Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Matahari perlahan naik, memancarkan terik panas yang membakar jalanan kota pelabuhan pulau seberang.

Suasana di dermaga utama tiba-tiba berubah menjadi riuh dan sangat menegangkan.

Thud... thud... thud...

Suara derap sepatu bot besi bergemuruh keras memecah keheningan pelabuhan.

Satu batalyon penuh pasukan elit istana kerajaan tampak turun dari kapal perang berukuran besar.

Mereka mengenakan zirah baja hitam mengkilap dengan lambang istana terpampang jelas di dada.

Pimpinan pasukan elit itu adalah Jenderal Guntur, seorang pria berwajah kejam dengan bekas luka bakar di pipi kirinya.

"Dengar semua prajurit! Tangkap hidup-hidup tukang pijit sialan itu dan ratu iblis peliharaannya!" bentak Jenderal Guntur menggelegar.

"Baik, Jenderal!" jawab ratusan prajurit serentak menggema ke seluruh sudut pelabuhan.

Mereka langsung bergerak cepat menyusuri jalan raya menuju kawasan permukiman pinggiran kota.

Warga sekitar yang melihat kedatangan pasukan bersenjata lengkap itu langsung lari ketakutan menyelamatkan diri.

Kembali ke rumah kecil Arya, suasana di sana tampak sangat tenang dan damai tanpa beban.

Arya sedang sibuk menaburkan bubuk minyak herbal khusus di sekitar halaman rumput depan rumahnya.

Vanya berdiri di teras sambil melipat kedua tangannya di dada dengan senyuman tipis penuh ejekan.

"Kamu yakin bubuk minyak pijit murahan itu bisa menghentikan satu batalyon pasukan elit istana?" tanya Vanya meragukan.

"Tenang saja, Yang Mulia Ratu, itu bukan minyak biasa tapi ramuan rahasia pemicu lemas otot mendadak," jawab Arya santai.

"Alasan saja, kalau rencana bodohmu gagal, aku yang akan mencincang mereka semua dengan tangan sendiri," ancam Vanya dingin.

"Iya deh terserah ratu cantik yang hobi ngamuk, yang penting kita santai dulu sambil nunggu tamu datang," balas Arya cengengesan.

Tidak lama kemudian, suara derap kaki pasukan dalam jumlah besar mulai terdengar mendekati area perumahan.

Tap... tap... tap... rumbling...

Suara gemuruh langkah kaki itu semakin lama semakin terdengar jelas di telinga.

Arya segera merapikan botol-botol sisanya lalu berdiri tegak di samping Vanya.

"Nah, sepertinya rombongan tamu agung kita sudah sampai di ujung jalan," bisik Arya serius.

Jenderal Guntur memimpin pasukan elitnya berhenti tepat di depan pagar rumah kecil Arya.

Ia menatap tajam ke arah plang kayu bertuliskan jasa pijit tradisional yang tergantung di depan gerbang.

"Jadi ini sarang persembunyian si tukang pijit keparat dan ratu iblis itu?" geram Jenderal Guntur murka.

"Kepung rumah kecil ini rapat-rapat! Jangan biarkan satu pun dari mereka kabur lewat jendela!" perintah Jenderal Guntur.

Puluhan prajurit langsung bergerak cepat melompati pagar kayu merangsek masuk ke dalam halaman rumah.

Step... step...

Begitu kaki prajurit pertama menginjak tanah halaman yang diberi bubuk Arya, sesuatu terjadi.

Kzzzt...

Energi akupuntur jebakan langsung bereaksi aktif menyerap tenaga kaki mereka.

"Ugh... aduh! Kenapa tiba-tiba lututku lemas dan rasanya ngilu sekali?!" teriak prajurit pertama panik.

"Badanku kaku! Aku nggak bisa menggerakkan kaki untuk melangkah maju!" timpal prajurit kedua histeris.

[Peringatan Sistem: Jebakan Pijit Akupuntur Halaman berhasil melumpuhkan gelombang pertama musuh!]

[Mendapatkan koin sistem: +50 koin emas kecil!]

Suara dengungan khas sistem berputar kencang di kepala Arya memberikan notifikasi kepuasan tersendiri.

Arya tersenyum lebar melihat puluhan prajurit elit istana mendadak jatuh bersimpuh memegangi kaki mereka sendiri.

"Wah, rupanya ramuan minyak relaksasi buatanku ampuh juga buat nurunin tekanan darah tentara," puji Arya bangga.

Vanya tertawa kecil melihat pemandangan konyol di mana pasukan paling ditakuti kerajaan tumbang hanya karena lemas otot.

"Tidak kusangka jebakan bodohmu itu benar-benar membuat pasukan elit bertekuk lutut tanpa perlawanan," komentar Vanya mengejek.

Jenderal Guntur yang berada di luar pagar membelalakkan matanya lebar-lebar karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Prajurit bodoh! Kenapa kalian semua malah duduk bersimpuh di halaman rumah itu?!" bentak Jenderal Guntur marah besar.

"Jenderal... kaki kami... rasanya lumpuh total dan pegal-pegal luar biasa..." lapor salah satu prajurit dengan nada merintih.

Jenderal Guntur mencabut pedang panjang dari sarungnya dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun kepala.

"Kalian semua memang pasukan tidak berguna! Biar aku sendiri yang meratakan rumah sialan ini!" murka Jenderal Guntur.

Ia melompat melewati pagar kayu, mendarat dengan kuat di tengah halaman rumah Arya.

Namun, begitu sepatunya menginjak rumput, Jenderal Guntur langsung merasakan sengatan energi aneh di pergelangan kakinya.

"Argh... apa-apaan sihir murahan ini?!" keluh Jenderal Guntur merasakan otot kakinya menegang kaku.

Arya melangkah santai turun dari teras rumah menghampiri sang jenderal yang mulai kesulitan berdiri tegak.

"Selamat siang, Jenderal Guntur, sepertinya badan Anda kurang piknik makanya gampang tegang ototnya," sapa Arya ramah.

"Kurang ajar! Beraninya kamu mempermainkan jenderal istana dengan trik rendahan seperti ini!" murka Jenderal Guntur mengayunkan pedang.

Arya dengan gesit menghindari tebasan pedang itu, lalu melompat ke samping Jenderal Guntur.

Ia menepuk cepat pundak sang jenderal menggunakan teknik pijit tempur sistem level menengah.

Krek...

Bunyi sendi bergeser terdengar jelas di tengah ketegangan halaman rumah.

Jenderal Guntur merasakan sekujur tubuhnya mendadak panas, aliran darahnya mengalir terlalu cepat membuat kepalanya pusing.

"Ugh... serangan macam apa ini... tenagaku mendadak terkuras habis..." rintih Jenderal Guntur lemas.

Vanya berjalan mendekat dengan langkah anggun, menatap rendah ke arah jenderal yang sedang berlutut di tanah.

"Jenderal sombong dari istana, sekarang rasakan akibatnya karena berani mengganggu ketenangan kami," ucap Vanya dingin.

Jenderal Guntur mendongakkan kepalanya dengan napas tersengal-sengal menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Kalian... tabib agung tidak akan pernah mengampuni pengkhianat seperti kalian berdua..." ancam Jenderal Guntur terbata-bata.

"Biar tabib tua itu datang sendiri ke sini kalau dia mau babak belur di tangan tukang pijit," balas Arya santai.

[Peringatan Sistem: Berhasil menumbangkan pimpinan pasukan elit istana dalam waktu singkat!]

[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +25 poin sistem total menjadi 275 poin!]

Suara dengungan sistem berputar singkat di kepala Arya memberikan notifikasi kemenangan telak.

Sisa prajurit elit yang melihat jenderal mereka tumbang langsung kocar-kacir melarikan diri keluar halaman.

"Jenderal kalah! Cepat lari selamatkan nyawa kalian!" teriak prajurit panik berlarian kabur.

Arya dan Vanya hanya berdiri santai menyaksikan gerombolan pasukan istana itu lari pontang-panting meninggalkan lokasi.

"Yah, sayangnya mereka nggak sempat daftar jadi pelanggan pijit tetap di sini," keluh Arya bercanda.

Vanya menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum tulus ke arah pemuda yang selalu berhasil diandalkan itu.

"Kamu benar-benar pria paling unik yang pernah kutemui seumur hidupku, Arya," puji Vanya lembut.

"Makanya jangan ke mana-mana, tetaplah jadi langganan setiaku selamanya," balas Arya tersenyum lebar.

Mereka berdua kembali duduk bersantai di teras rumah kecil, menikmati sisa sore yang damai setelah kemenangan besar.

1
gofur
mantap kaka karya kamu🥰
Anton barly
💟💟💟💟
Shinta geol
🥰🥰🥰🥰🥰
nurul khusna
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Antoni gergio
💞💓💗💖💝
samuel df
😍🤩🤩🤩🤩
Jangkar pion
iblis yg cantik😘
yudi permana
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
nabila
🤩🌹😘😍🥰
putri andini
😍🥰
asyifa fauziah
🌹😘🥰😘
setiawan
pijatan yang mematikan sang ratu
yani
keren kaka semangat berkarya🥰
sasa
💞💕💞💞💞💞💞
fitri
🥰😘🥰😘🥰🤩🤩
pricilia
🌹🌹🌹🌹🌹
Angel
🌟🥳🤠
clara
hebatkaka
Yono Haryono
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!