Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35_Gema Amarah dan Sisi Gelap Sang Milyarder

...BAB 35_Gema Amarah dan Sisi Gelap Sang Milyarder...

Suara tamparan itu masih menyisakan dengung tipis di udara, berpadu dengan napas Lea yang memburu hebat dan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

Di hadapannya, Julian Edgar berdiri tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Kulit wajahnya yang putih bersih meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok akibat hantaman telak tangan gadis itu.

Untuk beberapa detik, pria itu tidak bersuara. Manik matanya yang sekelam malam menatap lurus ke arah Lea, memancarkan aura berbahaya yang sanggup membuat siapa saja berlutut ketakutan.

Namun, alih-alih membalas dengan kekerasan fisik atau membentak balik, sudut bibir Julian justru terangkat perlahan membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin, penuh dengan kalkulasi psikologis yang mengerikan.

Julian maju satu langkah, memperkecil jarak yang tersisa di antara mereka hingga Lea bisa merasakan hawa intimidasi yang luar biasa pekat.

Dengan gerakan lambat yang disengaja, tangan kokoh pria itu terulur, menyentuh rahang Lea yang masih bergetar hebat. Cengkeramannya tidak kasar, namun cukup kuat untuk memastikan gadis itu tidak bisa menghindar atau membuang muka.

`"Mencintai?"` Julian mengulang kata-kata itu dengan nada suara yang sangat rendah, hampir menyerupai sebuah bisikan mematikan di dekat telinga Lea.

`"Kau pikir apa arti cinta di dunia kita, Lea? Cinta bukanlah tentang kebebasan semu atau pelukan hangat dari pria bodoh di kafe itu. Cinta versi seorang Julian Edgar adalah penguasaan mutlak. Dan jika kau pikir tamparan ini bisa mengubah posisimu di sisiku... kau salah besar."`

Lea mencoba meronta, menepis tangan Julian dengan kasar dari wajahnya.

`"Jangan menyentuhku! Jika kau menganggap ini semua tentang penguasaan, bunuh saja aku sekarang daripada harus mengurungku seperti binatang!"`

`"Membunuhmu?"` Julian mendengus pelan, sorot matanya menajam, menyiratkan obsesi gelap yang tersembunyi di balik sikap dinginnya.

`"Aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dari genggamanku, Lea. Sekalipun kau membenciku setengah mati, tempatmu adalah di sini—di dalam sangkar ini, bersamaku."`

Sebelum Lea sempat melontarkan bantahan atau makian lain, Julian berbalik memunggungi gadis itu dengan langkah kaki tegas yang menggema di atas lantai marmer.

Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkan ruang keluarga yang luas itu, membiarkan pintu utama penthouse tertutup rapat dengan bunyi klik otomatis yang menandakan bahwa sistem keamanan kembali terkunci rapat dari luar.

Lea merosot perlahan ke lantai. Lututnya mendadak lemas, tak sanggup lagi menopang tubuhnya setelah terkuras habis oleh emosi yang meledak-ledak.

Ia memeluk lututnya sendiri, membenamkan wajah di antara lipatan lengannya, membiarkan pertahanan terakhirnya runtuh dalam kesunyian malam yang mencekam.

Di balik pintu kayu mahoni berat yang memisahkan ruang pribadi di lantai bawah penthouse, suasana hati Julian berkecamuk hebat.

Pria itu menarik napas dalam-dalam untuk meredam gejolak emosi yang hampir meruntuhkan topeng dinginnya—topeng dingin yang selalu ia kenakan di hadapan dunia.

Suara benturan tangan yang menghantam pipinya tadi masih menyisakan sensasi panas di kulit wajahnya. Namun, rasa perih fisik itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai amarah dan frustrasi yang bergemuruh di dalam dadanya.

Ingatan itu kembali berputar ke belakang, menghantam batinnya tanpa ampun—rekaman video sialan yang dikirimkan oleh anak buahnya beberapa malam lalu.

Video yang memperlihatkan Lea keluar mengenakan gaun malam mewah dan bermesraan dengan Ethan, si bajingan berambut pirang, tepat saat Julian tengah menunggu kepulangannya di penthouse ini seorang diri.

Saat itu, rasanya ada sesuatu di dalam diri Julian yang mendadak patah.

Selama ini, ia telah menarik gadis itu keluar dari kehancuran, melindunginya dari bayang-bayang masa lalu, menutup rapat identitasnya, dan menjadikannya pusat dari dunianya yang gelap.

Ia memberikan perlindungan mutlak, tapi apa balasannya? Lea justru berani bermain api di belakangnya.

Rasa cemburu? Sialan. Julian benci mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri. Seorang Julian Edgar tidak mengenal kata cemburu.

Yang ia miliki adalah rasa kepemilikan yang absolut. Apa yang sudah menjadi miliknya, tidak boleh ada satu pun tangan bajingan yang berani menyentuhnya.

Itulah sebabnya ia menyeret gadis itu ke tempat ini. Sangkar emas.

Tempat di mana tidak ada satu pun orang di dunia luar, termasuk Ethan maupun Teo Ozawa yang kini mulai mencarinya seperti orang kesurupan, yang bisa menyentuh Lea barang sehelai rambut pun.

Julian mengurung raga Lea bukan karena ia ingin menyiksanya, melainkan karena ia tahu persis betapa kacaunya dunia di luar sana. Teo Ozawa sedang memburunya.

Dan jika ia melepaskannya barang satu hari saja, serigala muda itu akan merobek-robek Lea hingga tak bersisa.

Tapi Lea terlalu keras kepala untuk mengerti.

`"Lepaskan aku jika kamu sudah tidak mencintaiku lagi... Jangan menahanku seperti ini..."`

Teriakan itu... jeritan isak tangis yang lolos dari bibir gadis itu tadi masih berdengung tajam di dalam kepala Julian, mengoyak-ngoyak pertahanan batin yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan darah dan air mata.

Tidak mencintainya? Bodoh sekali gadis itu.

Kalau Julian tidak mencintainya dengan cara yang paling sakit dan obsesif ini, ia tidak akan mungkin mengubah seluruh hidupnya hanya untuk mengawasi Lea dari bayang-bayang.

Ia tidak akan mungkin membiarkan dirinya terlihat begitu lemah di hadapan sang gadis, menjadi monster pengurung yang dibenci oleh satu-satunya orang yang paling ingin ia lihat tersenyum.

Julian melangkah mendekati meja kerja utamanya, menyalakan layar monitor utama yang menampilkan seluruh sudut ruangan tempat Lea berada.

Di sana, di atas lantai kamar yang dingin, gadis itu masih meringkuk dalam tangisnya, memeluk lututnya sendiri dengan pundak yang bergetar hebat.

Melihatnya rapuh seperti itu membuat dada Julian seperti diremas tangan tak kasat mata. Ada dorongan kuat untuk kembali masuk ke sana, memeluknya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, ia langsung menepis jauh-jauh pikiran lemah itu.

Tidak. Jika Julian melunak sekarang, Lea akan menginjak-injak harga dirinya.

Dunia bawah yang ia hadapi setiap hari adalah tempat yang kejam; jika ia menunjukkan kelemahan di hadapan gadis itu, Lea akan menganggapnya sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Julian meraih ponsel satelit di atas meja, menyambungkan panggilan terenkripsi ke kepala tim pengamanannya yang berjaga di lantai bawah.

`"Pastikan pengawasan di lantai atas diperketat dua kali lipat,"` titahnya dengan suara dingin tanpa kompromi.

`"Jangan biarkan siapa pun masuk, dan pastikan tidak ada celah sekecil apa pun bagi pihak luar—terutama orang-orang dari keluarga Ozawa—yang bisa mendekati penthouse ini."`

`“Baik, Tuan Edgar,”` jawab suara di seberang sana dengan cepat.

Julian menutup sambungan itu, kembali melemparkan pandangan ke layar monitor yang menampilkan wajah Lea yang mulai terlelap karena kelelahan menangis.

Ia mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih.

`Simpan air matamu itu, Lea. Benci aku sesukamu, maki aku sepuas hatimu di dalam sangkar ini. Tapi dunia luar jauh lebih mengerikan daripada diriku. Dan selama aku masih bernapas, aku akan memastikan tidak ada satu pun pria di muka bumi ini—baik itu Ethan si bajingan berambut pirang, maupun Teo Ozawa si tiran gila—yang bisa merebutmu dariku.`

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!