Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara Perusahaan

Pagi hari telah tiba, di Verion Group jauh lebih ramai daripada biasanya. Staf mondar-mandir membawa perlengkapan, dekorasi sudah memenuhi area utama, dan panggung besar mulai dipenuhi lampu.

Zevanna datang bersama Tisha dan langsung dibuat pusing melihat suasana kantor.

"Ini kantor apa pasar malam sih?" Gerutu Zevanna.

Tisha tertawa kecil. "Namanya juga acara besar, Zev. Jangan ngeluh mulu."

"Gue baru masuk aja udah capek lihat orang lari-larian ke sana ke sini." Katanya menatap orang yang lewat di depannya.

"Eh, kita ke tempat panggung utama, yuk. Zev." Ajak Tisha.

"Mau ngapain sih? Kan acaranya belum dimulai." Kata Zevanna.

"Kita lihat-lihat ke sana, udah ayok." Tisha langsung menarik tangan Zevanna menuju panggung utama.

Di panggung utama, Gista dan Vera sedang mengecek dekorasi panggung.

"Ver, bagian kain sebelah kiri kurang turun," kata Gista.

"Iya, gue benerin." Jawab Vera.

"Jangan sampai jatuh pas acara."

Vera terkekeh kecil. "Tenang. Gue masih punya nyawa kok."

"Sip, bagus." Gista merapikan beberapa gelas diatas meja untuk para tamu.

Sementara itu, Henry keluar dari ruangan dan memeriksa persiapan acara.

Ia menemukan beberapa bagian panggung belum sempurna. Ia menoleh ke arah Elsa dan Meisya.

"Saya sudah bilang dari kemarin, bagian ini harus selesai sebelum acara dimulai." Tegur Henry.

Elsa menghela napas. "Maaf, Pak. Kami sedang berusaha."

Henry menatapnya tajam. "Saya tidak mau dengar alasan. Lima belas menit lagi saya cek kembali. Paham kalian!"

Elsa serta Meisya mengangguk. "Iya kami paham, Pak."

Zevanna melihat dari jauh dan mengerutkan keningnya.

"Tuh orang kenapa dah? Marah-marah mulu dari kemarin." batin Zevanna.

Tisha menoleh, menatap sahabatnya lalu menyenggol lengannya. "Woi, lo kenapa bengong?"

Zevanna tersentak dan mendecih. "Nggak papa."

"Oh gue tau lo bengong kenapa!" Kata Tisha tersenyum jahil.

Zevanna mendelik. "Kenapa?"

"Pasti lo lagi mikirin pak CEO, kan?" Jawab Tisha santai.

Zevanna melotot lebar. "Dih, sok tau lo. Siapa juga yang mikirin dia? Ogah!"

"Ah, masa sih? Nggak percaya gue." Goda Tisha menjadi-jadi.

"Terserah lo mau percaya atau nggak! Yang jelas gue nggak mikirin dia sama sekali." Sentak Zevanna.

Tisha menahan tawa. "Iya, ya. Gue percaya lo nggak mikirin dia."

Zevanna mendengus kecil.

"Zev, kita ke tempat Mbak Gista dan Mbak Vera, Yuk!" Ajak Tisha.

Zevanna terdiam sejenak.

Mbak Vera.

Ia teringat dengan foto tadi malam yang ia temukan di kamar Zoyya.

Tisha melirik dan menjentikkan jarinya. "Zevanna!"

Zevanna terkejut. "Iya?"

"Astaga. Lo kenapa sih bengong mulu dari tadi? Belum sarapan atau belum ada yang semangatin?" Gerutu Tisha.

Zevanna berdehem kecil. "Ya biasa banyak kerjaan. Tapi gue emang belum sarapan sih."

"Pantesan bengong mulu lo!"

Zevanna cuma tersenyum tipis, lalu mereka berdua pergi menuju Gista dan Vera.

"Hai, Mbak Gista. Mbak Vera." Sapa Tisha.

Gista dan Vera menoleh bersamaan.

"Hai, juga. Tisha, Zevanna." Balas Gista.

"Kalian tadi ngapain berdiri di situ?" Tanya Vera.

"Oh ini si Zevanna disuruh ke sini, dia malah bengong nggak jelas." Kata Tisha membuat Zevanna mendelik dan mendengus.

Vera terkekeh. "Jangan banyak bengong, Zev. Kalau kamu kenapa-napa gimana?"

Zevanna terdiam dan menatap Vera.

"Iya, Mbak. Tadi cuma banyak pikiran aja." Kata Zevanna.

"Udah mending bantuin dekorasi panggung deh." Kata Gista.

"Oke siap, Mbak." timpal Tisha membantu Gista.

"Zevanna, ini kamu periksa nomor meja tamu ya. Soalnya aku tadi lupa periksa lagi." Ucap Vera.

"Iya, Mbak." Zevanna memeriksa nomor meja tamu, tapi matanya terus melirik ke arah Vera.

Di sisi lain panggung, Arvin berjalan sambil membawa beberapa dokumen untuk Henry.

Namun ketika Zevanna lewat, ia sempat mendengar percakapan mereka.

"Pak, ini berkas yang kemarin." Kata Arvin menyerahkan dokumen tersebut.

Henry mengambilnya. "Sudah diperiksa?"

"Sudah." Jawab Arvin mengangguk.

Henry menurunkan suara. "Bagus. Dan soal yang satunya?"

Arvin terdiam sejenak. "Belum ada yang tahu, Pak."

Zevanna tidak sengaja mendengar bagian terakhir dari ucapan Arvin.

Ia langsung berhenti.

"Yang satunya? Mereka ngomongin apa?" batin Zevanna.

Zevanna buru-buru pergi karena takut ketahuan menguping.

Ia malah mengambil kotak dekorasi yang salah.

Tisha menghampirinya. "Zev! Itu bukan punya kita!"

Zevanna melongo. "Hah?"

"Itu properti panggung!"

"Ya ampun. Gue kira kotak makanan tadi." Kata Zevanna sambil cengengesan.

"Kan, udah gue bilang jangan kebanyakan bengong!" Ujar Tisha jengkel.

"Ya sorry. Gue nggak sengaja," ucap Zevanna santai.

Tisha menghela napas. "Udah, lo ke area belakang panggung sana."

"Hah? Gue? Ke area belakang panggung?" Gumam Zevanna.

Tisha mengangguk. "Iya, lo tadi di suruh sama Mbak Vera buat ambil perlengkapan dekorasi di sana."

"Oh gitu, ya udah gue ke sana." Zevanna berjalan menuju area belakang panggung.

Bisma sedang mengatur area belakang.

Ia menoleh, melihat Zevanna hendak masuk.

"Mbak Zevanna."

Zevanna menoleh dan mengeryitkan dahi. "Iya, Mas?"

"Mbak mau ngapain masuk?" Tanya Bisma.

"Mau ambil beberapa perlengkapan dekorasi, disuruh Mbak Vera." Jawab Zevanna.

Bisma menelan ludahnya sendiri. "Kalau bisa... Jangan terlalu lama di belakang panggung."

Zevanna mengernyit. "Mas Bisma ngomong begitu lagi."

Bisma hanya tersenyum kaku. "Pokoknya hati-hati saja, Mbak."

Zevanna terdiam sejenak lalu mengangguk. "Iya, Mas."

Kemudian Zevanna masuk ke area belakang panggung untuk mencari perlengkapan dekorasi.

Di area belakang panggung suasananya sepi cuma ada beberapa barang saja untuk acara perusahaan.

Saat Zevanna mencari perlengkapan dekorasi. Matanya tidak sengaja melihat sesuatu di balik kotak besar di ujung panggung utama.

"Eh? Apa itu ya?" Ia berjalan untuk memeriksa. Namun saat ia hendak menyentuh kotak besar itu—

"Zevanna!"

Zevanna berhenti dan menoleh ke belakang.

"Lo lagi ngapain disitu?" Tanya Tisha.

"G-gue—"

"Ayok, Zev. Acaranya bentar lagi mau mulai ini!" Potong Tisha lalu menarik tangan Zevanna keluar dari area belakang panggung.

Zevanna terseok-seok, ia kembali menoleh ke kotak besar tersebut.

Tamu mulai berdatangan.

Musik dimainkan, lampu menyala, staf berdiri di pos masing-masing.

Ravenzo berjalan menuju panggung utama. Ia memakai kemeja berwarna merah.

Suasana langsung berubah lebih formal.

Zevanna melihat Ravenzo dari jauh.

Tuh cowok kalau kerja emang auranya beda banget.

Tisha langsung menyenggolnya. "Lo ngeliatin siapa?"

Zevanna menoleh dan menggeleng. "Nggak siapa-siapa!"

"Cieee. Liatin pak CEO ya?" Goda Tisha sambil menaikkan turunkan alisnya.

"DIEM LO!" Sentak Zevanna membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.

Tisha tersenyum. "Maaf ya semuanya, temen saya emang kayak gini."

Zevanna cuma mendengus kasar.

"Lo tuh bisa nggak sih? Mulutnya dijaga?!" Kata Tisha.

"Ya gara-gara lo tadi semua orang natap gue!" Jawab Zevanna santai.

Tisha menghela napas, mencoba sabar. "Iya, gue yang salah."

Sementara itu, Ravenzo sedang berbicara dengan Arvin.

Namun pandangannya sempat tertuju pada Zevanna.

Arvin menyadarinya. "Rav?"

Ravenzo kembali menatap Arvin. "Apa?"

Arvin menggeleng cepat. "Nggak apa-apa sih. Cuma manggil aja."

Ravenzo kembali melirik Zevanna yang sedang mengobrol dengan Tisha.

Setelah beberapa saat, acara perusahaan mulai berlangsung. Para tamu mulai memenuhi area utama, sementara staf Verion Group berdiri di posisi masing-masing untuk memastikan acara berjalan lancar.

Zevanna masih berdiri tidak jauh dari panggung bersama Tisha.

Namun tiba-tiba, suasana di area pintu masuk utama sedikit berubah.

Beberapa staf yang sedang berjalan terlihat menepi.

Tisha yang menyadari hal itu langsung menoleh.

“Eh, siapa tuh?” tanyanya penasaran.

Zevanna ikut menoleh ke arah pintu masuk.

Seorang wanita berjalan masuk dengan langkah tenang dan percaya diri.

Penampilannya terlihat elegan. Ia mengenakan pakaian formal yang rapi, rambutnya ditata dengan sempurna, dan tatapannya menunjukkan bahwa ia sudah cukup terbiasa berada di lingkungan orang-orang penting.

Beberapa staf langsung berbisik satu sama lain.

"Itu Alika." Jawab Zevanna sambil meminum minumannya.

"Alika siapa?" Tanya Tisha.

"Calon tunangan tuh cowok yang lima miliar."

"Hah? Maksudnya perempuan tadi calon tunangan pak CEO?" Kaget Tisha.

Zevanna mengangguk. "Iya."

Beberapa staf yang mengenalnya langsung memberi salam.

Alika membalas dengan senyum tipis sambil terus berjalan mencari seseorang.

Tak butuh waktu lama sampai pandangannya menemukan Ravenzo yang sedang berdiri bersama Arvin di dekat panggung.

Namun sebelum menghampiri Ravenzo, mata Alika justru sempat menangkap sosok Zevanna yang berada tidak jauh dari sana.

Alika mengenalinya.

Tatapannya berhenti beberapa detik.

Zevanna.

Perempuan yang beberapa waktu terakhir beberapa kali terlihat berada di sekitar Ravenzo.

Alika kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada Ravenzo.

“Raven.”

Ravenzo menoleh. “Alika.”

Alika berjalan mendekat. “Kamu sibuk ya?"

“Seperti yang kamu lihat.” jawab Ravenzo dingin.

Alika tersenyum tipis. “Kamu selalu sibuk.”

Ravenzo hanya menghela napas.

“Aku datang untuk menemui kamu.” kata Alika lembut.

“Di acara perusahaan?”

“Memangnya aku nggak boleh dateng?”

“Bukan begitu.”

Alika kemudian melirik sekilas ke arah Zevanna.

Ravenzo menyadari arah pandangannya. “Kamu lihat apa?”

Alika kembali menatap Ravenzo. “Nggak ada." Jawabannya pendek.

Tapi sebelum melanjutkan percakapan, Alika kembali melirik Zevanna sekali lagi.

Kali ini tatapannya sedikit lebih lama.

Zevanna yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari panggung akhirnya kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya.

Ia tidak terlalu memikirkan tatapan Alika tadi.

Baginya, mungkin wanita itu hanya sedang memperhatikannya karena kebetulan mereka berada di tempat yang sama.

“Zevanna!”

Zevanna menoleh.

Seorang staf administrasi berjalan menghampirinya sambil membawa beberapa lembar dokumen.

“Ini tolong diantarkan ke ruangan Pak Ravenzo, ya. Katanya harus segera ditandatangani.”

Zevanna menerima dokumen tersebut.

“Sekarang?”

“Iya. Pak Ravenzo lagi di sekitar panggung, kan?”

Zevanna melirik ke arah Ravenzo yang masih sedang berbicara dengan Alika.

“Oh... iya.”

“Kalau sudah ditandatangani, langsung bawa kembali ke meja administrasi.”

Zevanna mengangguk.

“Oke, Mbak.”

Staf itu kemudian pergi.

Zevanna menatap dokumen di tangannya.

“Kenapa harus gue sih?”

Tisha yang berada di sampingnya langsung menyahut. “Ya karena lo yang paling dekat.”

Zevanna mencibir. “Cih, Padahal kaki gue juga ada batas pemakaiannya, Tis.”

Tisha terkekeh. “Lebay. Sana buruan.”

Zevanna mendengus kecil. “Iya, iya.”

Ia kemudian berjalan meninggalkan area panggung sambil membawa dokumen tersebut.

Namun sebelum benar-benar pergi, tanpa sengaja pandangannya kembali bertemu dengan Alika.

Wanita itu masih berdiri di dekat Ravenzo.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Zevanna mengangkat alisnya sedikit. “Kenapa sih Mbak Alika dari tadi lihat gue?”

Namun ia segera mengabaikannya.

“Udahlah. Bukan urusan gue.”

Zevanna melanjutkan langkahnya menuju ruangan Ravenzo.

Sementara dari kejauhan, Alika masih sempat memperhatikan punggung Zevanna yang semakin menjauh.

Ravenzo menyadari perubahan tatapan Alika.

“Kamu kenapa?”

Alika mengalihkan pandangan kepadanya.

“Tidak apa-apa.”

Ravenzo menatapnya sebentar, tetapi tidak bertanya lebih lanjut.

***

Beberapa menit kemudian, Zevanna tiba di depan ruangan Ravenzo.

Ia mengetuk pintu dua kali.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Zevanna membuka pintu sedikit.

“Pak?”

Ravenzo yang sedang memeriksa beberapa dokumen di meja langsung mengangkat wajahnya.

“Zevanna?”

“Iya, Pak. Saya mau mengantar dokumen dari bagian administrasi.” Zevanna masuk dan meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja.

“Katanya ini perlu segera ditandatangani.” lanjutnya.

Ravenzo mengambil dokumen tersebut dan memeriksanya sekilas. “Taruh di sini.”

Zevanna mengangguk. “Iya, Pak.”

Ia hendak berbalik untuk pergi.

Namun Ravenzo tiba-tiba berkata,

“Sebentar.”

Zevanna berhenti. “Iya?”

Ravenzo menatapnya. “Kamu sudah makan?”

Zevanna langsung mengerutkan kening. “Hah?”

Ravenzo mengulang dengan nada datar. “Saya tanya, kamu sudah makan atau belum?”

Zevanna terdiam beberapa detik. “Belum sih, Pak.”

Ravenzo menghela napas kecil. “Dari pagi belum?”

Zevanna menggaruk kepalanya. “Belum sempat, Pak.”

Ravenzo menatapnya sedikit lama. “Kamu selalu seperti itu?”

Zevanna mengangkat bahu. “Kalau lagi sibuk, suka lupa.”

Ravenzo menggeleng pelan. “Jangan biasakan.”

Zevanna menatapnya heran. “Bapak perhatian juga ternyata.”

Ravenzo langsung kembali melihat dokumen di tangannya. “Jangan salah paham.”

Zevanna menahan senyum. “Siapa juga yang salah paham.”

Ravenzo tidak menjawab.

Zevanna kemudian berbalik menuju pintu. Namun kali ini langkahnya terasa sedikit lebih ringan.

“Pak.”

Ravenzo kembali mengangkat wajah. “Apa?”

“Kalau nanti saya pingsan gara-gara belum makan, jangan salahin saya.” kata Zevanna.

Ravenzo mengernyit. “Justru saya akan menyalahkan kamu.”

Zevanna terkekeh kecil. “Iya, Pak CEO.”

Ia kemudian keluar dari ruangan. Pintu pun tertutup.

Ravenzo kembali menatap dokumen di tangannya.

Namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis sebelum kembali memasang wajah datar.

Zevanna menghela napasnya. "Tuh tadi dia kesambet apa ya?" Gumamnya.

"Ah, bodo amat. Mau balik ke Tisha aja lah."

Namun sebelum ia melangkah, pintu ruangan kembali terbuka.

"Zevanna!"

Zevanna menoleh dan menatap Ravenzo. "Ya, Pak?"

"Ikut saya sebentar."

"Kemana, Pak?" Tanya Zevanna sambil mengernyitkan keningnya.

"Udah ikut aja, saya mau mengambil sesuatu." Jawab Ravenzo.

Zevanna mengangguk. "Iya, Pak."

Mereka berdua akhirnya berjalan menuju ruang lounge VIP yang berada di sisi gedung, tidak jauh dari area utama acara.

Sepanjang perjalanan, Zevanna hanya berjalan mengikuti Ravenzo sambil sesekali melirik ke sekeliling.

"Pak, emangnya Bapak mau ambil apa?" tanyanya penasaran.

"Dokumen."

"Dokumen?"

"Iya."

Zevanna mengangguk kecil. "Kirain mau ambil makanan."

Ravenzo berhenti sebentar lalu menoleh.

"Kamu pikir saya ngajak kamu ke sini buat ambil makanan?"

Zevanna mengangkat bahu. "Ya siapa tahu. Dari tadi juga saya belum makan."

Ravenzo menghela napas kecil. "Kamu belum makan?"

Zevanna menggeleng. "Kan tadi saya sudah jawab, Pak. Belum makan."

Ravenzo kembali berjalan. "Kenapa tidak makan dulu?"

"Ya acaranya lagi ramai, Pak. Lagian saya masih kerja."

"Kamu bisa makan sambil istirahat."

Zevanna menatap punggung Ravenzo dengan sedikit heran. "Pak..."

Ravenzo menoleh. "Apa?"

"Pak Ravenzo kenapa terlihat perhatian ke saya?"

Ravenzo langsung memalingkan wajahnya. "Jangan kepedean kamu."

Zevanna terkekeh kecil. "Hehe. Saya cuma bilang aja."

Mereka akhirnya sampai di depan ruang lounge VIP.

Ravenzo membuka pintu dan masuk lebih dulu.

Zevanna mengikuti dari belakang.

Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Hanya terdengar suara musik acara yang samar dari kejauhan.

Ravenzo berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.

Ia mengambil sebuah map hitam yang tergeletak di sana.

"Nah, ini."

Zevanna berdiri beberapa langkah darinya. "Udah ketemu, Pak?"

"Sudah."

Ravenzo hendak kembali keluar, tetapi langkahnya berhenti.

Ia menatap Zevanna sebentar.

"Kamu kelihatan capek."

Zevanna mengerutkan kening. "Kelihatan banget, Pak?"

"Iya."

"Yah... namanya juga kerja."

Ravenzo menghela napas.

"Kamu terlalu sering bilang 'namanya juga kerja'."

Zevanna tertawa kecil. "Terus saya harus bilang apa?"

Ravenzo menatapnya beberapa detik. "Tidak perlu selalu memaksakan diri."

Zevanna terdiam.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatnya sedikit bingung.

"Iya, Pak."

Ravenzo mengangguk. "Kita kembali."

Zevanna mengikuti langkahnya.

Namun sebelum keluar dari ruangan, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

"Pak Ravenzo."

Ravenzo berhenti.

"Iya?"

Zevanna menatapnya ragu. "Dulu... Mbak Zoyya sering ikut acara perusahaan seperti ini juga?" Tanyanya tiba-tiba.

Ravenzo terdiam. Ekspresinya berubah sedikit.

"Pernah." Jawabnya singkat.

"Bapak dekat sama, Mbak Zoyya?" ucap Zevanna.

Ravenzo menatap Zevanna. "Kenapa kamu bertanya soal itu?"

"Cuma penasaran aja, Pak." Kata Zevanna.

Ravenzo tidak langsung menjawab, ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.

"Ada beberapa hal tentang masa lalu yang sebaiknya tidak kamu gali sendirian."

Zevanna tersentak mendengar kalimat Ravenzo. "Maksud bapak apa?"

Ravenzo kembali menatap Zevanna intens. "Maksud saya... Kenapa kamu tiba-tiba nanya soal Zoyya?"

Zevanna tertegun, bingung mau menjawab apa.

Ravenzo menatap Zevanna yang diam, ia tersenyum tipis. "Kenapa diem, hm?"

"S-saya... Kan tadi saya cuma penasaran aja, Pak. Soalnya kemarin saya liat ada dokumen yang namanya Zoyya." Kata Zevanna menutupi rasa gugupnya.

Mati gue, ini mulut gue kenapa sih keceplosan.

Ravenzo menyipitkan matanya. "Beneran cuma itu?"

Zevanna mengangguk. "Iya, Pak. Beneran."

Dari kejauhan, Alika melihat Ravenzo dan Zevanna berbicara berdua.

Ekspresinya langsung berubah. Ia berjalan mendekat.

"Raven."

Ravenzo menoleh. "Alika?"

Alika berdiri di antara mereka. "Aku dari tadi nyariin kamu, Rav."

Ravenzo menatap Alika. "Aku sedang bekerja."

Alika melirik Zevanna. "Bekerja?"

Zevanna langsung merasa tidak enak. "Saya permisi dulu, Pak. Itu Tisha udah nungguin saya."

Zevanna hendak melangkah pergi.

"Tunggu." Kata Ravenzo.

Zevanna menatap Ravenzo. "Kenapa, Pak?"

"Jangan lupa makan." Jawab Ravenzo singkat membuat Zevanna tersentak mendengarnya.

Alika yang melihat itu, mengepalkan tangannya. Semakin tidak suka dengan Zevanna yang dekat dengan Ravenzo.

Tisha tiba-tiba datang. "Eh, Zev! Lo lagi sama Pak Ravenzo?"

Zevanna langsung melotot. "TISHA!"

Alika melirik Tisha. "Kamu temannya Zevanna?"

Tisha menoleh ke arah Alika. "Iya."

Tisha tersenyum polos. "Kenapa, Bu? Mau ikut ngobrol sama kita juga?"

Zevanna menepuk jidatnya, merasa frustasi.

Alika melebarkan matanya. "Bu? Kamu manggil saya Bu?"

Tisha mengerjapkan matanya. "Iya, emang kenapa, ya?"

"Eh, saya ini masih muda ya. Bukan ibu-ibu, enak aja kamu manggil saya Bu!" Sentak Alika menatap Tisha tajam.

"Ya kalau begitu saya panggil anda 'nenek' aja, ya?" Kata Tisha santai membuat Alika kesal.

Zevanna yang melihat itu, langsung menarik tangan Tisha. "Ayok, Tis! Maafin temen saya, Bu. Saya permisi dulu. Bye Pak bos!"

Zevanna berjalan cepat sambil menarik tangan Tisha.

Ravenzo menatap punggung Zevanna.

"Raven! Tadi kamu liat kan? Karyawan kamu kurang ajar sama aku." Kata Alika.

Ravenzo meliriknya sekilas. "Dia sudah sopan manggilnya."

Lalu Ravenzo pergi meninggalkan Alika yang terpaku.

"Ravenzo! Tunggu!" Alika menyusul Ravenzo.

***

Setelah suasana reda, Zevanna berjalan ke koridor kantor dan melihat Henry masuk ke area belakang panggung bersama Arvin.

Mereka terlihat berbicara serius.

Zevanna tidak bisa mendengar semuanya. Ia perlahan mendekat.

"Pastikan tidak ada yang masuk ke sana malam ini." Kata Henry pelan.

Arvin mengangguk. "Saya mengerti, Pak."

"Jangan sampai ada yang tau soal ini..." Jeda Henry menatap Arvin. "Apalagi dia!"

"Iya, Pak. Tenang aja. Dia nggak bakal tau." Jawab Arvin.

Henry mengangguk lalu keluar dari area belakang panggung.

Arvin pun keluar juga.

"Mas, Arvin!"

Arvin berhenti dan menoleh. "Ya?"

"Tadi Mas Arvin sama Pak Henry di belakang panggung?" Tanya Zevanna.

Arvin mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak. Cuma lihat aja tadi, hehe."

"Kalau begitu, jangan terlalu banyak memperhatikan hal yang bukan urusanmu." Ucap Arvin lalu ia pergi meninggalkan Zevanna yang membuatnya terdiam.

Kok jawabannya malah bikin gue makin curiga ya?

Zevanna menggaruk kepalanya. "Tadi mereka ngomongin apa ya?" Gumamnya. "Soal dia yang nggak boleh tau? Siapa dia?"

***

Acara semakin malam. Sebagian tamu mulai meninggalkan gedung.

Lampu panggung perlahan dikurangi.

Bisma kembali sibuk di belakang panggung utama.

Zevanna berdiri dan menatap Bisma dari jauh. Ia teringat peringatannya.

"Jangan sering-sering ke belakang panggung kalau lampunya mati."

Zevanna mulai merasa tidak nyaman dan penasaran.

"Emang apa yang terjadi sih kalau gue kesana pas lampunya mati?" Gumamnya.

Zevanna hendak ke toilet, namun langkahnya terhenti, matanya melihat Henry dan Arvin keluar dari area belakang panggung utama.

Henry tampak membawa sebuah map hitam.

Arvin melihat ke kiri-kanan sebelum mereka berpisah.

Zevanna memperhatikan mereka berdua.

Mereka sebenarnya ngapain sih di area belakang panggung?

Zevanna hendak mengikuti, namun Tisha memanggilnya dari jauh.

"Zevanna!" Panggil Tisha.

Zevanna langsung menoleh. "Apaan?"

Tisha menghampirinya. "Gue tadi nyariin lo, ternyata lo disini."

"Ngapain lo nyariin gue?" Tanya Zevanna.

"Ini kan udah malem, acaranya udah selesai. Lo nggak mau pulang apa?" Kata Tisha.

Zevanna menatap sekeliling. "Ya nanti gue pulang kok, kalau lo mau pulang. Pulang duluan aja." Ujarnya.

Tisha mengangguk. "Ya udah kalau gitu, gue pulang ya, Zev. Byee."

Zevanna tersenyum kecil. "Iya. Bye!"

Tisha membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Zevanna.

Zevanna melangkahkan kakinya menuju meja administrasi, tapi ketika kembali, ia menemukan selembar dokumen yang tertinggal.

Di bagian atas tertulis:

ARSIP ACARA — VERION GROUP

Ada tanggal lama yang sama dengan periode ketika Zoyya masih bekerja.

Deg.

Zevanna langsung terdiam. "Ini... Punya siapa?"

Ia hendak membaca lebih lanjut. Namun, sebelum sempat membaca semuanya. Arvin tiba-tiba datang.

"Itu bukan untuk kamu." Katanya.

Zevanna terkejut dan menatap Arvin. "Mas Arvin? Saya cuma nemu di meja."

Arvin langsung mengambil dokumen itu. "Lain kali, kalau menemukan dokumen seperti ini, langsung serahkan ke bagian Administrasi senior."

Zevanna menatap curiga. "Kenapa, Mas?"

Arvin menelan ludahnya dan berdehem. "Karena ada dokumen lama yang sebaiknya tidak dibaca sembarang orang."

Zevanna terdiam sejenak. "Iya, Mas. Maaf."

Arvin menatap Zevanna lalu ia pergi sambil membawa dokumen tersebut.

Saat Arvin pergi, mata Zevanna melihat sesuatu yang tertinggal di lantai.

Sebuah kartu akses lama.

Di belakangnya terdapat tulisan kecil: Lantai 6 — akses terbatas.

Zevanna mengambilnya, dan wajahnya langsung berubah. "Lantai enam..."

Zevanna hendak menyimpan kartu itu. Tapi tiba-tiba dari arah belakang panggung terdengar suara benda jatuh.

BRAK!

Zevanna menoleh. "Suara apa itu?"

Ia langsung menghampiri suara tersebut.

Saat sampai, lorong belakang sudah gelap. Beberapa lampu mati.

Zevanna teringat ucapan Bisma.

"Jangan sering-sering ke belakang panggung kalau lampunya mati."

Zevanna terdiam sejenak menatap sekitar.

Lalu terdengar suara langkah kaki dari lorong.

Tap.

Tap.

Tap.

Zevanna mundur satu langkah. "Siapa di sana?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah yang semakin dekat.

"Woi, siapa lo? Keluar!" Kata Zevanna.

Lalu tiba-tiba—

Lampu lorong menyala kembali.

Tidak ada siapa-siapa.

"Kok nggak ada siapa-siapa sih?" Gumam Zevanna heran.

Namun di lantai, tepat di depan kaki Zevanna, terdapat sebuah benda kecil.

"Eh...?"

Zevanna melihat benda kecil itu. Ia membungkuk dan mengambilnya.

Zevanna menatap benda itu dengan mata membesar.

"...Kak Zoyya?"

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!