Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Kilas Balik Ijab Kabul Yang Terabaikan

Dinding semen berwarna abu-abu kusam di ruang tahanan Polres Jakarta Selatan terasa begitu dingin menusuk tulang. Udara di dalam sel berukuran tiga kali empat meter itu berbau pengap, bercampur aroma kelembapan dan pelitur meja kayu tua yang menyengat.

Rian duduk bersandar di sudut sel dengan kedua lutut ditekuk rapat ke dada. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja biru gelap yang sama seperti kemarin—kemeja yang kini kusut, kotor, dan kehilangan wibawanya. Rambutnya yang biasa tersisir rapi dengan minyak rambut mahal kini terurai acak-acakan di dahi, menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi dan mata merah yang sembap.

Di balik jeruji besi yang memisahkan sel pria dan sel wanita di koridor sebelah, suara tangisan dan maki-maki dari Eriska masih terdengar samar-samar. Wanita yang kemarin dipuji Rian sebagai bawahan berprestasi itu kini tak henti-hentinya meraung, mengutuki nasibnya, dan menyalahkan Rian atas penangkapan mereka.

Namun, Rian sama sekali tidak mendengarkan racauan Eriska. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, menembus memori tiga tahun silam yang kini menjelma menjadi hantu menakutkan di dalam kepalanya.

"Kenapa ...? Kenapa aku bisa sebodoh ini?" batin Rian dengan dada yang bergemuruh hebat.

Memori Rian berputar ke hari sabtu tiga tahun lalu. Hari di mana ia menikahi Annisa di ruang nikah KUA Kecamatan yang sederhana dan sepi.

Kala itu, Rian yang baru berusia 25 tahun merasa bangga luar biasa bisa mempersunting Annisa—seorang gadis cantik berusia 21 tahun yang baru saja meraih gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Indonesia. Bagi Rian saat itu, Annisa adalah paket lengkap untuk dijadikan istri: berpendidikan, berparas jelita, penurut, dan yang paling penting, tidak menuntut mahar atau pesta pernikahan yang mewah, serta memiliki warisan dari orang tuanya.

Selama pacaran singkat di lingkungan kampus, Annisa memang tak pernah tampil mencolok. Gaya pakaiannya selalu sederhana—gaun katun longgar tanpa merek, sepatu flat biasa, dan tak pernah satu kali pun membawa mobil pribadi atau memamerkan barang branded. Ketika Rian bertanya tentang keluarganya, Annisa hanya menjawab pelan bahwa orang tuanya telah meninggal dunia dan ia dibesarkan dengan kesederhanaan oleh keluarga pamannya. Rian yang picik dan terlalu percaya diri langsung menyimpulkan bahwa Annisa adalah gadis yatim piatu dari keluarga kelas menengah bawah yang butuh dilindungi.

Dan kebodohan terbesar Rian terjadi pada hari akad nikah itu.

Ayah kandung Annisa, Pak Yusuf Al Ghazali, sejak awal telah mencium tabiat Rian yang haus harta, sombong, dan egois. Beliau menolak keras memberikan restu dan menolak hadir sebagai wali nikah. Pak Yusuf memberi syarat tegas pada Annisa: jika Annisa ingin menguji cinta Rian dengan cara hidup menyamar sebagai orang biasa, Annisa harus menanggung segala risikonya sendiri tanpa melibatkan nama besar Vantara Group.

Demi keponakan kesayangannya yang keras kepala, Ginanjar Al Ghazali—adik kandung Pak Yusuf—akhirnya turun tangan menjadi wali nasab bagi Annisa di KUA.

Rian mengingat betul momen ijab kabul tersebut. Om Ginanjar duduk di hadapan penghulu dengan setelan batik sederhana. Ketika penghulu membimbing prosesi ijab kabul, suara berat Om Ginanjar menggema pelan:

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Rian Hidayat, dengan keponakan saya, Annisa Septiani binti Yusuf Al Ghazali ...."

Rian mengulangi kalimat itu dengan satu tarikan napas yang mantap. Namun kala itu, di pikiran Rian yang dipenuhi rasa bangga karena akan memiliki istri cantik, nama Yusuf Al Ghazali melintas begitu saja tanpa meninggalkan bekas.

Bagi Rian saat itu, nama itu hanyalah nama seorang ayah biasa di kampung yang tidak hadir karena memang telah tiada menurut sandiwara Annisa yang tidak ia tahu. Rian yang picik tidak pernah menaruh perhatian, tidak pernah bertanya lebih dalam, dan sama sekali tidak berminat mencari tahu siapa pemilik nama besar tersebut. Di matanya, yang terpenting adalah Annisa sudah sah menjadi istrinya dan siap melayaninya di rumah.

"Yusuf Al Ghazali," desis Rian dengan suara parau bercampur isak tangis yang tertahan. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Yusuf Al Ghazali itu ... pemilik Vantara Group! Pengusaha paling berpengaruh di negeri ini! Kenapa aku begitu bodoh!"

Rian tertawa pudar—sebuah tawa histeris nan pilu yang memantul di dinding sel tahanan.

Betapa buta dan bodohnya dia! Selama tiga tahun membanggakan jabatannya sebagai "Manager" di anak perusahaan Vantara Land, Rian sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang bekerja di bawah naungan dinasti bisnis milik mertuanya sendiri!

Bahkan posisi Manager yang ia banggakan—yang membuatnya begitu tinggi hati dan merendahkan Annisa—ternyata adalah hasil rekomendasi rahasia dari Annisa yang memohon pada ayahnya agar memberikan Rian kesempatan membuktikan diri!

Dan apa yang dilakukannya selama tiga tahun ini?

Rian membiarkan ibunya, Bu Rini, membentak dan menghina Annisa sebagai "wanita bodoh dan numpang hidup". Rian membiarkan adiknya, Sisil, memperlakukan Annisa seperti pembantu gratisan di rumah. Rian memotong jatah uang belanja istrinya yang tak seberapa, membiarkan rumahnya sendiri gelap gulita, dan menggunakan uang perusahaan untuk memanjakan Eriska dengan perhiasan berlian!

"Mas Rian! Mas Rian!"

Panggilan melengking dari balik jeruji koridor membuyarkan lamunan Rian. Eriska berdiri memegangi besi sel wanita, wajah cantiknya kini sembap dan riasannya luntur berantakan.

"Kamu dengerin aku gak sih, Mas?!" jerit Eriska histeris. "Kenapa pengacara kamu belum datang juga?! Katanya kamu Manager kaya?! Kenapa kita dibiarkan membusuk di dalam sel kayak begini?!"

Rian perlahan menegakkan kepalanya, menatap Eriska dari kejauhan dengan sepasang mata merah yang dipenuhi rasa benci.

"Diam kamu, Eriska," desis Rian dingin.

"Apa kamu bilang?! Diam?!" Eriska makin meradang. "Kamu yang bikin aku masuk ke sini ya, Rian! Gara-gara kamu kasih aku gelang berlian pakai uang kantor itu! Kamu bilang kamu kaya! Kamu bilang istri kamu cuma cewek pengangguran tak berguna! Ternyata kamu cuma pria penipu yang numpang hidup di rumah anak konglomerat!"

"Aku bilang diam!" bentak Rian dengan suara menggelegar yang membuat beberapa tahanan lain di sel sebelah bersiul mengejek.

Rian berdiri terhuyung-huyung, melangkah mendekati jeruji besi selnya. "Kamu pikir aku mau ada di sini, hah?! Semua uang tabunganku habis gara-gara memenuhi gaya hidupmu yang matre itu, Riska! Kamu yang selalu nuntut tas baru, baju mahal, dan restoran mewah! Kalau bukan gara-gara menuruti kemauanmu, aku gak bakal nekat mencairkan dana taktis kantor!"

"Oh, jadi sekarang kamu nyalahin aku?!" Eriska tertawa sinis bercampur tangis. "Yang tanda tangan dokumen klaim itu kamu! Yang ambil uangnya kamu! Aku cuma menerima hadiah dari pria yang ngaku-ngaku kaya! Kamu yang bodoh, Rian! Punya istri anaknya pemilik Vantara Group malah kamu sia-siakan demi aku yang cuma staf biasa!"

Kata-kata Eriska menghantam ulu hati Rian bagai batu besar. Rasa malu dan penyesalan yang teramat sangat menyelimuti jiwanya. Perpecahan antara Rian dan Eriska kini sudah tak terelakkan lagi. Cinta semu dan rasa bangga palsu yang dulu menyatukan mereka di kantor kini musnah, berganti menjadi saling tuding dan rasa benci yang pekat.

Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel yang teratur bergema dari arah lorong depan.

Seorang petugas kepolisian berjalan membukakan pintu sel utama, didampingi oleh seorang pria paruh baya bersetelan jas rapi membawa tas dokumen kulit.

Rian yang melihat kehadiran pengacara tersebut langsung memburu ke depan jeruji besi dengan mata berbinar penuh harapan.

"Pak Pengacara! Pak Hendra!" seru Rian panik. "Gimana, Pak?! Apakah permohonan penangguhan penahanan saya sudah disetujui?! Apakah saya bisa keluar hari ini?!"

Bersambung...

1
Cicih Sophiana
jgn gitu dong kalian... kalian juga kan pernah ikut menikmati uang nya... teman lagi susah bukan nya membantu ini malah di bully... teman macam apa kalian
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
kok g update lagi mom 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
itulah pelakor pasti cari kaki laki yg bisa di pirotin walau udah punya istri...
Cicih Sophiana
cakep 👍 ibu dapat balasan nya yg membuat pingsan...
Cicih Sophiana
pak Ginanjar tolong saya pak... saya lapar tp tdk punya yang untuk membeli sesuatu...🫢
Mulaini
Rian dan Eriska sudah pasti dapat hukuman penjara lebih lama.
Mulaini
Rian penangguhan penahanan mu di tolak.
Teh Euis Tea
udah blangsak baru deh ngakuin nisa menantu kemarin2 nisa kalian jadikan babu
Teh Euis Tea
elehh bu rini dulu km punya rasa kemanusiaan ga waktu menindas anisa menantumu
Nar Sih
terima dan jalani nasib mu atas dosa juga kesombongan mu
Nar Sih
jalani saja nasib mu bu rini yg sombong dulu terima kenyataan hukuman untuk ank mu yg mantan suami durjana🤣🤣
Mutaharotin Rotin
kok


🥰🥰🥰🥰🥰
Cicih Sophiana
udah ngabisin uang kantor kamu Rian... sekarang kamu minta di bebaskan? mimpi aja kali
Cicih Sophiana
klo mau menyakiti dan menghina pengangguran... knp dulu kalian menikah?sebelum menikah kan mungkin kamu Rian tadinya sudah pendekatan atau pacaran kan?
Naufal Affiq
penyesalan mu rian terlambat
Naufal Affiq
lanjut mommy
Kar Genjreng
Mak jedurrrr langit runtuh seketika penyesalan bnya sudah tak ada lagi harapan pupus sudah tinggal lah kenangan dan hayalan,,, dengan wajah pucat pasi kedua manusia penghianat
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
Kar Genjreng
ya elanhh Bu ketika masih menantu kan Anissa gayanya selangit,,,bahkan tidak perduli sama sekali ga Suami ga mertua ga pula adek iparnya,,, semua menghina nya bahkan selalu memotong uang nafkah
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu
Sugiharti Rusli
karena kan dalam satu atau dua tahun pernikahan, pasti sudah terlihat watak aslinya sih seharusnya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!