Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKADEMI TANPA BATAS DAN PETUNJUK MELODINA
Matahari pagi menyinari Kota Suaka Solaria dengan kehangatan yang lembut. Setelah penataan pemukiman dan stabilitas ekonomi berjalan sempurna, Alan menyadari satu hal penting yang harus segera disiapkan untuk masa depan kerajaannya: pendidikan.
Di taman belakang istana, Alan memperhatikan anak-anak penyintas dari berbagai ras—manusia, Elf bertelinga lancip, dan Beastkin bertelinga kucing—yang sedang bermain kejar-kejaran. Mereka memiliki potensi yang sangat besar, namun trauma masa lalu dan ketiadaan akses sekolah membuat bakat mereka terendam begitu saja.
Hari itu juga, Alan memanggil seluruh menteri dan pengikut utamanya ke aula istana untuk mengumumkan pembentukan Akademi Solaria—sebuah lembaga pendidikan megah tempat siapa saja, dari ras apa pun, status sosial mana pun, serta ada atau tidaknya bakat sihir, bebas belajar secara cuma-cuma.
Untuk memastikan kualitas pendidikan terbaik di benua ini, Alan menunjuk pengajar-pengajar tingkat atas:
* Akami, sang Penyihir Agung, ditunjuk sebagai Kepala Akademi sekaligus pengajar utama Teori Sihir dan Pengetahuan Alam.
* Zero dan Kayy memimpin Departemen Ketangkasan Fisik dan Seni Pertahanan Diri.
* Para cendekiawan bijak dari kaum Elf dan manusia penyintas direkrut untuk mengajar sejarah, literasi, dan seni.
"Melodina, aktifkan Otoritas Konstruksi. Bangun kompleks Akademi Solaria di area utara kota," perintah Alan dalam hati.
[Perintah diterima. Memulai manifestasi Akademi Solaria...]
BRAYYY!
Cahaya keemasan membumbung tinggi di area utara Kota Suaka. Dalam sekejap mata, sebuah kompleks bangunan marmer putih beratap biru megah tercipta secara instan! Kompleks itu dilengkapi dengan perpustakaan raksasa yang menampung ribuan buku pengetahuan, ruang kelas berteknologi kristal sihir, serta lapangan latihan fisik yang sangat luas dan aman.
Pengumuman dibukanya Akademi Solaria disambut dengan tangis haru dan sorak-sorai riuh dari seluruh warga kota. Bagi para penyintas, ini adalah impian yang tak pernah berani mereka bayangkan sebelumnya.
Keesokan harinya, hari pertama masuk sekolah tiba. Ribuan anak dari berbagai ras melangkah ceria menuju gerbang Akademi Solaria dengan membawa tas-tas kecil mereka.
Di dalam istana, Sena sedang berdiri di dekat jendela, mengintip anak-anak yang berjalan gembira di jalanan kota. Mata bulatnya berbinar-binar penuh rasa iri dan penasaran.
Sena memutar tubuhnya, melangkah kecil menghampiri Alan yang sedang menikmati teh pagi. Jemari mungilnya menarik-narik ujung jubah Alan dengan pelan.
"Ayah..." cicit Sena memanyunkan bibirnya gemas.
Alan mendongak seraya tersenyum. "Kenapa, Sena?"
"Sena... mau ikut sekolah juga," ujar Sena polos dengan mata mengedip-edip penuh harap. "Mau bawa tas... mau punya banyak teman..."
Alan tertegun sejenak. Ia sangat mendukung keinginan Sena untuk bersosialisasi dan tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Namun, Alan sadar betul bahwa Sena adalah manusia seratus persen biasa tanpa sirkulasi sihir sedikit pun. Di dunia yang dipenuhi sihir dan ketangkasan ini, ada sedikit keraguan di hati Alan mengenai kenyamanan dan keamanan keponakan kesayangannya itu.
Alan tidak langsung menyahut atau bertanya pada orang lain. Sebaliknya, ia memejamkan mata dan berkonsultasi secara internal dengan Asisten Sistem Utamanya.
"Melodina, bagaimana analisis sistem mengenai Sena yang ingin bersekolah di Akademi?" tanya Alan di dalam benaknya.
WUSHHH.
Layar transparan berornamen keemasan yang hanya bisa dilihat oleh Alan langsung mengembang di ruang penglihatannya, disusul suara jernih dan menenangkan dari Melodina yang bergema di kepala Alan.
[Memulai Analisis Komprehensif Entitas: Sena...] suara Melodina terdengar sangat jelas.
[Hasil Analisis Psikologis: Keinginan Sena untuk bergabung di Akademi Solaria sangat positif untuk interaksi sosial dan perkembangan mental anak seusianya. Hal ini akan mencegah Sena merasa terisolasi di dalam lingkungan istana yang serba formal.]
Alan mengangguk pelan dalam hati. "Bagaimana dengan faktor keamanannya, Melodina? Sena sama sekali tidak punya sihir untuk melindungi diri kalau ada kecelakaan saat latihan fisik atau manipulasi sihir anak-anak lain."
[Penjelasan Keamanan Sistem Otoritas:] jawab Melodina dengan nada penuh kepastian. [Seluruh area Akademi Solaria telah terintegrasi seratus persen ke dalam Perisai Otoritas Absolut. Sistem secara otomatis akan menetralisir setiap potensi bahaya fisik, ledakan sihir tak sengaja, atau gangguan lingkungan sebelum dapat menyentuh Sena. Keamanan Nona Sena dijamin mutlak 100% oleh Domain Anda.]
[Rekomendasi Tambahan Sistem: Untuk kenyamanan ekstra dan pengawasan jarak dekat, Tuan Alan dapat menyertakan Yumi untuk mendampingi Sena secara langsung di area kelas.]
Mendengar penjelasan detail, analisis logis, serta jaminan keamanan mutlak dari Melodina, seluruh keraguan di hati Alan seketika sirna tanpa sisa. Keberadaan Melodina sebagai panduan sistem memang tak pernah mengecewakannya.
"Terima kasih, Melodina," bisik Alan dalam hati.
[Sama-sama, Tuan Alan. Sistem selalu siap melayani Anda,] sahut Melodina sebelum layar keemasan itu memudar pelan.
Alan membuka matanya, menatap wajah polos Sena yang masih menunggu jawaban dengan mata bulatnya yang berkedip-kedip. Alan terkekeh pelan, mengelus rambut hitam Sena dengan hangat.
"Baiklah, Sena boleh sekolah!" ucap Alan tersenyum lebar. "Tapi Yumi ikut mendampingi Sena di kelas ya, supaya Sena makin nyaman."
"Yaaay! Makasih, Ayah!" jerit Sena kegirangan seraya melompat dan memeluk leher Alan.
Yumi yang berdiri di samping Alan membungkuk anggun dengan senyuman hangat. "Hamba siap melaksanakan tugas, Tuan Alan. Hamba akan memastikan Nona Sena menikmati hari-harinya di akademi."
Beberapa jam kemudian, di Kelas Dasar Akademi Solaria.
Ruang kelas yang luas dan harum aroma kayu sihir itu dipenuhi oleh belasan anak-anak berumur lima hingga enam tahun. Ada anak manusia, anak Elf bertelinga lancip, dan anak Beastkin bertelinga serigala yang duduk berpasangan di meja-meja kayu melingkar.
Pintu kelas terbuka pelan. Akami melangkah masuk dengan senyuman hangat, diikuti oleh Sena yang mengenakan seragam sekolah kecil berwarna biru-putih lengkap dengan tas mungil di punggungnya. Dan tepat di samping Sena, Yumi berjalan dengan keagungan seorang Kepala Pelayan, berdiri tenang di sudut ruangan untuk mengawal sang putri.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru," sapa Akami lembut.
Sena berdiri di depan kelas. Meskipun tanpa kemampuan sihir sedikit pun, keberadaan Sena yang bersih, bersahaja, dan didampingi oleh Yumi membuat seluruh anak di dalam kelas menatapnya dengan rasa kagum dan takjub.
Sena mengedipkan matanya, lalu mengulurkan kedua tangan mungilnya dan memamerkan senyuman manisnya yang paling cerah.
"Halo semuanya! Nama aku Sena... ayo jadi teman Sena!" seru Sena riang.
Kehangatan dan kepolosan Sena langsung mencairkan seluruh rasa canggung di dalam kelas. Seorang anak Beastkin bertelinga kucing melambaikan tangannya gembira. "Nona Sena! Duduk di sini sama aku!"
"Sena, ayo duduk di sebelah sini!" timpal seorang anak Elf dengan mata berbinar.
Sena tertawa gembira, berlari kecil menghampiri meja teman-teman barunya dan mulai mengobrol dengan riang.
Di sudut ruangan, Yumi berdiri menyandarkan jemarinya penuh kebanggaan. Sementara dari balik kristal pelindung transparan di atas atap kelas, Alan duduk melayang tak terlihat bersama Zero, memperhatikan keponakan kesayangannya yang kini telah menemukan kebahagiaan barunya di tengah kedamaian Solaria.