Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Haus
Setelah kepergian Arkan, Dayang Sari menatap cermin cukup lama. Wajahnya terlihat semakin cantik.
Hari ini para siswa di liburkan atas inisiatif oleh Pak Lurah. Demi mencegah korban lainnya.
Dayang Sari mengusap pipinya, tampak begitu semakin bening, tanpa noda sedikitpun.
Saat ia masih memuja kecantikannya sendiri, tiba-tiba dari arah luar, sebuah ketukan pintu terdengar nyaring.
Dayang Sari segera mengambil syal nya. Lalu melilitkannya di leher.
Ia segera berjalan menuju pintu depan. Lalu membukanya dengan pelan.
Saat bersamaan, ia di kejutkan oleh kehadiran Bu Intan yang sedang hamil tua, dan membwa sebuah buku tulis dan juga buku pelajaran matematika.
"Assalammualaikum, Bu Guru," ucapnya dengan suara nafas yang berat.
Kehamilannya membuat ia sedikit sulit untuk bergerak.
"Ya, ada apa, Bu?" tanya Dayang dengan senyum yang sangat manis.
Mendadak tatapan matanya langsung lurus tertuju pada perut yang membuncit.
Air liurnya seakan hendak tumpah. Naluri rasa lapar seakan terus mendesak.
"Masuk, Bu... Kita bicara di dalam," Dayang Sari menawarkan.
Bu Intan naik dengan kepayahan, dan di sambut oleh Dayang Sari.
Saat tangan mereka bersentuhan, rasa lapar semakin kuat menggerogoti dirinya.
Bu Intan akhirnya naik ke atas. Lalu duduk di lantai rumah yang terbuat dari kayu ulin dengan nafasnya yang tersengal. Ia duduk dengan kaki yang berselonjor, dan tangan menopang ke belakang.
"Ini, Bu Guru... Saya mau minta di ajarkan tentang PR anak saya yang kelas empat SD. Kenapa sulit sekali, seperti pelajaran anak SLTP," ungkapnya, sembari memperlihatkan buku matematika dengan tugas soal yang ia anggap sangat rumit.
Dayang Sari memeriksanya. Lalu mengangguk dengan pelan. "Oh, ini... Caranya begini." Dayang Sari mulai menjelaskannya, dan membantu mengerjakannya. Sebab Intan tidak juga mengerti dengan penjelasannya.
"Makasih ya, Bu Guru. Saya pulang dulu... Ini ada sedikit oleh-oleh," ucapnya, sembari menyerahkan setengah kilo gula aren.
"Gak perlu repot-repot, Bu..." ucap Dayang Sari, menolaknya dengan halus.
"Jangan di tolak, Bu Guru. Ulun ikhlas..."
"Kalau begitu ulun terima pemberian dari Bu Intan," Dayang Sari mengambil gula aren tersebut
Bu Intan berpamitan, dan tatapan Dayang terlihat tajam mengiringi kepergiannya.
Bu Intan berjalan dengan sedikit kepayahan.
Langkahnya menyusuri jalanan yang sempit, dan di penuhi rerumputan di kanan kirinya.
Mendadak Bu Intan merasakan perutnya terasa sakit. Ia mengalami keram. "Kok tiba-tiba jadi begini?" ucapnya dengan rasa panik, dan berusaha untuk terus berjalan, sembari memegangi perutnya.
Wajah Bu Intan tampak pucat. Ia memaksa untuk terus berjalan, meskipun rasa sakit itu semakin begitu menyiksanya.
Cairan pekat darah mulai mengalir dari celah selangkanya.
Setelah sepuluh menut berjalan dengan langkah yang terseok, akhirnya Bu Intan tiba di rumahnya.
Ia duduk di anak tangga dengan wajah yang cukup pucat.
Tak berselang lama, suaminya pulang dari sungai. Melihat istrinya yang mengalami pendarahan, Budi langsung menghampirinya dengan cemas.
"Intan,kamu mau melahirkan?" Budi menggendong sang istri, dan membwanya naik ke atas rumah.
Intan tak menjawab. Matanya terlihat sayu.
Setelah membaringkan Intan, Budi berlari menuruni anak tangga, lalu menuju ke bidan desa untuk meminta pertolongan.
"Bu Bidan... Tolong istri saya. Dia mau melahirkan," ucap Budi dengan cemas.
"Baik, Pak. Saya akan segera kesana," ucap Bidan tersebut, lalu mengemasi semua peralatannya.
Mendapatkan jawaban tersebut, Budi bergegas pulang, sebab ia tidak ingin meninggalkan Intan sendirian.
Hal yang lebih menakutkannya lagi dalam pikiran Budi, Intan akan mengalami nasib seperti Rodiah.
Pria itu memacu sepeda motornya dengan laju. Ia berharap jika ibu mertuanya sudah datang menjenguk.
Setibanya di rumah, ia langsung naik dan menuju kamar. Ia bersyukur jika ternyata ibu mertuanya sudah berada di rumah.
"Mana bidannya, Bud?" tanya wanita berusia enam puluh tahun itu, saat menyambut kedatangan menantunya.
"Masih di jalan, Bu. Saya juga sudah memanggil bidan kampung, agar membantu bidan medis dalam menangani proses melahirkannya."
"Tunggu istrimu, ibu mau siapkan perlengkapannya," ucapnya pada Budi. Lalu beranjak pergi.
Menit berlalu. Bidan medis dan juga bidan kampung datang bersamaan. Mereka akan membantu proses kelahiran anak pasiennya.
"Ini sudah pembukaan enam... kita tunggu sebentar lagi, semoga saja air ketubannya tidak kering," ucap Bidan Medis, sembari memantau kondisi Intan.
Sedangkan bidan kampung menyiapkan ramuan untuk membantu kelahiran sang bayi.
Waktu berlalu, dan saat ini sudah menunjukkan pukul tiga sore. Bidan medis berulang kali mengecek kondisi Intan, tetapi tetap saja masih pembukaan enam, tidak ada kemajuan, sedangkan air ketuban di sinyalir takut kering.
"Pak Budi... Tolong siapkan kapal motor. Kita akan merujuk Bu Intan ke rumah sakit umum di Kota Kabupaten," tegas Bidan Medis. Ia takut jika nantinya ketuban pecah, dan kondisi Intan memburuk.
Bud8 mengangguk lemah. Sebab ia tak punya biaya menyewa kapal. Hanya ada kapal dayung miliknya.
Ia menghubungi tetangganya untuk menanyakan kapal mereka.
Satu persatu ia tanyai, tetapi semua sedang di pakai. Ada yang di pakai berbelanja ke kota, dan ada yang di pakai menjaring ikan, petang baru kembali.
Bahkan ada yang di pakai untuk membawa penumpang.
Budi merasa lemah untuk mendengar semua jawaban tersebut.
"Apakah kapal motor milik Damang juga di pakai?" tanya Bu Bidan Kampung pada Budi.
"Kapal motornya di bawa Pak Lukman untuk menjemput saudaranya yang datang dari kota," sahut Budi dengan lemah.
Mereka saling pandang. Memikirkan solusi yang harus mereka tangani. Hanya ada satu kapal tersisa, dan itu kapal dayung. Maka akan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke kota. Bisa berhari, sedangkan Intan butuh cepat.
Hingga menjelang waktu maghrib, kelahiran anaknya juga tak kunjung berhasil. Seolah ada yang sedang menahannya.
Hari mulai menggelap. Lembayung menghilang tertutup awan hitam. Hujan turun dengan rintik-rintik, dan membuat Budi semakin khawatir.
Sedangkan Intan semakin lemah.
Segala upaya sudah di lakukan, tetapi tidak juga membuahkan hasil. Pembukaan masih tetap saja sama, tidak mau bertambah.
Dalam hujan, Bu linda datang dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membawa makanan untuk makan malam di rumah menantunya.
"Umai kenapa baru datang? Tadi pamitnya sebentar," cecar Budi, sebab ibu mertuanya baru tiba setelah pergi sedari tadi.
Linda meletakkan dua rakit rantang berisi nasi putih dan ikan pindang gabus di lantai rumah.
Pakaiannya masih basah, dan ia tampak menggigil.
"Umai baru pulang dari kota, dan tidak tahu kalau Intan mau melahirkan. Setelah mendapat kabar ibu langsung memasak, sebab tau pastinya kamu tidak sempat memasak,"
Budi melongo. "K-kalau ibu tadi ke kota, siapa yang siang tadi bersama Intan?" suara Budi sangat pelan, dan dadanya bergemuruh.
Sontak saja itu membuat mereka terkejut, dan saling pandang. Mendadak bulu kuduk mereka meremang.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺