Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapakah Riana?
Udara pagi menyelimuti Hanum, wanita itu masih istirahat di kamarnya. Ia tahu betapa bahagianya bisa bertemu dengan Mertua sebaik Mama Fatimah.
Hanum melihat jika angka Jam sudah menunjukkan pukul 05.00, masih subuh tapi ia tak bisa terlalu lama. Cukup kemarin saja, Hanum kesiangan. Lagi pula, pasti Mertuanya capek dan ingin cepat beristirahat terlalu lama.
"Aku hanya menumpang disini, Aku ga boleh manja. lagi pula rumah sebesar ini, mana mungkin aku dapat kebahagiaan," batin Hanum merasakan sedih, ia begitu meratapi nasibnya di kampung Melati.
Mendengar itu semua, suara krek dari pintu terpampang jelas. Segera Hanum menutupi mulut rapat-rapat. Ironisnya, Hanum mengintip dari celah jendela, bukan Mertua melainkan suami baru pulang dari kantornya.
Setengah mau ambruk, untung bukan mertua jika saja pasti beliau sudah memarahi ku cukup lama.
Suara Arkan parau kasar, seperti minum alkohol. Tumbuhnya terhuyung, matanya berkunang-kunang. Tapi, subuh di pagi hari, Suami pulang dalam keadaan mabuk.
Hanum pun mengangkat tubuh suaminya menuju ranjang, tubuhnya berat. Bahkan tubuhku terlalu kecil tak sanggup mengangkat tubuh suami.
"Mas, kamu dari mana? Kenapa jam segini baru pulang."
"Diam sayang, Riana kamu itu bawel kali. Riana sini peluk, Mas. Sini Riana," jawab Arkan.
Deg!
Sakit hati atau sakit entah apa dirasakan Hanum, baru saja suami menyebut nama wanita lain di depan mata Istri.
Air mata Hanum jatuh, ia tak bisa berkata apa-apa. Badannya lemas, apakah benar Suami tak pulang 2 hari karena tidur dengan wanita lain.
Entah setan apa yang merasuki pikiran Hanum, ia berpikiran jauh sekali. Tetapi, Suami dalam keadaan mabuk.
Hanum segera membaringkan tubuh suami, melepas sepatu dan jaket. Saat melepaskan jaket, tercium aroma parfum wanita lain.
"Yaa Allah, Mas. Kenapa Mas tega melakukan ini kepada ku. Apa salah Hanum, Mas. Jika Mas ingin menikah dengan wanita lain, Hanum ga sanggup, Mas," Lirih suara tangis didalam batin Hanum. Istri tersiksa karena suami sering pulang larut malam terkadang tidak pulang.
Hanum keluar dari kamarnya, bergegas untuk pergi mengambil air wudhu. Tangis didalam hati masih sakit, siapakah Riana? Mengapa wanita itu masuk ke dalam rumah tangga mereka.
POV...
Suci Riana Lestari, wanita pemikat hati laki-laki. Siapa saja pasti akan tergoda dengan kemolekan tubuh Riana. Entah mengapa, sejak Riana di tinggal suami, akibat suami menikah lagi dengan perempuan lain. Riana juga bisa merebut lelaki yang ia inginkan.
Riana, panggilan wanita itu. Usia lebih matang dari Hanum. Cara ia mengoda juga lebih parah.
Riana adalah karyawan Arkan, bisa dibilang Riana ahli dalam bidang apapun. Sikap inilah Arkan memiliki daya tarik suka kepada Riana.
Padahal, Riana sengaja membuat Arkan jatuh cinta. Malah yang ada Arkan malah jatuh cinta beneran.
Selain Arkan tampan, ia seorang CEO Di PT Mega Utama. Papa nya menyerahkan perusahaan tersebut kepada Bagas Arkana. Melalui bidang bisnis, Arkan menuruti permintaan dari Papanya.
Perusahaan terbesar dalam lingkup bisnis, sebenarnya perusahaan ini akan diserahkan untuk menantu yang bakal nikah dengan Anaknya. Karena terlalu sulit mencari jodoh terbaik, Riswan memberikan langsung kepada Arkan.
Sampai sekarang Arkan membawa perusahaan ini, bagaimana mungkin jika Arkan akan tahu hal sebenarnya.
Waktu ke waktu, Arkan semakin ingin mencari sekretaris untuk menemani sesaat ia ada urusan.
Kebetulan, belum genap sebulan Riana sudah diangkat menjadi sekretaris untuk CEO Arkan.
Sebaik lelaki seharusnya bisa lebih menyeleksi calon sekretaris, baik buruknya bukan dari cara ia berpenampilan saja. Sikap Riana terlalu buruk, jika berhadapan dengan orang miskin. Hidupnya ingin bergelimang harta, lagi pula Riana sudah mendapatkan apa yang diinginkan.
Semenjak saat itulah, Arkan bahkan menuruti kemauan Riana. Mulai dari belanja, aksesoris, bahkan barang terbilang mahal ia beli demi keinginan Riana.
Arkan semakin tergoda dengan bujukan Riana, karena pekerjaan menumpuk ia rela tidak pulang. 2 hari saja, Hanum sudah kangen dengan suami. Namun suami tetap kekeh tak menginjak kaki di rumah.
Suami macem apakah dia? Rela menghabiskan waktu demi wanita lain.
Hati siapa tak sakit, jika mendapati bahwa suami masih menyebut nama wanita lain. Air mata Hanum tak berhenti, masih saja berbekas dihati. Selama ini ia selalu mengusahakan terbaik agar rumah tangganya baik-baik saja.
Setelah Hanum siap sholat, ia kembali ke dapur. Memasak nasi dan menggoreng ikan terdapat di kulkas.
Fatimah juga baru siap sholat, ia mencium aroma enak dari dapur. Fatimah terkejut mendapati menantu sudah ada di dapur.
Namun suara menangis di dapur, curiga atau orang lain. Apakah menantunya masih sakit hati kemarin.
Tidak ingin kepikiran, Fatimah langsung menghampiri menantunya. Benar, sesuai dugaan bahwa Hanum sedang bersedih.
Namun apa yang terjadi? Mungkinkah ada orang lain yang menyakiti hati menantunya.
"Num, kamu kenapa? Ada orang lain menyakiti mu. Cerita sama Mama, sini peluk, Mama, Nak."
Tanpa aba-aba, Hanum memeluk Mertuanya, ia sangat sedih. Tapi apakah harus menceritakan jika suami menyebut wanita lain. Jika itu terjadi, pasti suami akan disita uang ATM nya.
Hanum terlalu polos, bahwa bisa saja Hanum sudah biasa mendengar pengakuan suami. Tapi ini baru saja suami menyebut nama wanita lain di hadapannya.
Tak ada pergerakan dari pengakuan Hanum, Fatimah mencoba menenangkan hati Hanum. Rasanya Fatimah baru saja bertemu anak kandung sendiri.
"Kalau ga mau cerita, gpp. Mana tau kamu pasti kepikiran hal kemarin. Biarin saja, Mama hari ini mau ajak kamu shoping, boleh?"
"Tapi Ma, Aku ga pantas. Biarkan Hanum di rumah saja bersihkan rumah, Mama saja."
"Pantas, Num. Kamu itu menantu, Mama. Siapa yang bilang kamu ga pantas. Apakah Arkan udah pulang, Num?"
"Sudah, Ma," jawab Hanum ia kembali menangis, kali ini sangat lama tanpa ada suara.
Menangis dalam keadaan sesenggukan setengah mati. Matanya sembab, Fatimah tidak bisa mengerti, setelah menyebut nama anaknya.
"Apakah Arkan membuat Hanum sakit, apakah ia sudah menampar pipi menantu ku, jika ia, Kamu tak pantas dimaafkan, Arkan," suara batin Fatimah kembali padam.
Melihat tangisan sulit diartikan oleh Hanum, Fatimah tidak tahu apa penyebabnya. Kondisi Hanum serasa tertekan, Fatimah menyuruh agar Hanum istirahat di ruang tamu.
"Apa yang terjadi dengan Hanum, apa Arkan buat ulah."
"Num, sekarang dimana Arkan. Mama mau bicara sama suami kamu. Bisa-bisanya dia buat kamu sedih, Mama sudah bilang, kalau istri sakit itu di senang kan hatinya, bukan ia malah buat kegaduhan."
"Sudah Ma, Hanum tidak apa-apa. Hanum sakit karena kemarin. Lagi pula, Hanum sudah lega," ucapnya sambil tersenyum menatap Mertua, dibalas dengan Mertua juga tersenyum.
Percakapan mereka disudahi, Arkan baru saja keluar dari kamarnya melihat sorot Fatimah tajam mengarah pada Arkan.