Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16. Ternyata Itu Hanyalah Kesalahpahaman
Angin sore berhembus lembut menyapu dedaunan di sekitar tempat kami berdiri, namun hatiku masih terasa berdebar kencang. Kata-kata Arga baru saja meluncur begitu tenang dan mantap, namun butuh waktu sejenak bagiku untuk benar-benar mencernanya sepenuhnya. Selama ini aku membiarkan rasa takut dan cemburu buta menguasai diriku hanya karena melihat sekilas pemandangan yang ternyata sama sekali bukan seperti yang kukira. Rasa malu perlahan merambat naik ke wajahku, membuatku menunduk dalam tak berani menatap matanya.
"Maafkan saya, Pak..." ucapku pelan, suaraku terdengar getir dan penuh penyesalan. "Saya tadi... begitu saja langsung berpikir yang bukan-bukan. Tanpa bertanya dulu, tanpa memastikan kebenarannya. Saya... saya sebenarnya takut. Takut kalau selama ini perhatian yang saya rasakan itu hanya perasaan saya sendiri yang berlebihan. Takut kalau ternyata saya bukan siapa-siapa bagi Bapak."
Arga terdiam sejenak, lalu perlahan ia melangkah mendekat sedikit, namun tetap menjaga jarak yang sopan agar tak ada siapa pun yang melihat. Tatapannya begitu lembut, seakan tak sedikit pun marah atas kecurigaan yang kuberikan padanya. Sebaliknya, di matanya justru tersirat rasa iba dan pengertian yang mendalam.
"Kau tidak perlu meminta maaf begitu, Lisna," ucapnya pelan namun tegas. "Justru karena kau merasakan hal itu, aku tahu bahwa perasaanmu padaku memang nyata. Dan aku... aku sangat menghargainya. Namun kau harus paham, di tempat seperti ini, di mana mata orang-orang selalu mengawasi, hal-hal yang tampak di luar seringkali berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Apa yang kau lihat tadi... hanyalah kesalahpahaman semata."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, seakan ingin meyakinkanku sepenuhnya. "Wanita itu bernama Sari. Dia adalah ketua kelas di mata kuliah Pengantar Hukum yang kuajar di semester atas. Dia datang menyerahkan daftar nama mahasiswa yang mendaftar lomba karya tulis hukum tingkat fakultas. Itu saja pembicaraan kami. Tak ada hal lain. Tak ada kedekatan khusus, tak ada percakapan pribadi, tak ada apa-apa selain urusan akademis yang memang menjadi tugasku."
Aku mendongak perlahan, menatapnya lekat-lekat. "Benarkah itu, Pak? Bapak tidak menyembunyikan apa-apa dari saya?"
Arga menggeleng pelan, tatapannya begitu jujur dan tulus hingga tak ada sedikit pun keraguan yang tersisa di hatiku. "Aku tak akan pernah berbohong kepadamu, Lisna. Apalagi soal hal seperti ini. Jika aku bersikap ramah kepada mahasiswi lain, itu karena aku adalah dosen mereka. Aku harus bersikap adil dan sopan kepada siapa pun. Namun ramah itu berbeda dengan perhatian yang khusus. Dan kau... kau adalah satu-satunya yang mendapat tempat istimewa di hatiku. Percayalah, tak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu, maupun yang mendapatkan perlakuan seperti yang kuberikan kepadamu."
Kata-katanya meresap perlahan ke dalam dadaku, menyapu bersih segala keraguan dan ketakutan yang tadi menggunung tinggi. Ternyata... semuanya hanyalah kesalahpahaman. Pemandangan yang kulihat dari kejauhan, yang membuat hatiku hancur seketika, ternyata sama sekali bukan seperti yang kukira. Aku telah menghukumnya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Aku telah membiarkan rasa cemburu buta membutakan mataku dari kenyataan yang sebenarnya.
"Saya... saya benar-benar malu, Pak," akuku pelan, air mata yang tadi karena kesedihan kini justru jatuh karena rasa lega sekaligus rasa bersalah. "Saya seharusnya bertanya dulu, bukan langsung pergi begitu saja dengan perasaan yang kacau. Terima kasih... terima kasih sudah menjelaskan semuanya kepada saya. Terima kasih sudah sabar menghadapi saya."
Arga tersenyum lembut, senyum yang begitu menenangkan dan menghangatkan hati. "Tidak perlu malu, Lisna. Cemburu itu bukan hal yang salah. Itu tandanya kau peduli. Dan aku justru merasa bahagia mengetahuinya. Hanya saja... mulai sekarang, jika kau melihat sesuatu yang membuatmu ragu atau takut, tanyalah langsung kepadaku. Jangan biarkan keraguan itu tumbuh sendirian. Karena di antara kita, tak boleh ada rahasia maupun prasangka buruk. Kita harus saling percaya, itu pondasi utama yang harus kita bangun meski rahasia ini tersembunyi dari semua orang."
Aku mengangguk mantap, menyeka sisa air mata di pipiku dengan punggung tangan. "Iya, Pak. Mulai sekarang, saya akan belajar percaya. Saya takkan lagi mudah berprasangka buruk. Saya janji."
"Bagus," ucapnya pelan, lalu matanya melirik sekilas ke arah payung yang masih kugenggam di tangan. "Oh, kau membawanya kembali. Terima kasih. Sudah kering dan rapi sekali ya?"
"Iya, Pak. Saya menyekanya dan menjaganya agar tetap bersih. Terima kasih banyak untuk kemarin. Tanpa payung itu, mungkin saya sudah jatuh sakit karena kehujanan." Aku mengulurkan payung itu kepadanya dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bahagia dibandingkan saat membawanya tadi.
Arga menerimanya perlahan, jari-jarinya menyentuh tanganku sekilas, cukup untuk membuat jantungku kembali berdebar namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa hangat yang menyenangkan. "Sama-sama. Simpan saja dulu di sini. Nanti aku ambil setelah pulang."
Ia tersenyum sekali lagi sebelum berkata, "Sudah sore, kau harus pulang. Hati-hati di jalan, Lisna. Dan... jangan lupa, apa pun yang terjadi, kau tetaplah satu-satunya bagiku. Jangan biarkan hal kecil seperti tadi membuatmu meragukan itu lagi."
"Iya, Pak. Sampai jumpa besok di kelas," jawabku dengan senyum yang tulus dan lebar, senyum yang tak pernah terasa begitu ringan dan bahagia sebelumnya.
Saat aku berjalan meninggalkan tempat itu, langkah kakiku terasa begitu ringan dan riang. Beban berat yang tadi menindih dadaku telah lenyap sepenuhnya. Ternyata itu hanyalah kesalahpahaman sederhana yang sempat memisahkan hati kami sejenak. Namun di balik kesalahpahaman itu, justru tumbuh sesuatu yang jauh lebih berharga—kepercayaan yang lebih kuat, rasa saling mengerti yang lebih dalam, dan kesadaran bahwa di antara kami, tak ada yang perlu ditakuti selama kami saling jujur dan saling percaya.
Dan sore itu, di bawah langit yang mulai berwarna jingga kemerahan, aku menyadari satu hal penting: cinta tak selalu berjalan mulus tanpa rintangan. Kadang ada kesalahpahaman yang datang menguji. Namun jika kedua hati saling percaya dan saling menjaga, kebenaran akan selalu terungkap pada akhirnya. Dan rasa hangat yang tumbuh setelahnya... akan jauh lebih kuat dan abadi dari sebelumnya.
bersambung...