Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
#10
“Aku bisa jelaskan siapa dia,” kata Zion, makin membuat Lizie kesal karena pria itu tak memperlihatkan rasa bersalah sedikitpun.
Lizi melengos ia kembali membaringkan tubuhnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “Nggak perlu, aku tahu kok, kalau kamu mau jawab kalian kebetulan ketemu, lalu makan siang sambil bernostalgia.”
Zion menggaruk kepalanya, bagian paling menyebalkan dari memiliki pasangan adalah menghadapi kecemburuan wanita. Kadang mereka mudah berprasangka padahal hanya sepintas hal yang dilihatnya hanya kebetulan semata.
Zion ikut masuk ke dalam selimut, lalu kembali memeluk erat pinggang Lizie, menarik tubuh sang istri semakin rapat menempel di dadanya. “Kami memang kebetulan bertemu, dia baru kembali dari UK setelah menyelesaikan kuliahnya.”
“Ya, udah sana! Pergilah padanya, ngapain masih dekat-dekat denganku!” usir Lizie ketus, sekaligus menahan perih di hatinya.
“Mana bisa kembali padanya, kan, dia bukan siapa-siapanya aku.”
“Huh, kamu pikir aku percaya?”
“Ya, harus percaya. Kan, kamu istriku, siapa lagi yang bisa percaya padaku selain kamu, hmm?” Jawaban Zion masih tenang, dengan suaranya yang rendah, mana bisa ia berpaling dari wanita yang kini sudah menjadi pusat hidupnya.
“Kalau begitu, lep—” Zion langsung membungkam bibir istrinya dengan telapak tangannya, karena ia takut kalimat perpisahan itu akan terucap, disaat Lizie masih dikuasai emosi.
Zion bergeser, lalu menarik tubuh Lizie hingga menghadap ke arahnya. “Namanya Nazira, benar, dia mantan kekasihku, tapi saat itu aku hanya menolongnya.”
Lizie masih tersenyum sinis, sebuah pertolongan dijadikan alasan, siapa yang percaya.
“Basi banget alasanmu.”
“Terserah jika kamu berpikir begitu, tapi itulah kenyataannya. Karena yang Zira sukai adalah Zain, bukan aku. Si bodoh itu tak pernah sadar bahwa sejak dulu, ada gadis yang tergila-gila setengah mati padanya. Karena itulah Zira meminta pertolongan dariku, hanya ingin melihat apakah Zain benar-benar tak memiliki rasa padanya.”
“Ternyata?” Kini Lizie yang penasaran dengan kelanjutannya.
“Sampe kuda tua berubah jadi kuda poni, dia gak pernah sadar.”
“Lalu? Kenapa Zira tak mengatakan perasaannya pada Zain?”
“Entah, itu bukan urusanku. Karena yang terpenting bagiku adalah kamu nggak marah lagi.”
Lizie tersenyum, “Maaf—” ucapnya, lalu ia merapat dalam pelukan suaminya.
Zion semakin mempererat pelukannya. “Kamu saja selalu membuatku ingin lagi dan lagi, mana sempat aku memikirkan yang lain?”
“Jangan pernah memikirkan yang lain, aku benar-benar akan menghajarmu jika berani macam-macam di belakangku.”
Ancaman Lizie membuat Zion terkekeh, “Hmm, aku akan mengingatnya.”
•••
Pagi hari itu mereka kembali menyambut pagi dengan tawa, suasana tak lagi canggung seperti semalam, Lizie kembali tersenyum lebar dan cerewet seperti ibu-ibu pada umumnya. Dan Zion pun kecipratan omelan karena bangun kesiangan, padahal Lizie sudah membangunkannya sejak pukul lima.
“Duh, iya— iya—”
Zion berlarian kesana-kemari karena sang istri memarahinya, “Sayang! Kaos kaki dimana?”
Padahal kaos kaki sudah Lizie letakkan di dekat sepatu, namun, Zion masih ribut mencarinya di dalam kamar. “Sudah disini.”
“Papa! cepet, kan aku teyat, nih!” Zea yang sudah rapi dengan tas dan bekal sekolahnya ikut merengek manja.
“Sayang, aku belum sarapan.”
Lizie menyodorkan kotak bekal, lengkap dengan kopi pagi untuk sang suami.
Zion tersenyum lebar, tak lupa mengecup kening Lizie sebelum melesat keluar.
“Bye, bye, Mama!” Zea melambaikan tangan, saat mobil bergerak keluar gerbang, rumah mertuanya masih sepi, sepertinya mereka menginap di Geraldy Kingdom.
“Nyonya, ada kiriman.” Security membawakan sebuah kotak bungkusan misterius, tanpa nama pengirim.
“Kapan datangnya, Pak?”
“Barusan diantar kurir.”
“Terima kasih, Pak,” ucap Lizie, lalu membawa masuk kiriman tersebut.
Mendadak, tangan dan tubuh Lizie gemetar, saat dia teringat pesan singkat dari nomor tak dikenal yang diterimanya kemarin.
Jangan-jangan bungkusan ini juga berasal dari orang yang sama?
Brak!
Bungkusan itu terjatuh begitu saja.
Lizie menoleh ke sekitar, bangunan luas milik mertuanya ini sangatlah aman.
Sistem keamanannya berlapis, mulai dari tembok yang tinggi, CCTV dimana-mana, serta terpantau 24 jam. security dengan ilmu bela diri profesional, serta alarm yang siap berbunyi sewaktu-waktu ada bahaya. Jadi sangat mustahil ada sembarang orang yang memata-matai keberadaannya. Kecuali orang itu memang sengaja mengikutinya sejak dari luar.
Dengan panik dan nafas memburu ketakutan, Lizie menutup semua tirai jendela, ia duduk bersembunyi di sudur ruangan. Tapi, orang-orang yang dicintainya ada di luar sana, apakah mereka baik-baik saja? Semoga saja. Zion dan kedua mertuanya bisa menjaga diri, Lizie yakin mereka akan baik-baik saja, kini yang membuat Lizie resah adalah Zea.
Peristiwa kemarin seperti sebuah ancaman.
Lizie berdiri lalu menyambar ponselnya, ia menghubungi wali kelas Zea.
“Iya, halo Mama Zea?” jawab wali kelas Zea.
“Ha-halo, Miss Eva. Apakah Zea sudah di sekolah?” tanya Lizie, terdengar aneh di telinga wali kelas Zea.
“Sudah, Mama. Baru saja saya yang menyambut kedatangannya, apakah ada masalah?” tanya Miss Eva, karena merasa curiga dengan pertanyaan Lizie.
Lizie bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban wali kelas Zea. “Tidak, Miss. Hanya memastikan saja, baiklah, terima kasih.”
“Sama-sama, Mama Zea.”
Lizie mengakhiri panggilan, tubuhnya kembali luruh terduduk di lantai, masih dengan rasa takut yang terus menghinggapi dirinya.
Cukup lama Lizie duduk dengan posisi memeluk kedua lututnya, hingga pelan-pelan ia mulai memberanikan diri mendekati bungkusan tersebut untuk mengetahui apa isi di dalamnya.
Bungkusan itu pun terbuka, isinya tak sebesar kotak yang membungkusnya, sebuah batu berwarna putih, berukuran sepanjang jari tengah orang dewasa.
Ada dua kata terukir di sana.
–Memento Mori–
Memori di kepala Lizie seakan diseret kembali ke masa lalu.
•
Flashback.
Pagi itu sangat dingin, salju tebal menutupi jalan dan pepohonan, disisi lain, ada sekitar sepuluh anak masing-masing memeluk senapan di kedua tangannya.
Wajah mereka pucat, kering, dan bibirnya pun pecah-pecah karena udara dingin, tapi mereka tak punya pilihan selain terus melangkah mengikuti dua orang dewasa yang memandu perjalanan, tujuan mereka adalah perbukitan yang tak nampak terlihat rerumputan.
Rupanya mereka sedang dilatih untuk saling menembak satu sama lain.
Membunuh, atau dibunuh.
Hanya itu pilihannya, mereka berpencar bersembunyi di balik batang pohon untuk berlindung, jika gagal melindungi diri, mana mereka yang akan mati tanpa pernah diketahui dimana makamnya.
Saat itulah, dua orang anak yang bersembunyi di tempat yang sama, salah seorang dari mereka berkata.
“Memento mori.”
Anak yang satunya terdiam, sepertinya ia tak memahami kalimat tersebut.
“Ingatlah, bahwa suatu saat kamu juga akan pergi.”
“Jika sekarang kau bisa hidup dalam terang, jangan pernah lupa hal yang ada di akhir.”
Flashback End.
•
Lizie terdiam kaku, wajahnya berubah dingin dan gelap, ia tak suka, benar-benar tak suka mengingat apapun dari masa kecilnya yang penuh kepahitan.
Dia tak suka, dia begitu benci jika ada yang mengingatkannya pada masa-masa kelam menyakitkan tersebut.
Dengan kasar Lizie membawa sampah yang semula membungkus batu berwarna putih tersebut ke tempat pembakaran yang ada di samping rumah. Lalu ia menyalakan api guna menghanguskan semuanya tanpa jejak.
Tak ada siapapun yang boleh merusak kebahagiaannya saat ini, yakni suami, anak, dan seluruh keluarganya. Lizie bersumpah, jika ada yang berani melakukannya maka Lizie pastikan akan mencabik dan menghabisi mereka semua hingga hilang tanpa jejak.
Saat kembali masuk rumah, Lizie melihat ponselnya bergetar, lagi-lagi dari anonim, telepon tanpa nomor dan tanpa nama.
“Masih mengingatku?” tanya orang di seberang sana setelah Lizie menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
“Ayo kita bertemu,” desis Lizie geram.
“Belum saatnya.”
Klik!
Tut!
Tut!
Telepon dimatikan sebelum Lizie sempat bicara lebih banyak.