Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebohongan

Mobil sports sedan hitam milik Jungkook berhenti di pelataran parkir Universitas Sorbonne. Pria itu turun dengan terburu-buru, melangkah cepat menyusuri koridor kampus untuk mencari keberadaan Mira. Langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok gadis itu sedang duduk di sebuah kursi taman yang rindang bersama James.

Dada Jungkook berdenyut nyeri. Didorong oleh penyesalan mendalam dan rasa bersalah yang membakar dadanya, Jungkook melangkah mendekat.

"Mira-ya..." panggil Jungkook pelan. Suara baritonnya tidak lagi mengandung keangkuhan, melainkan hanya menyisakan penyesalan yang teramat dalam.

Mira dan James menoleh secara bersamaan. Melihat sosok Jungkook berdiri di hadapannya, raut tenang di wajah Mira seketika sirna. Gadis itu refleks berdiri, mengambil jarak satu langkah ke belakang dengan tatapan dingin dan tertutup.

"Oppa... mau apa lagi ke sini?" suara Mira terdengar begitu lirih, namun menusuk.

Jungkook menatap Mira lekat-lekat, bibirnya gemetar menahan gejolak emosi. "Mira, aku ke sini... aku hanya ingin minta maaf. Soal ucapanku yang kasar dan tuduhan rendahku padamu tempo hari... aku benar-benar salah."

Ia melangkah satu tapak lebih dekat dengan sorot mata yang penuh permohonan. "Aku dikuasai amarah dan prasangka buruk sampai tega mengucapkan hal yang melukaimu. Aku sangat menyesal, Mira. Tolong berikan aku kesempatan untuk meluruskan segalanya..."

Mira menghembuskan napas pelan. Tak ada bentakan atau amarah meluap-luap dari wajahnya, hanya ada tatapan yang begitu lelah dan terluka.

Ia tidak memberi penjelasan apa pun soal tuduhan Jungkook, tidak juga menjawab ke mana ia pergi setelah angkat kaki dari apartemen. Bagi Mira, segalanya sudah terlanjur melampaui batas.

Gadis itu menatap Jungkook lurus-lurus, menyuarakan batasannya dengan nada yang begitu dingin dan asing.

"Aku menghargai Oppa sebagai teman dari kakakku yang sudah banyak membantuku selama di Paris," ujar Mira tenang namun tegas. "Tapi tolong... jangan ikut campur urusan pribadiku lebih jauh dari itu."

Kalimat tegas yang menarik garis pembatas itu menghantam dada Jungkook bagaikan pukulan telak. Pria itu mematung di tempatnya berdiri, lidahnya kelu tak sanggup membalas, sementara Mira berbalik menarik lengan James dan melangkah pergi meninggalkannya dalam kesendirian yang menyiksa.

Mira menatap Jungkook yang masih berdiri membeku di depannya. Sorot mata pria itu dipenuhi rasa bersalah dan keputusasaan yang meluap-luap, seolah memohon agar Mira memberikan satu saja celah untuk memaafkannya.

Namun, bagi Mira, permohonan maaf itu sudah terlambat. Rasa sakit akibat tuduhan kasar dan ketidakpercayaan Jungkook sudah terlanjur merusak segalanya. Jika garis batas yang ia tarik secara tenang masih belum mampu membuat Jungkook mundur, maka ia harus menancapkan dinding pembatas yang lebih keras—sesuatu yang sanggup mematikan seluruh harapan pria itu secara mutlak.

Mira menghembuskan napas pelan. Tanpa ragu, ia melangkah satu tapak ke samping, lalu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari James. Gadis itu menggenggam tangan James erat-erat tepat di depan mata Jungkook.

James sempat tersentak kaget merasakan sentuhan mendadak itu. Namun, saat melirik raut wajah Mira yang penuh penekanan, James langsung mengerti situasi. Ia merapatkan genggamannya, memberikan dukungan penuh pada skenario spontan tersebut.

"Oppa mau tahu kenapa aku minta Oppa untuk tidak ikut campur lagi?" suara Mira terdengar begitu tenang, namun setiap katanya dirancang untuk menusuk ulu hati Jungkook.

Jungkook menatap tautan tangan itu dengan mata membelalak tak percaya. Dadanya seketika terasa terhantam hantaman keras yang membuat napasnya tertahan di tenggorokan.

"Aku dan James... kami sudah berpacaran," ucap Mira mantap, menatap lurus ke dalam iris mata Jungkook tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dia pria yang selalu ada di sisiku, menghargaiku, dan tidak pernah sekalipun melemparkan tuduhan rendah padaku."

Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Mira. Ia tahu ini tindakan yang impulsif, namun hanya ini satu-satunya cara agar Jungkook berhenti mengejar dan mengusik hidupnya lagi.

"Jadi tolong..." lanjut Mira dengan nada dingin yang kaku. "Hormati hubunganku dengan kekasihku. Berhentilah datang dan berpura-puralah kita tidak saling mengenal, Jeon Jungkook ssi."

Panggilan formal yang menyertai pengakuan status baru itu menjadi belati terakhir yang menancap tepat di ulu hati Jungkook. Pria yang biasanya selalu tenang dan dominan itu kini tampak hancur berkeping-keping. Bibirnya gemetar, namun tak ada satu pun kata yang sanggup keluar dari mulutnya.

Mira tidak menunggu respons dari pria itu. Ia berbalik bersama James, melangkah pergi menyusuri koridor kampus dengan jemari yang masih bertaut rapat.

Mira meninggalkan Jungkook yang berdiri mematung sendirian di bawah rindangnya pepohonan taman, terpukul oleh kebohongan manis yang berhasil meruntuhkan seluruh dunianya.

Beberapa minggu setelah kejadian di kampus hari itu, hari yang ditunggu-tunggu Mira akhirnya tiba. Setelah menumpang sementara di apartemen Chloe dan menyelesaikan seluruh urusan administrasi kuliahnya, Mira resmi pindah ke apartemen kecilnya sendiri yang terletak di kawasan persinggungan kota Paris yang tenang.

Apartemen lantai tiga itu tidak terlalu luas, namun jendela besarnya menghadap langsung ke deretan pepohonan jalanan yang indah. Cahaya matahari sore masuk menyinari ruangan yang masih dihiasi kardus-kardus barang yang baru setengah terbongkar.

Kring!

Pintu apartemen terbuka, memperlihatkan Chloe dan James yang masuk membawa kardus terakhir berisi perlengkapan dapur.

"Penyelamatan terakhir tiba!" seru Chloe seraya meletakkan kardus di atas meja pantry kecil. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan lalu menghembuskan napas lega. "Tempat ini terasa sangat hangat, Mira. Jauh lebih tenang."

James menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan tubuhnya di konter dapur. "Dan yang paling penting, sistem keamanan gedung ini sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk tanpa akses dari penghuni."

Mira tersenyum tulus, sebuat senyuman hangat yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya. Rasa sesak dan bayang-bayang ketakutan yang mengintimidasi dirinya selama beberapa bulan terakhir perlahan mulai mencair. Di tempat kecil ini, ia akhirnya menemukan ruang bernapas yang sepenuhnya milik dirinya sendiri. Tanpa bayang-bayang keluarga Jeon, tanpa intimidasi Sunmi, dan tanpa kecemburuan buta yang merendahkan dari Jungkook.

"Terima kasih ya, kalian berdua..." ujar Mira pelan, menatap Chloe dan James bergantian. "Aku tidak tahu bagaimana melintasi beberapa minggu terakhir ini kalau tidak ada kalian."

"Hei, untuk apa ada sahabat?" balas Chloe hangat seraya merangkul bahu Mira. "Oh ya, bagaimana dengan reaksimu saat pura-pura berpacaran dengan James hari itu? Jungkook benar-benar tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi, kan?"

Mira terdiam sejenak. Nama itu sempat membuat dadanya berdenyut pelan, namun rasa sakitnya tidak lagi setajam dulu.

"Tidak pernah lagi," jawab Mira singkat dan tenang. "Dia benar-benar menghilang."

Memang benar. Sejak hari pengakuan palsu itu, Jungkook seperti ditelan bumi. Pria itu tidak pernah lagi muncul di kampus, tidak pernah menelponnya, dan tidak ada lagi mobil sedan hitam yang terparkir di seberang jalan. Kebohongan yang Mira lontarkan hari itu rupanya menjadi batas mutlak yang berhasil memaksa Jungkook mundur sepenuhnya.

Saat malam mulai melingkupi Paris, Chloe dan James akhirnya pamit pulang.

Mira berdiri sendirian di dekat jendela besar apartemen barunya, menggenggam secangkir cokelat panas. Ia menatap jalanan Paris di bawah sana yang mulai dihiasi lampu-lampu kota. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mira merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Ia siap memulai lembaran baru—lembaran di mana ia menjadi pemegang kendali penuh atas hidup dan kebahagiaannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!