Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
KESABARAN YANG HABIS
Berhari-hari menahan sabar karena perlakuan mereka berdua.Menjadi batas terakhir bagi Nadira.
Sejak pagi, Bu Ratih dan Rani terus memberinya pekerjaan.
“Nadira, tolong buatkan teh.”
Belum selesai membuat teh, Rani memanggil.
“Kak, setrika bajuku.”
Setelah itu Bu Ratih kembali memanggil dari ruang makan.
“Meja makan belum dibersihkan.”
Nadira menarik napas panjang.
“Iya, Bu.”
Ia mencoba bersabar.
Namun ketika sore tiba, tubuhnya benar-benar terasa lelah.
Nadira baru saja duduk ketika Rani datang membawa tumpukan pakaian.
“Ini juga tolong dilipat.”
Nadira menatap pakaian itu.
“Rani, aku dari pagi belum berhenti.”
“Terus?”
“Aku capek.”
Rani mengangkat bahu.
“Aku juga capek.”
“Kamu bisa mengerjakannya sendiri.”
Rani langsung berubah sinis.
“Sekarang kamu berani menyuruhku?”
Nadira berdiri.
“Aku tidak menyuruhmu. Aku hanya bilang aku tidak mau terus diperlakukan seperti pembantu.”
Bu Ratih yang mendengar suara mereka langsung datang.
“Ada apa?”
Rani segera memasang wajah sedih.
“Kak Nadira marah karena aku minta bantuan.”
Nadira menatap Rani tak percaya.
“Jangan memutarbalikkan fakta.”
Bu Ratih langsung membela putrinya.
“Rani hanya meminta bantuan.”
“Seharian saya membantu, Bu!”
Suara Nadira meninggi.
“Saya memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus semuanya. Saya tidak pernah mengeluh.”
“Lalu sekarang kamu mau mengungkitnya?”
Nadira terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Saya bukan pembantu di rumah ini.”
Bu Ratih menatapnya dingin.
“Kalau kamu tidak mau membantu keluarga, jangan berharap keluarga akan menerimamu.”
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir.
Nadira tertawa getir.
“Jadi selama ini aku harus bekerja supaya diterima?”
“Nadira!”
“Tidak, Bu!”
Untuk pertama kalinya Nadira tidak mundur.
“Aku sudah cukup diam!”
Rani ikut menyela.
“Kau selalu merasa paling menderita.”
Nadira menoleh.
“Karena kalian tidak pernah mau melihat apa yang kalian lakukan!”
Suasana menjadi panas.
Bu Ratih kemudian mengambil sesuatu dari meja dan menjatuhkannya.
“Aduh!”
Nadira terkejut.
“Ibu!”
Bu Ratih memegang lengannya sendiri sambil meringis.
Rani langsung berteriak.
“Ibu!”
Nadira membeku.
“Aku tidak menyentuh Ibu.”
Namun Bu Ratih menangis.
“Tadi kau mendorong Ibu…”
“Apa?”
Nadira semakin tidak percaya.
“Aku tidak pernah menyentuh Ibu!”
Tepat saat itu, pintu depan terbuka.
Arga pulang lebih cepat.
“Ada apa?”
Rani langsung berlari kepadanya.
“Kak!”
Arga melihat ibunya.
“Ibu kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Bu Ratih dengan suara lemah.
Arga menatap Nadira.
“Nadira?”
Nadira menahan air mata.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Rani menangis.
“Kak Nadira marah dan Ibu terkena…”
“Diam, Rani.”
Arga menatap adiknya tajam.
“Aku tanya Nadira.”
Nadira menatap suaminya.
“Aku memang marah.”
Arga diam.
“Tapi aku tidak menyentuh ibumu.”
Bu Ratih tiba-tiba berkata,
“Sudahlah, Arga. Jangan salahkan Nadira.”
Kalimat itu justru membuat keadaan semakin buruk.
Arga menatap ibunya.
“Ibu bilang Nadira menyakiti Ibu?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa Ibu seperti ini?”
Bu Ratih menunduk.
“Aku mungkin hanya salah langkah.”
Nadira langsung berkata,
“Tidak. Ibu sengaja membuat ini terlihat seperti kesalahanku.”
Arga menatapnya.
“Nadira.”
“Aku sudah cukup!”
Air mata Nadira akhirnya jatuh.
“Setiap kali aku diam, mereka semakin berani. Aku disuruh mengerjakan semuanya ketika kamu tidak ada. Mereka memperlakukanku seperti pembantu.”
Arga terdiam.
Rani langsung membantah.
“Itu tidak benar!”
Nadira menatapnya.
“Kamu mau aku ceritakan semua?”
Rani mendadak diam.
Arga melihat wajah adiknya.
Kemudian melihat ibunya.
Perlahan, ekspresi Arga berubah.
Ia tidak langsung mempercayai siapa pun.
Namun kali ini, ia juga tidak langsung menyalahkan Nadira.
“Aku akan cari tahu semuanya.”
Bu Ratih menatap putranya.
“Arga…”
“Cukup, Bu.”
Suara Arga tenang.
Terlalu tenang.
“Jangan buat aku memilih antara percaya kepada keluargaku atau istriku.”
Ia menatap ibunya.
“Karena kalau kebohongan ini terbukti…”
Arga berhenti sejenak.
“…aku tidak akan memaafkan siapa pun yang sengaja menghancurkan rumah tanggaku.”
Nadira menatap Arga dengan air mata masih mengalir.
Untuk pertama kalinya, Arga tidak pergi begitu saja.
Ia tetap berdiri di sana.
Mencari kebenaran.
Dan kali ini, Bu Ratih mulai takut.
Karena permainan yang selama ini ia lakukan tanpa sepengetahuan Arga…
perlahan mulai terbongkar.