Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Terakhir

Mesin mobil menderu keras, membelah kemacetan ibu kota yang mulai padat dan riuh di siang hari yang terik. Asap kendaraan berterbangan di udara, bercampur dengan debu jalanan, namun di dalam kabin tertutup itu, suasana justru sebaliknya, terbungkus keheningan yang berat, pekat, dan menindih dada.

Jingga duduk di kursi penumpang samping, menatap lurus ke arah jalanan yang berkelok dan berputar terus menerus. Matanya melihat deretan kendaraan lain, gedung-gedung tinggi, dan orang-orang yang berlalu-lalang, namun pikirannya, hatinya, dan seluruh perasaannya masih tertinggal jauh di rumah sang ibu, di desa yang baru saja mereka tinggalkan.

"Aku sudah dewasa sekarang, Kak. Aku sudah bisa menjaga diri sendiri dan menjaga Ibu sendirian. Jadi Kakak tidak usah sering-sering pulang ke sini lagi."

Kalimat terakhir yang diucapkan Mawar terus berputar berulang-ulang di kepalanya, bagaikan pita rekaman yang rusak dan tak mau berhenti berputar. Setiap kali kata-kata itu terngiang kembali, dada Jingga terasa semakin sesak, dan terasa perih luar biasa.

"Bagaimana mungkin Mawar bicara seperti itu? Bagaimana bisa dia mengusirku, padahal dulu dia adalah orang yang paling merindukan kedatanganku, yang paling sulit melepaskan tanganku saat aku harus berangkat kembali ke kota?" batin Jingga, rasa bingung bercampur dengan rasa bersalah dan perih yang mendalam.

"Apa ada yang salah? Apa aku terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk mengejar uang dan melunasi hutang, sampai lupa menjadi kakak yang baik dan benar-benar ada untuknya? Apa dia marah karena aku sering meninggalkannya sendirian mengurus semuanya? Apa dia berpikir aku sudah tidak peduli lagi padanya, padahal segala yang aku lakukan ini semata-mata demi masa depan kita semua?"

Pikiran Jingga berputar liar, penuh keraguan dan kegelisahan, sangat kontras dengan mulutnya yang terkunci rapat, tak mengeluarkan satu kata pun.

Di sampingnya, Bima menyetir dengan tenang dan tegap, sesekali melirik ke arah sang istri yang tampak murung dan tertunduk diam. Di dalam hatinya, Bima tahu persis apa yang menjadi penyebab utama perubahan sikap Mawar, tahu betul mengapa gadis itu bersikap dingin dan menjauh. Namun wajahnya tetap terlihat tenang, polos, dan tak berdosa sama sekali, seolah tak ada hal berat atau kelam yang pernah terjadi, seolah tak ada hal yang mengganggu pikirannya.

"Sayang, aku perhatikan sejak kita meninggalkan rumah Ibu, kau hampir tidak bicara sepatah kata pun. Wajahmu juga terlihat muram sekali," ucap Bima, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar penuh perhatian, lembut, dan penuh kepedulian.

"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu? Atau ada masalah yang belum selesai, sesuatu yang membuatmu gelisah?" lanjut Bima lagi, nadanya lembut seolah ia adalah suami paling pengertian di dunia.

Jingga menghela napas panjang dan berat, lalu perlahan menoleh sedikit ke arah sang suami. Matanya tampak sayu dan bingung.

"Bukan apa-apa, Mas… aku hanya merasa ada sesuatu yang berbeda, ada yang berubah dari Mawar hari ini," jawab Jingga, nada suaranya terdengar gusar dan sedih.

"Biasanya, setiap kali aku hendak kembali ke ibu kota, Mawar pasti akan merajuk, memintaku tinggal satu hari lagi, atau setidaknya memintaku berjanji untuk datang lebih cepat. Dia akan memelukku erat, tak mau melepaskan. Tapi kali ini… semuanya terasa lain, Mas. Dia dingin, jauh, dan justru bilang agar aku tidak terlalu sering pulang. Rasanya seperti… dia ingin aku menjauh, seolah aku adalah beban baginya."

Jingga menundukkan kepala, jari-jarinya memainkan ujung tas yang ada di pangkuannya dengan gelisah.

"Mas, apa menurutmu… apa menurutmu Mawar membenciku sekarang? Mungkin dia merasa aku terlalu sibuk di sini, terlalu lama meninggalkan Ibu dan dia sendirian di desa. Mungkin dia berpikir aku sudah tidak peduli lagi pada mereka, bahwa aku lebih mementingkan pekerjaan dan diriku sendiri."

Bima mengangguk pelan, seolah sedang mempertimbangkan dengan serius ucapan sang istri, padahal di dalam benaknya tersusun jawaban dan alasan yang sudah direncanakan jauh sebelumnya, jawaban yang sudah disiapkan untuk meredakan segala keraguan itu. Ia mengulurkan tangan kanannya, meraih tangan Jingga yang terasa dingin dan gemetar, lalu menggenggamnya lembut dan erat.

"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak, ya. Jangan menuduh dirimu sendiri tanpa alasan yang jelas," ucap Bima tenang dan meyakinkan.

"Kau tahu sendiri kan, berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali kita melihatnya? Sudah cukup lama, Sayang. Mawar bukan lagi anak kecil yang selalu menempel pada kakaknya. Dia sudah tumbuh dewasa, pemikirannya mulai berubah, dunianya mulai meluas, dan sifat mandirinya mulai muncul. Itu hal yang wajar dan bagus, Sayang. Bukan berarti dia marah, membencimu, atau tidak suka lagi padamu. Dia hanya sedang belajar berdiri sendiri."

Jingga menatap lekat-lekat wajah Bima, berusaha mencari kepastian dan ketenangan yang selama ini ia butuhkan.

"Benarkah begitu, Mas? Kau… kau tidak merasa Mawar bersikap aneh hari ini? Kau tidak melihat ada yang salah padanya?"

Bima menggeleng santai dan tenang. "Sama sekali tidak. Mungkin saja Mawar hanya sedang lelah, atau ada masalah kecil yang membuatnya pusing dan tak punya banyak waktu untuk mengobrol. Jangan terlalu dipikirkan sampai membuatmu tidak tenang dan sedih seperti ini, ya? Nanti malah kau yang jatuh sakit."

Perlahan, ketegangan dan beban berat yang menindih bahu Jingga mulai luruh. Kata-kata Bima yang tenang dan masuk akal itu seolah menjadi obat manis yang menenangkan kegelisahan dan rasa bersalahnya.

"Mungkin kau benar… aku saja yang terlalu cemas dan berlebihan," Jingga tersenyum tipis, meski bayangan wajah Mawar yang dingin dan kosong masih tak sepenuhnya hilang dari ingatannya.

 ***

Sementara itu, di rumah Bu Gendis yang kini kembali hening dan sepi, kepergian pasangan itu tidak membawa rasa lega dan kebebasan yang diharapkan oleh Mawar. Rasanya seolah kehadiran Bima masih tertinggal di setiap sudut ruangan, di kamar tidur yang sempat ia masuki, di lorong yang ia lewati, bahkan di udara yang kini Mawar hirup pun terasa masih membawa jejak bau dan rasa yang menjijikkan serta mencekam.

Mawar duduk sebentar di tepi kasur, namun segera berdiri kembali dengan tergesa-gesa karena rasa takut dan gelisah kembali merayap naik ke tengkuknya, membuat kulitnya merinding seketika. Di dalam kamarnya yang sepi itu, tak ada lagi air mata yang bisa menetes, yang tersisa hanyalah ketakutan yang meresap ke tulang dan tekad yang semakin mengeras bagaikan batu karang.

"Aku tidak bisa menunda lagi. Aku tidak bisa diam saja menunggu nasib buruk datang lagi kepadaku," bisik Mawar lantang pada dirinya sendiri, mengepal kedua tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya berubah pucat dan memutih.

"Kalau aku diam saja dan menunggu, aku akan hancur pelan-pelan, perlahan-lahan dihancurkan habis-habisan. Aku harus segera menemui Rangga dan memintanya menikahiku secepatnya. Hanya itu jalan satu-satunya agar aku punya perlindungan sah, agar Kak Bima tidak berani lagi mengancamku."

Langkah tegas dan mantap pun diambilnya. Di benaknya, tak ada lagi keraguan. Tak ada jalan lain yang terlihat selain mengubah nasibnya sendiri, meski ia tahu betul ia harus membayar harga yang sangat mahal.

"Bu… Mawar mau keluar sebentar ya, ada urusan penting yang harus diselesaikan," pamit Mawar dari ambang pintu dapur, berusaha menyembunyikan kegelisahan dan ketegangan di balik nada bicara yang berusaha dibuat biasa.

Bu Gendis yang sedang sibuk mengaduk masakan di kuali besar, hanya menoleh sekilas dengan alis terangkat tinggi.

"Lho, memangnya mau ke mana, Mawar? Bukannya tadi pagi kamu bilang tidak enak badan, kepalamu pusing dan badanmu lemas? Sebaiknya tetap di rumah saja dan istirahat," tolak Bu Gendis halus namun tegas.

"Justru kalau di rumah terus dan diam saja, kepalaku makin berdenyut sakit, Bu. Kalau aku jalan sebentar menghirup udara segar, rasanya mungkin akan lebih baik," jawab Mawar cepat, kalimat itu keluar begitu saja tanpa dipikirkan, sebagai alasan paling aman yang bisa ia berikan.

Bu Gendis menggeleng pelan sambil menatap anaknya dengan pandangan penuh curiga dan perhatian, namun melihat Mawar terus bersikeras dan tampak mendesak, ia jadi tak tega melarang sepenuhnya.

"Ya sudah, boleh saja kamu pergi. Tapi ingat pesan Ibu, jangan lama-lama di luar, dan harus sudah pulang sebelum langit mulai gelap. Jangan macam-macam, jangan berjalan jauh-jauh, dan jangan berbicara sembarangan dengan orang asing di luar sana, ya!" pesan Bu Gendis tegas namun penuh kasih sayang.

Mawar menghela napas tak sabar, namun ia tetap berusaha tersenyum tipis. "Bu, aku sudah bukan anak kecil lagi. Dua bulan lagi usiaku genap tujuh belas tahun. Ibu harus mulai berhenti memperlakukan aku seperti balita yang belum tahu apa-apa."

Wajah Bu Gendis langsung mengeras sedikit, menandakan ia mulai tidak suka dengan nada bicara itu. "Kalau begitu, ingat pesan Ibu, kembali sebelum gelap, atau sama sekali tidak boleh pergi! Ibu tidak mau kamu keluyuran sendirian saat hari sudah mulai gelap."

"Baiklah, aku janji pulang sebelum gelap," Mawar tak ingin berdebat lebih lama. Ia segera melangkah keluar melewati pagar rumah, jantungnya berdegup kencang bukan karena berjalan cepat, melainkan karena beban berat dan keputusan besar yang kini ia bawa sendirian.

Tujuannya sudah jelas dan pasti, yaitu menuju rumah Rangga.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!