Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Kavano meremas pinggiran meja kerjanya hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya memburu dipenuhi emosi yang membakar dada. Di hadapannya, layar monitor menampilkan rekaman CCTV rumahnya dari satu tahun lalu—rekaman yang selama ini terlewat dari pemeriksaannya karena ia terlalu fokus menyalahkan kegagalan para pengawalnya.
Dalam rekaman bertanggal hari penyiksaan terakhir itu, terlihat Bi Sumi dengan tergesa-gesa menuntun Ruby yang tubuhnya penuh lebam dan gemetar lewat pintu samping. Danterparkir sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor resmi—mobil milik armada keamanan Luca Oliver.
Ruby masuk ke dalam bagasi mobil itu.
"Luca... Oliver..." geram Kavano dengan suara serak yang mematikan. Ujung jarinya menunjuk wajah pria di layar dengan kemarahan yang meluap-luap.
Selama ini ia menyisir seluruh kota, memeras keluarga Ruby, dan mengacak-acak relasi bisnisnya, tanpa pernah menyadari bahwa istrinya bersumber di dalam benteng musuh bebuyutannya sendiri. Kavano baru menyadari lingkaran jebakan gila ini: Luca tidak hanya merebut saham pengendali dan melumpuhkan bisnisnya di meja perundingan kemarin, tetapi pria itu telah menyembunyikan Ruby tepat di bawah hidungnya selama berbulan-bulan!
Kavano menghempaskan diri ke sandaran kursinya, tertawa hampa yang terdengar mengerikan di dalam ruangan sepi itu.
"Pantas saja kamu begitu percaya diri di meja perundingan kemarin," bisik Kavano, matanya menyipit penuh dendam yang menyala-nyala. "Kamu memanfaatkan istriku... kamu menjadikan Ruby sebagai senjata buat meruntuhkan aku."
Namun, Kavano bukan lagi pria ceroboh yang bisa langsung menyerbu benteng Luca Oliver. Pengalaman pahit dipermalukan dan dikuliti di meja perundingan kemarin mengajarkannya satu hal: benteng Luca terlalu kokoh untuk diserang secara terang-terangan. Menyusup ke mansion Oliver tanpa rencana matang sama saja dengan menyerahkan lehernya ke dalam mesin pembantai.
Kavano mengepalkan tangannya rapat-rapat, merencanakan setiap langkah dengan sangat dingin.
"Aku bakal ambil kembali milikku, sekaligus membalas setiap senti penghinaan yang kamu berikan."
Permainan baru saja dimulai. Kavano tidak lagi mencari bayangan di kegelapan; kini ia tahu persis ke mana targetnya berada, dan perang dingin antara dua penguasa ini siap meledak kapan saja.
......................
Pintu ruang kerja megah milik Frans Archelio terhempas keras saat Kavano melangkah masuk dengan mata memerah dan napas memburu. Tanpa membuang waktu, Kavano melemparkan sebuah *flashdisk* ke atas meja kaca di hadapan ayahnya.
Frans, pria paruh baya dengan aura culas dan rambut beruban yang disisir rapi ke belakang, hanya mengangkat sebelah alisnya. Pria tua itu menuangkan wiski ke dalam gelasnya tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun atas sikap kasar putranya.
"Jaga sikapmu, Kavano," tegur Frans dingin seraya menyesap minumannya. "Kehilangan saham kemarin tidak membuatmu punya hak untuk bertingkah seperti orang gila di rumah ini."
"Saya tahu di mana Ruby berada, Papa!" potong Kavano setengah berteriak, suaranya bergetar menahan amarah yang membakar dada.
Tangan Frans yang memegang gelas mendadak terhenti di udara. Matanya menyipit tajam, menatap Kavano lurus-lurus.
"Apa katamu?"
"Wanita sialan itu ada di tangan Luca Oliver!" sentak Kavano seraya menunjuk layar monitor laptop yang kini menampilkan rekaman CCTV pembantu mereka, Bi Sumi, yang memasukkan Ruby ke dalam sedan hitam milik armada Oliver. "Selama ini Oliver menyembunyikan Ruby tepat di bawah hidung kita! Pertemuan bisnis kemarin... gertakan soal hak kepemilikan aset... semuanya sudah dirancang oleh Oliver memanfaatkan posisi Ruby!"
Frans berdiri perlahan dari kursinya, melangkah mendekati laptop dan mengamati rekaman video itu berulang kali. Raut wajahnya yang semula tenang kini mengeras, guratan ketegangan dan kemarahan mulai tampak di pelipisnya.
"Luca Oliver..." gumam Frans dengan suara rendah yang berbahaya. "Pria muda bajingan itu benar-benar ingin menggali kuburannya sendiri."
"Kita harus rebut Ruby kembali, Pa!" desak Kavano seraya mencengkeram tepi meja Frans. "Bukan cuma soal harta dan surat aset properti itu. Ini soal harga diri keluarga Archelio! Luca Oliver sudah mempermalukan kita dan menginjak-injak nama besar kita!"
Frans memiringkan kepalanya, menatap putranya dengan raut wajah penuh kalkulasi dingin. "Menyerang benteng Oliver secara langsung adalah tindakan bodoh, Kavano. Pria itu punya jaringan intelijen dan pasukan pengawal yang tidak main-main. Kalau kita gegabah, bukan cuma Ruby yang gagal kita ambil, tapi sisa bisnis kita yang tinggal sedikit ini akan dihabisi dalam semalam."
"Lalu Papa mau kita diam saja?!" banting Kavano pada meja.
"Siapa bilang kita akan diam?" balas Frans dengan senyum miring yang sangat beracun. Ia menepuk bahu Kavano pelan, menyalurkan niat jahat yang tersusun rapi di kepalanya.
"Kita manfaatkan kelemahan nya. Pria dingin seperti dia tidak akan mau menyembunyikan seorang wanita jika wanita itu tidak punya nilai khusus baginya."
Frans berjalan menuju brankas di sudut ruangan, mengeluarkan sebuah ponsel satelit ber-enkripsi khusus.
"Kita tidak akan menyerang mansion nya," lanjut Frans seraya menatap Kavano dengan mata licik. "Kita tancapkan duri dari dalam. Cari Bi Sumi dulu untuk memancing Ruby keluar dari perlindungan nya. Setelah wanita itu lepas dari jangkauan Luca... kita gunakan dia untuk memeras dan merebut kembali seluruh aset yang pernah dia curi dari kita."
Kavano menyunggingkan senyum gelap, puas mendengar rencana licik sang ayah. Perang besar antara keluarga Archelio dan Oliver kini resmi memasuki babak baru yang lebih berdarah.