Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Demi Kepentingan Keluarga
Dua hari setelah foto hotel tersebar, Bambang akhirnya membalas pesan Sekar.
`Datang sore ini. Jangan bawa wartawan atau pengacara.`
Sekar membaca kalimat itu dua kali. Ia tidak pernah berniat membawa wartawan, tetapi ayahnya lebih dahulu memikirkan reputasi daripada keadaan putrinya.
Apartemen Bambang berada di pusat Jakarta, tidak terlalu luas, tetapi setiap sudutnya dirancang untuk terlihat lebih mahal daripada kenyataan. Lukisan besar tergantung di ruang tamu. Plakat penghargaan dari yayasan Danuwijaya memenuhi rak kaca. Di meja, sebuah foto Bambang berjabat tangan dengan Hartono dipajang menghadap pintu.
Ratih membuka pintu dan langsung memeluk Sekar.
"Ya Allah, Nak. Wajahmu pucat sekali."
Sekar membalas pelukannya. Tubuh ibunya terasa lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu.
"Aku baik, Ma."
"Jangan bohong kepada Mama."
Ratih mengusap bekas jarum pengambilan darah di lengan putrinya. Matanya berkaca-kaca, tetapi sebelum sempat bertanya, suara Bambang terdengar dari ruang kerja.
"Suruh dia masuk."
Tidak ada sapaan ketika Sekar duduk di hadapan meja ayahnya. Bambang menutup laptop, menyandarkan punggung, lalu mendorong ponsel berisi foto hotel ke tengah meja.
"Kamu tahu berapa banyak orang mengirim ini kepada Ayah?"
"Ayah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
"Yang sebenarnya terjadi tidak penting kalau seluruh Jakarta sudah percaya pada gambar itu."
Sekar menatapnya. "Saya dibius dan dijebak."
Bambang mengerutkan kening. "Jangan membuat tuduhan tanpa bukti."
"Saya sedang mengumpulkan bukti. Saya juga sudah menjalani pemeriksaan toksikologi."
"Hentikan."
"Apa?"
"Hentikan semua tindakan yang memperbesar masalah. Pulang ke rumah Danuwijaya, minta maaf kepada Rendra dan keluarganya, lalu tandatangani persetujuan itu."
Bambang membuka satu map proyek dan menunjuk surat dukungan dengan kop yayasan Danuwijaya. Sebuah tender pengadaan bernilai besar sedang menunggu persetujuan. Nama perusahaan kecil milik Bambang tercantum sebagai mitra lokal.
"Kalau Rendra menarik dukungan, puluhan pegawai bisa kehilangan pekerjaan," katanya. "Kamu mau menanggung itu?"
Sekar membaca tanggal surat. Dokumen itu baru dibuat sebulan lalu, ketika Rendra sudah menikah siri dengan Kirana tetapi masih pulang ke paviliun dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Ayah menerima proyek ini sebagai imbalan agar saya diam?"
"Jaga ucapanmu. Ini kerja sama yang sah."
"Kalau sah, kenapa Ayah lebih takut saya bicara daripada takut putri Ayah diracuni?"
Bambang menarik map itu kembali dan menguncinya di laci.
Ratih yang berdiri dekat pintu tersentak. "Mas, Sekar bilang dia dibius."
"Kamu diam dulu, Ratih."
"Dia putri kita."
"Justru karena dia putri kita, dia harus memikirkan keluarga."
Bambang kembali menatap Sekar. "Ayah sudah bertahun-tahun membangun hubungan dengan Danuwijaya. Banyak urusan bisnis dan jabatan bergantung pada kepercayaan mereka. Jangan hancurkan semuanya karena kamu tidak bisa mengendalikan perasaan."
Sekar merasakan sesuatu di dalam dirinya menjadi sangat dingin.
"Jadi pernikahanku adalah tangga Ayah?"
"Jangan kurang ajar. Ayah juga melakukan semua ini untuk masa depanmu. Kamu hidup nyaman sebagai Nyonya Danuwijaya."
"Nyaman? Mereka membawa istri kedua yang hamil ke rumah, memaksaku menandatangani surat, mengusir asistanku, lalu membuat foto palsu di hotel."
"Rendra masih tidak menceraikanmu. Itu berarti dia masih menjaga kedudukanmu."
Kalimatnya sama dengan Rendra. Seolah tidak dibuang sepenuhnya merupakan bentuk kasih sayang.
"Kalau aku ingin menggugat cerai?" tanya Sekar.
Bambang berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. "Jangan pernah ucapkan itu lagi."
Ratih maju. "Sekar berhak memikirkan keselamatannya."
"Kamu yang mengajarinya melawan suami?" bentak Bambang. "Apa keluarga Reksonegoro belum cukup membuat hidup kita sulit? Sekarang kamu mau putrimu menyeret kita kembali ke masalah lama?"
Wajah Ratih memucat.
Sekar menangkap nama itu. "Masalah lama apa?"
"Tidak ada." Bambang menurunkan suara. "Ayah hanya ingin kamu berpikir dewasa. Jangan mempermalukan Bapak."
Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Seorang perempuan muda berdiri di luar sambil membawa nampan teh. Ratna, putri Bambang dari Bu Asri, menatap Sekar dengan takut-takut.
"Masuk kalau sudah disuruh," tegur Bambang.
Tangan Ratna bergetar. Satu cangkir beradu dengan tatakannya.
"Maaf, Ayah."
"Letakkan, lalu keluar. Jangan menguping urusan orang dewasa."
Ratna menaruh nampan dan berbalik. Saat melewati Sekar, gadis itu berbisik nyaris tanpa suara, "Saya percaya Mbak."
Bambang tidak mendengar. Namun Sekar melihat bekas merah pada pergelangan tangan Ratna, seolah terlalu sering dicengkeram.
Ayah mereka tidak hanya memakai satu anak sebagai alat.
"Saya datang karena berharap Ayah akan membela saya," kata Sekar. "Ternyata Ayah hanya takut kehilangan hubungan dengan Danuwijaya."
"Tanpa hubungan itu, kamu pikir keluarga ini punya apa?"
"Mama punya nama Reksonegoro sebelum menikah dengan Ayah."
Bambang menghantam meja dengan telapak tangan. "Nama itu tidak memberi makan siapa pun lagi!"
Sekar berdiri. "Kalau begitu, saya tidak akan meminta apa pun dari Ayah."
"Pulang dan lakukan yang Ayah perintahkan."
"Tidak."
Satu kata itu membuat ruangan membeku.
Sekar tidak pernah menolak Bambang secara langsung. Bahkan ketika dipaksa mengabaikan penghinaan keluarga suami, ia selalu diam demi Ratih dan Bayu. Hari ini, diam terasa lebih memalukan daripada foto palsu yang beredar.
"Saya akan membuktikan bahwa foto itu jebakan," lanjutnya. "Dan saya tidak akan menandatangani kebohongan tentang tubuh saya."
Ia keluar sebelum Bambang sempat membentak lagi.
Ratih mengejarnya sampai area lift. Napas perempuan itu terburu-buru. Ia memasukkan sebuah amplop ke tangan Sekar.
"Mama hanya punya ini. Ambillah."
Sekar hendak menolak, tetapi Ratih menggenggam tangannya.
"Untuk pengacara, tempat tinggal, apa saja. Mama belum bisa melawan Ayahmu, tapi Mama tidak mau menyuruhmu kembali ke rumah yang tidak aman. Maafkan pesan suara Mama kemarin. Mama takut, bukan berarti Mama tidak percaya."
Sekar memeluknya. Air mata Ratih jatuh ke bahunya.
"Bayu juga percaya padamu," bisik Ratih. "Dia sedang di luar kota, tapi sudah menelepon Mama berkali-kali."
Pintu lift terbuka. Sebelum Sekar masuk, Ratih menahan lengannya sekali lagi.
"Sekar, dulu Eyang Wiryo pernah berpesan. Kalau kamu terdesak dan tidak tahu harus ke mana, cari Pak Djoyo."
"Pak Djoyo masih hidup?"
Ratih mengangguk. "Dia masih menjaga Vila Reksonegoro di Puncak. Ayahmu melarang Mama menghubunginya sejak Eyang meninggal."
"Kenapa?"
"Mama tidak tahu semuanya. Hanya saja Eyang bilang, ada sesuatu yang memang disiapkan untukmu."
Suara Bambang memanggil Ratih dari dalam apartemen.
Perempuan itu tersentak, lalu mendorong Sekar pelan ke dalam lift. "Pergilah sebelum Ayahmu keluar."
Pintu menutup di antara mereka.
Sekar menggenggam amplop ibunya dan menatap angka lantai yang turun satu demi satu. Ia datang dengan harapan terakhir kepada ayahnya dan pulang tanpa keluarga yang bisa melindunginya.
Namun untuk pertama kalinya, nama Reksonegoro tidak terdengar seperti masa lalu.
Nama itu terdengar seperti jalan keluar.