Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

****

Rasa terhina di depan seluruh staf rumah tangga malam itu membakar habis sisa akal sehat Widya. Menyadari posisinya di ujung tanduk dan ambisinya mendampingi Arya Sena akan punah sepenuhnya, wanita itu memilih melangkah menuju jalan nekat terakhir. Jika ia harus hancur, maka ia akan menyeret rumah tangga pasangan bangsawan itu ke dalam jurang skandal yang tak termaafkan.

Di dapur paviliun belakang, Lilianne baru saja selesai menyeduh cangkir kopi hitam kesukaan Arya. Meskipun dinding silent treatment masih berdiri kokoh di antara mereka, Lilianne tetap menjalankan tugas strukturalnya sebagai Nyonya Soerjoatmodjo dengan disiplin tinggi. Kopi porselen beraroma pekat itu diletakkan di atas nampan perak, lalu diserahkan kepada Maya untuk diantarkan menuju kamar pribadi sekaligus ruang kerja sementara Arya di sayap timur mansion.

Namun, di tengah koridor remang menuju sayap timur, Widya mendadak muncul dari balik pilar. Wajahnya dipasang seramah mungkin, menyembunyikan getar ketakutan di jemarinya.

"Maya, tunggu sebentar," bisik Widya cepat seraya menghentikan langkah pelayan muda itu.

Maya refleks mundur satu langkah dengan canggung, memegang nampan perak lebih erat. "Ada apa, Mbak Widya? Saya harus mengantarkan kopi Pak Arya sekarang."

"Tolong bantu saya sebentar," ujar Widya mengelas. "Air di katel paviliun belakang meluap dan membasahi berkas inventaris. Tolong matikan sebentar, cuma satu menit. Biar nampan ini saya pegangkan di sini, kamu tidak perlu repot mengantarnya ke kamar."

Maya menimbang sejenak, takut terjadi bahaya di paviliun belakang. "Baiklah, Mbak. Tapi tolong jagakan sebentar saja ya."

Begitu sosok Maya menghilang di tikungan lorong, Widya bergerak secepat kilat. Merogoh saku seragamnya, ia mengeluarkan sebuah botol kaca bening berukuran mungil berisi cairan obat perangsang dosis tinggi. Dengan tangan gemetar namun mata penuh dendam, Widya meneteskan seluruh cairan tersebut ke dalam cangkir kopi panas milik Arya.

Cairan itu melarut sempurna tanpa meninggalkan aroma atau warna. Widya menyunggingkan senyum kelicikan yang teramat murni tatkala Maya kembali dengan napas tersengal-sengal.

"Sudah saya matikan, Mbak. Terima kasih," ujar Maya seraya mengambil kembali nampannya.

"Sama-sama. Segera antarkan, Pak Arya sudah menunggu," tutur Widya halus sebelum berbalik melangkah pergi dengan langkah terburu-buru.

Di dalam hatinya, Widya bersorak riang. Ia menghitung waktu—tepat satu jam dari sekarang, saat cairan itu bekerja sepenuhnya membakar kesadaran Arya, Widya akan menyelinap masuk ke dalam kamar Presdir tersebut dan mengarang skandal jebakan yang tak akan bisa dibantah oleh Lilianne.

Maya mengetuk pintu ganda sayap timur, menyerahkan cangkir kopi di meja samping berkas, lalu membungkuk dan segera pamit keluar tanpa menyadari bahaya besar yang baru saja ia hantarkan.

Sementara itu, di dalam kamar utama lantai dua, Lilianne baru saja menyelesaikan ritual body care malamnya untuk menyegarkan pikiran dari kepenatan intrik rumah tangga. Aroma sabun beraroma vanilla-rose dan kesegaran air dingin masih menyelimuti kulit mulusnya.

Lilianne melangkah keluar dari walk-in closet berbalut gaun tidur berbahan satin halus berwarna putih murni. Gaun berpotongan pendek di atas lutut itu menampilkan leher jenjang dan bahu bahagianya yang terbuka indah. Rambut blonde alaminya yang masih setengah basah terurai bebas di punggung, memberikan kesan sangat menawan, sensual, namun tetap anggun khas putri bangsawan Eropa.

Lilianne duduk di depan meja rias, jemari lentiknya dengan telaten mengoleskan krim skincare malam ke wajah cantiknya seraya menatap pantulan dirinya di cermin.

"Pria kaku itu pasti masih berkutat dengan berkasnya di sayap timur," gumam Lilianne pelan, mendengus tipis mengingat Arya yang beberapa hari ini mengalah tidur di kamar terpisah demi menghormati batasan yang diminta sang istri.

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang kerja sayap timur, Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo masih terduduk tegap di balik meja mahoni raksasa. Kemeja putihnya sudah terlepas dua kancing teratas, dan lengan kemejanya digulung hingga siku. Laporan keuangan akuisisi perusahaan bernilai triliunan rupiah tersebar di hadapannya.

Merasakan kantuk dan kelelahan yang mulai menyergap, Arya meraih cangkir porselen di samping meja. Tanpa rasa curiga sedikit pun, pria itu menyesap kopi hitam buatan Lilianne hingga menghabiskan separuh reaches cangkir.

"Aromanya persis buatan Lilianne," gumam Arya rendah, sudut bibirnya terangkat amat tipis mengingat betapa terstrukturnya sang istri dalam menjalankan tugas rumah tangga meski tengah melancarkan perang dingin dengannya.

Arya meletakkan cangkir itu kembali, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop.

Namun, lima belas menit berlalu, sesuatu yang aneh mendadak bergejolak di dalam tubuhnya.

Jantung Arya mendadak berdegup dengan ritme yang jauh lebih kencang dan tidak beraturan. Suhu tubuhnya membumbung tinggi secara drastis, mengalirkan gelombang panas yang membakar dari dalam dada hingga menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Keringat dingin mulai membasahi dahi tegas dan leher kekarnya.

"Kenapa... panas sekali?" bisik Arya serak, mengusap lehernya yang terasa tercekik.

Pria itu melonggarkan kancing kemejanya lebih bawah lagi, berusaha menarik napas dalam-dalam. Namun bukannya mereda, sensasi membakar di dalam dirinya justru kian hebat. Pandangannya mulai memburam tipis, diselimuti oleh dorongan hasrat alami yang teramat liar, pekat, dan tak terkendali—sebuah sengatan gairah asing yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Arya mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai pria dewasa berumur tiga puluh tahun yang terlatih mengendalikan diri, Arya sadar ada yang tidak beres dengan tubuhnya saat ini. Ini bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan pengaruh zat kimia berbahaya yang baru saja meracuni sistem sarafnya.

Kopi itu... batin Arya menjerit, netra kelamnya refleks menatap cangkir porselen yang setengah kosong di sampingnya.

Rasa panas yang membakar tubuhnya kian tak tertahankan, mengikis habis sisa pertahanan logikanya. Arya berdiri dengan bertumpu pada meja, napasnya memburu cepat dan berat seraya meremas dadanya yang bergejolak hebat.

Di tengah kegelapan dan kekacauan kesadaran yang melingkupinya, hanya satu bayangan wanita yang mendadak menguasai seluruh benak dan hasrat Arya Sena: sosok istri bangsawannya yang berambut blonde dan bermata hijau jernih.

Dengan langkah kaki yang sedikit sempoyongan namun sarat akan dorongan posesif yang mendalam, Arya mendorong pintu ruang kerja sayap timur, melangkah menembus lorong remang menuju kamar utama tempat Lilianne berada.

**

Brak!

Pintu ganda kamar utama terdorong kuat, menampilkan sosok Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo yang berdiri bersandar di ambang pintu. Napasnya memburu berat, dahi dan leher tegapnya dibasahi peluh dingin, serta netra kelamnya bergetar hebat menahan gelombang panas yang membakar seluruh dadanya.

Lilianne, yang baru saja selesai mengoleskan krim malam di depan meja rias, terlonjak tipis. Gaun tidur satin putih pendek yang membungkus tubuh anggunnya memantulkan pendar lampu malam. Netra hijaunya menyipit tajam, bersiap melempar teguran dingin atas interupsi tak sopan suaminya.

Namun, sebelum Lilianne sempat bersuara, Arya melangkah masuk dengan gerakan drastis. Pria itu memutar kunci ganda dari dalam, melipatkan selot pengaman kayu jati, lalu menyenderkan punggungnya di pintu—seolah mengunci rapat dunia luar dari ruang privat mereka.

"Mas Arya? Apa-apaan ini—"

"Lilianne... tolong saya..." suara Arya meluncur teramat serak, bergetar hebat dan sarat akan penderitaan fisik yang mendalam.

Arya meremas dadanya rapat-rapat, memejamkan mata sekuat tenaga saat gairah liar akibat racun perangsang itu mencoba menguasai logikanya. Pria yang selalu tampil dominan dan kaku itu perlahan meluruh, berlutut di atas marmer dingin di depan pintu. Ia menolak mengikis jarak, menolak melangkah mendekati Lilianne karena takut insting liarnya akan menyakiti wanita yang dicintainya.

Lilianne membeku. Melihat raut kesakitan yang amat nyata dan cara Arya berjuang keras menahan diri agar tidak menyentuhnya, Lilianne menyadari ada bahaya besar yang baru saja terjadi.

Ia berdiri anggun, menghampiri Arya dan berlutut di hadapannya. Tangannya yang halus menyentuh dahi Arya—kulit pria itu terasa begitu membakar.

"Racun? Kopi itu... seseorang memasukkan sesuatu ke dalam kopimu," desis Lilianne cepat, netra hijaunya mekar oleh kilatan amarah yang tajam.

Arya mengangguk lemah, jemari kekarnya memegang pergelangan tangan Lilianne, hanya untuk mencium telapak tangannya dengan keputusasaan yang rentan sebelum melepaskannya kembali. "Ada yang meneteskan obat perangsang... kesadaran saya hampir hilang. Tapi saya tidak mau tersesat dengan wanita lain... saya hanya butuh kamu berada di ruangan yang sama... tolong kunci pintunya, jangan biarkan siapa pun masuk."

Lilianne menghembuskan napas panjang. Keanggunan berjaraknya melunak menjadi naluri protektif seorang istri bangsawan. Ia membantu Arya berdiri, menuntutnya menuju kamar mandi utama, lalu menyalakan shower air dingin untuk menyiram dan menetralkan suhu tubuh sang Presdir.

"Tahan rasa dingin ini, Mas Arya. Biarkan racunnya luruh," bisik Lilianne halus seraya membiarkan air dingin membasahi pakaian Arya yang serba kaku.

Sementara itu, tepat satu jam kemudian di sayap timur mansion...

Widya melangkah menyusuri lorong yang sunyi dengan senyuman kelicikan yang mekar sempurna. Ia meyakini racun perangsang dosis tinggi itu telah bekerja meruntuhkan kesadaran Arya Sena secara total. Dengan gaun tipis yang sengaja ia kenakan di balik seragamnya, Widya mendorong pintu kamar kerja Arya—bersiap mengarang skandal jebakan di mana ia akan bertingkah seolah-olah menjadi korban dari gairah sang Presdir.

Klek.

Pintu terbuka. Ruangan sayap timur itu gelap dan sepi. Tidak ada suara erangan atau sosok Arya yang menunggu di dalam.

"Pak Arya...?" bisik Widya dengan suara mendayu-dayu, menyelinap masuk ke dalam kegelapan.

Namun, saat kakinya melangkah tiga digit ke dalam, lampu gantung raksasa di tengah ruangan mendadak menyala terang benderang.

Widya membelalakkan matanya kaget. Di dalam ruangan, bukan Arya Sena yang ia dapati, melainkan empat pria berbadan tegap berjas hitam—tim pengawal pribadi tingkat tinggi Soerjoatmodjo Group—beserta Aldi, sekretaris utama Arya, yang berdiri menatapnya dengan pandangan dingin mematikan.

"Mbak Widya," sapa Aldi serah dan tanpa emosi. "Pak Arya sudah mengantisipasi gerakanmu sejak sejam yang lalu. Seluruh rekaman CCTV koridor dapur dan bukti cairan di cangkir kopi sudah kami amankan."

Wajah Widya seketika pucat pasi bagai mayat, nampan di tangannya jatuh terhempas ke marmer dengan suara membingitkan.

Dua pengawal tegap langsung melangkah maju, mencengkeram kedua lengan Widya tanpa ampun.

"Lepaskan saya! Saya cuma mau memeriksa keadaan Pak Arya! Lepaskan!" jerit Widya histeris, tubuhnya gemetar hebat ditelan rasa takut dan kegagalan mutlak.

"Simpan pembelaanmu untuk pemeriksaan polisi malam ini," pangkas Aldi tegas seraya memberi isyarat tangan. "Seret dia ke mobil dinas dan serahkan langsung ke markas kepolisian atas tuduhan percobaan peracunan dan penganiayaan berat terhadap Presdir Soerjoatmodjo."

Widya diseret keluar membelah lorong mansion dalam tangisan dan kegilaan yang tak berguna, menandakan akhir tragis dari seluruh ambisi murahannya untuk merusak sangkar emas klan Soerjoatmodjo.

Bersambung....

1
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
falea sezi
cantik tp otak kosong🤣 lu nyingkirin widya g mau kesaing🤣 tp lu g mau gantiin tugas dia layani laki lo🤣🤣 aneh gt ini cwek manja bisa nya apa shoping doank😒
falea sezi
nah gini🤣 aduin ke bumertua🤣 emank babu g tau diri si widya
falea sezi
harusnya di belikan buat anak yatim🤣 biar suami mu kagum 🤭
falea sezi
g suka cwek sombongnya kayak lily ini 🤣🤣 berharap dia itu lemah lembut cegil tp bukan sok jd cowok penasaran🤣
falea sezi
nyimak dlu klo bagus q krim bunga🤭
Mita Paramita
so sweet 😍😍😍
Mita Paramita
Liliane masih syok udah di unboxing paksa 😭 tinggal Arya nih yang mesti ngejar cinta Liliane
Arix Zhufa
up
Mita Paramita
akhirnya Arya unboxing Liliane 😍😍😍
Mita Paramita
Widya backstabbing 🤣🤣🤣
i got you 🔥🔥🔥
Mita Paramita
nice statement Liliane 😍
Mita Paramita
berkelas banget balasan Liliane ke ulat bulu Widya 🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 😍😍😍
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!