**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Akta Cerai
Laras membaca pesan Wahyu sampai mi di pancinya mengembang terlalu lunak.
Ia meletakkan mangkuk, lalu membalas.
`Senin aku ke Kebumen.`
Jawaban Wahyu datang singkat.
`Aku tunggu.`
Beberapa hari kemudian, mereka bertemu di Pengadilan Agama Kebumen. Wahyu datang lebih awal dengan kemeja putih yang disetrika rapi. Rambutnya dipotong, wajahnya sudah dicukur, dan luka di sudut pelipis akibat perkelahian malam itu mulai menguning.
Ia tampak seperti Wahyu yang dulu datang ke rumah orang tua Laras untuk melamar, sebelum tagihan dan rumah sakit menekuk punggungnya.
“Sudah lama?” Laras bertanya.
“Baru.” Wahyu melihat map di tangannya. “Buku nikah dibawa?”
“Dibawa.”
Mereka masuk tanpa berbicara lagi.
Di meja pendaftaran, Laras menyerahkan surat gugatan cerai, salinan identitas, buku nikah, serta data alamat para pihak. Petugas memeriksa kelengkapan, menjelaskan panjar biaya perkara, lalu memberikan nomor pendaftaran dan jadwal panggilan sidang.
Wahyu berdiri di sampingnya sepanjang proses.
“Saya akan datang setiap dipanggil,” katanya kepada petugas.
Petugas mengangguk. “Tetap ikuti surat panggilan resmi dan tahapan persidangan. Nanti ada upaya damai dan mediasi.”
Di luar ruangan, Laras menatap nomor perkara resmi di tangannya. Ini bukan lagi ancaman dalam pertengkaran. Namanya benar-benar tercatat sebagai penggugat.
“Kamu masih bisa berubah pikiran,” kata Wahyu.
Laras menatapnya.
“Bukan untuk kembali,” lanjut Wahyu cepat. “Maksudku, kalau ada bagian gugatan yang mau diperbaiki.”
“Nggak ada.”
Wahyu mengangguk. “Baik.”
Tahapan berikutnya tidak selesai dalam satu hari. Panggilan resmi datang. Mereka hadir dalam persidangan, menjalani upaya damai, lalu duduk berhadapan dalam mediasi. Mediator meminta keduanya menjelaskan apakah rumah tangga masih mungkin dipertahankan.
Ruang mediasi lebih kecil daripada bayangan Laras. Tidak ada hakim yang memukul palu seperti di televisi. Hanya meja, tiga kursi, pendingin ruangan, dan pertanyaan yang harus dijawab tanpa bersembunyi.
“Apakah keputusan berpisah dibuat karena emosi sesaat?” tanya mediator.
“Tidak,” jawab Laras.
“Apakah masih ada komunikasi yang bisa diperbaiki?”
Laras melihat Wahyu. “Kami sudah mencoba bertahun-tahun tanpa benar-benar menyebutnya mencoba. Saya sudah tidak sanggup kembali.”
Mediator kemudian bertanya kepada Wahyu apakah ia menolak gugatan.
Wahyu menggenggam kedua tangan di atas meja. “Awalnya saya menolak. Saya marah. Tapi kalau saya paksa dia kembali, kami cuma akan saling menyakiti.”
“Ada anak dari perkawinan ini?”
“Tidak,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Ada sengketa nafkah, harta, atau hal lain yang ingin dimasukkan?”
Laras menggeleng. Fokusnya hanya mengakhiri ikatan hukum. Wahyu juga tidak mengajukan tuntutan. Dana untuk pengobatan orang tuanya tetap dipisahkan dari harta perkawinan karena mereka sepakat menggunakannya sesuai tujuan awal.
Mediator memberi waktu kepada mereka untuk bicara empat mata. Setelah pintu tertutup, Wahyu menatap Laras.
“Kalau aku bilang belum siap, kamu tetap lanjut?”
“Iya.”
“Kalau aku bilang siap?”
“Aku akan berterima kasih.”
Wahyu tersenyum sedih. “Ternyata dua jawaban itu sama-sama membuatmu pergi.”
“Aku sudah pergi sebelum kita masuk ruangan ini.”
Wahyu menunduk. Ketika mediator kembali, ia menyatakan upaya damai tidak mencapai kesepakatan untuk mempertahankan perkawinan.
Pernyataan Wahyu bahwa ia tidak akan memaksa Laras kembali terasa seperti pintu yang akhirnya dibuka dari kedua sisi.
Karena Wahyu tidak mangkir dan tidak memperpanjang sengketa, perkara berjalan tanpa pertarungan tambahan. Ia tidak menggugat uang, barang, atau mencoba menahan buku nikah. Laras tetap harus menunggu putusan, masa sampai berkekuatan hukum tetap, dan penerbitan dokumen administratif.
Beberapa pekan kemudian, mereka kembali ke Pengadilan Agama untuk mengambil akta cerai.
Pagi itu Wahyu kembali berpakaian rapi. Bekas luka di wajahnya hampir hilang. Laras mengenakan blus sederhana dan membawa tas kerja karena malam nanti harus kembali ke Jakarta.
Petugas menyerahkan dokumen kepada mereka masing-masing. Laras membaca namanya, nama Wahyu, nomor perkara, dan keterangan bahwa pernikahan mereka telah berakhir secara hukum.
Tangannya terasa dingin memegang kertas tersebut. Ia teringat hari akad, saat buku nikah masih baru dan keluarga mereka berebut mengambil foto. Wahyu waktu itu berjanji akan bekerja keras. Laras berjanji akan mendampingi dalam susah dan senang.
Mereka tidak berbohong. Wahyu memang bekerja keras. Laras memang mendampingi terlalu jauh. Janji mereka hanya tidak mengajarkan kapan perjuangan berubah menjadi luka yang tak lagi sehat.
Di jari manis Laras masih ada garis pucat bekas cincin yang sudah dilepas sebelum sidang pertama. Ia mengusap garis itu sekali, lalu memasukkan akta cerai ke map bening agar tidak terlipat.
Tidak ada suara pecah. Tidak ada pintu dibanting. Hanya selembar kertas yang menutup lima tahun kehidupan.
Wahyu duduk di bangku luar gedung dan menatap akta cerainya lama sekali.
Laras duduk di ujung bangku yang sama.
“Aneh,” kata Wahyu. “Dulu kita butuh banyak orang buat menikah. Sekarang selesai dengan dua lembar kertas.”
“Nggak cuma dua lembar.”
“Iya.” Ia tersenyum pahit. “Ada lima tahun di belakangnya.”
Angin menggerakkan daun di halaman. Orang-orang datang dan pergi membawa map. Bagi mereka, perceraian Laras hanyalah satu nomor perkara dari banyak nomor lain.
“Uang seratus juta itu belum habis,” kata Wahyu.
Laras menoleh.
“Setelah biaya tindakan, obat, dan kamar, masih ada cukup banyak. Aku pakai sebagian buat perawat pendamping Ibu beberapa jam sehari.”
“Bagus. Kamu jadi bisa kerja.”
“Iya. Kondisi Ibu juga lebih stabil.” Wahyu meremas sudut map. “Aku akan catat semua pengeluaran. Sisanya nanti aku kembalikan.”
“Perawatnya datang setiap hari?”
“Pagi sampai siang. Dia bantu mandi, cek obat, dan temani kontrol kalau aku kerja. Bapak sekarang pegang satu buku jadwal. Awalnya semua berantakan, tapi kami mulai terbiasa.”
“Aku senang dengarnya.”
“Dulu aku selalu berpikir lebih gampang minta kamu pulang daripada membayar bantuan. Aku nggak pernah menghitung berapa mahal harga yang kamu bayar dengan hidupmu.”
Laras memandang orang-orang di halaman agar tangisnya tidak jatuh. “Aku juga seharusnya bicara sebelum semuanya meledak.”
“Kamu sudah bicara. Aku yang cuma dengar kalau ada angka uang di dalamnya.”
“Nggak perlu ke aku. Itu tetap uang Bram.”
Nama itu membuat udara di antara mereka berubah, tetapi Wahyu tidak lagi marah.
“Dia yang datang malam itu,” katanya.
Laras tidak berbohong. “Iya.”
“Dia bilang banyak hal.”
“Aku tahu.”
Wahyu menyentuh luka yang sudah pudar di pelipis. “Sakit dengarnya. Tapi kebanyakan benar.”
Laras tidak membela Bram.
“Maaf,” lanjut Wahyu. “Aku ngerugiin kamu bertahun-tahun.”
Mata Laras panas. “Kita sama-sama membiarkan semuanya terlalu lama.”
“Kamu lebih banyak menanggung.”
“Mas...” Laras berhenti. Sapaan itu tidak lagi tepat.
Wahyu menyadarinya dan tersenyum kecil. “Panggil Wahyu saja.”
Air mata Laras akhirnya jatuh.
Wahyu mengeluarkan tisu dari saku. “Aku juga mau bilang, aku sudah mengundurkan diri.”
“Kenapa?”
“Dapat kerja di luar kota. Gajinya hampir dua kali lipat. Ada asrama karyawan, jadi aku bisa simpan lebih banyak buat orang tua.”
“Mulai kapan?”
“Bulan depan. Perusahaannya kasih masa percobaan. Kerjanya lebih berat, tapi jamnya jelas.” Wahyu menarik napas. “Aku takut, tapi untuk pertama kalinya takutnya terasa seperti mau maju, bukan tenggelam.”
Laras tersenyum di sela air mata. “Kamu pasti bisa.”
“Dulu aku selalu menunggu keadaan berubah sendiri. Setelah kamu pergi, aku sadar nggak ada yang akan datang menyelamatkan.”
“Ibu bagaimana?”
“Ada perawat. Aku pulang teratur. Bapak juga mulai belajar urus jadwal obat.” Ia tertawa lemah. “Ternyata waktu kamu berhenti mengurus semua, kami jadi terpaksa belajar.”
Kalimat itu tidak terdengar menuduh. Justru ada kelegaan di wajah Wahyu.
“Mungkin aku juga dapat napas setelah cerai,” katanya. “Selama ini aku selalu merasa gagal jadi suami. Setiap lihat kamu capek, aku makin malu, tapi bukannya berubah malah makin bergantung.”
“Semoga pekerjaan barumu baik.”
“Semoga pekerjaanmu juga.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Wahyu membuka kedua tangan dengan ragu. “Boleh peluk terakhir?”
Laras melangkah maju.
Pelukan itu tidak mengandung keinginan untuk kembali. Hanya dua orang yang pernah membangun rumah bersama, lalu akhirnya menerima bahwa rumah tersebut tidak bisa diselamatkan.
“Jaga diri,” bisik Wahyu.
“Kamu juga.”
Mereka melepaskan pelukan perlahan. Wahyu menghapus wajah dengan telapak tangan dan tertawa kecil karena sama-sama menangis di halaman kantor.
“Setelah ini aku nggak akan ganggu,” katanya. “Kalau soal kondisi Ibu atau uang perawatan, aku kirim laporan. Selain itu, kita jalan masing-masing.”
“Kamu boleh mengabari kalau ada keadaan darurat.”
“Aku akan belajar membedakan darurat dengan kebiasaan bergantung.”
Laras mengangguk. “Terima kasih.”
Wahyu memasukkan akta cerai ke tas. “Terima kasih juga karena pernah bertahan lebih lama dari yang seharusnya.”
Laras melihatnya berjalan menuju parkiran. Langkah Wahyu belum ringan, tetapi punggungnya tidak lagi membungkuk seperti lelaki yang menunggu seseorang menyelesaikan hidupnya.
Ia sendiri berdiri sampai sosok itu hilang di antara kendaraan. Sedihnya masih ada, namun tidak lagi berbentuk rantai. Kesedihan itu kini menyerupai bekas luka: akan tetap diingat, tetapi tidak memaksanya kembali ke tempat luka tersebut dibuat.
Mereka berjalan ke arah berbeda di halaman Pengadilan Agama.
Di dalam taksi, Laras baru benar-benar menangis. Sopir melihat lewat kaca, lalu menyerahkan kotak tisu ke belakang.
“Nanti ketemu yang lebih baik, semangat ya, Neng.”
Laras menerima tisu. “Terima kasih, Pak.”
Ponselnya berdering sebelum taksi keluar dari gerbang.
Nama Tiara muncul di layar.
Laras menarik napas dan menjawab.
“Halo?”
Suara Tiara terdengar dingin. “Kirim alamat tempat tinggal lo.”