Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Hari yang Ditunggu

Hasil investigasi tiba pagi itu, dibawa langsung oleh perwakilan Tri Daya ke ruang kerja Handoko. Raka berdiri di lorong luar, sengaja lewat dengan nampan kopi, mencuri dengar tanpa terlihat mencuri dengar — kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang.

"Bersih, Pak," terdengar suara perwakilan itu. "Riwayat kerja serabutan sebelum menjadi sopir, tidak ada catatan kriminal, tidak ada afiliasi mencurigakan. Hanya orang biasa yang beruntung punya refleks bagus."

Hening sejenak sebelum suara Handoko menjawab, lebih pelan dari biasanya. "Terima kasih. Itu saja."

Ketika Raka masuk membawa kopi beberapa menit kemudian, Handoko menatapnya lebih lama dari biasa — bukan lagi tatapan meremehkan yang sudah tiga tahun ia kenal, tapi sesuatu yang lebih rumit, campuran antara rasa bersalah yang enggan diakui dan penghormatan yang belum sepenuhnya ia izinkan tumbuh.

"Raka," katanya, hampir canggung. "Terima kasih sudah menjaga keluarga ini. Dan... maaf, kalau caraku memperlakukanmu selama ini tidak adil."

Itu adalah permintaan maaf pertama yang pernah Raka dengar dari mulut mertuanya, dan meski ia tahu betapa rapuhnya kedamaian itu — dibangun di atas laporan palsu yang disusun Wulan semalam — untuk sesaat, ia membiarkan dirinya menikmatinya.

"Tidak apa, Pak," jawabnya sederhana. "Saya hanya ingin keluarga ini aman."

Ia tidak berbohong soal itu, meski segala sesuatu yang lain hari itu terbangun di atas lapisan-lapisan kebohongan yang jauh lebih rumit dari yang bisa dibayangkan Handoko.

Pukul dua siang, di kamar sempit belakang garasi, Cinta duduk di depan cermin kecil sementara Raka menyelipkan earpiece mikroskopis ke balik anting mutiara yang biasa ia kenakan.

"Kalau kau dengar aku bilang 'merah'," Raka menjelaskan pelan, "kau langsung menjauh dari mana pun kau berdiri, tanpa bertanya, tanpa menoleh untuk mencari tahu kenapa."

"Aku mengerti," Cinta mengangguk, meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan gaun formal yang akan ia kenakan malam itu. "Raka. Kalau nanti terjadi sesuatu—"

"Tidak akan," potongnya, lebih tegas dari yang ia rasakan sebenarnya. Ia mengambil tangan istrinya, menggenggamnya erat sejenak. "Aku sudah kehilangan seluruh timku sekali karena meremehkan lawan. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama, apalagi menyangkut kamu."

Di earpiece, suara Wulan menyela pelan, memecah momen itu. "Maaf mengganggu percintaan, tapi kalian berdua harus berangkat sekarang. Aku sudah di posisi, van pemantau terparkir di basement parkir hotel, dua lantai di bawah ballroom."

Grand Ballroom Hotel Kartika Sentral berubah menjadi lautan cahaya kristal dan jas mahal ketika Raka — mengenakan seragam Praetora Nusantara lengkap dengan lencana nama palsu "Bagas Purnomo" — mengambil posisi di sudut zona merah, dekat meja penandatanganan yang masih kosong, menunggu untuk diisi.

Bara berdiri di ujung berlawanan, berpura-pura memeriksa detektor logam portable, matanya sesekali menyapu kerumunan tamu yang mulai berdatangan — pengusaha, pejabat, wartawan bisnis yang mengabadikan setiap sudut ruangan untuk liputan besok pagi.

"Cinta baru masuk bersama keluarganya," lapor Wulan lewat earpiece. "Posisi di dekat meja tamu kehormatan, sesuai rencana."

Raka melirik sekilas ke arah pintu utama, menemukan Cinta berjalan anggun di samping ayahnya, wajahnya tenang meski Raka tahu persis betapa keras ia berusaha menyembunyikan ketegangan di baliknya.

Lalu, tepat pukul tujuh malam, pintu ganda di ujung ballroom terbuka lebar, dan rombongan Andratama memasuki ruangan — didahului dua pengawal berjas hitam, diikuti sosok yang selama tiga tahun hanya Raka lihat dalam mimpi buruk dan foto lama di folder tipis Bara.

Kolonel Setiawan berjalan dengan langkah tenang, tersenyum ramah ke setiap tamu yang menyapanya, sosok sempurna seorang eksekutif terhormat yang tak menyisakan jejak dari masa lalunya sebagai komandan yang menjual seluruh timnya sendiri.

Untuk sepersekian detik, saat rombongan itu melewati sudut zona merah tempat Raka berdiri, mata Setiawan berhenti — bukan lama, hanya cukup lama untuk seseorang yang tahu persis apa yang sedang ia cari.

Senyumnya tidak berubah. Langkahnya tidak melambat. Tapi di balik sudut matanya yang sekilas menangkap wajah "Bagas Purnomo" berseragam keamanan, sesuatu yang dingin dan puas berkilat sesaat — seperti seorang pemburu yang baru saja memastikan buruannya benar-benar berada di dalam perangkap.

"Raka," bisik Bara lewat earpiece, suaranya tegang. "Aku rasa dia baru saja mengenalimu."

Raka menegakkan bahunya, wajahnya tetap datar seperti petugas keamanan yang tak punya urusan lain selain menjaga ketertiban.

"Aku tahu," jawabnya pelan, hampir tak terdengar. "Dan sekarang kita akan tahu, apa sebenarnya yang ia rencanakan malam ini."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!