Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Api
SSSHHHH!
Suara desisan nyaring dari margarin dan potongan daging ayam yang memercikkan minyak panas di atas wajan mendadak memecah gelembung keheningan yang mengurung mereka. Uap panas yang membumbung tinggi disertai bunyi pletak-pletuk percikan minyak seketika menarik kembali kesadaran Mira dan Jungkook ke alam nyata.
Mira terlonjak kecil, matanya membelalak kaget. "A-Ayamnya, Oppa!"
Jungkook dengan cepat menarik tubuhnya mundur satu langkah, melepaskan genggaman tangannya dari jemari Mira. Dengan gerakan terampil dan tenang, pria itu mematikan tombol kompor induksi, menenangkan gejolak percikan minyak yang sempat membuat mereka tersentak.
Keheningan kembali menyergap area dapur, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih padat dan sarat akan canggung.
Mira berdiri kaku di depan konter. Punggungnya masih terasa amat hangat seolah jejak dada tegap Jungkook masih menempel di sana. Jemari tangannya menggenggam erat ujung apron abu-abu yang terikat di pinggangnya, berusaha meredakan detak jantungnya yang masih berpacu liar. Perlakuan serba manis dan intim dari Jungkook terus membayangi pikirannya, membuat rona merah di pipinya tak kunjung padam.
Di sampingnya, Jungkook berdiri membelakangi Mira seraya menyandarkan kedua tangannya di tepi meja konter. Pria itu menundukkan kepala, menghembuskan napas panjang dan berat untuk menguasai kembali akal sehatnya. Kepalan tangannya mengencang di atas granit dingin.
Jungkook membalikkan badan perlahan, menatap Mira yang masih berdiri menunduk dengan paras yang memerah panas.
"Maaf," suara berat Jungkook meluncur pelan, teramat parau. "Aku... membuatmu kaget."
Mira buru-buru mendongak, menggelengkan kepalanya cepat. "T-tidak, Oppa! Bukan begitu... Aku hanya belum terbiasa me..masak."
Jungkook menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan penahanan diri. Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Mira sangat pelan, sebuah gestur menenangkan yang justru semakin membuat dada Mira berdesir hangat.
"Potongan bawangnya sudah cukup," ujar Jungkook mengalihkan pembicaraan dengan lembut, berusaha mengembalikan suasana normal. "Biar aku yang melanjutkan memasaknya. Kau duduk saja di sana, sebentar lagi matang."
Mira menurut tanpa bantahan. Ia melepas pegangan pada pisau dan melangkah perlahan menuju kursi tinggi di dekat bar dapur. Dari sana, Mira memangku wajahnya dengan kedua tangan, menatap punggung tegap Jungkook yang kini sibuk mengaduk saus krim dan ayam di atas wajan.
Melihat betapa cekatan dan perhatiannya Jungkook, rasa nyaman yang mendalam semakin menghujam relung hati Mira. Di kota Paris yang asing dan dingin ini, di mana kakaknya sendiri berada jauh di belahan dunia lain, sosok Jungkook menjelma menjadi satu-satunya tempat ia menyandarkan rasa aman dan kehangatan.
Namun di saat yang bersamaan, timbul sebuah pertanyaan besar di dalam dada Mira yang kian mekar: Sampai kapan batas hubungan ini akan bertahan?
Aroma gurih Poulet au Vin Blanc yang mengepul hangat akhirnya tersaji rapi di atas meja makan kayu yang minimalis. Saus krim anggur putih yang kental menyelimuti potongan daging ayam yang empuk, berpadu sempurna dengan mangkuk nasi hangat dan dua gelas jus jeruk segar.
Mira dan Jungkook duduk berhadapan. Suasana canggung yang sempat membakar dapur tadi perlahan mencair, berganti dengan kehangatan domestik yang tenang.
"Cobalah," ujar Jungkook lembut, menopang dagunya dengan satu tangan seraya memperhatikan Mira yang meraih sendoknya.
Mira menyuap potongan ayam dan saus krim buatan mereka. Matanya seketika membelalak berbinar. "Wah... ini benar-benar enak sekali, Oppa! Saus krimnya sangat pas!"
Jungkook terkekeh halus, sebuah lengkungan senyum manis terukir di bibirnya. "Tentu saja, kan ada adonan bawang yang kau potong tadi."
Mira tersenyum malu-malu, menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya menikmati suapan demi suapan. Di balik suapan hangat itu, hatinya dipenuhi rasa nyaman yang luar biasa. Tatapan mata Jungkook yang teduh dan selalu mengawasinya dengan penuh perhatian membuat rasa sepi di kota asing ini sirna tanpa sisa.
Kring! Kring! Kring!
Denting nyaring nada panggil panggilan video dari ponsel Mira yang tergeletak di meja mendadak memecah suasana. Nama "Taehyung Oppa 🐯" terpampang jelas di layarnya.
"Ah, Taehyung Oppa!" seru Mira gembira. Gadis itu buru-buru mengusap bibirnya dengan tisu dan menggeser ikon hijau pada layar.
Seketika, raut wajah Kim Taehyung muncul di layar ponsel. Ia tampak duduk di dalam sebuah ruang kantor modern bergaya minimalis di Seoul, mengenakan kemeja santai dengan latar belakang pemandangan gedung-gedung tinggi kota Seoul yang diterpa sinar matahari siang.
"Mira-ya! Omo, adikku yang cantik, sedang apa kau?" sapa Taehyung dengan suara nyaring dan senyum bahagianya yang khas.
"Aku baru saja mau makan siang, Oppa!" sahut Mira antusias, mengarahkan kameranya sedikit ke arah piring masakan dan sosok Jungkook yang duduk di hadapannya. "Lihat, Jungkook Oppa mengajariku memasak makanan Prancis!"
Taehyung di dalam layar terkekeh kencang, matanya menyipit jenaka. "Aigoo... Jeon Jungkook mengajarimu memasak? Awas, Mira, jangan mau dibohongi, masakan dia cuma menang tampilan saja!"
"Yaa! Kim Taehyung, bicara yang benar di depan adikmu," potong Jungkook santai, menyandarkan punggungnya di kursi seraya melipat kedua tangan di dada, ikut melemparkan senyum tipis ke arah layar ponsel Mira.
Taehyung tertawa lepas, namun tak lama kemudian, raut wajahnya di layar perlahan berubah menjadi agak serius walau tetap dipaksakan santai. Pria itu menopang dagunya, menatap adik tunggalnya lekat-lekat dari kejauhan ribuan kilometer.
"Mira-ya..." panggil Taehyung dengan nada suara yang melunak. "Sebenarnya Oppa menelepon untuk memberitahumu sesuatu."
Raut wajah Mira seketika berubah agak cemas. "Ada apa, Oppa? Pekerjaanmu di Seoul ada masalah?"
Taehyung menghela napas panjang, memasang raut wajah penuh penyesalan yang aktingnya begitu sempurna. "Begini... proyek kerja sama kantor di Seoul ini ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal. Ada banyak dokumen legalitas dan restrukturisasi tim yang harus Oppa urus sendiri. Jadi..."
Taehyung menggantung kalimatnya sejenak, melirik tipis ke arah Jungkook di layar.
"...sepertinya Oppa harus tinggal lebih lama di Seoul. Mungkin beberapa bulan ke depan Oppa belum bisa kembali ke Paris."
DEG.
Senyum di bibir Mira perlahan memudar. Senandung bahagia di dadanya seketika surut. "L-lama sekali, Oppa? Kenapa tiba-tiba?"
"Maafkan Oppa, ya?" tutur Taehyung memelas, menyatukan kedua telapak tangannya di depan kamera. "Tapi kau tenang saja. Aku sudah menitipkanmu sepenuhnya pada Jungkook. Kau tinggal saja di apartemennya sampai urusan apartemenmu selesai. Jungkook pasti menjagamu dengan baik."
Jungkook, yang mendengarkan kebohongan terselubung sahabatnya melalui panggilan video itu, hanya diam membisu. Ia menatap ke arah layar ponsel, mendapati Taehyung yang secara tersirat sedang memberikan lampu hijau baginya untuk terus menjaga Mira di Paris.
"Iya, Oppa... tidak apa-apa," bisik Mira lirih, berusaha mengumbar senyum tipis walau raut kecewa tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
"Yang penting pekerjaanmu di sana lancar dan Oppa sehat selalu."
"Adikku memang yang terbaik! Jangan nakal di sana dan turuti kata-kata Jungkook, ya? Oppa harus masuk ruang rapat sekarang. Saranghae, Kim Mira!"
"Nee, saranghae Oppa..."
Tiiit.
Sambungan video terputus. Keheningan kembali menyelimuti meja makan itu. Mira meletakkan ponselnya pelan, menundukkan kepalanya menatap piring makanannya yang masih tersisa separuh. Bahunya nampak agak turun, menyerap rasa sepi yang kembali menyapa saat menyadari kakaknya akan berada sangat jauh darinya dalam waktu yang cukup lama.
Jungkook memperhatikan raut muram Mira. Dada pria itu mendadak ikut terasa sesak dan tercubit iba. Rasa bersalah karena menyimpan rahasia renovasi palsu beradu erat dengan dorongan protektif di dadanya.
Jungkook mengulurkan tangannya melintasi meja, mengusap punggung tangan Mira yang dingin secara perlahan.
"Jangan sedih," tutur Jungkook dengan suara beratnya yang teramat dalam dan hangat. "Ada aku di sini, Mira-ya. Kau tidak sendirian di Paris."
Mira mendongak. Manik matanya yang agak berkaca-kaca menatap lurus ke dalam mata hitam Jungkook. Genggaman hangat tangan pria itu di atas punggung tangannya menyalurkan rasa aman yang begitu pekat, perlahan mengikis rasa sedih di dadanya, membuat Mira sadar bahwa meski Taehyung berada jauh di Seoul, keberadaan Jungkook di sisinya sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan dunianya.