Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Di dalam ruang kerja lantai satu rumah utama, keheningan yang menekan mendadak pecah saat ponsel di saku celana Bian berdering nyaring. Getarannya begitu kuat, seolah membawa pertanda buruk baru yang siap menghantam sisa-sisa pertahanan mentalnya.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat akibat hantaman kenyataan pembekuan rekening sawit, Bian merogoh ponselnya. Nama "Riko - Supervisor Operasional Swalayan" kembali berkedip-kedip di layar.
Dengan napas memburu, Bian menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Riko! Ada apa lagi?!"
"Pak Bian! Darurat, Pak! Tolong Bapak segera datang ke toko sekarang juga!"
Suara Riko dari ujung telepon terdengar sangat panik, hampir menangis. Di latar belakang panggilan, terdengar riuh teriakan emosi dari banyak orang, suara barang yang digeser kasar, serta jeritan protes para pelanggan. "Di kasir utama ada keributan besar, Pak! Banyak pembeli yang mengamuk dan menuduh toko kita melakukan penipuan harga! Suasananya makin tidak terkendali, Pak."
Darah di tubuh Bian seketika berdesir dingin. "Mengamuk?! Kenapa bisa mengamuk?!"
"Gara-gara instruksi perubahan harga barang kemarin, Pak! Banyak pelanggan yang tidak terima saat bayar di kasir."
Bian terpaku. Pandangannya perlahan bergulir menatap Husna yang duduk anggun di balik meja kerjanya. Istri pertamanya itu tidak mengalihkan pandangan, hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis senyuman tenang namun penuh keindahan kemenangan yang amat mematikan. Husna seperti sudah memprediksi bahwa domino kehancuran bisnis Bian akan roboh satu per satu mulai hari ini.
"Saya ke sana sekarang!" tegas Bian cepat, lalu mematikan sambungan telepon.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Husna, Bian berbalik arah dan berlari cepat meninggalkan ruang kerja menuju pintu keluar rumah utama.
Salma yang melihat Bian lari terburu-buru, langsung tersentak dari rasa frustrasinya atas utang seratus lima puluh juta. "Mas! Mas Bian! Mau ke mana?! Tungguin Salma!" jerit Salma seraya menyambar tas mewahnya dan menyusul berlari keluar, mengekor ketat langkah suaminya. Bagi Salma, toko swalayan itu adalah satu-satunya benteng tersisa yang memegang uangnya. Jika toko itu hancur, maka pupus sudah harapannya untuk mendapatkan kembali uang tabungannya.
Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil. Bian menekan pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan kota menuju lokasi toko swalayan cabang pertama dengan kecepatan tinggi.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi mereka untuk sampai. Begitu mobil sedan Bian berhenti kasar di halaman parkir swalayan, pemandangan di depan toko sudah sangat memprihatinkan. Beberapa pengemudi ojek daring dan ibu-ibu tampak berdiri di luar sambil bersungut-sungut, sementara di dalam area toko, kerumunan pembeli menumpuk di depan meja kasir utama.
Suara adu mulut yang keras terdengar memantul di antara rak-rak barang.
"Ini namanya penipuan! Kalian jebak pembeli ya?!" teriak seorang ibu-ibu berstelan daster rapi seraya menunjuk-nunjuk wajah kasir yang sudah pucat pasi.
"Ada apa ini?!" suara Bian membahana saat ia melangkah lebar masuk ke dalam toko, disusul Salma yang berjalan di sampingnya dengan wajah memasang cemberut sok berkuasa.
Melihat kedatangan sang pemilik toko, kasir muda itu langsung menghela napas lega dan menunjuk ke arah Bian. "Nah! Itu Pak Bian, Bu! Bapak itu yang punya swalayan ini! Kami di sini cuma pekerja dan cuma menjalankan perintah, jadi ini bukan salah kami."
Ibu-ibu yang membawa keranjang belanjaan penuh itu langsung berbalik, menatap Bian dari atas ke bawah dengan pandangan berkilat penuh amarah. Di tangannya, ia memegang beberapa struk pembayaran dan barang belanjaan berupa minyak goreng, beras, dan susu kotak.
"Oh! Anda yang punya swalayan ini?!" tembak ibu-ibu itu tanpa basa-basi, suaranya melengking memenuhi ruangan toko hingga membuat pelanggan lain ikut menoleh. "Pak! Yang saya tahu, selama bertahun-tahun Swalayan bapak ini terkenal paling murah dibandingkan swalayan lain di area sini! Tapi hari ini kenapa begini?!"
Ibu itu mengangkat satu botol minyak goreng dan menjejalkannya ke depan dada Bian. "Lihat ini! Di rak dan di cetakan barcode yang tertempel di barang, tulisannya harga segini! Cuma tiga puluh ribu rupiah! Tapi begitu saya scan dan mau bayar di meja kasir, harganya berubah jadi empat puluh lima ribu rupiah! Beda lima belas ribu sendiri."
Ibu-ibu itu makin emosi, menunjuk keranjang belanjaannya yang lain. "Dan saat saya bayar, ternyata harganya beda semua! Bukan cuma satu dua barang yang beda ya, Pak! Beras, gula, sampai deterjen semuanya beda jauh sama harga rak! Ini maksudnya apa?! Mau merampok uang rakyat secara halus?."
Duar!
Bian langsung diam seribu bahasa. Lidahnya serasa kelu, tenggorokannya tercekat keras. Wajahnya yang semula memerah akibat panik, seketika pucat pasi di bawah tatapan belasan pasang mata pelanggan yang menuntut penjelasan.
Bian tidak bisa membela diri, karena tuduhan ibu itu seratus persen benar.
Tadi malam, usai adu mulut sengit di paviliun dan setelah mengetahui bahwa sisa dana talangan toko sangat tipis, Salma-lah yang memberikan hasutan nekat tersebut. Salma mendesak Bian untuk menaikkan harga jual seluruh barang toko secara instan di sistem kasir sebesar 25 hingga 30 persen tanpa mengganti label harga di rak barang. Salma berargumen bahwa pembeli tidak akan sadar jika harganya naik sedikit saat di kasir, dan cara licik ini adalah satu-satunya jalan pintas agar toko tetap bisa beroperasi, menutup biaya kenaikan harga dari distributor pusat yang mencabut diskon, serta mengumpulkan modal awal untuk mengembalikan uang talangan Salma.
Bian yang saat itu sudah terdesak dan gelap mata, terpaksa menuruti instruksi gila dari istri mudanya itu. Dan kini, bom waktu dari keputusan licik tersebut resmi meledak tepat di mukanya.
Di saat Bian mematung tak berdaya karena menanggung rasa malu yang luar biasa, Salma yang berdiri di sampingnya justru tidak bisa menahan emosi. Rasa tidak terimanya memuncak melihat suaminya dipojokkan di depan umum.
Dengan gaya angkuh dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Salma melangkah maju, memasang wajah galak seraya bersedekap dada.
"Halah! Ibu ini ya! Cuma beda harga sedikit saja kok sampai protes berlebihan begitu?!" cerceh Salma dengan nada melengking dan meremehkan. "Paling beda berapa sih?! Cuma beberapa ribu per barang! Tidak usah norak dan teriak-teriak kayak orang tidak punya uang."
Pernyataan Salma yang teramat pedas itu seketika memancing emosi ibu-ibu tersebut dan seluruh pembeli di area kasir.
"Apa kamu bilang?! Beda sedikit?!" balas ibu-ibu itu, matanya membelalak tak percaya pada keangkuhan Salma. "Mbak! Beda lima belas ribu per barang kalau dikali sepuluh barang itu sudah ratusan ribu! Kita ini pembeli, berhak dapat harga yang jujur! Kalau harga di rak beda sama di kasir, itu namanya nembak harga dan nipu pelanggan."
"Eh, Bu! Dengar ya!" Salma malah makin adu otot, menunjuk wajah ibu tersebut dengan jari kuku berhias kuteks mewahnya. "Barang-barang di swalayan ini itu barang berkualitas! Ada pajaknya! Ada biaya operasionalnya! Lagipula distributor pusat memang naikkan harga, jadi ya wajar kalau harga jualnya ikut naik! Ibu kalau tidak sanggup bayar dan cuma mau protes, ya tidak usah belanja di sini! Pergi saja ke pasar tradisional!"
"Salma! Cukup!" bisik Bian setengah memekik, menyambar lengan Salma untuk menghentikan ocehan gila istri mudanya itu. Namun Salma malah mengibaskan tangan Bian dengan kasar.
"Kenapa harus cukup, Mas?! Salma cuma membela toko kita!" bentak Salma pada Bian, lalu kembali menatap pembeli dengan pandangan menantang.
Perlakuan dan ucapan Salma yang teramat kasar bagai menyiram bensin ke dalam kobaran api. Ibu-ibu tersebut langsung membanting botol minyak goreng ke atas meja kasir hingga menimbulkan suara dentuman keras. Brak!
"Ooo... jadi begini kualitas pemilik dan pelayan swalayan ini sekarang?!" teriak ibu-ibu itu dengan suara yang kian kencang, memancing para pelanggan lain mendekat. "Sudah salah, nipu harga, sekarang malah menghina pembeli. Dengarkan semuanya! Jangan ada yang mau belanja di Swalayan ini lagi! Penipu! Pemiliknya penipu dan pelayannya tidak punya tata krama."
"Setuju! Saya juga batal beli!" seru seorang bapak-bapak di belakangnya, langsung meletakkan troli belanjaannya di tengah jalan.
"Iya! Kembalikan uang saya! Saya mau refund!" sahut pelanggan lainnya yang mulai tersulut amarah.
Suasana di dalam swalayan seketika berubah menjadi kekacauan total.
Beberapa pelanggan mulai merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel pintar mereka, sementara yang lain ramai-ramai mengembalikan barang belanjaan ke rak asal atau meninggalkannya begitu saja di meja kasir.
Bian memegang kepalanya yang serasa mau pecah. Di tengah riuh teriakan protes, keributan pelanggan, dan keangkuhan Salma yang masih terus bersungut-sungut adu mulut, Bian menyadari satu hal pahit reputasi nama baik swalayan yang ia bangun selama bertahun-tahun kini hancur berkeping-keping dalam hitungan menit. Dan di balik layar, tanpa perlu hadir di toko tersebut, Husna sedang tersenyum menikmati kehancuran total sang mantan penguasa yang kini terjebak dalam perangkap keputusannya sendiri.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?