Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain Dalam Permainan
Keheningan yang panjang menyelimuti balkon itu. Hanya terdengar desiran angin yang perlahan mendingin, membawa serta daun-daun kering yang jatuh di halaman rumah yang luas itu. Rina berdiri membelakangi ibunya, menatap lurus ke depan, namun pandangannya kosong seakan ia sedang melihat masa lalu yang tak bisa diubah kembali.
Laras perlahan mendongak, menatap punggung putrinya dengan tatapan yang bercampur rasa bersalah dan tak berdaya. Langkah kakinya gemetar pelan saat ia mendekat, lalu tangannya yang keriput namun terawat itu menyentuh lengan Rina dengan lembut.
"Rina..." panggilnya pelan, suaranya bergetar.
"Lalu kita harus apa sekarang?"tanya laras.
Rina memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa perih yang tiba-tiba menyeruak kembali. Ia menarik napas panjang, berusaha menelan ludah yang terasa pahit.
" Kok ibu tanya aku, biasanya ibu selalu tau apa yang harus dilakukan" Ia berbalik perlahan, menatap ibunya dengan tatapan yang lebih lembut namun tetap tegas.
"Kalau ibu tanya aku sih, saat ini ya aku hanya ingin diam..dan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka mau" ucap rina.
Laras sangat tidak menyukai apa yang dikatakan rina, " Tidak bisa begitu rina, jika kita diam maka kita yang bisa di permainkan mereka"
Rina tersenyum " Nah..maka dari itu..ibu harus memikirkan sebuah rencana dan kita harus melakukan apa..bukankah ibu yang lebih baik dalam hal itu" ucap rina.
Sementara itu, di dalam kamar yang tertutup rapat itu, Yuna masih duduk di tepi kasur, membiarkan Amira bermain dengan jari-jemarinya sendiri. Namun pikirannya melayang jauh, menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang kini mulai membentuk satu gambaran yang utuh dan begitu menyakitkan.
" Jadi, dia kakak rania dan ini keluarga rania yang dulu ia ceritakan" Yuna mengeratkan genggamannya di tepi kasur.
"Tante?" suara kecil Amira kembali terdengar, menarik Yuna kembali dari lamunannya.
Gadis kecil itu menatapnya dengan mata bundar yang polos. "Tante kok diam, tante sedih ya?"
Hati Yuna seakan teriris melihat ketulusan di mata gadis itu mata yang persis sama dengan sahabatnya. Ia tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Amira dengan lembut.
"Tante tidak sedih, Sayang. Tante hanya... sedang memikirkan sesuatu"ucap yuna.
Amira mengangguk percaya, lalu kembali bermain. Namun tiba-tiba, ia berhenti. Matanya menatap pintu kamar dengan tatapan yang tiba-tiba berubah seakan ia mengingat sesuatu.
"Tante..." bisiknya pelan
"Tante Nia... dia sudah lama tidak ke sini"
"Tante Rina bilang...tante nia tidak boleh sering kesini temui mira. Katanya... kalau Tante Nia sering temui mira, nanti dia tidak bisa pergi lagi"
Darah Yuna seakan membeku di pembuluhnya. Ia menatap gadis kecil itu tak percaya. "Amira... apa yang kamu katakan?"
" Mira pengen ketemu tante nia"
Yuna menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang hampir keluar. Ia tak sanggup lagi membendung perasaannya campuran antara rasa haru, marah, bingung,dan ketakutan yang luar biasa besar.
Tanpa sadar, Yuna berdiri. Ia berjalan mendekati pintu kamar itu perlahan, jantungnya berdegup kencang seakan hendak melompat keluar. Tangannya perlahan meraih gagang pintu itu. Namun sebelum sempat ia memutar gagang pintu itu, suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar, diikuti ketukan yang tegas dan berat.
"Yuna? Kamu di dalam?"
Itu suara Naumi.
Yuna tersentak kaget, tangannya terangkat perlahan dari gagang pintu itu. Amira langsung beranjak mendekati yuna yang berada di dekat pintu ketika mendengar suara ibunya.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Yuna membuka pintu itu perlahan. Naumi berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kewaspadaan dan kesedihan yang dalam.
"Ada apa yuna?" ucap naum, terlihat khawatir dengan adik sepupunya ittu.
" Tidak ada apa-apa kak, aku baik-baik saja" ucap yuna.
SATU MINGGU KEMUDIAN...
Satu minggu berlalu begitu cepat, membawa serta perubahan-perubahan kecil yang perlahan mulai menyusun pola baru dalam hidup Rania. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, ia sudah bersiap melangkah menuju Restoran Narira, tempat di mana ia kini menemukan makna baru dalam kesehariannya.
Di sana, di antara aroma masakan yang menggugah selera dan tawa para pelayan yang saling menyapa, Rania merasa hidupnya perlahan kembali berwarna. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, melayani tamu dengan senyum tulus, dan belajar setiap hal baru dengan semangat yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Beberapa hari pertama, Dimas selalu datang mengantar dan menjemputnya. Pria itu tak pernah sekalipun terlambat, selalu tiba sedikit lebih awal dan menunggu dengan sabar hingga Rania selesai bekerja.
Namun Dimas pun sadar, ia tak bisa terus seperti itu selamanya. Pekerjaannya sendiri menuntut waktu dan perhatian yang tak kalah banyak, dan Rania, ia pun tahu bukanlah seseorang yang ingin menjadi beban bagi siapa pun.
"Kak dimas tidak perlu terus-terusan mengantar jemputku...seperti ini" ucap Rania suatu sore, saat mereka berjalan beriringan menuju mobil pria itu.
"Aku bisa sendiri...Aku bukan anak kecil lagi"
Dimas menatapnya, ada senyum lembut yang terukir di bibirnya. "Aku tahu kamu mandiri, Rania. Aku hanya... ingin memastikan kamu aman. Tapi kalau kamu merasa nyaman sendiri, baiklah"
Hati Rania berdesir mendengar itu. Kebaikan Dimas begitu tulus, begitu lembut, tanpa menuntut apa pun sebagai balasannya, perlahan mulai mengisi ruang kosong yang selama ini terasa hampa di dadanya.
Ia tak berani berharap lebih, namun setiap kali Dimas tersenyum padanya, setiap kali pria itu menatapnya dengan tatapan yang begitu hangat, ia merasa ada sesuatu yang baru mulai tumbuh di sana.
Tak lama kemudian, sebuah motor matic berwarna putih bersih terparkir rapi di depan pintu rumah tempat Rania tinggal. Rania tertegun saat melihatnya, tak percaya benda itu ada di sana untuknya.
"Ini... untukku?" tanyanya pelan, menatap Dimas yang berdiri di samping kendaraan itu.
Dimas mengangguk, tangannya merapatkan helm ke arahnya.
"Iya. Supaya kamu lebih mudah berangkat dan pulang. Maaf kalau bukan mobil, tapi aku pikir ini lebih praktis untukmu"
Rania menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca.
"Tidak... ini lebih dari cukup. Terima kasih, ka dimas. Terima kasih banyak"
Ia tak pernah tahu dan tak pernah akan ia ketahui bahwa motor itu sama sekali bukan dari Dimas. Di balik pemberian itu, ada Rina. Rina yang membelinya secara diam-diam, yang meminta Dimas menyampaikannya seolah-olah itu darinya, karena ia tahu Rania tak akan menerima pemberian darinya.
Rina yang setiap hari memantau dari jauh, yang memastikan kakaknya aman, namun tak berani menampakkan wajahnya. Dan Dimas ia hanya menuruti permintaan itu, karena ia pun tahu betapa beratnya rahasia yang harus mereka simpan.
Hari-hari pun berlalu. Rania mengendarai motor itu setiap pagi, melintasi jalanan kota yang mulai ramai, dengan perasaan yang campur aduk syukur, haru, dan sesuatu yang mirip dengan harapan baru. Di Restoran Narira, ia bekerja dengan sepenuh hati. Pelanggan mulai mengenalnya, menyukai keramahannya, dan ia pun mulai merasa memiliki tempat di mana ia dibutuhkan.
Namun satu hal yang Rania sadari selama satu minggu ini, Rina tak pernah datang lagi ke restoran itu. Bukan karena ia tidak mau. Bukan karena ia lupa, tapi ada hal-hal yang jauh lebih besar sedang ia urus.
Rina sedang bersiap untuk pergi, ia telah memutuskan untuk melanjutkan studi S2-nya di Amerika, sebuah keputusan yang sudah lama ia pikirkan namun baru sekarang bisa ia wujudkan. Semua urusan menyangkut restoran, ia serahkan sepenuhnya kepada Sita, asistennya yang paling dipercaya. Rina tak ingin ada hal yang tertinggal, tak ingin ada yang terganggu saat ia pergi terutama Rania.
Sore itu, setelah pelanggan terakhir pulang, Rania duduk di bangku kayu di sudut restoran, menatap ke luar jendela di mana langit mulai berubah jingga. Tangannya menyentuh permukaan meja pelan-pelan, pikirannya melayang. Ia teringat Dimas, dan senyum tipis kembali terukir di bibirnya. Setidaknya ada seseorang. Seseorang yang hadir tanpa syarat, yang kehadirannya membuat hari-harinya terasa lebih ringan.
"Terima kasih, Kak Dimas..." bisiknya pelan pada keheningan.
Ia tak tahu bahwa di saat yang sama, Rina sedang duduk di ruang kerjanya, menatap berkas-berkas pendaftaran kuliah di Amerika, dengan mata yang memerah dan hati yang terasa tercabik. Pergi ke Amerika berarti ia harus meninggalkan semuanya termasuk Amira, termasuk Rania.
Bersambung...