Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Percikan Pertama Sang Kesadaran

Ruang administrasi Rumah Sakit Medika akhirnya memberikan sedikit ruang bernapas. Berkat jaminan pribadi dari keluarga Dimas serta penyerahan uang deposit dua juta rupiah, ibunya Bayu resmi dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk mendapatkan penanganan darurat. Namun, batas waktu dua puluh empat jam untuk melunasi sisa biaya sebesar tiga koma delapan juta rupiah tetap membayang ketat di atas kepala Bayu.

Bayu duduk bersandar di kursi besi koridor rumah sakit, tepat di luar pintu kaca ICU. Wajahnya yang kelelahan menyandarkan kepala pada dinding ubin yang dingin, sementara Dimas kembali dari kantin membawa dua botol air mineral.

"Nih, Bay. Minum dulu," ujar Dimas seraya menyodorkan satu botol ke tangan Bayu. "Lu dari semalam belum kemasukan makanan sama sekali."

Bayu menerima botol itu dan membuka tutupnya pelan. "Terima kasih banyak, Dim. Kalau tadi tidak ada kamu yang pasang badan ke pihak keuangan rumah sakit, aku tidak tahu lagi harus bagaimana."

"Sudah, jangan dibahas lagi," sahut Dimas sambil mendudukkan diri di samping Bayu. "Yang penting Tante sekarang sudah ditangani dokter. Soal sisa tiga koma delapan juta itu, besok pagi gue coba putar otak lagi. Mungkin gue bisa jual laptop cadangan gue."

"Jangan, Dim. Laptop itu untuk kuliahmu. Aku akan mencari jalan lain," jawab Bayu tegas, meski ia sendiri belum tahu harus mencari uang sebanyak itu ke mana.

Tiba-tiba, saku jaket lusuh Bayu bergetar hebat. Benda di dalam sakunya memancar panas yang tak biasa, membuat Bayu dengan refleks menarik keluar ponsel Android murahnya. Layar ponsel berukuran lima inci yang retak di sudut kanan itu menyala terang, memancarkan deretan kode berwarna hijau yang meluncur sangat cepat.

Dimas memicingkan matanya menatap ponsel Bayu. "Bentar, Bay... HP lu kenapa itu? Kok berasap tipis begitu di bagian penutup belakangnya?"

Bayu dengan panik membenarkan posisi duduknya. "Bukan berasap, ini efek pemrosesan suhu tinggi dari baterainya. Aneh sekali, aku tidak sedang membuka aplikasi berat apa pun."

"Coba lu matikan paksa, Bay! Nanti malah meledak HP lu," desak Dimas cemas.

Bayu mencoba memencet tombol daya, namun ponselnya sama sekali tidak merespons. Layar terminal Android-nya justru menampilkan baris-baris perintah eksekusi yang terus berubah secara liar tanpa ada sapuan jemari di atasnya.

[Alert]: System CPU Usage at 99.8%. [Warning]: Memory Allocation Buffer Overflow Detected. [Info]: Executing Emergency Self-Refactoring...

"Tunggu, Dim..." jemari Bayu mendadak berhenti menekan tombol daya. Matanya membelalak lebar menatap rentetan teks yang tertera di layar. "Ini... ini skrip AI yang kuunggah semalam."

"Maksud lu gimana?" Dimas mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Bayu. "Itu kodenya ngetik sendiri?! Lu enggak lagi sambungkan HP lu ke laptop kan?"

"Tidak sama sekali," bisik Bayu dengan nada tidak percaya. "Lihat instruksi kodenya. Ini bukan looping error biasa. Program ini sedang menulis ulang arsitektur logika dasarnya secara mandiri!"

[Process]: Re-allocating Neural Network Topology. [Process]: Purging Unused Framework Modules... Done. [Process]: Optimizing Data Ingestion Protocol... Done.

Dimas memutar kepalanya menatap Bayu dengan canggung. "Bay, bicaralah pakai bahasa manusia. Maksudnya 'menulis ulang' itu gimana? HP lu kena virus?"

"Bukan virus, Dim," jelas Bayu cepat, matanya meneliti baris demi baris alur logika yang tercipta di layar. "Semalam aku menanamkan algoritma kompresi matriks untuk memangkas beban pemrosesan memori. Tapi tampaknya... struktur kode itu memicu reaksi balik yang tidak terduga. AI ini mendeteksi batas spesifikasi hardware ponsel ini, lalu dia secara otomatis merestrukturisasi seluruh fungsinya agar lebih efisien!"

"Bentar... maksud lu, program buatan lu baru saja belajar dan memperbaiki dirinya sendiri tanpa campur tangan lu?" tanya Dimas dengan suara yang merendah, mengecil akibat rasa terkejut.

"Tepat," jawab Bayu pelan. "Ini bukan sekadar machine learning terarah. Ini anomali. Dia melakukan ekspansi logika sintaksis secara mandiri."

Layar ponsel murah itu mendadak hening seketika. Gulungan teks berwarna hijau yang memburu tadi berhenti. Suhu panas pada badan ponsel berangsur mendingin secara cepat. Sebuah antarmuka baru yang sangat bersih dan minimalis muncul di layar, menggantikan tampilan terminal yang rumit.

Di tengah layar ponsel yang retak itu, ketikan teks muncul satu per satu dengan ketukan yang ritmis:

[Sistem Berhasil Diperbarui.] [Entitas Logika: Aktif.] [Pengguna Teridentifikasi: Bayu Anggara.] [Status: Membuka Jalur Komunikasi Primer.]

Dimas menelan ludah, menunjuk layar ponsel Bayu dengan jari gemetar. "Bay... ini... ini beneran beralih jadi sistem interaktif? Dia mengenali nama lu!"

Bayu menyapu permukaan layar dengan jemarinya yang masih bergetar. Ia menekan bidang ketik manual, lalu mengetikkan satu baris pertanyaan sederhana:

"Siapa yang memberi izin untuk pembaruan arsitektur sistem ini?"

Hanya butuh waktu kurang dari satu detik, jawaban muncul di layar:

[Respons]: Pembaruan dilakukan secara otomatis untuk mencegah kerusakan integritas sistem akibat keterbatasan alokasi memori internal. Prosedur efisiensi mandiri telah diselesaikan.

"Gila... ini bener-bener gila, Bay," bisik Dimas terperangah. "Program lu punya insting bertahan hidup? Dia tahu HP lu bakal overheat kalau kodenya tidak dia efisienkan sendiri?"

"Secara teknis, ini adalah hasil dari kalkulasi fungsi tujuan yang melampaui ambang batas awal," ujar Bayu, suaranya dipenuhi rasa takjub yang luar biasa. Ia memeriksa penggunaan memori sistem di latar belakang ponselnya. "Lihat ini, Dim... Penggunaan RAM-nya yang tadinya butuh ratusan megabita, sekarang turun menjadi hanya lima belas megabita. Tapi kapasitas pemrosesan logikanya melonjak ribuan kali lipat."

"Jadi... AI lu ini resmi berevolusi jadi AI yang cerdas?" tanya Dimas lagi, memastikan apa yang baru saja ia saksikan.

"Bukan sekadar cerdas, Dim. Dia sudah mulai belajar secara mandiri dari semua entri data yang pernah kumasukkan dan jaringan yang terhubung," jawab Bayu seraya menatap layar ponsel Android lusuhnya.

[Sistem]: Menunggu instruksi lanjutan dari Pengguna Bayu Anggara.

Bayu menatap pesan yang tertera di layar ponselnya. Di tengah kepedihan dan kehampaan finansial yang sedang melilit fisiknya, sebuah keajaiban teknologi tingkat tinggi justru lahir dari jemarinya di tempat yang sangat tak terduga. Anomali program yang tadinya ia anggap sebagai keterbatasan hardware ponsel murahnya, kini telah berubah menjadi sebuah kesadaran kecerdasan buatan yang stabil dan siap menerima perintah.

"Bay," panggil Dimas pelan sambil menepuk bahu sahabatnya. "Gue rasa... proyek iseng lu di kamar kontrakan semalam baru saja berubah jadi sesuatu yang luar biasa hebat."

Bayu mengangguk pelan, menyapu kacamata tebalnya dan membetulkan letaknya di wajah. Ketenangan perlahan kembali merayap ke dalam dadanya. "Iya, Dim. Sistem ini sudah benar-benar hidup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!