Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad Baru Galang Dan Tolakan 22.
Hening yang tercipta di koridor sayap barat siang itu terasa begitu pekat.
Galang mematung di tempatnya berdiri, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh saat kalimat terakhir Livy masih berdengung kejam di telinganya.
"Kamu minta saya jauh-jauh dari hidup kamu, kan? Ini yang kamu mau, Galang. Saya turutin keinginan kamu sekarang."
Livy berbalik, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Langkah gadis itu terdengar konstan, meninggalkan Galang yang didera sesak luar biasa. Dadanya bergemuruh oleh penyesalan terhebat yang pernah ia rasakan sepanjang tujuh belas tahun hidupnya. Keegoisannya, benteng tinggi yang sengaja ia bangun untuk menolak kehadiran Livy yang selama ini mengejarnya dengan ugal-ugalan akhirnya runtuh total.
Detik itu juga, di bawah lampu koridor sekolah yang berpendar temaram, Galang bersumpah pada dirinya sendiri "Saya janji akan mengejar balik kamu Liv, sejauh apa pun kamu pergi, saya akan membawamu pulang" Katanya penuh tekad.
**
POV Hanafi.
Aroma kuah soto yang mengepul dari mangkuk di depan Livy perlahan mendingin.
Dari seberang meja kantin sana, ada Hanafi yang sedang memperhatikan setiap gerak-gerik Livy.
Livy tidak benar-benar makan. Dia hanya mengaduk-aduk bihun di dalam mangkuknya dengan pandangan kosong. Matanya sedikit sembap, adalah sisa dari ketegangan antara Livy dengan Galang saat berada di koridor.
Hanafi tahu ada yang patah di dalam diri gadis yang ada di depannya.
"Habisin, Liv. Nanti kamu sakit loh," ujar Hanafi lembut, sengaja menaruh segelas es teh manis lebih dekat ke jangkauannya.
Livy tersentak kecil, lalu tersenyum tipis yang kelihatan sangat dipaksakan. "Eh, iya, Naf. Ini lagi dimakan kok."
Livy menyuap satu sendok kecil, mengunyahnya lambat seperti sedang menelan batu koral.
Hanafi menahan diri untuk tidak bertanya tentang Galang. Hanafi tahu reputasi cowok itu, dan dia tahu bagaimana gilanya Livy mengejar bajingan tidak tahu untung itu selama bertahun-tahun. Melihat Livy yang biasanya ceria dan keras kepala menjadi sejinak dan selayu ini, ada rasa tidak rela yang perlahan membakar dada Hanafi akhir-akhir ini.
Begitu mangkuknya bergeser tanda Livy sudah selesai makan, Hanafi segera berdiri. "Ikut saya sebentar yuk, Liv. kita cari angin sebentar, di sini agak pengap."
Livy hanya mengangguk pasrah. "Oh iya boleh."
Mereka berjalan beriringan menyusuri selasar menuju gedung sekolah paling pojok dan anak tangga.
Sepanjang jalan, Hanafi sengaja mengambil posisi di sisi luar, melindunginya dari sengatan matahari siang yang menembus celah kanopi. Sesuatu yang mungkin tidak pernah disadari Livy, karena fokusnya selalu tertuju pada punggung cowok lain.
"Naf? Kenapa?" Livy menatap Hanafi bingung. Mata yang bulat itu terlihat tampak lelah.
Hanafi menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang biasanya ia gunakan saat berhadapan dengan kepala sekolah atau perwakilan dinas sebagai ketua osis sekolah ini.
Namun, menghadapi Livy dalam jarak sedekat ini membuat jantung Hanafi berdegup jauh lebih liar.
Di rooftop sekolah tempat Hanafi membawa Livy pergi dari kantin, Suara Hanafi bahkan sengaja ditekan agar tetap terdengar tenang dan stabil, menyembunyikan gemuruh di dalam dada.
Livy mengernyitkan dahi bingung dengan kelakukan ketua OSIS di depan nya ini.
Hanafi membalikkan tubuhnya perlahan agar dia menghadap sepenuhnya ke arah Livy.
Di rooftop yang sunyi ini. Hanafi menatap langsung ke dalam manik matanya Livy, mencoba menyalurkan seluruh ketulusan yang ia miliki.
"Saya mau kamu berhenti ngeliat ke belakang, Liv. Saya mau kamu berhenti ngejar orang yang sengaja jalan cepat biar kamu ketinggalan," kata Hanafi tajam namun lembut. "Saya ada di sini. Di samping kamu. Selama ini saya selalu merhatiin kamu"
Livy tampak terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, terkejut dengan arah pembicaraan ini.
"Livy, saya suka sama kamu." Hanafi menarik napas dalam, memantapkan langkah yang sudah terlanjur kuambil. "Izinkan saya jagain kamu. Kamu nggak perlu caper atau berjuang sendirian lagi seperti yang sudah-sudah. Will you be my girlfriend? Jadi pacar saya, Liv." Tembak Hanafi.
Hening langsung menyergap atap sekolah itu. Hanafi bahkan bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Livy—terkejut, lalu bersalah, dan perlahan berubah menjadi gundah gulana.
Dia melepaskan tangannya dari genggaman Hanafi dengan perlahan, sebuah gestur kecil yang langsung menghantam dada Hanafi dengan rasa ngilu yang terprediksi.
Gadis itu menunduk, menatap sepatu sekolahnya yang bersih, sebelum akhirnya mendongak dan menatapku dengan tatapan penuh sesal.
"Naf... maaf," suaranya lirih, hampir berbisik.
Hanafi memaksakan diri untuk tersenyum, meski rasanya hambar. "Kenapa minta maaf?"
"Saya... saya nggak bisa, Naf," Livy meremas ujung seragam batiknya ragu-ragu. "Bukannya kamu nggak baik. Kamu cowok paling bertanggung jawab dan baik yang pernah saya kenal di sekolah ini. Tapi, kita udah kelas dua belas. Ujian Nasional tinggal beberapa bulan lagi. Saya... Saya pengen fokus belajar dulu. Saya mau ngejar nilai buat masuk PTN impian saya."
Alasan klasik. Alasan yang sangat aman dan rasional, tipikal jawaban yang keluar dari murid teladan. Namun, Hanafi tahu ada dinding tak kasat mata yang sedang dia bangun.
Hanafi tahu, alasan sebenarnya bukan hanya tentang Ujian Nasional. Ada nama Galang yang masih menyumbat di hati Livy, meski baru saja gadis itu menyatakan menyerah di koridor tadi. Livy yang katanya hanya sedang kelelahan, dan hatinya terlalu mati rasa untuk menerima orang baru saat ini.
Hanafi menelan ludah, mencoba mengusir rasa kecewa yang mulai merayap naik ke tenggorokan.
Sebagai Ketua OSIS, Hanafi terbiasa menerima penolakan proposal atau kritik, tapi penolakan dari gadis yang ia sukai ternyata memiliki level rasa sakit yang berbeda.
"Fokus Ujian Nasional, ya?" Hanafi mengulang kalimatnya dengan nada bergumam, lalu mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyum termanis yang bisa ia berikan. "Okey, saya paham. Pilihan yang bijak, Liv. Masa depan emang lebih penting."
Livy mendongak, matanya memancarkan rasa bersalah yang amat besar. "Kamu nggak marah kan, Naf? Kita... kita tetap bisa jadi teman seperti biasa kan?"
"Tentu saja," jawab Hanafi cepat, menepuk bahunya pelan untuk mencairkan ketegangan. "Saya tetep Hanafi yang kamu kenal. Nggak usah merasa nggak enak. Yuk, balik ke kelas... Bentar lagi bel masuk berbunyi."
Livy tampak bernapas lega. Dia tersenyum, kali ini sedikit lebih tulus, lalu berjalan mendahului Hanafi menuju pintu luar.
Hanafi berjalan di belakangnya, menatap punggung kecil itu dengan perasaan campur aduk.
Hanafi tahu Livy berbohong soal alasan Ujian nasional itu. Dan Hanafi juga tahu, di luar sana, Galang mungkin sedang merencanakan sesuatu setelah sadar telah kehilangan berlian berharga nya.
Hanafi tersenyum nyelekit, mulai detik ini juga ia menerima pernyataan pahit ini dengan sehat dan jantan.
......................
...****************...
Tbc,