Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Janji di Medan Perang
Gurun pasir Karakum malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Angin kering berhembus membawa aroma mesiu dan darah, sebuah kombinasi yang telah menjadi napas Arthur Summers selama lima tahun terakhir.
Di tengah puing-puing markas paramiliter yang masih mengepulkan asap, Arthur berdiri mematung. Pakaian tempur serba hitamnya kotor oleh debu dan cipratan darah musuh. Tangan kanannya menggenggam sebilah belati taktis yang ujungnya masih meneteskan cairan merah gelap, sementara di tangan kirinya, ia memegang sebuah benda yang sangat kontras dengan kehancuran di sekitarnya: sebuah foto usang yang dilaminasi.
Itu adalah foto Elena. Istrinya. Senyum wanita itu di dalam foto selalu menjadi satu-satunya cahaya penuntun bagi Arthur di tengah kegelapan medan perang.
"Area sudah dibersihkan, Jenderal."
Sebuah suara berat memecah kesunyian. Silas Mercer, letnan kepercayaannya di Phantom Vanguard, melangkah mendekat dari balik bayang-bayang reruntuhan beton. Seragam Silas sama kotornya, namun posturnya tetap tegap, memancarkan aura seorang eksekutor yang mematikan.
Arthur tidak segera menjawab. Ia menatap foto itu sejenak lagi sebelum menyimpannya dengan hati-hati ke dalam saku dadanya, dekat dengan jantungnya. Saat ia berbalik, tatapannya yang sedingin es menyapu sisa-sisa pasukannya puluhan prajurit elit yang telah bersumpah setia kepadanya dengan nyawa mereka. Mereka berdiri dalam formasi sempurna, menunggu perintah.
Kekuasaan yang dipegang Arthur saat ini tidak main-main. Ia adalah Jenderal tertinggi, pemimpin mutlak dari pasukan elit rahasia Phantom Vanguard yang ditakuti di dunia bawah tanah dan militer internasional. Jika ia mau, ia bisa menguasai lebih dari sekadar medan perang ini. Arthur pun telah membuat keputusannya.
"Ini adalah misi terakhir," ucap Arthur, suaranya tidak keras, namun bergema di tengah keheningan gurun. "Lima tahun lalu, aku meninggalkan duniaku dan bersembunyi di balik nama Phantom Vanguard. Aku telah membangun kekuatan ini dari nol, menumpas setiap ancaman yang mengintai negara dan kedamaian dunia. Tapi tugasku di sini sudah selesai."
Silas menautkan alisnya, walau ia sudah menduga arah pembicaraan ini. "Anda benar-benar akan pergi, Jenderal? Meninggalkan semua ini?"
"Ya," jawab Arthur tegas. "Dulu, sebelum aku terjerumus ke dalam kehidupan berdarah ini, aku membuat janji pada Elena. Aku berjanji akan kembali kepadanya setelah aku memiliki segalanya, setelah aku bisa menjamin keselamatannya dan masa depan kami. Sekarang, aku memiliki otoritas dan kekuatan. Sudah saatnya aku pulang dan menepati janjiku."
Silas menghela napas panjang, sebuah tanda pasrah yang jarang ia tunjukkan. "Jika itu keputusan Anda, kami tidak akan menghalangi. Tapi izinkan saya memastikan bahwa kepulangan Anda tidak akan menemui kendala. Saya sudah mengatur semuanya di kota. Sebuah posisi aman telah disiapkan untuk Anda di Universitas St. Jude, sesuai permintaan Anda."
Arthur menatap Silas dengan pandangan memperingatkan. "Aku kembali untuk hidup damai bersamanya, Silas. Aku hanya ingin menjadi suami biasa, mungkin seorang dosen sejarah paruh waktu. Jangan melakukan hal-hal yang mencolok. Aku tidak ingin masa laluku menghancurkan kedamaian yang sudah kutunggu-tunggu."
"Tentu, Jenderal," Silas menunduk hormat, walau ada senyum tipis yang sarat makna di sudut bibirnya. Ia tahu betul, pria seperti Arthur Summers tidak akan pernah benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang konflik. "Namun, ketahuilah, Phantom Vanguard akan selalu siap jika Anda memanggil. Kami hanyalah bayangan yang menunggu perintah dari rajanya."
Arthur mengangguk pelan. Ia menepuk bahu Silas, lalu berjalan melewati barisan prajuritnya. Setiap prajurit memberikan hormat militer dengan sempurna, beberapa di antaranya tampak menahan haru melihat kepergian sang komandan legendaris.
Sebuah helikopter militer hitam tanpa tanda pengenal sudah menunggu di landasan pacu darurat. Baling-balingnya berputar lambat, memecah kesunyian malam.
Arthur melangkah naik, menatap gurun Karakum untuk terakhir kalinya. Ia telah menjadi dewa perang di tanah gersang ini, namun kini, ia siap menanggalkan mahkotanya demi cinta.
Helikopter itu lepas landas, menembus awan gelap, membawa sang Jenderal kembali ke kehidupan lalunya. Ia membayangkan pelukan hangat Elena, membayangkan bagaimana wanita itu akan terkejut melihat kepulangannya. Arthur tersenyum tipis.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...