Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pura-pura...

Kami berdua beranjak dari kursi. Berjalan menuju pintu bagian depan bis. Dekat dengan bangku supir.

“Pak kami harus turun” Aku bicara pada supir.

“Mau apa kalian?!” Supir tersebut mendelik.

“Adikku ingin buang air di wc, dia sedang diare” Aku berkata menunjuk Ila.

Ila agak tersentak. Tapi dia diam.

Alis supir menurun sebelah. “Jangan lama-lama”

Aku mengangguk.

Pintu bis dibuka. Aku dan Ila segera turun. Aku terperangah. Suasana pengap mesin campur bising menyeruak di udara lengang. Lebih buruk dari yang dirasakan dalam bis sebelumnya. Orang-orang berseru sebal, pluit petugas dan banyak lagi kericuhan di sekitar.

“Apa rencananya?” Ila bertanya. Menatap padatnya jalan raya.

Aku mulai melangkahkan kaki. Membaur dengan kemacetan. “Berjalan santai seolah tidak ada sesuatu yang terjadi”

Ila menyejajari langkahku. Ikut bergerak menghindari kendaraan yang ada. “Kalau ada yang meminta identitas kita?”

“Ya, bilang aja kalau kita rakyat jelata” Aku balas sembarang.

“Gak logis” Ila membalas lugas.

“Hehe, sebenarnya pikiranku buntu ingin melakukan apa? Tapi sepertinya mereka tidak akan peduli jika melintas di tengah oprasinya”

“Kok, bisa?” Ila bertanya.

“Karena rakyat saja tidak di dengarkan. Apalagi pengemis. Kita menyamar saja jadi pengemis. Tepuk tangan, nyanyi-nyanyi” aku melebarkan senyum.

Ila terperangah. “Bisa saja kau”

“Eit tunggu” Aku mengambil sesuatu di bawah kakiku.

“Ada apa”

“Bungkus permen. Membuat kita semakin terlihat realistis”

Ila menepuk dahi.

Aku sedikit terbahak melihatnya. "Oh iya" Aku mengingat sesuatu. "Mana tongkatmu?"

"Sengaja ku tinggal, beban-bebanin tangan doang"

Aku meng-oh sebagai jawaban.

Langit segera gelap. Bukan hanya karena malam mulai tiba. Tapi awan mendung menutup di langit sana. Kami terus berjalan. Naik ke trotoar. Melewati petugas-petugas bersiluet kemeja biru dongker. Sejauh ini aman. Meski aku hanya memegang bungkus permen kosong. Tapi para petugas yang ku lewati terlihat tidak peduli.

“Kau tahu?” Ila berkata di belakangku.

“Apa?”

“Rias kita sebenarnya agak lusuh karena debu sepanjang jalan”

“Haha. Kayak badut jadinya”

Ila menggeleng. “Ini kalau kena air. Mungkin akan bersih kembali. Tapi tidak dengan makeupnya”

Aku fokus meniti jalan. “Apakah itu buruk?”

Ila mengangkat bahu. “Entah. Tapi aku punya ide lebih cemerlang”

Beberapa meter lagi kami akan melewati titik oprasi identivikasi masal dilakukan. Tepatnya di perbatasan kota. Disana, para petugas memenuhi jalanan dan trotoar. Tidak hanya petugas, Tentara bersenjata juga ikut andil dalam pencarian.

Aku menelan ludah. “Kau begitu berbahaya kah, sampai mereka menurunkan personil kuat seperti tentara?”

“Di dunia deskriminasi. Sebuah potensi bisa menjadi figur suatu tindakan berkedok konstitut” Ila membalas.

Dahiku terlipat. “Aku gak paham”

“Sebuah ancaman sebenarnya tidak selalu menjadi pilihan pidana. Tapi entah ada unsur kebencian atau hal lain, ancaman kekuatan sepertiku bisa membuat undang-undang hukum bergerak membuat hukum yang menargetkan individu” Ila mengatakannya sekali lagi dengan datar.

Yap, aku semakin tidak faham. Terdiam. Terus jalan mengikuti trotoar yang mengarahkan ke gapura pembatas kota. Petugas-petugas terdekat tidak terlihat curiga sama sekali. Bahkan melirik pun tidak.

“Baiklah, kita harus bersikap normal sebaik mungkin” Aku berkata. Mengalihkan pembicaraan.

Terus berjalan. Menahan tegang. Detak jantungku berdetak tidak beraturan. Takut menghuru-hara perasaan. Serasa fokus. Kami berdua senyap tanpa pembicaraan. Ila memegang ujung belakang rompi kostumku. Memastikan tidak tertinggal.

Dua meter mendekati titik oprasi sebenarnya. Beberapa tenda dipasang di sana. Puluhan orang terlihat turun dari kendaraannya, berdiri di sekitar tenda. Petugas membaur. Semua berseragam serupa, warna biru dongker. Mereka memeriksa banyak hal. Isi tas, kantong saku, ada yang di interogasi hingga ada yang di tahan menggunakan borgol manual. Ekspresi orang-orang rata-rata terlihat sebal, ada yang sudah marah-marah, ada yang kebingungan menanggapi petugas. Tidak ada yang luput. Melihat keadaan di jalan raya, kendaraan juga di hentikan. Membuat macet jalan.

Langkahku tertahan. Menelan ludah. Yakin?

“Ayo” Ila menyentuh punggungku. Mendorong perlahan. “Pegang tanganku. Aku akan berpura-pura menjadi orang buta”

Aku mengangguk. Ide ini lebih brilian. Aku segera membuang bungkus permen. Dalam keramaian, suara kami pasti terbungkam. Aku mencengkram tangan Ila. Berusaha berjalan mantap ke depan. Mencoba melewati tenda oprasi.

Satu meter. Dua meter. Hampir di dekat tenda. Mendengar ributnya orang-orang pengguna jalan dengan petugas. Sedikit pengap. Mereka memeriksa semua wanita yang ada. Sejumlah orang terlihat teagang, ada yang sudah marah-marah juga atau bahkan melibatkan lelakinya. Aneh, tidak ada sama sekali petugas yang menenangkan suasana agar lebih terkendali.

“Hey, tahan dua bocah itu!!”

“Baik”

Sial, terdengar derap sepatu bergegas mendekat.

Dua petugas sampai di depanku. “Permisi tuan. Semua rakyat sipil harus melakukan pemeriksaan. Ada keadaan darurat saat ini yang agak mendesak”

Guntur menggelegar. Memecah suasana sesaat.

Aku tersentak. Bagaimana ini.

“Ada apa kak?” Ila bertanya. “Kenapa berhenti berjalan. Mataku sakit kak” Anak itu mulai memainkan perannya.

Aku menoleh ke arah gadis itu di belakang. Bagus Ila. “Sabar dik. Ada pemeriksaan”

Aku balik menatap petugas di depan. “Maaf pak. Adikku harus mendaptkan cairan khusus agar tidak infeksi”

Dua petugas tertegun. “Eee, mungkin pemeriksaan akan berjalan sebentar” Salah satu petugas ingin meraih tangan Ila.

Aku segera menarik lengan gadis itu. Menggeleng tegas. “Tadi juga kami menunggu hampir satu jam di tengah macet. Tapi adikku sudah tidak tahan”

“Kak panas, kak. Mataku panas”

“Kau tidak mendengarnya?” Aku meyakinkan lagi.

Dua petugas di depanku terdiam kebingungan. Akting Ila benar-benar mirip orang buta. Matanya kosong mematung. Jarang berkedip, dan pupil tidak bergerak.

Senggang sementara di tengah keributan.

Tiba-tiba seseorang menyerobot tangan gadis yang kugenggam. Aku tersentak. Dari samping, petugas lain kasar menarik Ila. “Hey” Aku berseru.

“Siapa yang membawaku saat ini, kakak?” Ila masih berpura-pura.

Aku bergegas menghampiri. “Tenang, aku bersamamu dik”

Aku menatap wajah petugas yang membawa Ila. Balik merenggut tangan Ila “Teganya kalian” Mataku melebar.

Petugas tadi terdiam sejenak, langkahnya tertahan. Wajahnya balik tatap ke arahku. Tampak serius. “Hey nak, kami juga tidak mau melakukan tugas arogan ini”

Tiba-tiba ada petugas lain yang mendorong kami dari belakang. Aku terkesima. Apakah itu harus di lakukan? Apa yang mereka pikirkan?

Ila terlihat panik –entah masih dalam akting atau tidak. Kami segera di bawa menuju tenda. Setidaknya terdapat tiga petugas dengan seragam lebih gelap di sana. Satu orang sedang duduk di depan laptop. Dua yang lain –sama seperti petugas baisa, melakukan pemeriksaan pada gadis.

Sampai di tenda. Salah satu petugas berpakaian gelap langsung melirik tajam Ila di sampingku –bersama petugas yang lainnya.

Jujur saja aku agak panik.

Petugas berpakaian gelap itu bergantian melirik ke arahku. “Permisi tuan, apakah kami boleh melakukan pemeriksaan pada gadis ini”

Aku segera melirik ke arah gadis di sampingku. Anak itu mengangguk.

Aku tersentak. “Kau yak_” Ucapanku terpotong. Ila mencengkram tanganku. Tatapannya masih kosong ke depan –dia masih memainkan perannya.

“Aku paham. Mataku memang sakit. Jika pemeriksaan yang kalian maksud benar-benar urgen, lakukanlah dengan rasa tanggung jawab. Apapun itu asal tidak memisahkanku dengan kakakku” Ujar gadis itu.

Senyap dibuatnya. Petugas yang mendengar terkesima.

Aku menelan ludah. Semakin tegang, peluh mulai menetes di pelipis mataku. Kenapa Ila mau? Dia akan ketahuan.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!