Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Admin ramah di SPORT PADEL
Zia Ramadhani sudah duduk di meja resepsionis Sport Padel sejak pukul delapan pagi, menyapa satu per satu pelanggan yang datang untuk booking lapangan atau sekadar bertanya jadwal kosong akhir pekan. Pekerjaan sebagai admin lapangan padel tersebut sudah dia jalani hampir dua tahun, dan selama itu pula dia dikenal sebagai sosok yang selalu murah senyum, tutur katanya lembut, gampang akrab dengan siapa saja yang datang.
"Pagi, Kak Zia! Lapangan dua masih kosong jam sepuluh nggak?" tanya salah satu pelanggan tetap, seorang bapak-bapak yang rutin main setiap Sabtu pagi bersama teman-teman kantornya.
"Masih kosong, Pak Hendra. Mau saya booking sekarang?" jawab Zia dengan senyum ramah, jari-jarinya cekatan mengetik di sistem booking yang terpampang di layar komputer di hadapannya.
Interaksi semacam itu adalah rutinitas harian Zia, dan dia menikmatinya. Berbeda dari kebanyakan orang yang menganggap pekerjaan administratif sebagai sesuatu yang membosankan, Zia justru merasa bahagia bisa berinteraksi dengan berbagai macam orang setiap harinya, mendengarkan cerita-cerita ringan mereka, sesekali memberi saran soal teknik dasar padel kepada pemain pemula yang masih canggung memegang raket.
"Zia, lo tuh kok betah banget sih kerja di sini? Gajinya kan nggak seberapa dibanding kerjaan kantoran," tanya Reta, sahabat sekaligus rekan kerja Zia yang bertugas mengurus bagian penyewaan alat, suatu siang ketika mereka berdua sedang istirahat makan siang di pantry kecil belakang lapangan.
"Aku suka aja, Ret. Di sini aku ketemu banyak orang, dengerin cerita mereka, kadang malah jadi kayak psikolog dadakan buat pelanggan yang curhat soal kerjaan atau keluarga," jawab Zia sambil tertawa kecil, menyantap bekal nasi yang dia bawa dari rumah.
Reta menggeleng-geleng sambil tersenyum, sudah hafal betul dengan sifat Zia yang selalu melihat sisi positif dari segala sesuatu. "Ya udah deh, yang penting lo bahagia. Tapi kalau ada yang mau nembak lo di sini, jangan kaget ya, soalnya banyak banget pelanggan cowok yang deket-deket meja resepsionis cuma buat ngobrol sama lo doang."
"Ih, apaan sih, Ret. Aku kan cuma ramah biasa aja," bantah Zia sambil tersipu, meski dalam hati dia sadar betul bahwa keramahannya kadang disalahartikan sebagai sinyal ketertarikan oleh beberapa pelanggan pria.
Sore itu, seperti biasa, Zia sibuk mengatur jadwal untuk esok hari, memeriksa satu per satu reservasi yang masuk melalui aplikasi maupun telepon langsung. Coach Yudha, pelatih utama di Sport Padel, mampir sebentar ke meja resepsionis untuk mengecek jadwal kelas privat yang akan dia ajar minggu depan.
"Zia, tolong catet ya, besok ada tiga kelas privat pagi, terus sore ada dua rombongan kantor yang booking empat lapangan sekaligus," ujar Coach Yudha sambil menyerahkan secarik kertas berisi jadwal tersebut.
"Siap, Coach. Nanti saya masukin ke sistem," jawab Zia dengan sigap, langsung mengetik data tersebut ke dalam komputer tanpa perlu diminta dua kali.
Salah satu rombongan kantor yang dimaksud Coach Yudha tersebut, tanpa Zia ketahui, adalah rombongan dari kantor tempat Baska dan Dika bekerja, yang telah booking empat lapangan untuk hari Sabtu mendatang sebagai acara bonding tim setelah proyek besar mereka selesai. Zia hanya mencatatnya sebagai reservasi rutin lainnya, tidak menyangka bahwa di antara rombongan tersebut ada seorang pemuda yang sama sekali tidak berminat bermain, namun akan segera mengubah jalannya pertemuan tersebut menjadi sesuatu yang jauh lebih berkesan dari sekadar booking lapangan biasa.
Menjelang malam, ketika Zia bersiap pulang setelah shift-nya berakhir, dia sempat merapikan meja resepsionis, menata kembali raket-raket sewaan yang berserakan setelah dipakai seharian, sebuah kebiasaan kecil yang selalu dia lakukan meski bukan tugas utamanya, sekadar bentuk tanggung jawab terhadap tempat yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya tersebut. Dia tidak tahu, akhir pekan yang akan datang bakal membawa kejadian yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Di perjalanan pulang menggunakan motor matic kesayangannya, Zia mampir sebentar ke minimarket dekat rumah untuk membeli beberapa keperluan dapur titipan ibunya. Sepanjang jalan, dia memikirkan rencana sederhana untuk akhir pekan tersebut—mungkin akan lebih sibuk dari biasanya mengingat ada rombongan kantor besar yang booking empat lapangan sekaligus, tapi itu bukan masalah besar baginya, justru dia menikmati keramaian semacam itu.
Sesampainya di rumah, ibunya, Bu Marlina, sudah menunggu di depan televisi sambil menonton sinetron kesukaannya. "Zia, gimana kerjaannya hari ini? Capek nggak?"
"Biasa aja, Bu, malah seru. Besok bakal rame banget soalnya ada rombongan kantor gede," jawab Zia sambil melepas sepatu dan duduk di samping ibunya, menceritakan sedikit keseruan hari itu sebelum akhirnya bersiap untuk istirahat, mempersiapkan diri untuk akhir pekan yang, tanpa dia sadari, akan menjadi awal dari sebuah cerita yang jauh lebih besar dari sekadar rutinitas kerja biasa.