Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RESTU YANG TAK MUDAH

Kabar pertunangan Laras dan Bagas segera menyebar hingga ke telinga keluarga besar keduanya. Bagi keluarga Laras, kabar itu disambut dengan sukacita luar biasa, mengingat perjuangan panjang yang telah dilalui putri mereka sejak peristiwa pahit lima tahun lalu.

"Akhirnya, Nak," kata Ibu Laras dengan mata berkaca-kaca saat menerima kabar itu melalui telepon. "Ibu bener-bener bersyukur kamu akhirnya nemuin kebahagiaan yang pantas kamu dapetin."

"Terima kasih, Bu. Bagas orangnya baik banget, sabar, dan bener-bener tulus," jawab Laras, suaranya penuh kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

"Kapan rencananya kalian mau kenalkan keluarga secara resmi?"

"Bagas bilang minggu depan, Bu. Dia pengen datang langsung ke rumah, bicara sama Bapak dan Ibu."

Kabar itu membuat seisi rumah kecil keluarga Laras dipenuhi kebahagiaan yang telah lama mereka nantikan, sebuah babak baru yang jauh berbeda dari kepedihan yang pernah mewarnai kehidupan mereka bertahun-tahun lalu.

Namun di sisi lain, keluarga Bagas menyambut kabar itu dengan sedikit lebih rumit. Sebagai anak tunggal dari keluarga terpandang, orang tua Bagas memiliki ekspektasi tertentu mengenai calon pendamping hidup putra mereka.

"Bagas, kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya ayahnya, Pak Wirawan, saat Bagas mengabarkan rencana pertunangannya. "Kami belum pernah bertemu keluarganya secara langsung."

"Saya yakin, Pa. Laras orangnya baik, pekerja keras, dan yang paling penting, dia bikin saya bahagia," jawab Bagas dengan tegas.

"Bapak nggak meragukan perasaan kamu, Nak. Tapi kamu harus paham, sebagai penerus perusahaan, keputusan kamu juga akan berdampak pada citra keluarga kita di mata kolega bisnis."

Ibu Bagas, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara dengan nada yang lebih lembut. "Pa, biarkan Bagas yang menentukan pilihannya sendiri. Yang penting, kita bertemu dulu dengan keluarganya, kenal lebih jauh sebelum menilai."

Pak Wirawan menghela napas, akhirnya mengalah pada saran istrinya. "Baiklah. Atur pertemuan dengan keluarga calon istrimu itu."

Pertemuan antara kedua keluarga berlangsung seminggu kemudian di rumah keluarga Laras yang sederhana. Meski awalnya diliputi kecanggungan mengingat perbedaan latar belakang yang cukup mencolok, suasana perlahan mencair berkat sikap ramah dan rendah hati yang ditunjukkan kedua belah pihak.

"Rumahnya sederhana, tapi terasa hangat," komentar Ibu Bagas sambil tersenyum, menikmati hidangan kue basah buatan Ibu Laras yang disajikan dengan penuh kehangatan.

"Terima kasih, Bu. Maaf kalau nggak semewah yang biasa Ibu dan Bapak terima," jawab Ibu Laras dengan rendah hati.

"Justru ini yang bikin kami merasa diterima dengan tulus," sahut Pak Wirawan, mulai menunjukkan sikap yang lebih terbuka dari yang diperkirakan sebelumnya. "Saya lihat, Laras ini anak yang sopan dan penuh perhatian. Bagas beruntung menemukan calon pendamping seperti dia."

Pujian itu membuat Bapak dan Ibu Laras tersenyum lega, sebuah penerimaan yang mereka khawatirkan sebelumnya ternyata datang dengan lebih mudah dari yang mereka bayangkan.

Di tengah obrolan hangat itu, Bagas menggenggam tangan Laras di bawah meja, memberikan dukungan diam-diam yang membuat gadis itu merasa semakin yakin dengan pilihan yang telah ia ambil.

"Laras," Pak Wirawan tiba-tiba bertanya, "boleh Bapak tau, sebelumnya kamu kerja di kota kecil, kan? Kenapa akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta?"

Pertanyaan itu membuat Laras sedikit terdiam, mempertimbangkan seberapa jauh ia harus menjelaskan masa lalunya. "Saya mendapat kesempatan kerja yang bagus di sini, Pak. Setelah lulus kuliah, saya rasa ini saat yang tepat untuk mengembangkan karier saya."

"Bagus, bagus," Pak Wirawan mengangguk puas, tidak menggali lebih jauh, meski Bagas yang duduk di sampingnya tau betul ada cerita yang lebih kompleks di balik jawaban sederhana itu.

Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan bahwa kedua keluarga akan segera membicarakan detail pernikahan, termasuk tanggal dan tempat yang akan dipilih. Sebuah langkah besar yang semakin mendekatkan Laras pada babak baru kehidupannya yang penuh harapan dan kebahagiaan.

Di sisi lain kota, kehidupan Raka terus berjalan dengan rutinitas yang semakin dipenuhi kesibukan kerja, sebuah cara yang ia pilih untuk mengalihkan perhatian dari kenyataan pahit yang harus ia terima. Meski begitu, bayangan Laras yang kini semakin dekat dengan kebahagiaannya sendiri tetap menjadi pengingat yang sulit ia abaikan sepenuhnya.

"Pak Raka," Bu Yanti mengetuk pintu ruangannya suatu sore, "ada undangan resmi masuk. Sepertinya dari keluarga Larasati, mengundang untuk acara lamaran resmi akhir bulan ini."

Raka menerima undangan itu dengan tangan yang sedikit gemetar, membaca detail acara yang tertera di dalamnya. Sebuah perasaan campur aduk menyelimuti hatinya—rasa sakit yang masih tersisa, namun juga tekad untuk tetap menghormati kebahagiaan yang telah dipilih Laras.

"Konfirmasi kehadiran saya," katanya akhirnya, meski hatinya bergejolak hebat memikirkan bagaimana ia harus menghadapi momen tersebut nanti.

Malam itu, sepulang kerja, Raka duduk sendirian di ruang kerjanya di rumah, menatap undangan yang telah ia terima dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia teringat kembali pada nasihat Sari beberapa waktu lalu—untuk menunjukkan penyesalannya bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan nyata, termasuk menghormati kebahagiaan yang telah dipilih Laras meski itu berarti menyakiti dirinya sendiri.

Aku harus kuat, batinnya bertekad, meski air mata yang telah lama ia tahan mulai menetes perlahan. Aku harus bisa hadir di acara itu dengan hati yang tulus, bukan dengan kecemburuan atau penyesalan yang berlebihan.

Ia meraih ponselnya, menatap galeri foto yang masih kosong sejak lama, sebuah pengingat pahit tentang semua kenangan yang telah ia hapus dengan sengaja lima tahun lalu. Kali ini, alih-alih merasa hampa, ia justru merasakan semacam kedamaian baru—kedamaian yang lahir dari penerimaan, bahwa terkadang, mencintai seseorang berarti membiarkan mereka pergi menuju kebahagiaan yang lebih besar, meski hati kita sendiri harus menanggung kesedihan yang mendalam karenanya.

Ibu Retno, yang kebetulan melihat cahaya lampu di ruang kerja putranya masih menyala larut malam, memutuskan untuk menghampiri, mengetuk pintu dengan pelan sebelum masuk.

"Raka, kamu belum tidur?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran melihat kondisi putranya yang tampak lelah secara emosional.

"Nggak bisa tidur, Ma," jawab Raka jujur, menunjukkan undangan yang masih tergenggam di tangannya. "Laras mengundang saya ke acara lamarannya."

Ibu Retno terdiam sejenak, duduk di samping putranya dengan penuh empati. "Kamu akan datang?"

"Iya, Ma. Saya harus belajar buat ikhlas, meski ini berat banget buat saya."

Ibu Retno menggenggam tangan putranya, memberikan dukungan diam-diam yang telah lama tidak ia tunjukkan sejak kesalahan besar yang pernah ia perbuat. "Ibu bangga sama kamu, Nak. Ini keputusan yang dewasa, meski Ibu tau ini pasti sangat menyakitkan buat kamu."

"Terima kasih, Ma," jawab Raka, tersenyum tipis meski matanya masih menyimpan kesedihan yang mendalam. "Saya cuma pengen Laras bahagia, apa pun itu artinya buat saya."

Malam itu berakhir dengan Raka yang akhirnya bisa sedikit tertidur, meski hatinya masih dipenuhi berbagai perasaan yang bercampur aduk—kesedihan, penerimaan, dan tekad baru untuk menjalani hidup dengan lebih bijaksana, belajar dari kesalahan masa lalu yang telah menghancurkan kebahagiaannya sendiri, namun kini menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi masa depan dengan hati yang lebih terbuka dan penuh penerimaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!