."

Petugas meneruskan laporan kepada Dinas PU. Tim lapangan dijadwalkan memeriksa titik yang disebutkan, sedangkan pos lalu lintas meminta operator menahan bus sampai ada kabar awal.

"Ibu anggota keluarga TNI?" tanya petugas setelah melihat alamat asrama pada identitasnya.

"Iya."

"Apakah laporan ini perintah dari satuan?"

"Bukan. Jangan menulis nama suami atau jabatannya sebagai tekanan. Ini laporan warga dan saya bertanggung jawab sebagai warga."

Petugas mengangguk lalu memberi nomor registrasi pengaduan. Laras menyalinnya di balik daftar buku. Dengan nomor itu, laporannya tidak bisa sekadar hilang dalam percakapan telepon.

Sebelum menutup sambungan, ia meminta satu hal lagi. "Tolong jangan hanya memeriksa permukaan aspal. Dalam informasi yang saya dengar, bagian bawah dekat gorong-gorong yang tergerus. Dari atas mungkin terlihat seperti retak kecil."

"Saya cantumkan. Tim membawa petugas struktur dan alat ukur."

Laras mengucapkan terima kasih. Ia sadar ceritanya masih lemah, tetapi detail gorong-gorong dan penurunan badan jalan cukup masuk akal untuk memicu pemeriksaan serius tanpa mengada-adakan pelaku atau sabotase.

Laras keluar dengan lutut lemas. Ia telah melakukan semampunya. Sekarang hasilnya berada di jalan pegunungan yang tak bisa ia lihat.

Di pasar, seorang perempuan memanggilnya dari kios telur.

"Bu drh. Laras? Aku Rina. Kita bertemu sebentar di akad kemarin, ingat?"

Rina menggendong bocah laki-laki berusia satu tahun lebih yang tubuhnya tampak kecil. Bintang menyandarkan kepala di bahu ibunya dan menatap Laras dengan mata mengantuk.

"Dia sering sakit?" tanya Laras.

"Sejak lahir mudah batuk dan susah naik berat badan. Dokter bilang gizinya harus dijaga."

Laras tidak memberi diagnosis di pasar. Ia hanya menyarankan Rina mengikuti kontrol anak, mencatat pola makan, dan memastikan sumber protein terjangkau. Ketika Rina mengeluh harga telur naik, Laras menunjuk kandang ayam sederhana di kios sebelah.

"Kalau punya halaman, pelihara beberapa induk sehat. Malam di sini bisa dingin meski siang panas. Buat kandang dari kotak kayu, beri alas kering, tutup sisi yang kena angin tapi tetap sisakan ventilasi. Pakan bisa ditambah ampas kedelai kering secukupnya."

"Kamu paham ayam juga?"

"Saya dokter hewan, bukan dokter domba saja."

Rina tertawa. Mereka membeli tiga ayam betina sehat dan sekantong kedelai. Percakapan mengalir mudah, dari pekerjaan Yoga, suami Rina, sampai sulitnya menjadi pendatang di asrama.

"Kalau butuh apa-apa, datang ke rumahku," kata Rina. "Bukan karena kamu istri Mayor. Karena aku suka caramu bicara."

Laras menerima tawaran itu. Untuk pertama kalinya sejak tiba di NTT, ia merasa mungkin bisa memiliki seorang sahabat.

Ketika mereka kembali ke gerbang asrama, Vania sedang berbincang dengan beberapa ibu. Pandangannya langsung jatuh pada ayam dan barang belanjaan Laras.

"Mbak Laras, Bunda Ratih kok berangkat pagi-pagi dengan wajah tegang?" tanyanya. "Baru malam pertama sudah pulang ke Jakarta. Ada masalah?"

"Bunda ada urusan dan sudah berangkat dengan aman."

"Oh, kukira Mbak meminta beliau pergi. Soalnya kemarin masih mau tinggal beberapa hari."

Seorang ibu menoleh ingin tahu. Vania melanjutkan dengan nada seolah membela.

"Jangan salah paham, ya. Pengantin baru mungkin memang butuh rumah kosong. Tapi kasihan juga mertua kalau baru sehari sudah disuruh pulang."

Laras mengenali jebakan itu. "Bunda mengubah jadwal untuk membantu urusan pekerjaan saya. Kalau ada yang ingin tahu, tanyakan langsung kepada beliau, bukan membuat cerita di gerbang."

Ia berjalan masuk bersama Rina.

Di belakang mereka, Vania sudah mengetik ke grup WhatsApp.

`Baru jadi istri Mayor, Laras langsung mengusir mertuanya pulang.`

Sementara fitnah mulai menyebar, Laras hanya memikirkan satu hal.

Apakah tim pemeriksa tiba di jalan itu sebelum bus biru berangkat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!