Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikta! Naik ke Atas!
Seketika seluruh pandangan ratusan tamu undangan di ballroom mewah itu berputar dan mencari-cari nama yang dipanggil sang pengantin wanita, lampu sorot panggung bahkan ikut bergerak menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat menembak tubuh Reyna yang berdiri kaku di balik pilar.
Reyna membeku, wajahnya memerah padam bercampur malu yang luar biasa. Ratusan pasang mata kini menatapnya, wanita dengan rambut agak acak-acakan akibat angin jalanan dan gaun polos tanpa hiasan.
"Reyna! Ayo cepat masuk barisan tangkap bunga! Kalau nggak maju, aku nggak mau lempar bunganya!" seru Agnia lagi lewat mikrofon dengan nada bercanda namun menuntut.
Tamu-tamu di sekitar Reyna mulai berbisik-bisik, beberapa memberi jalan sambil menatapnya penasaran. Mau tidak mau, dengan langkah sangat berat dan kepala menunduk dalam-dalam, Reyna berjalan menyeret kakinya menuju area depan panggung, menyelip di antara barisan gadis-gadis dan pria-pria lajang berpenampilan glamor.
Reyna memilih berdiri di barisan paling belakang, persis di pojok kanan. Tangannya melipat di dada, niatnya murni hanya memenuhi perintah Agnia agar acara cepat selesai, dan ia sama sekali tidak berniat melompat atau menangkap buket bunga itu.
"Oke! Pengantin siap melempar bunga dalam hitungan tiga!" seru pembawa acara memanaskan suasana.
"Satu... Dua... Tiga!"
Agnia dan Bagas membalikkan badan membelakangi kerumunan, lalu dengan sekuat tenaga Agnia melemparkan buket bunga mawar putih berhias pita satin itu ke udara.
Buket bunga melayang tinggi, berputar di bawah kilauan lampu kristal. Seluruh lajang di barisan depan langsung bersorak dan melompat dengan tangan teracung tinggi-tinggi untuk menggapainya, terjadi saling dorong kecil di barisan depan.
Namun, hempasan tangan dari beberapa orang lajang di depan justru membuat buket bunga itu terpental lebih jauh dari perkiraan dan meluncur deras ke arah belakang, tepat menuju tempat Reyna berdiri.
Reyna yang sedang menunduk kaget saat melihat bayangan benda terbang meluncur cepat ke arah wajahnya. Secara refleks, Reyna mengangkat kedua tangannya untuk melindungi wajahnya agar tidak terkena hantaman.
Plak!
Buket bunga mawar putih yang harum itu jatuh tepat berlabuh di dalam dekapan kedua tangan Reyna. Suasana ballroom mendadak hening selama satu detik, sebelum akhirnya meledak dalam riuh tepuk tangan dan sorak-sorai yang riuh dari seluruh tamu undangan!
"Luar biasa! Kita punya pemenangnya!" teriak pembawa acara heboh.
Reyna berdiri mematung di tempatnya, kedua tangannya meremas buket bunga mawar mahal tersebut. Matanya berkedip bingung dan menatap bunga di tangannya, lalu menatap ratusan orang yang bertepuk tangan padanya.
Perasaan Reyna campur aduk, kaget, bingung, malu dan seketika rasa sedih menyelusup di dadanya. Bagi orang lain ini lelucon menyenangkan, namun bagi Reyna yang hidupnya penuh perjuangan, menjadi pusat perhatian di tengah kemewahan seperti ini terasa menyiksa.
"Ayo, Kakak yang dapat bunga! Naik ke atas panggung!" panggil sang pembawa acara seraya melambaikan tangan.
Agnia di atas panggung sudah meloncat-loncat kecil gembira sambil melambaikan tangan. Dengan kaki gemetar, Reyna berjalan menaiki tangga panggung pelaminan yang dihiasi hamparan karpet merah tebal.
Begitu sampai di atas panggung, Agnia langsung memeluk Reyna dengan sangat erat, tidak peduli gaun pengantin mewahnya bergesekan dengan baju Reyna yang agak basah oleh keringat dan gerimis.
"Reyna! Aku seneng banget kamu datang! Dan kamu yang dapat bunganya!" bisik Agnia haru di telinga Reyna.
"Selamat ya, Agnia... Maaf aku datang terlambat dan penampilanku acak-acakan gini," cicit Reyna menahan rasa malu.
Pembawa acara menghampiri Reyna dan mengarahkan mikrofon ke wajah Reyna, "Wah, luar biasa sekali! Selamat ya, Kakak! Boleh kenalan, namanya siapa nih Kakak cantik yang dapat bunga pengantin malam ini?" tanya pembawa acara.
"Saya... Reyna," jawab Reyna singkat dan pelan, berusaha tersenyum tipis.
"Kak Reyna... Cantik sekali ya malam ini. Nah, Kak Reyna, pertanyaan paling krusial buat yang dapat bunga, malam ini datang sama pacarnya atau sudah punya calon?" tanya pembawa acara menggoda.
Reyna baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab bahwa ia belum memikirkan soal pasangan, namun Agnia dengan cepat merebut mikrofon dari tangan pembawa acara dengan wajah jahat menggemaskannya sebagai sahabat.
"Nggak ada! Reyna ini jomblo loh! Belum punya pacar!" teriak Agnia lantang di mikrofon dan disambut gelak tawa dari para tamu.
"Wah! Masih single ternyata!" seru pembawa acara kian menjadi-jadi.
"Iya, single," balas Agnia, dengan mengangguk-angguk.
"Para pria lajang di ballroom ini, tolong perhatikan! Di atas panggung ada wanita manis dan anggun bernama Kak Reyna yang siap dijemput jodohnya!" seru pembawa acara.
Reyna meremas gaunnya, rasanya ingin sekali bumi di bawah panggung ini terbelah dan menelannya bulat-bulat, karena ia dijajakan seperti barang dagangan di depan ratusan tamu terpandang
Melihat sahabat istrinya makin memerah karena malu, Bagas tersenyum tipis dan tiba-tiba ide gila terlintas di pikirannya. Bagas maju dan berbisik pada pembawa acara untuk memberikan mikrofon padanya, lalu pembawa acara pun memberikan mikrofon pada Bagas.
"Biar adil, saya panggil satu sahabat saya yang dari juga jomblo!" ujar Bagas tegas penuh aura komando.
"Dikta! Naik ke atas!" seru Bagas.
Bagas memanggil nama temannya beberapa kali di mikrofon. Di sudut panggung bawah, beberapa pria berbadan tegap berseragam dan berjas tampak saling dorong, tertawa-tawa jahil menunjuk seseorang di antara mereka.
Setelah dipanggil tiga kali dengan tegas oleh Bagas, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja batik modern berpotongan rapi akhirnya melangkah naik ke atas panggung dengan mengusap tengkuknya yang canggung.
Pria itu berwajah tampan dengan garis rahang yang tegas, kulit bersih dan tatapan mata yang tenang namun memancarkan wibawa yang sangat kuat. Ia berdiri di samping Bagas, mengangguk hormat pada para pengantin, lalu melirik sekilas ke arah Reyna yang menunduk rapat.
"Nah! Ini dia! Dijodohkan langsung di atas panggung pernikahan!" goda pembawa acara yang membuat seluruh ruangan bertepuk tangan semakin riuh.
Reyna tidak berani mendongak sedikit pun. Baginya, ini adalah hal yang paling memalukan dalam hidupnya, seolah-olah ia tidak bisa mencari pasangan sendiri dan seolah-olah Reyna tidak laku.
Rasa dingin merayap dari telapak kaki Reyna hingga ke tengkuknya. Di bawah sorotan lampu kilat kamera dan tatapan ratusan mata, Reyna merasa martabatnya yang tipis sedang dikuliti perlahan.
Suara gelak tawa para tamu undangan membentur gendang telinganya bagaikan gemuruh yang membingungkan, pria bernama Dikta itu berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Bau harum wewangian kayu yang maskulin bercampur aroma maskulin yang tenang samar-samar tercium oleh Reyna, membuktikan betapa dekatnya jarak mereka saat ini.
"Nah, Kak Dikta! Bagaimana? Apa Kak Dikta beneran belum punya pasangan?" tanya pembawa acara dengan intonasi menggoda yang dibuat-buat, menyodorkan mikrofon tepat ke depan wajah Dikta.
Dikta tidak langsung menjawab, pria itu memperbaiki posisi jam tangan di pergelangan tangan kirinya sebelum menatap sang pembawa acara. Sorot matanya yang tajam namun penuh ketenangan tidak menyiratkan kejahilan sama sekali, berbeda dibanding teman-temannya di bawah panggung yang masih bersorak-sorai riang.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor