Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8.

‎Hari berganti minggu, dan minggu perlahan merayap menjadi bulan. Usaha Tisa dan Aprilia untuk melacak keberadaan Ruby seakan terus menatap dinding tebal yang tak menembus.

Setiap petunjuk yang mereka ikuti selalu berujung pada jalan buntu, seolah ada tangan-tangan tak terlihat berniat menghapus seluruh jejak keberadaan sahabat mereka dari

muka bumi.

‎Di sebuah sudut kafe tempat mereka biasa berkumpul bertiga, Tisa menatap cangkir kopinya yang mulai dingin dengan pandangan layu. Di hadapannya, Aprilia bersandar lemas pada sofa, kelelahan fisik dan emosional

terpancar jelas dari raut wajahnya.

"Aku rasa... kita emang udah nggak punya jalan lagi, Pril," bisik Tisa, suaranya bergetar menahan serak. "Semua orang diam. Keluarga Ruby tutup mulut, dan pihak kampus juga cuma bisa memproses pengunduran dirinya tanpa penjelasan."

‎Aprilia memejamkan mata rapat-rapat, menghela napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Rasa bersalah dan ketidakberdayaan menggerogoti hatinya.

‎"Aku cuman takut, Tis," sahut Aprilia lirih. "Setiap ingat ucapan Papanya malam itu... tentang hutang lima puluh miliar... gua nggak bisa berhenti mikirin gimana keadaan Ruby sekarang. Dia dikurung di mana? Sama siapa?"

‎"Aku tahu," potong Tisa pelan sambil meraih jemari Aprilia, menggenggamnya erat. "Tapi kalau kita makin nekat tanpa arah, kita juga nggak bakal dapet apa-apa. Kita udah coba semampu kita, Pril."

‎Air mata Aprilia akhirnya menetes, menjejaki pipinya. Dengan berat hati dan dada yang terasa teriris, kedua gadis itu akhirnya terpaksa menerima kenyataan pahit. Mereka memutuskan untuk berhenti melangkah dan menyusuri jejak yang kian menghilang itu.

‎Malam itu, di bawah pendar lampu kota yang dingin, Tisa dan Aprilia hanya bisa menyatukan jemari dalam doa yang tulus.

Di mana pun Ruby berada sekarang, di dalam kemewahan terisolasi atau penderitaan yang tak terbayangkan, mereka hanya berharap ada keajaiban yang menjaga keselamatan serta melindungi nyawa sahabat terbaik mereka itu.

...****************...

‎Bi Sumi menyodorkan nampan berisi mangkuk bubur hangat dan segelas air putih ke pangkuan Ruby. Dengan perlahan, Ruby mencoba menegakkan posisi duduknya di atas ranjang, bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi.

‎"Dimakan ya, Non. Masih hangat," bisik Bi Sumi lembut, tatapannya sarat rasa kasihan. "Harus dihabiskan biar ada tenaganya."

‎Ruby menatap mangkuk itu tanpa selera, lalu menggeleng pelan. "Makasih, Bi. Tapi tenggorokan Ruby masih sakit banget buat menelan."

‎"Sedikit aja, Non," bujuk Bi Sumi sambil mengambil sendok. "Kalau Non nggak mau makan, nanti Tuan Kavano bisa marah lagi..."

‎*Klek.*

‎Gagang pintu terputar. Suara sepatu kulit yang beradu keras dengan lantai kayu membungkam percakapan mereka seketika. Kavano melangkah masuk, mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka. Tangannya tersimpan santai di dalam saku celana.

‎"Keluar dulu." perintah Kavano datar tanpa menoleh ke arah pelayan tua itu.

‎"B-baik, Tuan," sahut Bi Sumi cepat-cepat, lalu buru-buru menunduk dan keluar ruangan, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara mereka berdua.

‎Kavano berjalan mendekati ranjang. Ia menghentikan langkahnya tepat di samping tempat tidur, berdiri menjulang sambil menatap Ruby dengan senyum miring yang

begitu dingin.

‎"Gimana rasanya sebulan tiduran di rumah sakit?" tanya Kavano, suaranya mengalun santai tapi tajam menusuk. "Enak?"

‎Ruby menundukkan kepala, mencengkeram erat kain selimut yang menutupi kakinya. "Aku cuma mau sembuh..."

‎Kavano terkekeh sinis. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, meraih dagu Ruby dengan dua jari dan memaksanya untuk mendongak menatap matanya. Cengkeramannya cukup kuat hingga membuat Ruby menahan napas.

‎"Pinter," bisik Kavano tepat di depan wajah Ruby. "Sembuh yang cepat, Ruby. Aku sudah cukup sabar menunggu unggu seminggu ini cuman untuk melihat kamu bolak-balik minum obat."

‎"Kavano, tolong..." cicit Ruby, matanya mulai berkaca-kaca. "Lepasin Aku... jangankan melayani mu, berdiri saja Aku masih gemetar."

‎"I see ruby." sahut Kavano santai sambil melepaskan dagu Ruby kasar. Ia menarik kursi kayu di dekat meja hias dan duduk di sana, menyilangkan kakinya dengan angkuh.

"Makanya Aku menahannya. Aku tidak ak mau mainan ku mati sebelum sempat puas."

‎"Aku bukan mainan!" seru Ruby, suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang tertahan. "Papa memang punya hutang, tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukan ku kayak binatang!"

‎Kavano menaikkan satu alisnya, lalu tertawa lepas sebuah tawa kaku tanpa kehangatan.

‎"Kamu emang jaminan hutang, Ruby. Lima puluh miliar itu harga yang mahal cuman untuk wanita lemah kayak kamu," cetus Kavano dingin. Matanya menyalang tajam. "jangankan memperlakukanmu seperti binatang, kalau Aku mau hancurin hidup kamu sekalian pun, nggak akan ada orang yang bisa menolong. Sahabat kamu? Mereka bahkan udah nggak nyari Kamu lagi."

‎*Deg.*

‎Ruby mendongak cepat, matanya membelalak kaget. "Maksud lu apa? Tisa sama Aprilia..."

‎"Mereka udah nyerah," potong Kavano cepat, tersenyum puas melihat perubahan raut wajah Ruby. "Papa Kamu sendiri yang bilang ke mereka kalau kamu udah dijual. aku udah pastikan mereka nggak bakal berani melangkah lebih jauh kalau masih sayang sama nyawa mereka."

‎"Kamu iblis, Kavano..." bisik Ruby, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat. "Kamu bener-bener iblis..."

‎Pria itu merapikan lengan kemejanya dan menatap Ruby dari atas ke bawah. "Habis kan. Dua hari lagi dokter bakal cek kondisi kamu terakhir kali. Begitu dia bilang kamu sudah pulih sepenuhnya..."

‎Kavano menggantungkan kalimatnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Ruby.

‎"...tunggulah neraka yang sebenarnya, Ruby." bisik Kavano dingin sebelum melangkah pergi dan menutup pintu kamar dengan dentuman keras.

‎Setelah pintu kamar tertutup rapat dengan dentuman keras, keheningan yang menyesakkan kembali melingkupi ruangan. Bi Sumi tergesa-gesa masuk kembali dengan raut wajah penuh cemas, menyapu pandangannya ke arah Ruby yang masih terpaku di atas ranjang.

‎"Non Ruby... Non nggak apa-apa?" bisik Bi Sumi gemetar, buru-buru menghampiri sisi tempat tidur.

‎Ruby tidak menangis lagi. Air mata yang tadinya menetes kini mengering di pipinya. Ia menatap lurus ke arah pintu kayu tebal di depannya. Dahulu, sebelum badai ini merenggut hidupnya, Ruby adalah sosok yang tangguh, berani membela diri, dan tak pernah mau diinjak-injak. Namun, siksaan tanpa jeda dari Kavano—dinginnya air es, lebam yang belum sembuh, dan cekikan di lehernya berhasil melumpuhkan fisiknya hingga ia tak berdaya.

‎Tapi ucapan Kavano barusan seperti menyulut kembali sisa-sisa keberanian yang sempat padam di dalam dadanya.

‎"Bi..." panggil Ruby, suaranya pelan namun terdengar sangat bulat.

‎"Iya, Non? Mau Bibi ambilkan minum?"

‎"Nggak usah, Bi," potong Ruby sambil menoleh perlahan menatap pelayan tua itu. Matanya yang biasa redup kini menyorotkan sesuatu yang berbeda. "Bibi tahu kapan biasanya penjagaan di luar rumah ini paling lenggang?"

‎Bi Sumi mendadak kaku. Tangannya yang memegang serbet gemetar hebat. "N-non... Non mau apa? Jangan aneh-aneh, Non. Kalau Tuan Kavano tahu.."

‎"Bi, dengarkan Ruby," selak Ruby, meraih jemari Bi Sumi dan menggenggamnya erat. "Ruby nggak akan bisa bertahan hidup kalau terus-terusan ada di sini. Sekali lagi dia sentuh Ruby dengan cara kasar kayak kemarin, Ruby pasti mati, Bi. Bibi mau liat Ruby mati di rumah ini?"

‎Bi Sumi menggeleng cepat dengan mata berkaca-kaca. "Nggak, Non... Bibi nggak tega. Tapi rumah ini dijaga ketat banget. Ada pengawal di depan pagar, dan pintu utama selalu dikunci..."

‎"Pasti ada celah, Bi. Pasti ada waktu di mana mereka lengah," desak Ruby, dadanya naik turun menahan debar. "Setiap malam jam berapa Kavano biasanya keluar atau tidur?"

‎"T-tuan Kavano biasanya baru pulang lewat tengah malam, Non," jawab Bi Sumi setengah berbisik, takut ada yang mendengar. "Tapi kalau dia di rumah, jam tiga pagi biasanya para pengawal di area belakang rumah ganti jadwal *shift*. Di sana ada pintu kecil dekat dapur tempat keluar masuk petugas kebersihan..."

‎Ruby mencerna informasi itu cepat. Otaknya mulai berputar menyusun rencana. Untuk pertama kalinya sejak terseret ke dalam neraka ini, Ruby tidak lagi berpikir untuk sekadar pasrah menunggu keajaiban. Ia harus kabur.

‎"Pintu dapur itu dikunci pakai apa, Bi?" cecar Ruby.

‎"Kunci gantung biasa, Non. Kuncinya ada di tembok dekat rak piring," bisik Bi Sumi ragu. "Tapi Non... tubuh Non masih lemas banget. Jalan aja masih gontai. Gimana kalau ketahuan?"

‎Ruby tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh tekad yang sudah lama hilang dari wajahnya.

‎"Lebih baik Ruby pingsan di jalanan pas mencoba kabur, Bi, daripada harus pasrah disiksa sampai mati sama iblis itu di rumah ini," tegas Ruby. "Dua hari lagi dokter bilang kondisi Ruby pulih. Ruby bakal manfaatin waktu dua hari ini buat ngumpulin tenaga."

‎"Tapi kalau Tuan Kavano curiga..."

‎"Dia nggak akan curiga, Bi. Dia pikir dia berhasil bikin Ruby takut dan menyerah," balas Ruby dingin. "Mulai besok, Ruby bakal habiskan semua makanan dan minum semua obat dari Bibi. Ruby harus kuat."

‎Bi Sumi menatap gadis muda di depannya itu dengan rasa haru sekaligus takut yang membuncah. Ia tahu risiko besar yang menanti jika rencana ini gagal, tapi melihat pijar kehidupan kembali di mata Ruby, Bi Sumi akhirnya mengangguk pelan.

‎"Bibi bakal bantuin siapkan baju ganti yang tipis dan simpan kuncinya buat Non," bisik Bi Sumi mantap. "Tapi Non harus janji... harus benar-benar hati-hati."

‎"Makasih banyak, Bi," jawab Ruby tulus, meremas lembut tangan pelayan tua itu.

‎Ruby kembali menyandarkan punggungnya di bantal, menatap langit-langit kamar dengan napas teratur. Kavano mungkin mengira dirinya telah berhasil mematahkan mental sang 'barang jaminan'. Pria itu tidak tahu, bahwa di balik diamnya Ruby saat ini, sebuah rencana pelarian sedang perlahan dibangun dari balik bayang-bayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!