Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Teknik Pelarian Air
Setelah satu batang dupa berlalu, Su Yu telah memahami teori Teknik Pelarian Air secara menyeluruh. Namun ada satu hal yang masih mengganjal di dalam benaknya, seperti serpihan ingatan yang belum sepenuhnya menetap.
Ia memejamkan matanya kembali, menarik napas perlahan, lalu membiarkan kesadarannya menyelam lebih dalam dari sebelumnya. Di kedalaman itu, potongan pengetahuan yang tersisa akhirnya muncul ke permukaan.
"Pengguna Kunpeng adalah petarung lengkap..."
Suara itu menggema lembut di dalam ruang kesadarannya.
"Kekuatan fisik dan spiritual pengguna Kunpeng selalu seimbang. Tidak ada sisi yang dominan dan tidak ada sisi yang tertinggal. Sebagaimana air dan udara yang selalu bergerak fleksiBel, pengguna Kunpeng juga mampu menguasai segala jenis teknik hingga batas maksimalnya. Inilah alasan mengapa Kunpeng menjadi makhluk yang ditakuti di semua zaman."
Su Yu membuka matanya perlahan.
"Senior... siapapun dirimu..." bisiknya lirih sambil menundukkan kepala. "Saya Su Yu berterima kasih sebesar-besarnya."
Setelah itu ia bangkit dari tempatnya. Kondisi di sekitar masih gelap, pertanda malam belum sepenuhnya berakhir. Itu berarti ia masih memiliki waktu untuk berlatih.
Su Yu berjalan menuju area yang lebih lapang di dekat pohon besar, lalu menghentikan langkahnya tepat di atas permukaan tanah yang agak lembek. Ia membentuk segel tangan dengan gerakan yang masih kaku, jari-jarinya saling bertaut dengan canggung.
"Segel ini tidak boleh gagal..." gumamnya sambil mengulangi gerakan yang sama dari awal.
Percobaan pertama. Tangannya salah posisi. Percobaan kedua. Aliran energi spiritualnya belum menyatu dengan gerakan jari. Percobaan ketiga, keempat, kelima... ia terus mengulang tanpa mengeluh.
Setelah gerakan tangannya mulai terbiasa, Su Yu membentuk segel sekali lagi, kali ini sambil mengalirkan energi spiritual dari dantiannya. Cahaya biru tipis menyelimuti seluruh tubuhnya, membuat pakaian daun yang dikenakannya berkibar pelan oleh hembusan energi.
"Sekarang... coba!"
Ia melompat tinggi ke depan, lalu menukikkan tubuhnya dengan kepala mengarah ke bawah.
BYUR!
Tubuhnya masuk ke dalam tanah seperti menembus permukaan air. Namun belum sempat ia menggerakkan anggota tubuhnya, dorongan kuat dari bawah langsung melemparkannya keluar.
WUSH!
BRAK!
Su Yu mendarat kasar di atas bebatuan, punggungnya menghantam tanah dengan keras.
"Aduh..." keluhnya sambil meringis.
Ia bangkit kembali, menepuk-nepuk pakaian daun yang kini dipenuhi lumpur, lalu membentuk segel tangan untuk kesekian kalinya. Kali ini ia melompat dan mencoba menyesuaikan sudut masuknya agar lebih sejajar dengan permukaan.
BYUR!
Lalu...
BRAK!
Lagi-lagi ia terlempar. Setiap percobaan selalu berakhir dengan tubuhnya terpental keluar dari dalam tanah, mendarat di posisi yang berbeda-beda.
Namun Su Yu tidak menyerah.
Di tengah kegelapan yang perlahan berubah menjadi remang-remang, ia terus mengulang teknik tersebut tanpa henti. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, napasnya memburu, tetapi kedua matanya tetap menyala dengan tekad yang tidak berkurang sedikit pun.
Pada percobaan yang entah ke berapa, akhirnya sesuatu yang berbeda terjadi.
BYUR!
Tubuh Su Yu menembus permukaan tanah dan tidak lagi terpental keluar. Di dalam tanah itu, ia merasakan sekelilingnya bukan lagi bebatuan dan butiran padat, melainkan air yang mengalir lembut di sekitar tubuhnya.
"Aku berhasil..." bisiknya dalam hati.
Ia mulai menggerakkan kedua tangannya ke depan, lalu kedua kakinya mendorong ke belakang. Tubuhnya meluncur di dalam tanah seperti ikan yang berenang di kedalaman sungai. Setiap kali ia bergerak maju, tanah di depannya berubah menjadi aliran air yang membuka jalan, menciptakan lorong sementara yang langsung menghilang begitu ia melewatinya.
Su Yu mempercepat gerakannya, membelok ke kiri, lalu ke kanan, kemudian naik sedikit ke atas sebelum kembali menukik lebih dalam. Sensasi itu begitu aneh, namun terasa sangat alami bagi tubuhnya.
Setelah merasa cukup puas, ia mengarahkan dirinya kembali ke permukaan. Kepalanya muncul lebih dulu, lalu diikuti oleh seluruh tubuhnya yang melesat keluar dari tanah dengan mulus.
"Ini sangat hebat!" serunya sambil tersenyum merekah.
Di atas akar pohon, Xioutian terbangun. Burung kecil itu menggeliat sejenak, lalu mengepakkan sayapnya dan terbang perlahan mendekati Su Yu.
"Tuan, apa yang kau lakukan sejak tadi?"
Su Yu hendak menjawab, tetapi dari kejauhan terdengar gema suara yang membuat darahnya berdesir.
"Kalian periksa ke arah hilir. Aku bersama para tetua akan menyisir ke hulu."
Mata Su Yu langsung melebar. Ia menoleh cepat ke arah datangnya suara, lalu kembali menatap Xioutian dengan raut serius.
"Xioutian, kau masih bisa terbang?"
Burung sempat terpaku beberapa saat, hingga akhirnya itu tanpa menjawab dengan kata-kata, tubuhnya langsung membesar dalam beberapa tarikan napas.
Barulah setelah wujud besarnya terbentuk, ia membuka mulut.
"Aku bisa, Tuan. Tapi wujud ini tidak akan bertahan lama. Setelah mencapai permukaan, aku mungkin akan kembali mengecil."
Su Yu tidak membuang waktu. Ia melompat ke punggung Xioutian dan mencengkeram bulu-bulu di sana sekuat tenaga.
"Itu sudah cukup. Sekarang cepat naik!"
"Baik, Tuan!"
Xioutian mengepakkan sayapnya dua kali, lalu melesat ke atas dengan kecepatan penuh. Angin menerpa wajah Su Yu saat mereka melewati dinding-dinding jurang yang gelap, menembus kabut tipis yang menggantung di ketinggian.
Sementara itu, sekitar lima ratus meter dari posisi mereka, keempat tetua melihat pergerakan di kejauhan.
"Sial! Dia masih hidup!" teriak Tetua Keempat sambil menunjuk ke arah burung raksasa yang sedang melesat naik.
Tetua Pertama yang berdiri di sampingnya langsung mengeluarkan pedang peraknya dan melompat ke atas bilah itu.
"Jangan biarkan dia lolos! Kejar sekarang!"
Tiga tetua lainnya segera mengikuti, masing-masing melesat dengan pedang terbang mereka sendiri. Empat sosok itu melesat di udara seperti anak panah yang dilepaskan dari busur, meninggalkan jejak energi spiritual di belakang mereka.
Di atas punggung Xioutian, Su Yu menoleh ke samping kanan bawah. Wajahnya mengeras begitu melihat empat titik cahaya yang semakin dekat.
"Mereka menyadari kita! Lebih cepat!"
Xioutian mengepakkan sayapnya lebih kuat, tubuhnya melesat semakin tinggi. Namun sebelum mereka bisa mencapai mulut jurang, kelopak teratai melesat dari arah para tetua.
"Sialan! Dia sudah menyerang!" teriak Xioutian sambil menghindar ke kiri.
DUAR!
Kelopak teratai itu menghantam dinding jurang, menciptakan ledakan yang menggetarkan bebatuan. Serpihan batu beterbangan ke segala arah, sementara asap tebal membubung dari titik benturan.
Xioutian kembali mengarahkan tubuhnya ke atas secara vertikal. Permukaan jurang mulai terlihat dari celah sempit di atas sana, cahaya fajar menyusup masuk seperti benang-benang emas.
"Sudah dekat! Tahan sedikit lagi!" seru Su Yu.
Dengan kekuatan terakhir, Xioutian melewati mulut jurang dan melesat ke langit bebas. Begitu mencapai ketinggian seratus meter dari permukaan, burung itu langsung melesat ke arah barat daya.
Namun tepat pada saat itu, mata Su Yu melebar. Sepuluh zhang di samping kanan mereka, sesosok pria terbang dengan pandangan dingin. Di telapak tangannya, energi hitam berkumpul membentuk Naga Hitam sepanjang tiga zhang.
"Xioutian, berubah jadi kecil dan masuk ke segel kontrak sekarang!" teriak Su Yu.
Burung yang sudah lemah itu menoleh dengan panik.
"Tuan, apa kau mau bunuh diri?!"
"Jangan banyak bertanya! Lakukan!"
Xioutian mengepakan sayapnya sekali lagi, lalu tubuhnya berubah menjadi cahaya biru dan masuk ke dalam tanda kontrak di telapak tangan tuannya.
Su Yu langsung terjun bebas ke bawah. Angin menderu di telinganya saat tubuhnya meluncur turun, sementara Naga Hitam itu ikut menukik dari samping.
"Kau tidak akan bisa kabur... keponakanku." Suara Su Gaochang terdengar dingin, menusuk hingga ke tulang.
Mendengar panggilan 'Keponakan' air mata Su Yu keluar tanpa bisa ditahan. Namun di balik itu, seulas senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya.
"Pamanku... aku akan kembali membalas seluruh kebaikanmu suatu hari nanti..." bisiknya di tengah terjangan angin. "Jadi aku tidak akan mati hari ini."
BYUR!
Tubuh Su Yu menembus tanah seperti pisau yang menusuk air. Begitu seluruh tubuhnya masuk, Naga Hitam itu menghantam permukaan tempat ia menghilang.
BOOOMM!
Ledakan dahsyat mengguncang area itu. Tanah terbelah, batu-batu besar terlempar ke udara, dan debu tebal membubung tinggi menutupi pandangan.
Ketika debu mulai menghilang, tidak ada lagi jejak Su Yu di sana.
Mendapati keanehan itu, Su Gaochang menyeringai. Pupil matanya berkedip sekali, memperlihatkan kilau hitam yang aneh.
"Bocah itu menarik. Kekuatan naga kunoku bisa merasakan sesuatu di dalam tubuhnya. Ditambah lagi teknik aneh yang baru saja dia gunakan... itu cukup mengejutkan."
Tidak lama berselang, keempat tetua muncul di sampingnya dengan wajah tegang.
"Pemimpin, di mana sampah itu?" tanya Tetua Pertama sambil menyapu pandangan ke sekeliling.
Mendadak, ekspresi Su Gaochang berubah tenang seperti biasanya. Ia menggelengkan kepala.
"Dia melarikan diri dengan teknik aneh. Kemungkinan besar dia menggunakan jimat pelarian bumi."
Tetua Keempat mengepalkan tangannya. "Sial! Kita harus mendapatkannya!"
Su Gaochang mengangkat tangannya, menghentikan ucapan itu.
"Tidak perlu. Kembali saja ke klan. Nanti aku akan mengirim seseorang untuk mencarinya."
Keempat tetua saling berpandangan, lalu mengangguk hampir bersamaan.
Sementara itu, jauh di dalam tanah, Su Yu masih melaju dengan kecepatan penuh. Tubuhnya bergerak seperti ikan yang berenang di kedalaman sungai, menembus lapisan bumi yang padat tanpa hambatan.
"Aku harus berenang sejauh mungkin... menjauh dari tempat ini..." batinnya sambil terus menggerakkan tangan dan kakinya.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔