Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keesokan harinya, Lorenzo pergi ke apartemen Bianca. Entah mengapa, sejak mendapatkan bukti dari Marcus, pikirannya terus dipenuhi berbagai pertanyaan. Foto-foto yang memperlihatkan Bianca bersama beberapa pria masih terbayang jelas di kepalanya. Terlebih lagi, ada Samuel di antara mereka.
Lorenzo ingin bertemu langsung dengan Bianca.
Dia ingin melihat wajah wanita itu ketika diputuskan olehnya. Namun, sesampainya di apartemen, tidak ada seorang pun di sana.
"Dia itu pergi ke mana?" ucap Lorenzo bermonolog.
Lorenzo mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Bianca. Panggilan itu berdering cukup lama sebelum akhirnya masuk ke pesan suara.
Rahang Lorenzo mengeras. "Jangan-jangan Bianca sedang bersama pria lain?"
Karena sudah terlanjur keluar rumah, Lorenzo akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor. Lagipula, dokter memang sudah mengizinkannya kembali melakukan aktivitas sehari-hari.
Mobilnya melaju menuju gedung Romano Group. Begitu memasuki area parkir pribadi, Lorenzo teringat sesuatu.
"Ruangan tempat Alina kerja di mana, ya?"
Kening Lorenzo langsung berkerut. Pertanyaan itu terasa memalukan. Dia adalah suami Alina. Namun, dia tidak tahu istrinya bekerja di lantai berapa. Lebih parah lagi, Alina ternyata bekerja di gedung yang sama dengannya, hanya berbeda lantai.
Lorenzo mengembuskan napas panjang. Kalau dipikir-pikir, selama ini mereka benar-benar seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. Pikiran itu membuat langkahnya terhenti sesaat. Kemudian dia kembali berjalan menuju lift.
Begitu sampai di lantai tempat ruangannya berada, Lorenzo langsung mencari Carlos. Pria itu sedang berdiskusi dengan dua orang manajer ketika Lorenzo muncul.
"Tuan Lorenzo."
Carlos segera menghentikan pembicaraannya. Lorenzo memberi isyarat agar kedua manajer itu keluar terlebih dahulu. Setelah pintu tertutup, Lorenzo berjalan menuju meja Carlos.
"Carlos."
"Ya, Tuan?"
"Alina kerja di lantai berapa?"
Carlos yang sedang memeriksa tablet langsung terdiam. Dia mengangkat wajah. Seolah-olah baru saja mendengar pertanyaan paling aneh dalam hidupnya.
Carlos berkedip beberapa kali. Selama ini Lorenzo tidak pernah menanyakan keberadaan Alina di kantor. Bahkan ketika nama Alina muncul dalam beberapa dokumen internal, Lorenzo biasanya hanya melewatinya begitu saja.
Carlos akhirnya menjawab. "Nyonya Alina bekerja di lantai lima, Tuan."
"Lantai lima?" Lorenzo mengerutkan alis. "Itu bagian apa?"
Carlos semakin bingung. "Nyonya Alina bekerja sebagai staf HR—Human Resources."
"Oh." Lorenzo mengangguk kecil. Dia kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.
Carlos masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian, pria itu mengusap tengkuk.
"Sejak kapan Tuan Lorenzo tiba-tiba tertarik dengan bagian HR?" Carlos menggeleng pelan. "Benar-benar berubah setelah kecelakaan."
Lorenzo berjalan menuju lift. Langkahnya lebar dan cepat. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menyingkir dengan sopan.
"Selamat pagi, Tuan."
"Selamat datang kembali, Tuan."
Lorenzo hanya membalas dengan anggukan singkat. Beberapa karyawan bahkan terlihat saling pandang setelah dia lewat. Bagaimanapun, selama ini Lorenzo dikenal sebagai sosok yang sangat dingin. Namun, pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Dia terlihat lebih sering memperhatikan sekitar.
Ketika lift berhenti di lantai lima, pintunya terbuka. Lorenzo melangkah keluar. Suasana lantai lima jauh lebih ramai dibandingkan lantainya.
Beberapa karyawan terlihat mondar-mandir membawa dokumen. Ada yang sibuk berbicara melalui telepon, sementara beberapa lainnya duduk mengelilingi meja sambil berdiskusi.
Lorenzo memperhatikan tulisan di dinding. HUMAN RESOURCES DEPARTMENT.
Lorenzo berhenti sejenak. "Jadi di sinilah Alina bekerja."
Entah mengapa, perasaan aneh muncul di dada Lorenzo. Selama ini dia selalu menganggap Alina hanya berada di rumah. Padahal, ketika dirinya sibuk mengurus perusahaan, wanita itu juga menjalani kehidupannya sendiri. Lorenzo hendak berjalan lebih jauh ketika terdengar suara tawa dari salah satu meja.
Di sudut ruangan, Alina sedang sibuk mengetik beberapa data karyawan. Di sampingnya ada Amanda dan Sisil. Ketiganya seharusnya sedang sibuk bekerja. Namun, pekerjaan kantor terkadang memang terasa lebih ringan kalau diselingi sedikit percakapan.
Amanda mencondongkan tubuh ke arah Alina. "Lin."
"Hm?"
"Kamu sudah dengar kabar terbaru?"
Alina masih menatap layar komputer. "Kabar apa?"
Amanda melirik ke kanan dan kiri sebelum berbisik. "Rose."
Jari Alina berhenti sebentar di atas keyboard. "Kenapa dengan Rose?"
Sisil ikut mendekat. "Katanya dia mau resign."
Alina mengangkat alis. "Resign?"
Amanda mengangguk cepat. "Katanya kehamilannya mengalami sedikit masalah. Dia harus menjalani perawatan intensif."
Alina mengerutkan kening. Rasa iba sempat muncul di wajahnya. "Kasihan juga."
Sisil mengangguk. "Tapi bukan itu bagian yang bikin heboh."
Amanda langsung menyambar. "Rose hamil tanpa suami."
Alina menahan napas.
Amanda menutup mulutnya dengan tangan agar suaranya tidak terdengar terlalu keras. "Kayaknya selain sakit, Rose merasa malu."
Sisil memutar kursinya menghadap mereka. "Kira-kira siapa pria yang menghamili Rose?"
Kalimat itu membuat tangan Alina yang sibuk mengetik mendadak berhenti bergerak. Wajahnya perlahan berubah kaku.
Rose adalah sekretaris Lorenzo. Dan seorang sekretaris biasanya menjadi salah satu orang yang paling dekat dengan atasannya. Bahkan terkadang mengetahui agenda pribadi sang atasan.
Alina menelan ludah. Pikiran itu muncul begitu saja. Dia buru-buru menggeleng kecil.
"Jangan-jangan itu anak—"
Alina buru-buru menggeleng kecil.
"Tidak. Tidak mungkin."
Tapi semakin dia berusaha menyingkirkan pikiran itu, semakin kuat pula kecurigaan tersebut muncul. Lorenzo dan Rose memang sering berada dalam satu ruangan. Mereka bekerja bersama setiap hari.
Alina mendadak merasa tengkuknya dingin.
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya