Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Pagi itu, langit Seoul berwarna abu-abu mendung, seolah mencerminkan suasana hati Kim Seokjin. Ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menyesuaikan dasi sutra hitamnya. Wajahnya sudah diberi lapisan make-up tebal untuk menyamarkan pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya. Bibirnya diberi sedikit warna agar terlihat lebih hidup. Dari luar, ia tampak sempurna, siap menghadapi dunia.

Tapi di dalam, tubuhnya berteriak minta ampun. Setiap gerakan terasa berat, seperti berjalan melalui lumpur kental. Obat-obatan yang ia minum semalam hanya menekan gejala, bukan menyembuhkan akar masalah. Namun, Jin tidak punya pilihan. Hari ini adalah hari penentuan.

"Hyung, kau yakin bisa?" tanya Taehyung dari ambang pintu. Ia mengenakan jaket hoodie, siap mengantarkan Jin ke lokasi pertemuan jika diperlukan. Tapi Jin menolak dengan tegas.

"Aku harus melakukannya sendiri, Tae," kata Jin lembut, meski tangannya gemetar saat mengambil kunci mobil. "Ini urusan antara aku dan masa lalu. Kau tunggu di mansion. Chanyeol-hyung akan menjagamu."

Taehyung menggigit bibirnya, matanya penuh kecemasan. "Jangan lama-lama, Hyung. Dan jangan memaksakan diri."

"Janji," jawab Jin, memberikan kecupan singkat di kening adiknya itu sebelum berbalik dan melangkah keluar.

Mobil sedan hitam Jin melaju mulus di jalan tol menuju pinggiran Seoul. Tujuannya adalah sebuah kafe tua bernama "The Old Oak", tempat yang dulu sering dikunjungi oleh ayah Jin dan Lee Soo-hyuk untuk membahas bisnis sambil menikmati kopi. Tempat itu juga menjadi saksi bisu kebahagiaan masa kecil Jin dan Taehyung bersama "Paman Lee".

Chanyeol mengikuti dari jarak jauh dengan mobil SUV-nya yang gelap, memastikan tidak ada kendaraan mencurigakan yang membuntuti Jin. Yoongi memantau situasi dari pusat komando di mansion, siap memanggil bantuan darurat jika sesuatu terjadi.

Jin tiba di kafe tersebut tepat pukul 10 pagi. Kafe itu sepi, hanya ada beberapa pelanggan lansia di sudut. Di meja paling belakang, dekat jendela yang menghadap hutan pinus, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut beruban rapi dan kacamata baca. Lee Soo-hyuk.

Melihat sosok itu, dada Jin sesak. Kenangan masa kecil menyerbu: Paman Lee yang menggendongnya saat ia jatuh dari sepeda, Paman Lee yang membelikannya es krim pertama, Paman Lee yang menangis di pemakaman orang tuanya. Bagaimana mungkin wajah yang sama itu menyimpan kegelapan sedalam itu?

Jin menarik napas dalam-dalam, menekan rasa mual yang datang tiba-tiba, dan berjalan mendekati meja itu.

"Paman Lee," sapa Jin, suaranya datar.

Lee Soo-hyuk menoleh, wajahnya menampilkan senyuman sedih yang familiar. "Jin-ah... Kau sudah dewasa sekali. Mirip sekali dengan ayahmu."

"Duduklah," kata Lee Soo-hyuk, menunjuk kursi di hadapannya.

Jin duduk, tetapi ia tidak memesan apa-apa. Ia menatap pria itu lekat-lekat. "Aku menerima pesanmu. Kau bilang ada kebenaran yang harus aku tahu."

Lee Soo-hyuk menghela napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop tipis dari sakunya. Ia mendorongnya ke arah Jin.

"Buka itu," katanya pelan.

Jin membuka amplop itu. Isinya adalah satu lembar foto lama. Foto keluarga Kim lengkap: Ayah, Ibu, Jin kecil, dan Taehyung bayi. Di sudut foto, terlihat samar sosok Lee Soo-hyuk sedang berbicara serius dengan seorang pria lain di latar belakang. Pria itu wajahnya tertutup bayangan, tapi di tangannya terlihat sebuah alat kecil berwarna perak.

"Siapa pria itu?" tanya Jin, jantungnya berdegup kencang.

"Itulah Lim Sung-min," jawab Lee Soo-hyuk. "Dan inisial L.S. bukan milikku, Jin-ah. Itu milik dia. Lim Sung-min."

Jin terkejut. "Jadi... kau tidak terlibat dalam sabotase rem?"

Lee Soo-hyuk menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Tidak, Jin. Aku mencintai sahabatku seperti saudara sendiri. Aku tidak akan pernah menyakitinya. Tapi... aku tahu siapa yang memerintahkan Lim Sung-min. Dan itulah alasan mengapa aku diam selama sepuluh tahun."

"Siapa?" desak Jin, napasnya menjadi pendek. Rasa pusing mulai menyerang lagi, tapi ia menahannya dengan menggenggam tepi meja erat-erat.

Lee Soo-hyuk mencondongkan tubuh maju, suaranya hampir tak terdengar. "Orang itu masih berkuasa, Jin. Orang itu memiliki jaringan yang luas, bahkan lebih luas dari yang kau bayangkan. Jika aku bicara sepuluh tahun lalu, bukan hanya aku yang mati, tapi kamu dan Taehyung juga akan menjadi target berikutnya. Aku membayar Lim Sung-min untuk lari ke Thailand bukan untuk menutupi kejahatanku, tapi untuk menyelamatkan nyawanya dari orang yang menyuruhnya. Dan untuk melindungi kalian."

Jin merasa dunianya berputar. Ada pihak ketiga? Seseorang yang lebih kuat dari Xiumin? Lebih licik dari Chen?

"Siapa namanya, Paman?" tanya Jin, suaranya bergetar karena amarah dan kelelahan.

Lee Soo-hyuk membuka mulutnya untuk menjawab, tapi tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi takut. Matanya melebar, menatap ke arah pintu masuk kafe.

Jin menoleh. Di pintu masuk, berdiri dua pria bertubuh besar dengan pakaian hitam. Mereka bukan polisi. Mereka bukan pengawal biasa. Mata mereka dingin, mematikan.

"Mereka menemukan kita," bisik Lee Soo-hyuk panik. "Jin, lari! Sekarang!"

Sebelum Jin bisa bereaksi, salah satu pria itu menarik pistol bersenjata peredam dari balik jaketnya.

Thwip.

Suara tembakan tertekan terdengar. Kaca jendela di samping Lee Soo-hyuk pecah berantakan. Lee Soo-hyuk terjatuh ke lantai, darah mengalir dari bahunya.

"POLISI!" teriak Jin instingtif, meski ia tahu ini bukan tindakan polisi resmi.

Pria-pria itu tidak menembak Jin. Mereka hanya ingin membungkam Lee Soo-hyuk. Salah satu dari mereka menatap Jin dengan tatapan peringatan keras, lalu keduanya berlari keluar melalui pintu belakang kafe, menghilang ke dalam hutan pinus.

Jin terpaku. Tubuhnya gemetar hebat. Napasnya tersengal-sengal. Darah Lee Soo-hyuk menggenang di lantai kayu.

"Paman Lee!" seru Jin, berusaha bangkit untuk menolong, tapi kakinya lemas. Pandangannya kabur. Dunia menjadi gelap.

Dari kejauhan, Chanyeol melihat kejadian itu dari mobilnya. Ia segera keluar, berlari menuju kafe sambil menghubungi tim medis darurat dan polisi.

"Jin! Tahan!" teriak Chanyeol saat ia masuk ke dalam kafe.

Jin menatap Chanyeol dengan mata kosong, bibirnya bergerak tanpa suara. "Ada orang lain... Pihak ketiga..."

Lalu, kesadaran Jin padam total. Tubuhnya ambruk di samping tubuh Lee Soo-hyuk yang terluka, di tengah pecahan kaca dan bau darah yang menyengat.

Rahasia itu belum sepenuhnya terungkap. Tapi kini, permainan telah berubah. Musuh tidak lagi hanya Xiumin dan Chen. Ada bayangan besar yang lebih gelap, lebih tua, dan lebih berbahaya yang sedang mengawasi setiap langkah Kim Seokjin.

Dan Jin, dengan tubuhnya yang hancur, baru saja menjadi sasaran empuk bagi bayangan itu.

🥀🥀🥀🥀🥀🥀

Hujan deras masih mengguyur Seoul, menciptakan tirai abu-abu yang memisahkan dunia luar dari kenyamanan interior mansion keluarga Park (Xiumin dan Chen). Di ruang tamu utama yang megah namun dingin, suasana tegang terasa mencekam.

Park Jihoon duduk di sofa tunggal, matanya tertuju pada sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak di atas meja kopi kaca. Amplop itu muncul pagi ini di depan pintu gerbang, tanpa prangko, tanpa nama pengirim, hanya tulisan tangan yang rapi: "Untuk Putra-Putra Lee."

Di sebelahnya, Min Seokhun (Xiumin) dan Jongdae (Chen) berdiri dengan wajah suram. Mereka baru saja menerima kabar bahwa Lee Soo-hyuk, sahabat lama ayah mereka, telah ditembak di sebuah kafe pinggiran kota. Korban selamat, tapi kondisinya kritis. Dan yang lebih mengejutkan, Kim Seokjin pingsan di tempat kejadian.

"Siapa yang mengirim ini?" tanya Chen dengan nada sinis, menendang kaki meja secara tidak sengaja. "Apakah ini ulah Jin? Atau mungkin Xiumin-hyung punya musuh lain?"

Xiumin tidak menjawab. Ia mengambil amplop itu dengan hati-hati, seolah itu berisi bom. Dengan pisau lipat kecil, ia membuka segelnya. Isinya adalah tumpukan dokumen fotokopi yang sudah menguning, beberapa foto hitam putih buram, dan sebuah surat ketikan mesin tik tua.

Jihoon mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan kehati-hatiannya. "Apa isinya, Hyung?"

Xiumin mulai membaca dokumen pertama. Matanya membelalak. Tangannya gemetar hebat hingga kertas itu bergetar.

"Apa?" desak Chen, merebut salah satu lembar dari tangan kakaknya. Saat membacanya, wajah Chen menjadi pucat pasi. "Ini... ini mustahil."

Jihoon mengambil giliran membaca. Dokumen itu adalah laporan otopsi rahasia dari sepuluh tahun lalu-bukan untuk orang tua Kim, melainkan untuk orang tua mereka sendiri: Lee Min-jun dan Park Soo-yeon.

Selama ini, mereka percaya bahwa orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan mobil tragis di jalan tol karena rem blong, sama seperti narasi publik tentang kematian orang tua Jin. Namun, dokumen ini menunjukkan hasil analisis forensik independen yang disembunyikan oleh polisi saat itu.

"Ditemukan residu bahan kimia pengikat logam pada sistem kemudi. Bukan kegagalan mekanis alami. Ini adalah sabotase eksternal yang disengaja. Pola kerusakan identik dengan kasus 'kecelakaan' keluarga Kim yang terjadi tiga bulan sebelumnya."

Di bagian bawah dokumen, ada catatan kaki kecil: "Pelaku menggunakan metode yang sama. Diduga satu sindikat atau individu yang sama."

"Mereka dibunuh," bisik Jihoon, suaranya tercekat. "Orang tua kita... tidak mati karena kecelakaan. Mereka dibunuh. Dengan cara yang sama persis seperti Ayah dan Ibu Jin."

Ruangan hening sejenak. Hanya suara hujan yang menghantam jendela besar.

Xiumin jatuh terduduk di sofa, wajahnya kosong. Selama ini, ia membenci keluarga Kim karena merasa merekalah yang "beruntung" selamat dari kutukan nasib buruk, sementara keluarganya hancur. Ia membangun kekaisaran bisnisnya dengan rasa dendam dan keyakinan bahwa dia harus lebih kuat, lebih kejam, agar tidak pernah menjadi korban lagi.

Tapi sekarang? Ternyata mereka semua adalah korban. Korban dari pembunuh yang sama.

"Siapa?" geram Chen, matanya menyala dengan amarah yang berbeda. Bukan amarah pada Jin, tapi pada ketidakadilan alam semesta. "Siapa yang melakukan ini? Dan mengapa?"

Jihoon mengangkat pandangannya, menatap kedua kakaknya. Untuk pertama kalinya, ia melihat keretakan di topeng dingin Xiumin. Ada rasa sakit, ada kebingungan, dan ada ketakutan.

"Surat ini mengatakan bahwa penyidik asli, Detektif Han, mencoba membongkar kasus ini tapi ditekan oleh atasan. Dia menghilang setahun kemudian," kata Jihoon, menunjuk paragraf terakhir. "Ini bukan kebetulan, Hyung. Ini rencana besar. Seseorang ingin menghilangkan generasi pemimpin bisnis masa itu. Keluarga Kim selamat karena keberuntungan atau perlindungan tertentu. Tapi keluarga kita... tidak."

Xiumin mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-bukunya memutih. "Jika ini benar... maka selama ini aku memusuhi orang yang salah. Jin bukan musuhku. Dia juga korban."

"Tapi dia menyembunyikan sesuatu," kata Chen tajam. "Dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan. Lihat bagaimana dia bereaksi saat Lee Soo-hyuk ditembak. Dia pingsan, tapi sebelum itu, dia terlihat seperti sedang mencari jawaban."

Jihoon berdiri, berjalan menuju jendela. Ia memandang hujan yang turun deras. Pikirannya bekerja cepat. Jika Xiumin dan Chen terus menyerang Jin, mereka hanya akan saling menghancurkan sambil pembunuh sebenarnya tertawa di kejauhan.

"Kita harus menyelidiki ini," kata Jihoon tegas. "Tanpa melibatkan Jin dulu. Kita verifikasi dokumen ini. Cek arsip polisi lama. Cari Detektif Han. Jika ini palsu, itu berarti seseorang ingin memecah belah kita lebih jauh. Jika ini benar... maka kita punya musuh bersama."

Xiumin menatap adik bungsunya itu. Ada kebanggaan terselip di matanya. Jihoon, si bungsu yang sering ia anggap lemah, kini menunjukkan ketajaman berpikir yang luar biasa.

"Baik," kata Xiumin akhirnya, suaranya berat. "Chen, hubungi kontak lama kita di kepolisian. Jihoon, kau cari tahu siapa yang bisa mengakses arsip tertutup itu. Aku akan memantau gerakan Jin. Jika dia bertemu dengan seseorang yang mencurigakan, kita akan tahu."

"Dan Hyung," tambah Jihoon, menatap Xiumin lekat-lekat. "Berhenti menyerang Jin Hyung secara frontal. Jika dia juga target pembunuh itu, maka menyerangnya hanya akan membuatnya lebih rentan, dan mungkin mempercepat kematian kita semua jika pembunuh itu memutuskan untuk membersihkan sisa-sisa saksi."

Xiumin terdiam lama. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Aku akan menahan diri. Untuk sementara."

Itu bukan perdamaian. Itu gencatan senjata yang rapuh. Tapi itu awal dari perubahan arah.

Sementara itu, di rumah sakit, Kim Seokjin masih terbaring koma akibat kelelahan ekstrem dan syok psikologis. Taehyung duduk di sampingnya, memegang tangan kakaknya yang dingin. Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, saudara-saudara yang dulu dianggap musuh mulai membuka mata mereka terhadap kebenaran yang lebih gelap.

Dunia bisnis Seoul adalah papan catur raksasa. Dan baru sekarang, para pemain mulai menyadari bahwa ada tangan ketiga yang menggerakkan bidak-bidak mereka menuju kehancuran.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!