Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Gerbang Reruntuhan Kuno
Qin Haoran berdiri di udara, tatapannya menyapu tujuh murid yang akan memasuki Reruntuhan Kuno.
Satu per satu ia memperhatikan mereka.
Bai Li.
Xiao Han.
Liu Ya.
Wang Mo.
Ling Xi.
Jian Wushuang.
Dan...
Li Tianxuan.
Tatapan Qin Haoran akhirnya berhenti pada pemuda berpakaian putih hitam dengan corak merah tersebut.
Ketenangan di wajahnya membuat Qin Haoran tanpa sadar menghela napas.
"Bocah ini... terlalu mengerikan."
Baru satu bulan sejak Li Tianxuan memasuki Sekte Pedang Langit.
Namun dalam waktu sesingkat itu, kekuatannya telah mengalami peningkatan yang membuat siapa pun sulit mempercayainya.
Dari Ranah Lautan Spiritual Tingkat 1, meningkat hingga Ranah Lautan Spiritual Tingkat 5. Lalu Tingkat 9.
Dan sekarang...
Ranah Inti Roh Tingkat 1!
Peningkatan satu ranah penuh dalam waktu yang begitu singkat.
Bahkan Qin Haoran yang telah hidup selama bertahun-tahun belum pernah melihat kecepatan kultivasi seperti itu.
Tatapannya kemudian beralih kepada Jian Wushuang.
Jenius nomor satu Sekte Pedang Langit.
Selama bertahun-tahun, Jian Wushuang selalu dianggap sebagai monster kultivasi terbaik yang pernah dimiliki sekte.
Namun sekarang, kemunculan Li Tianxuan membuat Qin Haoran mulai meragukan gelar tersebut.
"Jika terus seperti ini..."
"Bahkan Jian Wushuang mungkin akan segera dilampauinya."
Di sisi lain, Li Tianxuan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan Qin Haoran.
Tatapannya justru tertuju kepada enam jenius Sekte Pedang Langit yang berdiri tidak jauh darinya.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada rasa gugup.
Hanya ketenangan.
Tatapan dinginnya menyapu satu per satu wajah mereka.
Bahkan beberapa jenius yang sebelumnya ingin melihat seperti apa sebenarnya kekuatan murid baru tersebut, tanpa sadar mengalihkan pandangan.
Bukan karena mereka takut.
Namun entah mengapa...
Tatapan Li Tianxuan memberikan perasaan aneh.
Seolah-olah mereka sedang ditatap oleh seseorang yang telah melewati ribuan pertempuran dan melihat terlalu banyak kematian.
Tatapan itu sama sekali tidak cocok dengan usianya.
Hingga akhirnya...
Tatapan Li Tianxuan bertemu dengan Ling Xi.
Keduanya saling memandang beberapa saat.
Li Tianxuan kemudian mengangkat sudut bibirnya.
Sebuah senyuman tipis dan dingin.
Ling Xi tertegun.
"Apa maksud senyumannya?"
Apakah dia sedang mengejeknya?
Atau...
Mengingat perkataannya sebelum ini?
Ling Xi mengerutkan kening.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, suara Qin Haoran telah terdengar.
"Baiklah."
Qin Haoran melangkah maju.
"Karena kalian semua telah berkumpul, sekarang waktunya berangkat."
Suaranya menggema ke seluruh alun-alun.
Para murid yang berada di sekitar segera mundur beberapa langkah.
Qin Haoran mengangkat satu tangannya.
Jari-jarinya bergerak membentuk serangkaian segel kuno.
Wushhhh!
Energi Spiritual yang sangat besar meledak dari tubuhnya.
Langit di atas alun-alun seketika bergetar.
Duarrr!
Sebuah lingkaran cahaya raksasa perlahan muncul di udara.
Lingkaran tersebut berputar dengan kecepatan tinggi, membentuk sebuah portal berwarna biru keemasan.
Dari dalam portal itu, terdengar suara gemuruh yang dalam.
"Semuanya, masuk!"
Tanpa ragu, Jian Wushuang melangkah terlebih dahulu.
Tubuhnya berubah menjadi bayangan dan langsung masuk ke dalam portal.
Diikuti oleh Bai Li, Xiao Han, Liu Ya, Wang Mo, dan Ling Xi.
Satu per satu mereka menghilang.
Li Tianxuan berdiri beberapa langkah dari portal.
Namun saat melihat pusaran energi di hadapannya, tubuhnya tiba-tiba terdiam.
Tatapannya menjadi sedikit berbeda.
Pemandangan itu...
Entah mengapa mengingatkannya pada sepuluh tahun lalu.
Hari ketika kehidupan Kota Tai berubah menjadi neraka. Hari ketika sosok yang disebut Dewa turun dari langit. Hari ketika seluruh keluarganya menghilang. Hari ketika sebuah portal serupa muncul di langit.
Kedua tangan Li Tianxuan perlahan mengepal. Kenangan mengerikan itu masih begitu jelas.
"Suatu hari nanti..."
Tatapan Li Tianxuan menjadi sangat dingin.
"Aku sendiri yang akan membunuhmu."
Setelah itu, ia melangkah maju.
Tubuhnya langsung ditelan portal.
Qin Haoran, Yuan Gu, serta beberapa Tetua Sekte kemudian ikut memasuki portal.
Dalam sekejap...
Seluruh rombongan menghilang.
Tanah Tandus — Gerbang Terlarang Kuno
Krekkk!
Krekkk!
Krekkk!
Suara retakan ruang terdengar berturut-turut.
Lima portal raksasa muncul di langit Tanah Tandus.
Dari dalam setiap portal, rombongan dari berbagai sekte dan keluarga besar keluar secara bergantian.
Tanah di bawah mereka tampak begitu tandus.
Tidak ada pepohonan.
Tidak ada rerumputan.
Hanya hamparan tanah kering dan bebatuan hitam yang memenuhi wilayah tersebut.
Namun tempat ini bukanlah tempat biasa.
Tanah Tandus adalah wilayah yang sejak zaman dahulu menjadi tempat tinggal para Tikus Harta. Makhluk kecil yang terkenal memiliki kemampuan menemukan berbagai harta karun.
Karena itulah, setiap kali Reruntuhan Kuno muncul, berbagai kekuatan besar akan berkumpul di tempat ini.
Begitu rombongan Sekte Pedang Langit muncul, suara seseorang langsung terdengar.
"Yoo... Qin Haoran!"
Seorang pria paruh baya berjalan keluar dari rombongan lain.
Wajahnya terlihat penuh ejekan.
"Sudah lama tidak bertemu. Kali ini kau membawa dua murid tambahan."
Matanya berpindah kepada Li Tianxuan dan Ling Xi.
"Apakah Sekte Pedang Langit menemukan dua jenius baru?"
Pria tersebut adalah Chi Luo Ketua Lembah Hujan.
Qin Haoran menatapnya datar.
Kemudian matanya beralih kepada rombongan Lembah Hujan.
Biasanya Lembah Hujan membawa sekitar lima belas murid setiap kali Reruntuhan Kuno dibuka.
Namun kali ini...
Hanya sepuluh.
Qin Haoran tersenyum tipis.
"Kau benar."
Ia sengaja berhenti sejenak.
"Sepertinya Lembah Hujan kekurangan jenius muda."
Senyumnya semakin lebar.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku mengirim beberapa muridku untuk mengajari mereka?"
Wajah Chi Luo langsung berubah.
"Kau!"
Beberapa murid di belakang mereka buru-buru menundukkan kepala.
Pertengkaran antara dua Ketua Sekte bukanlah sesuatu yang bisa mereka campuri.
Sementara kedua pemimpin itu saling beradu tatapan...
Li Tianxuan justru tidak memperhatikan mereka. Perhatiannya tertuju kepada sesuatu yang berada beberapa ratus meter di depan.
Dua batu raksasa berdiri tegak. Bentuknya seperti dua gerbang kuno. Namun di antara kedua batu itu tidak terdapat pintu. Hanya ruang kosong yang dipenuhi kabut hitam.
Aura kuno yang sangat tua keluar dari dalamnya.
Li Tianxuan menyipitkan matanya.
"Itukah..."
"Gerbang Reruntuhan Kuno?"
Di belakang gerbang tersebut terdapat dunia yang telah terkubur selama bertahun-tahun.
Harta karun.
Teknik kuno.
Warisan.
Dan kemungkinan...
Giok Serpihan Jiwa Dewa
Li Tianxuan mengepalkan tangannya.
Ia tidak datang ke tempat ini untuk bersenang-senang. Ia memiliki tujuan sendiri.
Bagaimanapun caranya... Ia harus mendapatkan Giok Serpihan Jiwa Dewa.
Saat sedang mengamati gerbang kuno, tiba-tiba suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.
"Tianxuan..."
"Apakah hatimu akhirnya mulai mencair?"
Li Tianxuan menghela napas pelan.
Bahkan tanpa menoleh, ia sudah mengetahui siapa orang itu.
Wu Feng. Ya, dia adalah murid langsung Yuan Gu, karena itulah dia muncul disana.
Li Tianxuan berbalik.
Benar saja.
Pemuda itu berdiri sambil tersenyum lebar.
"Senior, kau lagi."
Wu Feng tertawa.
"Apa maksudmu 'kau lagi'?"
Ia kemudian mengikuti arah pandangan Li Tianxuan.
Ketika melihat seorang gadis yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, mata Wu Feng langsung berbinar.
"Ohhh..."
Senyumnya semakin lebar.
"Ternyata kau memperhatikan seorang gadis."
Li Tianxuan tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju kepada gadis tersebut.
Gadis itu mengenakan pakaian merah muda.
Rambut hitam panjangnya terurai hingga ke pinggang, bergerak perlahan tertiup angin.
Wajahnya sangat cantik.
Namun yang paling menarik perhatian Li Tianxuan bukanlah kecantikannya.
Melainkan aura yang terpancar dari tubuhnya.
Sangat kuat.
Bahkan di antara para murid yang hadir, aura gadis itu termasuk yang paling menonjol.
Li Tianxuan akhirnya bertanya.
"Senior, kau mengenalnya?"
Wu Feng segera mengangkat dagunya dengan bangga.
"Tentu saja!"
Ia mendekatkan tubuhnya kepada Li Tianxuan, lalu mulai berbisik dengan nada penuh semangat.
"Dia adalah salah satu jenius paling terkenal di Daratan Timur."
"Memiliki bakat yang sangat mengerikan, berasal dari keluarga besar, dan kecantikannya bahkan terkenal di berbagai wilayah."
Wu Feng berhenti sejenak.
Kemudian menunjuk gadis tersebut.
"Namanya..."
"Liu'er."
Li Tianxuan mengamati gadis itu sekali lagi.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu...
"Tianxuan."
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari samping.
Seorang pemuda berjalan mendekat. Wajahnya tenang, tetapi auranya tidak biasa.
Ia berhenti beberapa langkah dari Li Tianxuan.
"Murid baru yang akhir-akhir ini menggemparkan Sekte Pedang Langit..."
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Li Tianxuan mengalihkan pandangannya.
Tatapan dinginnya langsung tertuju kepada pemuda tersebut.
Untuk beberapa saat...
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Namun entah mengapa, suasana di sekitar mereka perlahan menjadi tegang.