Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Eksekusi
Kael mengangguk. “Saya sudah atur pergantian jaga di koridor utara. Ada celah dua puluh menit saat tengah malam. Tapi setelah itu, penjagaan akan digandakan. Jika gagal… mereka akan langsung mengunci Anda di menara.”
Alena berdiri. “Dua puluh menit cukup.”
Tengah malam Alena menyelinap keluar. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa sakit. Koridor gelap hanya diterangi obor redup. Setiap sudut terasa seperti menyembunyikan mata. Dia hampir sampai di sayap utara ketika suara langkah prajurit mendekat dari arah berlawanan. Dia cepat bersembunyi di balik tiang besar dengan napas yang ditahan.
Dua prajurit lewat sambil berbicara. “Katanya Ratu akan dipindah ke menara besok. Peramal bilang darahnya harus murni sampai saatnya. Jangan sampai ada yang melukai duluan.”
“Iya. Putri Seana sampai bilang, biarkan dia hidup sampai malam ketiga. Nanti di altar baru…”
Suara mereka menjauh. Alena merasa darahnya dingin. Mereka membicarakannya seperti hewan kurban. Dia kembali bergerak saat situasi dirasa aman. Saat berhasil mencapai koridor dekat kamar Raka, dia melihat Lilina keluar dari dalam, diikuti Seana. Keduanya berbicara pelan. “Dia semakin sering memanggil nama Alena,” kata Lilina lembut. “Saya sudah coba alihkan, tapi belum berhasil sepenuhnya.”
Seana mendengus. “Tidak masalah. Besok malam dia sudah tidak akan bisa mengganggu lagi. Setelah darahnya tumpah di batu segel, jembatan tertutup, dan kakakku hanya punya kita.”
Mereka pergi ke arah berlawanan. Alena menunggu sampai langkah mereka benar-benar hilang, lalu membuka pintu kamar Raka pelan.
Raka sudah duduk bersandar, matanya terbuka. Wajahnya masih pucat, tapi kesadarannya jauh lebih jernih. Saat melihat Alena, matanya langsung melebar. “Alena… kau benar-benar datang.”
Alena cepat mendekat, memegang wajahnya. “Aku tidak punya banyak waktu. Dengar... Ibu Suri, Seana, dan Lilina berencana mengorbankan darahku di ruang segel tiga malam lagi. Mereka bilang itu satu-satunya cara menutup jembatan selamanya. Mereka akan membunuhku, Raka.”
Raka membeku. Amarah langsung menyala di matanya yang masih lemah. “Apa…?”
“Mereka akan bilang aku berkorban sukarela. Supaya kau tidak menyalahkan mereka.” Alena menggenggam tangannya erat. “Aku butuh kau sadar sepenuhnya. Hentikan mereka. Hanya kau yang bisa.”
Raka mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Dia menggeram frustasi. “Kael… panggil Kael. Sekarang juga. Aku akan—”
Tiba-tiba suara lonceng peringatan berdentang dari kejauhan. Kael muncul di pintu dengan wajah panik. “Yang Mulia, mereka sudah sadar ada yang masuk! Seana memerintahkan pemeriksaan seluruh koridor. Kita harus pergi sekarang!”
Alena menoleh pada Raka, air mata hampir tumpah. “Aku harus pergi. Tapi jangan percaya apa pun yang mereka katakan tentang aku.”
Raka memegang pergelangan tangannya lemah, tapi erat. “Jangan hilang. Aku akan sembuh… dan aku akan hancurkan siapa pun yang menyentuhmu.”
Kael menarik Alena keluar paksa. “Sekarang, Yang Mulia!”
Mereka hampir lolos lewat koridor rahasia ketika suara Seana menggelegar dari belakang.
“Di sana! Tangkap Ratu Alena!”
Prajurit mulai berlari. Alena dan Kael berlari melalui lorong sempit. Panah usus batu berdesing di dinding dekat kepala Alena. Mereka berbelok tajam, turun ke tingkat bawah, lalu masuk ke ruang penyimpanan tua. Kael menutup pintu besi dari dalam. Di luar, suara langkah dan teriakan semakin dekat.
Alena terengah, punggung menempel ke dinding. “Mereka… benar-benar akan melakukannya, Kael. Aku merasa… waktu kita hampir habis.”
Kael menarik napas berat. “Saya akan bawa Anda ke tempat yang lebih aman malam ini. Tapi mulai besok, istana akan dikunci total. Tidak ada yang masuk atau keluar dari sayap utara tanpa izin Ibu Suri.”
Di atas mereka, di kamar Raka, Seana sudah masuk bersama prajurit. Dia melihat jendela terbuka dan seprai yang berantakan. “Dia datang ke sini,” gumam Seana geram. “Kakak… apakah dia bilang sesuatu padamu?”
Raka menatap adiknya dengan mata dingin yang belum pernah Seana lihat sebelumnya. “Keluar. Sekarang.”
Seana terpaku. Untuk pertama kalinya, dia melihat bayangan raja yang sebenarnya di wajah kakaknya yang masih lemah—bukan kakak yang bisa dikendalikan.
Sementara itu, di ruang segel bawah tanah, Lilina berdiri di depan altar batu hitam yang sudah dibersihkan. Dia menyentuh permukaan dingin itu dengan jari jemari lembut. “Darah suci…” gumamnya pelan, senyum tipis tersungging. “Tiga malam lagi. Lalu semuanya akan berakhir sesuai keinginan kami.”
Di luar, kabut abadi bergolak hebat. Bulan di baliknya semakin naik, semakin terang, semakin mendekati puncak. Dan di seluruh istana, rasa penasaran dan ketakutan bercampur jadi satu. Hitungan mundur terus berjalan. Dan setiap detik… terasa seperti pisau yang semakin dekat ke leher.
Malam kedua. Alena berhasil disembunyikan Kael di ruang bawah tanah tua yang sudah lama tidak terpakai. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebelum fajar, prajurit Ibu Suri menemukan jejak mereka. Ruangan digerebek. Kael dilumpuhkan dengan panah bius, dan Alena ditangkap.
Dia digiring ke ruang segel bawah tanah—tempat altar batu hitam sudah menunggu. Obor-obor menyala di sepanjang dinding. Ibu Suri, Seana, Lilina, dan beberapa tetua dewan yang berpihak pada mereka sudah berdiri di sana. Alena diluthkan di depan altar. Tangannya diikat ke belakang. Saat upacara berlangsung, pisau yang mereka gunakan tidak bisa menembus tubuh Alena. Mereka terpental jauh dari gadis itu.
Ibu Suri melangkah mendekat, matanya menatap cincin permata kusam di jari manis Alena. “Cincin itu,” katanya dingin. “Peramal bilang benda itu melindungi nyawanya. Selama cincin masih melekat, darah sucinya tidak bisa ditumpahkan sempurna. Ritual akan gagal.”
Seorang tetua mencoba menarik cincin itu. Tidak berhasil. Dia menarik lebih kuat hingga kulit Alena memerah, tapi cincin tetap tidak bergeser milimeter pun. “Tidak bisa dilepas, Yang Mulia,” laporan tetua itu. “Seolah menyatu dengan jarinya.”
Seana kesal. “Paksa! Potong saja jika perlu.”
Beberapa orang mencoba lagi dengan minyak, doa kuno, bahkan dengan pisau kecil untuk mengungkit. Alena berteriak kesakitan, tapi suara itu bagaikan nyanyian ditelinga mereka. Semua usaha gagal. Cincin itu seolah hidup, menolak dilepas, dan setiap kali dipaksa, cahaya redup muncul sejenak melindungi jari Alena.
Lilina yang selama ini berdiri diam di belakang, akhirnya melangkah maju. Senyum lembutnya masih ada, tapi matanya gelap. “Kalau cincinnya tidak bisa dilepas…” katanya pelan, suara tetap halus, “maka jarinya yang harus dilepas.”
Ruangan seketika hening. Ibu Suri menatap Lilina lama, lalu tersenyum tipis. “Ide yang bagus.”
Seana langsung setuju dengan semangat. “Benar! Potong saja jarinya. Cincinnya ikut terbuang, darahnya tetap bisa dipakai. Sempurna.”
Beberapa tetua ragu, tapi tidak ada yang berani menolak. Seorang algojo istana dipanggil. Dia membawa pisau upacara berukir bulan sabit. Bilahnya berkilau dingin di bawah cahaya obor.
Alena yang masih berlutut, wajahnya pucat, tapi matanya menatap mereka satu per satu dengan tatapan membara. “Kalian gila… Raka tidak akan memaafkan ini.”
Seana berjongkok di depannya, menyeringai. “Kakakku tidak akan pernah tahu versi sebenarnya. Kami akan bilang kau yang nekat memotong jarimu sendiri demi ritual. Pahlawan sejati… yang mati untuk kerajaan.”