Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi Goreng Spesial

Malam beranjak semakin larut, menyelimuti rumah dua lantai berarsitektur minimalis tempat Nadhira dan Reyhan tinggal. Suasana kompleks perumahan yang tenang membuat denting jarum jam dinding di area ruang tamu terdengar begitu jelas, menunjukkan pukul sembilan malam.

Setelah menyelesaikan tumpukan draf sketsa Tipografi dan membersihkan diri dengan mandi air hangat, Nadhira melangkah keluar dari kamarnya di lantai atas.

Rambutnya yang masih setengah basah terurai bebas, dan ia sudah mengenakan pakaian ternyamannya, kaos kebesaran berwarna abu-abu dengan celana piyama kain motif kotak-kotak.

Saat menuruni anak tangga, aroma harum yang asing menyapa indra penciumannya. Aroma tumisan minyak zaitun, bawang putih, dan aroma khas daun herbal melayang lembut di udara, berasal dari arah dapur yang lampunya terang benderang.

Nadhira menyeret langkah kakinya mendekat. Di sana, di depan kompor induksi yang mengkilap, berdiri sosok Reyhan. Pria itu sudah berganti pakaian santai, kaos polos hitam dan celana bahan panjang, namun apron kain berwarna abu-abu tua melilit rapi di pinggangnya.

Dengan telaten dan gerakan yang amat terukur, Reyhan sedang membalikkan dua potong dada ayam di atas wajan anti-lengket, sementara di sebelah wajan tersebut terdapat panci kecil berisi rebusan brokoli dan wortel.

"Belum tidur?" tegur Reyhan tanpa menoleh, seolah punya indra keenam yang bisa merasakan kehadiran Nadhira di ambang pintu dapur.

Nadhira menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, mengelus perutnya yang mendadak berbunyi nyaring. Kruuuk...

"Perut saya lapar banget, Pak," keluh Nadhira dengan wajah memelas. "Efek makan siang roti lapis tadi udah menguap dari tadi sore. Sekarang rasanya cacing di perut saya lagi pada demo menuntut hak."

Reyhan mematikan kompor, memindahkan potongan dada ayam panggang dan sayuran rebus itu ke atas piring porselen putih berukuran besar. Ia menata makanan itu dengan sangat estetis, menyerupai sajian restoran fine dining.

"Kebetulan saya baru selesai masak untuk makan malam," ujar Reyhan tenang sambil mengelap tepi piringnya dengan tisu dapur. Ia lalu menunjuk piring berisi menu sehat itu. "Kamu bisa makan ini. Porsinya cukup banyak."

Nadhira melangkah mendekati meja bar dapur, melongokkan kepalanya untuk melihat masakan Reyhan dari dekat.

Begitu matanya menangkap potongan dada ayam tanpa bumbu kecap, brokoli hijau yang masih mengepul, dan salad daun roket di sampingnya, selera makan Nadhira seketika hilang.

Wajah gadis itu cemberut maksimal. "Aduh, Pak... Ini kan menu bekal yang tadi siang bikin saya trauma. Masa malam-malam gini saya disuruh ngunyah rumput sama dada ayam tawar lagi sih? Yang ada saya malah makin stres saya."

Reyhan menaikkan sebelah alisnya, menatap Nadhira datar dari balik kacamatanya. "Ini dada ayam panggang dengan bumbu rosemary dan minyak zaitun, Nadhira. Sangat baik untuk pencernaan malam hari dan tidak membuat menumpuk lemak."

"Tapi rasanya pasti tawar banget di lidah saya," rengek Nadhira. Ia memutar tubuhnya membelakangi makanan sehat buatan Reyhan.

"Saya mau bikin yang gurih-gurih aja deh. Mau menggoreng nugget sama sosis bakar kayak tadi pagi."

Dengan bersemangat, Nadhira melangkah menuju kulkas dua pintu berbalut stainless steel di pojok dapur. Ia menarik pintunya lebar-lebar, bermaksud menyambar kotak tempat penyimpanan stok makanan beku favoritnya.

Namun, saat matanya menyapu seluruh isi freezer, keceriaan di wajah Nadhira seketika menguap.

Kotak tempat penyimpanan makanan bekunya kosong melompong. Tidak ada satu pun kemasan nugget ayam renyah, tidak ada sosis sapi bermerek favoritnya, dan saat ia mengecek rak telur di bagian pintu kulkas bawah, wadah itu juga hanya menyisakan cangkang-cangkang kosong.

"Lho... Kok habis?" seru Nadhira kaget, matanya membelalak tak percaya. "Sosis sama nugget saya kemana? Perasaan kemarin masih ada satu bungkus utuh."

"Sosis dan nugget kamu sudah kamu masak semua tadi pagi untuk bekal yang akhirnya saya makan," sahut Reyhan santai dari meja bar, mulai memotong dada ayamnya dengan pisau dan garpu. "Dan telur ayamnya habis kamu pakai kemarin malam."

Nadhira mematung di depan pintu kulkas yang masih terbuka, memandangi rak-rak dingin yang kosong itu dengan perasaan campur aduk. Kecewa, sedih, dan meratapi nasibnya yang amat malang di malam hari.

"Masa nggak ada stok makanan siap saji sama sekali sih..." gumam Nadhira lemas, perlahan menutup pintu kulkas. Ia menyandarkan dahi ke pintu kulkas yang dingin, meratapi perutnya yang kian berbunyi nyaring.

Jujur saja, dalam hal memasak, kemampuan Nadhira memang sangat memprihatinkan. Sejak kecil hingga lulus SMA, Nadhira tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya yang sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.

Di rumah orang tuanya dulu, segala kebutuhan makanannya selalu disiapkan oleh ibunya atau asisten rumah tangga. Nadhira tidak pernah disentuh oleh urusan dapur selain bertugas menghabiskan makanan di meja.

Satu-satunya keahlian memasak yang ia kuasai hanyalah merebus mi instan, menggoreng nugget, menggoreng sosis, dan mendadar telur.

Di luar makanan instan dan siap saji itu, Nadhira benar-benar buta soal bumbu dapur. Ia tidak tahu bedanya lengkuas dan jahe, tidak tahu takaran garam yang pas, apalagi cara mengolah bahan makanan segar dari awal.

Kini, saat stok makanan siap sajinya habis dan ia harus dihadapkan pada bahan-bahan segar yang ada di rak bawah kulkas seperti beras, bawang-bawangan, dan cabai, Nadhira merasa benar-benar tak berdaya.

"Kalau tau gini, tadi pas pulang kuliah saya mampir minimarket dulu beli mi instan," cicit Nadhira pelan sambil berjalan lemas mendekati meja bar, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kedua tangannya di atas meja. "Mana lapar banget lagi..."

Reyhan menghentikan denting garpunya pada piring porselen. Matanya memperhatikan gestur tubuh istrinya yang tampak benar-benar lesu dan kelaparan.

Gadis berusia dua puluh satu tahun di depannya ini memang masih sangat kekanak-kanakan dalam banyak hal, termasuk urusan memanjakan lidah dan ketidakmampuannya mengurus dapur.

Reyhan menghela napas panjang, bukan napas marah, melainkan napas pasrah seorang suami yang sadar betul siapa sosok yang mendampingi hidupnya sekarang.

Ia meletakkan pisau dan garpunya di atas piring, lalu berdiri dari kursinya.

"Berdiri, Nadhira," perintah Reyhan pelan namun tegas.

Nadhira mengintip dari balik lipatan tangannya dengan mata berair menahan lapar. "Mau ngapain, Pak? Jangan suruh saya push-up ya, saya lagi lapar berat nih."

"Siapa yang menyuruh kamu push-up?" balas Reyhan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berjalan mendekati area kompor utama, merapikan gulungan lengan kaos hitamnya hingga ke siku. "Geser duduk kamu. Saya buatkan sesuatu."

Nadhira langsung menegakkan tubuhnya, matanya berbinar seketika. "Bapak mau masak buat saya?"

"Kalau menunggu kamu masak sendiri dari bahan segar, yang ada dapur ini terbakar atau kita berdua kemasukan racun," sindir Reyhan dengan nada dinginnya yang khas.

Nadhira memonyongkan bibirnya, namun tak ayal rasa senang mulai menyusup di hatinya. "Mau masakin apa, Pak? Jangan dada ayam rebus lagi ya, ampun!"

Reyhan tidak menjawab ucapan Nadhira. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan profesional, pria itu membuka kulkas bawah. Tangannya mengambil dua siung bawang merah, dua siung bawang putih, satu cabai merah keriting, sedikit daun bawang, dan sebuah mangkuk berisi nasi putih dingin sisa tadi siang yang tersimpan rapi di dalam wadah kedap udara.

"Kamu suka nasi goreng, kan?" tanya Reyhan tanpa menoleh, jemarinya sibuk mengupas kulit bawang di atas papan pemotong kayu.

"Suka, suka banget!" seru Nadhira antusias, memajukan posisinya agar bisa melihat Reyhan beraksi di dapur. "Tapi nasi goreng yang gurih ya, Pak, yang bumbunya kerasa, pedas manis sedap git. Jangan nasi goreng ala makanan sehat yang cuma dikasih minyak zaitun doang."

"Diam dan perhatikan saja," potong Reyhan singkat.

Nadhira akhirnya memilih diam, mengamati gerak-gerik suaminya dari jarak dekat. Dan harus ia akui, menyaksikan Reyhan Arkananta Wijaya memasak di dapur adalah sebuah pemandangan yang cukup mengagumkan.

Dosen yang biasanya terlihat kaku, galak, dan berjarak di atas podium kuliah itu kini tampak begitu luwes mengendalikan dapur. Cara Reyhan mencincang bawang putih dengan pisau dapur terasa begitu cepat seperti seorang koki berpengalaman. Irama ketukan pisau di atas papan pemotong kayu terdengar sangat teratur, tanpa ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia.

"Ternyata Pak Dosen Killer bisa kelihatan keren juga kalau lagi megang pisau dapur," batin Nadhira memuji secara rahasia, menyunggingkan senyum kecil tanpa sadar.

Sssss...

Suara desisan minyak goreng dalam wajan wajan cekung berbahan baja mulai terdengar saat Reyhan menyalakan api sedang. Ia memasukkan cincangan bawang merah, bawang putih, dan irisan cabai.

Seketika, aroma wangi tumisan bumbu segar langsung menyeruak ke seluruh penjuru dapur, membuat air liur Nadhira menetes.

Reyhan lalu memasukkan sedikit margarin untuk menambah aroma gurih, disusul dengan sejumput garam, penyedap rasa secukupnya, sedikit kecap manis berkualitas tinggi, dan saus tiram.

Setelah bumbu karamelisasi dengan sempurna di dasar wajan, Reyhan memasukkan nasi putih dingin dan menaikkan volume api kompornya.

Trak! Trak! Trak!

Dengan lihai, tangan kanan Reyhan mengocok wajan baja tersebut, membuat butiran-butiran nasi terlempar tipis di udara dan tercampur sempurna dengan warna cokelat keemasan dari bumbu kecap. Asap tipis yang membawa aroma gurih, manis, dan sedikit aroma smoky langsung memenuhi ruangan.

Proses itu berjalan tidak lebih dari lima menit. Sungguh sebuah efisiensi kerja dapur yang luar biasa di mata Nadhira yang biasanya butuh waktu sepuluh menit hanya untuk membalikkan sosis goreng.

"Selesai," kata Reyhan tenang.

Ia mematikan api kompor, lalu menuangkan nasi goreng berwarna cokelat keemasan yang masih ngebul itu ke atas piring porselen bening. Di atasnya, Reyhan menaburkan irisan daun bawang segar dan sedikit bawang goreng renyah sebagai sentuhan akhir.

Reyhan membawa piring tersebut dan meletakkannya tepat di hadapan Nadhira di meja bar, lengkap dengan sebuah sendok.

"Makan selagi hangat," ujar Reyhan.

Nadhira menatap piring di depannya dengan mata membelalak lebar. Tampilan nasi goreng buatan Reyhan terlihat sangat menggoda selera.

Butiran nasinya terpisah sempurna, tidak lembek dan tidak terlalu kering berbalut warna cokelat yang merata dengan kilauan minyak tipis yang pas.

Tanpa membuang waktu lagi, Nadhira menyambar sendoknya. Ia menyendok suapan pertama nasi goreng tersebut, meniupnya pelan agar tidak terlalu panas, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Glek.

Mata Nadhira seketika berbinar-binar penuh keajaiban.

Rasa gurih dari bawang putih dan saus tiram meleleh sempurna di lidahnya, berpadu manis dengan renyahnya bawang goreng dan rasa sedikit pedas yang hangat dari irisan cabai merah.

Ada cita rasa khas restoran yang biasa ia beli dengan harga mahal, namun versi buatan suaminya ini terasa jauh lebih segar dan tidak bikin enek.

"ENAK BANGET!" jerit Nadhira spontan dengan mulut yang masih terisi nasi.

Reyhan, yang sedang berdiri di sebelah meja bar sambil meminum segelas air putih, sedikit tersentak mendengar teriakan nyaring istrinya. "Nadhira, telan dulu makanannya baru bicara. Tidak sopan."

Nadhira mengunyah dengan cepat lalu menelannya mantap. Ia menatap Reyhan dengan raut wajah kagum luar biasa. "Sumpah, Pak Reyhan ini enak banget. Beneran deh, nggak kalah sama nasi goreng abang-abang langganan saya di depan kampus. Kok Bapak bisa bikin nasi goreng seenak ini sih? Padahal bumbunya cuma bawang sama kecap doang tadi!"

Reyhan memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain, berusaha keras menutupi rasa bangga dan kepuasan kecil yang mendadak meletup di dalam dadanya melihat lahapnya sang istri.

"Itu hanya teknik dasar mengontrol api dan keseimbangan rasa," balas Reyhan datar, mencoba tetap bersikap dingin. "Semua orang dewasa yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri seharusnya bisa memasak makanan sederhana seperti itu."

Nadhira tidak peduli dengan sindiran halus suaminya. Ia justru makin bersemangat menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya suapan demi suapan. Rasa lapar yang menyiksa sejak sore tadi seketika terbayarkan tuntas oleh kelezatan masakan Reyhan.

"Biarin deh saya belum bisa masak," gumam Nadhira di sela-sela kunyahannya. "Kan sekarang saya punya Pak Suami yang jago masak. Jadi saya nggak bakalan kelaparan."

Reyhan menoleh kembali menatap Nadhira, mengamati pipi gadis itu yang menggembung lucu karena dipenuhi nasi goreng buatan tangannya. Senyum tipis yang amat sangat samar terukir di sudut bibir pria itu tanpa bisa ia tahan lagi.

"Saya tidak berniat menjadi koki pribadi kamu setiap hari, Nadhira," tegur Reyhan pelan, walau nada suaranya sama sekali tidak mengandung kemarahan. "Mulai minggu depan, kamu harus belajar memasak sendiri dari hal-hal paling dasar."

"Iya, iya. Nanti diajarin sama Chef Reyhan ya!" tawa Nadhira ceria, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Tapi malam ini Chef Reyhan dapet nilai sepuluh dari sepuluh. Juara banget nasi gorengnya."

...Bersambung......

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!