Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Sinar matahari pagi menyengat kulit saat Gibran melangkah keluar dari lobi hotel bintang limanya. Ia merenggangkan kedua lengannya yang terasa sangat ringan dan bertenaga setelah tidur nyenyak.

Sebuah truk kargo berukuran sedang berwarna putih sudah terparkir rapi tepat di depan pintu putar hotel. Seorang sopir berseragam abu-abu bergegas turun dan membungkuk hormat ke arah Gibran.

"Selamat pagi Tuan Gibran, Nona Aurel menugaskan saya untuk menjadi sopir pribadi Anda hari ini," sapa pria paruh baya itu dengan ramah.

"Pagi, Paman. Langsung saja kita meluncur ke Pasar Loak Batu Kumuh di ujung utara kota," jawab Gibran sambil melompat naik ke kursi penumpang depan.

Sopir itu terlihat sedikit ragu namun tetap menganggukkan kepalanya tanda patuh.

Brumm.

Truk kargo itu perlahan meninggalkan area pusat kota yang megah menuju kawasan pinggiran yang berdebu. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam melewati jalanan berlubang yang membuat truk berguncang keras.

"Kita sudah sampai Tuan, tapi tempat ini benar-benar tidak cocok untuk pria berpenampilan rapi seperti Anda," ucap sopir itu sambil menunjuk ke luar jendela.

Gibran menatap hamparan tenda terpal biru yang kumal dan jalanan tanah becek di depannya. Suara teriakan pedagang asongan dan bau amis lumpur langsung menyengat hidungnya begitu ia membuka pintu truk.

"Tetap tunggu di sini Paman, buka pintu belakang truknya dan bersiaplah memuat barang," perintah Gibran sambil melompat turun menghindari genangan air kotor.

Gibran sengaja tidak memakai jas mahalnya hari ini. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana jins yang nyaman untuk bergerak bebas.

Langkah kakinya menyusuri lorong sempit di antara pedagang kaki lima yang menggelar tikar di atas tanah basah. Batu-batu alam berbagai ukuran ditumpuk sembarangan seperti gundukan sampah yang tidak berharga.

"Ayo dipilih Tuan Muda! Batu sungai asli berkhasiat tinggi! Beli sepuluh gratis satu!" teriak seorang nenek tua dari pinggir jalan.

Gibran hanya membalasnya dengan senyum tipis lalu mengaktifkan kemampuan matanya.

Sring.

[Pemindaian area pasar loak dimulai.]

[Kualitas: Pasir padat. Nilai: Nol rupiah.]

[Kualitas: Batu kali biasa. Nilai: Lima ribu rupiah.]

Notifikasi sistem terus berdengung di dalam kepala Gibran mengonfirmasi bahwa tempat ini memang penuh dengan sampah sungguhan. Namun Gibran tidak menyerah karena instingnya mengatakan selalu ada permata yang terlewatkan di tempat paling kotor sekalipun.

Ia terus berjalan ke bagian paling ujung pasar yang sepi pembeli. Di sana, seorang pedagang pria paruh baya berkumis tebal sedang duduk bersantai sambil menghisap rokok kretek.

Pria itu duduk di atas sebuah batu besar berwarna abu-abu kusam yang bentuknya ceper seperti kursi melingkar. Di depannya tergelar terpal berisi ratusan batu hitam kecil yang sudah dipoles mengkilap.

Gibran menatap tumpukan batu mengkilap itu dan sistem langsung memberikan analisisnya.

[Kualitas: Batu sungai dicat lilin. Nilai: Nol rupiah.]

Gibran baru saja akan berbalik pergi, namun ekor matanya menangkap sebuah cahaya putih kebiruan yang sangat terang menyilaukan. Cahaya itu tidak berasal dari batu dagangan yang mengkilap tersebut.

Cahaya magis itu memancar kuat dari batu abu-abu kusam yang sedang diduduki oleh pedagang berkumis itu.

[Peringatan! Fluktuasi energi dewa terdeteksi dalam jarak dekat!]

[Kualitas: Inti Giok Salju Surgawi Tanpa Cacat. Usia material: Seribu tahun. Nilai taksiran dasar: Sepuluh miliar rupiah!]

Jantung Gibran serasa berhenti berdetak selama satu detik membaca deretan angka nol dari sistemnya. Sepuluh miliar rupiah diduduki begitu saja seolah itu adalah kursi taman murahan.

Gibran menarik napas panjang untuk menyembunyikan kegembiraannya yang luar biasa agar wajahnya tetap terlihat datar. Ia melangkah santai menghampiri lapak pedagang berkumis itu sambil berjongkok melihat-lihat batu palsunya.

"Silakan Tuan Muda, batu-batu ini baru saja ditambang dari lereng gunung suci bulan lalu," sapa pedagang itu dengan senyum licik yang dibuat-buat.

"Warnanya sangat hitam dan mengkilat, energi di dalamnya pasti sangat bagus untuk kesehatan Tuan," rayunya lagi sambil memamerkan gigi kuningnya.

Gibran mengambil satu batu kecil dan memainkannya di telapak tangan sambil memasang wajah orang kaya yang bodoh.

"Batu yang bagus Paman. Berapa harga satu biji batu hitam kecil ini?" tanya Gibran dengan nada polos.

Pedagang itu langsung menelan ludah melihat jam tangan perak seratus juta yang melingkar di pergelangan tangan Gibran. Otak licik pedagang itu langsung bekerja keras untuk meraup keuntungan maksimal dari mangsa empuk di depannya.

"Untuk Tuan Muda yang tampan ini, harganya cukup lima ratus ribu saja per batunya," jawab pedagang itu memasang harga seratus kali lipat lebih mahal.

Gibran terkekeh pelan di dalam hatinya melihat kerakusan pria tua bangka tersebut.

"Lima ratus ribu? Itu terlalu murah untuk batu sebagus ini Paman, aku ingin memborong seratus batu dari lapakmu," ucap Gibran dengan suara lantang.

Mata pedagang berkumis itu langsung melotot lebar nyaris keluar dari kelopaknya. Seratus batu berarti lima puluh juta rupiah secara tunai.

"B-benar Tuan Muda mau memborong seratus batu? Saya akan bungkuskan sekarang juga!" seru pedagang itu dengan tangan bergetar saking senangnya.

Pria itu buru-buru mengambil karung beras kosong dan mulai memasukkan batu-batu palsunya ke dalam karung.

Srek srek srek.

Gibran berdiri perlahan dan menatap berkeliling seolah sedang mencari sesuatu yang kurang.

"Tapi Paman, aku butuh sebuah hiasan besar untuk menaruh seratus batu kecil ini di taman rumahku," ucap Gibran berpura-pura bingung.

"Taman rumahku bergaya alam liar, jadi aku butuh batu yang bentuknya jelek dan besar sebagai alasnya," lanjut Gibran menyampaikan umpan pancingannya.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!