Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Keanu membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju kamarnya usai mengambil buku catatan dari Bunga. Namun, tepat ketika jemarinya hendak memutar gagang pintu, sebuah suara berat menghentikan gerakannya seketika.
"Jadi kalian pisah kamar?"
Tuan Alexander berdiri tegak di ujung koridor dengan raut wajahnya yang memerah menahan amarah. Pandangan matanya tertuju tajam pada Keanu yang baru saja keluar dari kamarnya Bunga dan hendak masuk ke kamarnya sendiri.
Keanu menelan ludahnya yang terasa kesat. Pikirannya berputar cepat, tak habis pikir sang ayah akan memergoki situasi ini secara langsung.
"Pah, pernikahanku dan Bunga itu atas dasar keterpaksaan dan menjalankan wasiat dari Azka. Tidak perlulah sampai aku satu kamar dengannya!" tangkis Keanu berusaha membela diri, mempertahankan benteng pertahanannya.
Tuan Alexander menghela napas panjang dengan helaan berat yang geram. Langkah kakinya mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
"Itu menurutmu, Keanu! Tapi di mata agama dan hukum, kau itu adalah suami sahnya Bunga!" bentak Tuan Alexander dengan nada penuh penekanan. "Kau harus bisa menafkahinya lahir dan batin! Pokoknya Papah tidak mau tahu, mulai malam ini kau dan Bunga tidur satu kamar dan kalian akan menempati kamar utama di rumah ini. Sekarang juga, pindahkan semua barang-barang kalian!"
Keanu mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Pah, tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, Keanu!" pangkas Tuan Alexander tak tertandingi. "Ini perintah Papah!"
Pintu kamar Bunga kembali terbuka pelan. Bunga yang mendengar kegaduhan di luar tampak berdiri ragu di ambang pintu, menatap mertua dan suaminya dengan raut bingung sekaligus cemas.
Tuan Alexander menoleh pada Bunga, lalu raut wajahnya melunak hangat seketika. "Bunga, Nak... mulai malam ini kamu pindah ke kamar utama bersama Keanu, ya. Biar Bik Ratih dan para ART yang bantu kemasi barang-barangmu."
Bunga tersentak, matanya membulat menatap Keanu yang kini memalingkan wajah dengan rahang mengeras rapat. Bunga menggerakkan jemarinya ragu, mencoba menolak secara halus karena tahu betul betapa Keanu membenci keberadaannya, namun Tuan Alexander segera menepuk bahunya pelan, menandakan keputusan itu tak lagi bisa diganggu gugat.
Akhirnya, Keanu dan Bunga tak bisa berbuat banyak. Keduanya hanya bisa pasrah menunduk di hadapan keputusan mutlak Tuan Alexander, pemegang kekuasaan tertinggi di keluarga itu, sosok ayah yang perintahnya tak pernah berani dilanggar oleh Keanu
Malam kian melarut saat Bunga dan Keanu kini benar-benar berada di dalam kamar utama yang luas. Keheningan yang menyiksa terasa begitu pekat menyelimuti ruangan tersebut. Keanu melirik ke arah Bunga yang sedang duduk termenung di tepi ranjang dengan kepala menunduk pasrah, meremas jemarinya sendiri.
Keanu menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat. "Kau tidur di ranjang ini, biar aku tidur di sofa. Aku tidak mau sampai nanti Papah menyalahkan aku lagi karena keegoisanku yang memintamu tidur di sofa."
Mendengar hal itu, Bunga segera bangkit dari duduknya. Ia menatap Keanu dan menggerakkan jemarinya, mengisyaratkan meminta buku catatan kecil yang tadi dikantongi oleh suaminya. Keanu yang mulai paham langsung merogoh saku jasnya dan menyerahkan buku beserta pulpen tersebut.
Dengan sigap, Bunga menorehkan tinta di atas kertas lalu mengarahkannya ke depan dadanya Keanu
'Kak Keanu tidur di tempat tidur saja, biar aku yang tidur di sofa!'
Keanu membacanya sekilas, lalu berdecak pelan. "Kau jangan keras kepala, Bunga! Kau tidur di atas ranjang dan aku di sofa, titik!" perintahnya mutlak tanpa membantah.
Bunga akhirnya mengangguk pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan pria sekeras Keanu.
Merasa tubuhnya lengket setelah seharian beraktivitas, Keanu berbalik dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepeninggal Keanu, Bunga berinisiatif mengambil piyama tidur dari dalam lemari. Walau bagaimanapun, Keanu kini adalah suami sahnya dan sudah menjadi kewajibannya untuk melayani kebutuhan sang suami. Ia meletakkan piyama itu di atas ranjang.
Setelah itu, Bunga perlahan melepaskan hijabnya, membiarkan rambut hitam panjangnya yang halus tergerai bebas hingga pinggang. Ia melangkah menuju meja rias, duduk di kursi, lalu mulai menyisir rambutnya perlahan sembari menatap pantulan dirinya di cermin.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Keanu melangkah keluar sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Pria itu bertelanj4ng dada, hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggang dari area perut hingga sebatas lutut.
Bunga yang mendengar suara pintu refleks menoleh, bersamaan dengan Keanu yang menghentikan langkahnya. Seketika, pandangan mata mereka bertemu dan terkunci. Baik Keanu maupun Bunga saling menatap tak berkedip dalam keheningan yang mendadak terasa membeku.
Untuk pertama kalinya, Keanu melihat penampilan Bunga tanpa hijab yang selalu menutup kepalanya. Tatapan dingin pria itu perlahan goyah. Mahkota rambut hitam pekat milik Bunga tergerai indah, tampak begitu kontras membingkai kulit leher dan wajahnya yang putih seputih susu, memancarkan pesona polos yang teramat cantik.
Di sisi lain, jantung Bunga berdegup kencang saat matanya menangkap bentuk tubuh Keanu. Pria itu memiliki perawakan atletis berotot dengan bahu yang tegap, serta deretan otot perut yang terbentuk sempurna bagaikan roti sobek.
Selama beberapa detik, atmosfir kamar terasa berdesir hebat. Namun, begitu menyadari apa yang sedang mereka lakukan, kesadaran menghantam keduanya seketika. Baik Keanu maupun Bunga spontan saling membuang muka. Keanu berdehem canggung memalingkan wajahnya ke arah dinding, sementara Bunga buru-buru menunduk dalam dengan rona merah padam yang kini menjalar hingga ke punggung telinganya.
Dengan canggung, Keanu berdehem pelan untuk memecah keheningan yang semakin menghimpit. Tanpa memandang ke arah Bunga, ia melangkah cepat mengambil piyama tidur yang sudah disiapkan wanita itu di atas ranjang.
"Terima kasih piyamanya," gumam Keanu sangat pelan, hampir tak terdengar. Tanpa membuang waktu, pria itu berbalik dan kembali masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.
Bunga menghela napas panjang yang sempat tertahan. Jemarinya yang gemetar kembali memegang sisir, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak karuan. Rona merah di pipinya masih terasa hangat, membuat gadis itu meremas jemarinya sendiri di depan meja rias.
Beberapa saat kemudian, Keanu keluar dari kamar mandi dengan piyama satin biru gelap yang melekat pas di tubuh tingginya. Ia merapikan bantal dan selimut di sofa panjang yang terletak di sudut kamar, mencoba mengabaikan sudut matanya yang sesekali mencuri pandang ke arah Bunga.
Bunga mengambil buku catatan kecilnya, lalu menghampiri Keanu yang sedang bersiap membaringkan tubuhnya di sofa. Bunga menyerahkan kertas yang baru saja ditulisnya:
'Kak Keanu, sofa itu terlalu pendek untuk tubuh Kakak. Ranjangnya sangat luas, tidak apa-apa kalau Kakak tidur di ranjang juga. Kita bisa pakai bantal guling sebagai pembatas di tengah.'
Keanu membaca tulisan itu dengan kening berkerut. Ia menatap sofa, lalu menatap Bunga. Memang benar, kakinya pasti akan menggantung jika tidur di sofa tersebut. Namun, gengsi dan benteng pertahanan di hatinya menolak keras ide tidur di satu ranjang yang sama dengan seorang wanita.
"Tidak usah," jawab Keanu tegas seraya merebahkan tubuhnya di sofa, membuat kakinya terpaksa sedikit tertekuk. "Aku sudah biasa tidur di mana saja saat perjalanan bisnis. Kau tidur saja di ranjang dan jangan banyak bicara lagi."
Bunga mengusap jemarinya, menatap suaminya dengan tatapan serba salah. Namun melihat ketetapan hati Keanu yang tak bisa diganggu gugat, Bunga hanya bisa mengangguk pelan. Ia melangkah menuju ranjang king size yang terasa begitu dingin dan luas untuknya seorang.
Bunga menarik selimut hingga sebatas dada, mematikan lampu utama kamar dan menyisakan lampu tidur remang di atas nakas.
Dalam kegelapan yang temaram, Bunga memiringkan tubuhnya membelakangi sofa. Matanya menatap bayangan gorden jendela yang berayun pelan. Di sudut lain kamar, Keanu memejamkan mata, namun pikirannya terus terbayang bayangan rambut hitam tergerai dan kulit putih Bunga yang terpapar lampu tadi.
"Kenapa bayangan wanita itu terus menggangguku?" batin Keanu gusar, membalikkan badannya membelakangi ranjang dan mencoba memaksakan matanya untuk terpejam di tengah keheningan malam yang panjang.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander