Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Bencana Bernama Kian

Gue punya satu teori, takdir itu kadang punya selera humor yang agak jahat.

Di saat cewek-cewek lain membayangkan jodoh mereka adalah pangeran tampan yang datang menunggangi kuda putih, takdir malah menyodorkan Kian ke hadapan gue. Seorang cowok yang waktu kelas tiga SD pernah nempelin permen karet di rambut gue dan ngeles kalau itu adalah bentuk "seni instalasi."

Kian itu sahabat gue dari kecil. Dari zaman ingus kita masih sering keluar-masuk secara otomatis, sampai zaman di mana dia berubah jadi playboy kelas teri yang hobi gonta-ganti pacar kayak ganti kaos kaki. Gue tahu semua bobroknya Kian. Gue tahu dia paling takut sama kecoak terbang, tahu kalau dia makan bubur ayam harus diaduk sampai bentuknya mirip adonan semen, dan tahu persis gimana mukanya kalau lagi bohong.

Masalahnya cuma satu, gue suka sama dia.

Dan menyukai sahabat sendiri yang punya rekor kencan melebihi jumlah anggota DPR itu adalah bentuk siksaan batin paling tragis. Makanya, gue memutuskan buat memendam perasaan itu dalam-dalam, menguncinya di dasar hati paling bawah, dan melapisinya dengan semen tiga roda biar gak bocor.

Sampai sore itu, di kafe dekat kampus.

Gue duduk di pojok ruangan sambil ngeliat Kian lagi ngobrol serius sama cewek cantik berambut gelombang. Namanya Vanya. Sudah seminggu ini gue ngeliat Vanya bolak-balik ngejar dan nempel terus sama Kian. Dan sore ini, gue ngeliat Kian merangkul pundak Vanya, bisik-bisik sesuatu, lalu tersenyum manis banget.

Gue menyedot es kopi susu gue dengan brutal sampai bunyi srooot nyaring banget. Nyesek. Fix, Kian emang udah gaet cewek baru lagi. Perasaan gue yang udah ditimbun semen rasanya makin retak. Gue sadar, sampai kapan pun, gue cuma bakal jadi sahabat tempat dia cerita soal cewek-ceweknya. Gue harus bener-bener nyerah.

"Elora, Kian, kumpul dulu ke meja makan!" suara Mama memecah lamunan gue malam itu.

Malam minggu kali ini agak beda. Keluarga Kian datang ke rumah gue buat makan malam bersama. Kebiasaan ini udah rutin dari dulu karena orang tua kita sahabatan. Tapi malam ini, atmosfer di meja makan rasanya agak mencurigakan. Papa dan Om Heru ayahnya Kian terus-terusan tukar senyum misterius kayak dua penjahat di film kartun yang baru berhasil nyuri emas.

Kian duduk tepat di depan gue. Dia pakai kemeja kasual dan pastinya kelihatan ganteng. Sialan emang.

"Jadi begini," Om Heru berdehem, membuka pembicaraan setelah hidangan penutup selesai disajikan. "Karena kalian berdua udah sama-sama dewasa, udah mau lulus kuliah juga... Papa sama Om mau nagih janji lama."

Gue menaikkan sebelah alis. "Janji apa, Om? Jangan-jangan bagi warisan?"

Mama mencubit paha gue pelan. "Hush! Dengarin dulu."

"Dulu, waktu kalian masih di dalam kandungan, kita berempat pernah janji," sambung Papa dengan wajah cerah. "Kalau anak kita laki-laki dan perempuan, mau kita jodohkan. Dan malam ini, kita mau perjelas soal perjodohan itu."

UHUK!

Kian yang lagi minum air putih langsung tersedak hebat. Gue sendiri hampir menelan sendok kecil yang lagi gue pegang.

"Perjodohan?!" pekik gue dan Kian berbarengan.

"Iya, perjodohan," kata Tante Maya, mamanya Kian, sambil tersenyum lebar. "Tapi tenang aja, kita orang tua modern kok. Kita gak bakal maksa. Asal salah satu dari kalian ada yang setuju, perjodohan ini jalan. Tapi kalau dua-duanya nolak... ya udah, dianggap wacana lama aja."

Ruangan langsung hening. Mata semua orang tertuju ke gue dan Kian.

Gue menatap Kian. Pikiran gue langsung berputar cepat. Nggak. Gue gak bisa nikah sama dia. Gue baru aja memutuskan buat nyerah sore tadi setelah ngeliat dia sama Vanya. Kalau gue terima perjodohan ini, hidup gue bakal hancur karena harus terus-terusan makan hati ngeliat suami sendiri lirak-lirik cewek lain. Gue gak mau jadi pahlawan kesiangan yang berharap bisa mentobatkan seorang playboy.

"Aku nolak," kata gue cepat dan tegas, menatap lurus ke arah orang tua kami. "Elora gak setuju, Ma, Pa. Kita berdua kan udah kayak saudara."

Gue melirik Kian, berharap dia bakal mengangguk setuju dan mendukung pernyataan gue biar masalah ini selesai. Tapi yang gue lihat justru ekspresi Kian yang berubah total.

Matanya menyipit. Dia menatap gue dengan tatapan yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Tatapan dingin, tajam, dan... tersinggung?

"Gak setuju?" Kian bersuara. Suaranya rendah, beda banget sama nada tengilnya yang biasa.

"Ya... iya lah. Kan kita sahabat dari kecil, Kian," balas gue agak ragu.

Kian menyandarkan punggungnya ke kursi, masih menatap gue tanpa berkedip. "Kok bisa kamu gak setuju? Emang aku seburuk itu di mata kamu?"

Gue mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba pakai bahasa resmi begitu. "Maksudnya gimana?"

Kian mengalihkan pandangannya ke orang tua kami, lalu tersenyum tipis, senyum kaku yang terkesan dipaksakan.

"Kian setuju sama perjodohannya, Pa, Ma," kata Kian tenang.

DEG.

Dada gue serasa dihantam godam raksasa.

"WAH! SERIUS KAMU, KIAN?!" Tante Maya langsung bertepuk tangan heboh. Mama dan Papa langsung berpelukan girang, diikuti gelak tawa dan sorak-sorai kedua keluarga yang memenuhi ruang makan.

Di tengah riuhnya suara tepuk tangan dan godaan orang tua kami, gue dan Kian cuma saling tatap. Dua pasang mata yang saling menatap dingin di antara kebahagiaan orang tua kami.

Kian menatap gue dingin karena gengsinya terluka parah. Batinnya pasti berteriak, Kok bisa-bisanya cewek yang kenal gue dari kecil ini nolak gue secara mentah-mentah di depan umum? Emang gue kurang cakep apa?!

Sementara gue menatap Kian tak kalah dingin. Gue yakin, Kian setuju cuma karena sengaja mau ngerjain gue. Dia terima perjodohan ini biar bisa nikah gampang, tetep bisa bebas main cewek karena kita udah kenal bobrok masing-masing, sementara dia gak tahu kalau gue baru aja berjuang setengah mati buat mematikan perasaan cinta gue ke dia.

"Nah, karena Kian setuju, berarti perjodohan ini sah!" seru Papa gembira. "Tapi biar fair buat Elora, kita kasih waktu 6 bulan buat kalian berdua PDKT secara resmi sebagai pasangan. Bukan cuma sebagai sahabat lagi!"

Gue menelan ludah pahit. Enam bulan. Enam bulan terjebak dalam permainan gengsi cowok di depan gue ini.

Selamat datang di neraka, Elora.

To be continued..

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!