Indonesia
NovelToon NovelToon
RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PENJAGA GERBANG KUNO

Sinar matahari sore yang hangat memancarkan warna jingga di sepanjang koridor Kerajaan Solaria. Seperti biasa, Alan melangkah santai menyusuri lorong istana didampingi oleh Yumi yang berjalan setia tepat setengah langkah di samping kirinya.

Ke mana pun Alan pergi, Yumi selalu berada di sana—anggun, sigap, dan siap melayani setiap kebutuhan sang penguasa. Namun, hal itu rupanya memicu riak-riak kecil di antara seribu pelayan lainnya.

Di sudut koridor dekat taman interior, lima orang pelayan wanita berbisik-bisik seraya memperhatikan Yumi dari jauh.

"Wah... Kepala Pelayan Yumi enak banget ya, selalu bisa jalan di samping Tuan Alan," bisik pelayan pertama dengan wajah iri.

"Iya nih! Padahal kita juga mau sesekali berjalan di samping Tuan Alan, menghirup udara yang sama dari dekat..." timpal pelayan kedua sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi.

Tanpa mereka sadari, indra pendengaran Yumi yang sangat tajam menangkap setiap kata dari obrolan mereka. Yumi menghentikan langkahnya sejenak, membungkuk pelan kepada Alan.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya sebentar, Tuan Alan. Ada hal kecil yang harus hamba tertibkan," ucap Yumi lembut.

Alan mengangguk polos. "Ah, iya, santai aja Yumi."

Yumi berbalik badan dan melangkah menuju lima pelayan tersebut dengan tatapan mata yang mendadak tajam namun tetap tenang. Lima pelayan itu langsung membatu, wajah mereka pucat seketika.

"Kalian berlima," panggil Yumi dingin. "Ikut saya sekarang."

Mereka berlima mengekor di belakang Yumi dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Yumi membawa mereka ke area kebun belakang istana yang terbentang sangat luas—penuh dengan tanaman sihir dan rumput liar yang perlu dirawat.

"Hukuman kalian karena bergosip saat jam kerja adalah membersihkan seluruh area kebun ini sampai tak ada satu pun daun kering tersisa," tegas Yumi.

"E-Eh?! Tapi Kepala Pelayan Yumi, kebun ini kan luas banget—" protes salah satu dari mereka.

Yumi melipat tangannya di dada, memicingkan mata. "Kalau kalian berani membantah satu kata lagi, hukumannya akan saya tambah dua kali lipat."

Mendengar ancaman itu, kelima pelayan tersebut langsung tersentak dan tanpa membuang waktu mengambil sapu serta gunting tanaman. "S-Siap! Kami kerjakan sekarang juga!" seru mereka serentak lalu lari terbirit-birit memulai pekerjaan mereka.

Yumi memijit pelipisnya pelan, menghela napas panjang melihat tingkah konyol bawahannya. "Ada-ada saja..." gumam Yumi menggelengkan kepala sebelum berbalik kembali menemani Alan.

Setelah meninggalkan area kebun, Alan memutuskan untuk melakukan inspeksi ke Arena Pelatihan Utama.

Di area lapangan fisik, Alan dibuat terpana melihat sepuluh ribu ksatria abadi di bawah pimpinan Zero sedang melatih ketangkasan pedang dan pertahanan zirah mereka. Setiap ayunan pedang mereka menciptakan tekanan udara yang cukup kuat untuk membelah batu.

Sementara di sisi lain arena, lima ribu penyihir abadi yang dipimpin oleh Akami sedang mengasah mantra sihir mereka. Cahaya hijau zamrud membumbung tinggi ke udara, menembakkan ribuan tombak sihir ke arah target latihan hingga hancur menjadi debu.

"Luar biasa..." gumam Alan kagum. "Mereka beneran disiplin banget."

Puas melihat latihan pasukannya, Alan kembali ke area kediaman utama untuk mandi dan menyegarkan diri karena hari sudah semakin sore.

Usai membasuh diri dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman, Alan melangkah ke balkon istana. Udara sore berembus pelan, mempermainkan rambut hitamnya saat ia menikmati pemandangan Hutan Larangan dari ketinggian.

Namun, ketenangan itu mendadak terganggu.

[Peringatan! Deteksi entitas asing berukuran masif mendatangi wilayah udara Kerajaan Solaria,] suara Melodina mendadak bergema di kepala Alan.

Alan menyipitkan matanya menatap ke arah langit barat. Dari balik gugusan awan tebal, sesosok makhluk raksasa bersisik merah darah terbang melayang mendekat. Lebar rentang sayapnya membentang puluhan meter, memancarkan aura hawa panas yang membakar udara di sekitarnya.

"N-Naga?!" Alan sedikit panik. "Melodina, itu naga beneran?!"

[Analisis data: Entitas tersebut adalah Naga Merah Kuno (Ancient Red Dragon) yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya di Pegunungan Selatan. Naga ini memiliki sejarah menghancurkan puluhan kerajaan manusia di masa purba.]

Di bawah balkon, 15.000 Pasukan Abadi sudah bersiap dalam posisi tempur. Zero mencabut pedang raksasanya, siap melompat menghancurkan ancaman dari udara tersebut.

Namun, sebelum naga itu sempat mengepakkan sayapnya melewati garis luar Perisai Mutlak, Akami melangkah maju ke depan gerbang utama.

Penyihir berambut hijau itu mengangkat tongkat naganya ke udara dengan wajah sangat tenang. "Mantra Sihir Tingkat Tinggi: Verdant Punishment."

WUSHHH! DUAAAMMM!

Pusaran sihir hijau raksasa meledak dari ujung tongkat Akami, membentuk telapak tangan energi raksasa yang langsung menghantam naga kuno itu dari atas langit!

GARRRGHHH!

Naga Merah Kuno yang terkenal mematikan itu bahkan tidak sempat menyemburkan apinya. Tubuh raksasanya terhempas hebat ke tanah, menimbulkan gempa lokal dan kepulan debu di luar gerbang kerajaan.

Alan melongo di balkon, matanya hampir melompat keluar. "S-Sekali serang langsung tumbang?!"

[Hal yang wajar, Tuan Alan,] sahut Melodina santai. [Naga kuno tersebut berada di kisaran Level 250. Sementara Akami berada di Level 1.500. Perbedaan kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi.]

Alan mengelus dadanya yang berdebar kencang. "Ternyata pasukanku emang se-overpowered itu..."

Didampingi oleh Zero dan Yumi, Alan turun ke luar pintu gerbang utama untuk melihat keadaan naga tersebut dari dekat.

Di atas tanah yang retak, Naga Merah Kuno itu terbaring lemas. Sisik merahnya yang keras kini tampak kusam, dan mata reptil raksasanya bergetar hebat saat menatap sosok Alan yang melangkah mendekat.

Naga itu tidak menunjukkan aura menyerang sedikit pun. Sebaliknya, ia menyungkurkan moncong raksasanya rapat-rapat ke tanah tepat di depan kaki Alan, menyembunyikan cakarnya penuh ketakutan.

"Hei, dia kenapa Melodina? Kok malah nunduk gitu?" tanya Alan heran.

[Naga kuno ini memiliki kepekaan sihir yang tinggi,] jelas Melodina. [Ia menyadari bahwa Anda adalah penguasa mutlak dari wilayah ini. Keberadaan Anda dan pasukan di sekeliling Anda membuatnya menyerahkan hidup dan matanya secara sukarela. Ia siap menerima hukuman mati atau menjadi hamba Anda.]

Alan tertegun. Dari makhluk raksasa yang mengerikan, naga ini sekarang tak ubahnya seperti anak anjing yang ketakutan.

Alan menghela napas, lalu membelai pelan sisik keras di hidung naga tersebut. "Aku nggak mau membunuhmu. Tapi sebagai gantinya, karena tubuhmu besar dan kuat, kamu mau bantu jaga gerbang depan kerajaan ini?"

Naga Merah Kuno itu menganggukkan kepalanya pelan dengan sangat patuh, mengeluarkan geraman halus yang menandakan persetujuan mutlak.

Alan tersenyum lebar. "Bagus. Mulai sekarang kamu adalah Penjaga Gerbang Solaria."

Setelah menyelesaikan urusan penjinakan naga, Alan berbalik arah untuk kembali ke dalam istana didampingi Zero dan Yumi.

Di depan pintu masuk utama, seribu pelayan wanita telah berbaris rapi menyambut kedatangan sang penguasa. Meja makan di aula utama pun telah dipenuhi oleh berbagai santapan malam yang lezat dan beraroma menggugah selera.

"Selamat datang kembali, Tuan Alan. Makan malam Anda telah siap," ucap Yumi seraya membungkuk anggun dengan senyuman paling hangat.

Alan menyandarkan tangannya di belakang kepala, menatap suasana istananya yang kini penuh kehidupan, aman dari ancaman naga maupun sihir luar, dan dilayani oleh orang-orang yang setia.

"Yup," gumam Alan gembira. "Waktunya makan malam!"

1
𝓐. 𝓗.𝓸
terima kasih Babnya. saya suka dengan ceritanya dengan membangun kerajaan hingga mencipta pasukan lalu dengan membangun sebuah kota, cukup memuaskan di baca. 😁😊
Prayy: terimakasih atas dukungan nya saya akan menulis semenarik mungkin untuk pembaca agar terhibur mohon selalu di tunggu bab selanjutnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!