Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suasana di TKP pabrik kimia itu mendadak hening.
Beberapa anggota polisi yang ada di dekat sana mulai menoleh ke arah Reyhan, raut wajah mereka berubah penuh curiga. Kata-kata Kania bergema layaknya bom waktu.
Reyhan tahu ia harus bertindak cepat. Jika identitasnya terkonfirmasi di sini, ia akan langsung ditangkap.
Ia menggunakan Skill Karismanya dan tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat berwibawa dan penuh rasa geli.
"Hahaha, Reyhan Mahardika?" Reyhan menurunkan sedikit maskernya, hanya memperlihatkan senyumannya.
"Imajinasi yang luar biasa, Nona Jurnalis. Tapi sayang, analisis Anda meleset jauh."
Reyhan sengaja merendahkan nada suaranya, membuatnya terdengar lebih berat dan mendalam.
"Saya dr. Rey, konsultan dari pusat. Jika Anda terus menghalangi penyelidikan ini dengan teori konspirasi konyol Anda, saya akan meminta Detektif Alena untuk menangkap Anda atas tuduhan menghalangi keadilan."
Alena segera menangkap sinyal dari Reyhan. Ia melangkah maju, membusungkan dadanya.
"Bawa kamera Anda dan keluar dari sini sekarang, Kania. Atau saya benar-benar akan memborgol Anda."
Kania menyipitkan matanya. Ia masih tidak yakin 100%, tapi gertakan Reyhan dan Alena cukup membuatnya ragu.
"Baiklah, baiklah," Kania mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. "Saya akan mundur. Tapi ini belum selesai, 'Dokter'."
Kania berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Namun, sebelum masuk, ia menatap Reyhan dengan pandangan penuh arti.
Reyhan menghela napas lega dalam hati. Ia segera kembali menutup maskernya.
"Kita harus pergi dari sini sebelum ada yang benar-benar mengenaliku," bisik Reyhan pada Alena.
Setelah menyerahkan laporan palsunya kepada tim Inafis, Reyhan dan Alena segera kembali ke mobil.
"Jurnalis itu berbahaya," ucap Alena saat ia menyalakan mesin mobil. "Dia cerdas dan sangat ngotot."
"Aku tahu. Dan dia tidak akan berhenti sampai dia membuktikan tebakannya benar."
Ponsel Reyhan tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
"Akting yang bagus di pabrik tadi, Reyhan. Tapi aku punya foto HD bentuk matamu. Bertemu di Kafe Senja, Jalan Melawai, sepuluh menit dari sekarang. Atau foto ini akan kuunggah ke Twitter. - Kania"
Reyhan mengumpat pelan. Wanita itu ternyata tidak mundur sama sekali.
"Putar balik, Alena. Kita ke Jalan Melawai."
"Kenapa?"
"Jurnalis menyebalkan itu mengajakku bertemu. Dia punya bukti."
Sepuluh menit kemudian, Reyhan yang sudah mengganti jas labnya dengan jaket kasual, masuk ke dalam Kafe Senja. Alena menunggu di mobil, berjaga-jaga.
Reyhan melihat Kania duduk di sudut kafe, asyik mengetik di laptopnya.
Ia menghampiri meja itu dan duduk tepat di hadapan Kania.
"Tepat waktu," Kania tersenyum manis, menutup laptopnya. "Jadi, kau memang Reyhan Mahardika, sang Aktor Kematian."
"Apa maumu?" tanya Reyhan dingin, matanya menatap tajam.
"Wawancara eksklusif," jawab Kania tanpa ragu. "Aku tahu kau bukan pembunuhnya, Reyhan. Pola kejahatannya terlalu rumit untuk dilakukan oleh seorang aktor figuran yang bahkan tidak bisa bayar kosan."
Reyhan sedikit terkejut. "Kau percaya aku tidak bersalah?"
"Aku percaya pada fakta," Kania menyedot es kopinya. "Dan faktanya, ada konspirasi besar di balik ini. Kasus Kombes Darmawan membuktikannya. Kau sedang dijebak, atau lebih tepatnya, dijadikan pion utama oleh pembunuh yang asli."
"Aku ingin cerita lengkapnya dari sudut pandangmu. Dan sebagai gantinya, aku tidak akan membocorkan penyamaranmu."
Reyhan diam. Ia mempertimbangkan tawarannya. Punya sekutu di media mungkin tidak buruk. Tapi jurnalis ini terlalu liar untuk dikendalikan.
"Bagaimana aku tahu kau tidak akan mengkhianatiku demi rating berita?"
Kania mencondongkan tubuhnya. "Karena kalau kau ditangkap, ceritanya akan berakhir. Dan aku tidak suka cerita yang berakhir sebelum klimaks."
Reyhan tersenyum sinis. "Baiklah. Kita buat kesepakatan. Tapi dengan syarat."
"Apa syaratmu?"
Reyhan mengaktifkan Skill Manipulasi Pikirannya (Tingkat Dasar). Ia menatap mata Kania lekat-lekat.
"Kau akan menulis beritanya sesuai dengan arahanku. Kau tidak akan mempublikasikan apa pun tanpa persetujuanku. Dan jika kau melanggar..."
Mata Kania sedikit melebar. Ia tiba-tiba merasakan hawa dingin merayapi tulang punggungnya. Suara Reyhan terdengar seperti ancaman mematikan yang menggema di dalam kepalanya.
"Kalau aku melanggar?" suara Kania sedikit bergetar.
"Kau akan tahu sendiri akibatnya," Reyhan memutus kontak matanya. "Setuju?"
Kania menelan ludah, berusaha menguasai dirinya kembali. Ia tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba merasa sangat terintimidasi oleh pemuda ini.
"Se... setuju," jawab Kania akhirnya.
Reyhan mengeluarkan plastik bukti berisi topeng hitam kecil dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja.
"Bagus. Sekarang, aku butuh bantuanmu."
Kania menatap topeng itu. "Itu... topeng dari TKP ketiga?"
"Ya. Topeng ini berbeda dari yang sebelumnya. Ini terbuat dari logam paduan khusus, bukan plastik. Dan ada cat hitam anti panas di permukaannya."
"Aku butuh kau menggunakan koneksi jurnalismu untuk mencari tahu pabrik peleburan logam mana di Jakarta yang memproduksi paduan logam seperti ini."
Kania mengambil topeng itu, mengamatinya dengan teliti. Naluri jurnalistiknya kembali menyala.
"Logam paduan dengan cat anti panas... Ini bahan yang spesifik. Tidak banyak tempat yang bisa membuatnya." Kania mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari.
"Aku punya kenalan di asosiasi industri logam. Beri aku waktu satu jam."
Reyhan mengangguk. "Aku tunggu di mobil."
Satu jam kemudian, Kania mengetuk kaca jendela mobil Alena. Reyhan membuka kaca.
"Aku menemukannya," Kania menyerahkan secarik kertas berisi alamat.
"Ini pabrik peleburan logam tua di kawasan industri Pulogadung. Pabrik itu sudah bangkrut lima tahun lalu, tapi bulan lalu ada laporan tentang aktivitas mesin di malam hari. Mungkin itu tempat persembunyian sang pembunuh."
Alena mengambil kertas itu. "Bagus. Reyhan, kita ke sana malam ini."
"Aku ikut," sela Kania cepat.
"Tidak bisa," tolak Alena tegas. "Ini terlalu berbahaya untuk warga sipil."
"Aku yang menemukan alamatnya. Kalau kalian tidak mengizinkanku ikut, aku akan laporkan lokasi ini ke polisi setempat, dan kalian akan kehilangan kesempatan untuk menangkap pembunuhnya lebih dulu." Kania tersenyum licik.
Reyhan mendesah pelan. "Biarkan dia ikut, Alena. Setidaknya kita bisa mengawasinya."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tertutup awan hitam, mobil Alena melaju menuju kawasan industri Pulogadung.
Kawasan itu sangat sepi, dipenuhi oleh pabrik-pabrik tua yang sudah tidak beroperasi.
Mereka berhenti beberapa ratus meter dari pabrik peleburan logam yang menjadi tujuan.
"Kita jalan kaki dari sini," instruksi Alena.
Reyhan, Alena, dan Kania mengendap-endap mendekati bangunan pabrik yang besar dan gelap itu.
Tidak ada penjaga di luar, hanya suara desingan pelan dari dalam bangunan yang menandakan ada mesin yang masih menyala.
"Tempat ini menyeramkan," bisik Kania, sambil merekam menggunakan kamera kecil di ponselnya.
Alena mengeluarkan pistolnya, melangkah maju dengan hati-hati. Reyhan mengikuti di belakangnya, mengaktifkan Skill Observasinya.
Mereka masuk melalui pintu samping yang tidak terkunci.
Di dalam, ruangan sangat gelap. Hanya ada cahaya redup dari sebuah ruangan di ujung lorong pabrik.
Suara desingan mesin terdengar semakin jelas.
Reyhan memberi isyarat agar mereka bergerak perlahan.
Saat mereka semakin dekat dengan ruangan bercahaya itu, bau besi terbakar tercium sangat kuat.
Alena menendang pintu ruangan itu hingga terbuka lebar, mengarahkan pistolnya ke dalam.
"Angkat tangan!"
Namun, ruangan itu kosong.
Tidak ada sang pembunuh bertopeng.
Yang ada hanya sebuah mesin pelebur logam kecil yang sedang menyala merah, dan sebuah meja kerja yang dipenuhi oleh serpihan logam, cetakan topeng, dan beberapa foto.
Reyhan mendekati meja kerja itu.
Jantungnya berdebar kencang saat melihat foto-foto yang tertempel di papan tulis di atas meja.
Itu adalah foto korban pertama (Hendra), korban kedua (Hakim Sudarsono), dan korban ketiga (dr. Tirta).
Namun, ada satu foto besar di tengah papan tulis itu.
Foto Reyhan.
Dan tepat di atas foto Reyhan, ada sebuah pesan yang ditulis dengan cat merah.
"SELAMAT DATANG DI PANGGUNGKU, REYHAN."
Tiba-tiba, suara pintu besi tebal yang menutup dengan keras menggema dari arah lorong.
BLAM!
"Sial! Kita terjebak!" teriak Alena.
Sebuah suara mekanis yang familiar terdengar dari pengeras suara yang terpasang di sudut ruangan.
"Kerja bagus, Detektif. Dan Nona Jurnalis, selamat bergabung dalam permainan."
Suara itu adalah suara sang pembunuh bertopeng.
"Pertunjukan malam ini sangat spesial. Aku menyiapkan sebuah teka-teki kecil untuk kalian bertiga."
Suara desingan mesin pelebur logam tiba-tiba bertambah keras. Suhu di dalam ruangan mulai meningkat dengan cepat.
"Mesin itu akan melelehkan kalian dalam waktu tiga puluh menit. Pintu keluar hanya akan terbuka jika salah satu dari kalian bersedia mengorbankan diri masuk ke dalam tungku peleburan."
"Pilihan ada di tangan kalian."