Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penglihatan Masa Lalu
Dalam rekaman video, tampak seorang gadis sedang berjalan di trotoar yang ada di jalan Sriwijaya. Gadis itu menggendong tas ransel kecil.
Terdapat beberapa gantungan kunci di resleting tas. Tepat pukul 21.49, sebuah tangan membekap gadis itu lalu menyeretnya pergi.
Firlan meminta petugas menyalin rekaman tersebut ke ponselnya. Usai mendapatkan rekaman, pria itu langsung meninggalkan kantor ATCS. Sambil berjalan menuju mobilnya, dia menghubungi Saka.
Saka yang baru saja masuk ke taksinya, mengambil ponsel dari saku celananya. Tertera nama Firlan di layar ponsel. Saka langsung menjawab panggilan tersebut. “Halo.”
“Perempuan yang kamu lihat dalam penglihatanmu, apakah menggendong tas ransel berwarna hitam dengan banyak gantungan kunci?” tanya Firlan tanpa basa-basi.
“Iya, bagaimana kamu tahu? Apa kamu sudah menemukan orangnya?”
“Kamu di mana? Apa bisa bertemu?”
“Bisa. Mau bertemu di mana?”
“Di tempat kemarin saja.”
“Oke, aku ke sana sekarang.”
Setelah panggilan dengan Firlan berakhir, Saka menghubungi terlebih dahulu Dirga sebelum menuju ke kedai kopi kemarin.
Dirga yang masih dalam perjalanan menghentikan dulu mobilnya sebelum menjawab panggilan. “Halo,” jawab Dirga.
“Kamu di mana? Masih antar penumpang?”
“Baru aja antar penumpang. Kenapa?”
“Firlan ngajak ketemuan di tempat kemarin. Dia ada kabar soal perempuan yang aku lihat kemarin. Kamu mau ikut, nggak?”
“Gass. Kita ketemu di sana.”
Setelah panggilan berakhir, keduanya segera menuju kedai kopi tempat pertemuan.
Lima belas menit kemudian, Saka tiba di lokasi tujuan. Baru saja dia keluar dari mobil, Dirga tiba. Pria itu memarkirkan kendaraannya tepat di samping taksi Saka. Keduanya kemudian segera masuk ke dalam kedai.
Lagi-lagi Firlan memilih duduk di lantai dua. Begitu Saka dan Dirga duduk, Firlan langsung menunjukkan rekaman kamera CCTV yang dia dapatkan tadi.
“Apa ini yang kamu lihat?” tanya Firlan.
“Iya, kapan kejadiannya?”
“Tiga hari yang lalu.”
“Hah?” Saka terkejut. Mengapa penglihatan tiga hari yang lalu baru dia dapatkan kemarin?
“Kamu yakin kalau itu terjadi tiga hari yang lalu?” tanya Saka penasaran.
“Iya. Setelah mengecek data orang hilang, aku langsung ke ATCS dan mendapatkan rekaman ini. Aku juga membawakan data orang hilang.
Data yang kubawa sudah kusesuaikan dengan ciri-ciri yang kamu sebutkan. Apa dalam penglihatanmu, kamu melihat wajahnya?”
“Tidak. Aku hanya melihat dia berjalan dari belakang.”
Semua langsung terdiam. Saka masih memikirkan penglihatannya yang sekarang justru merupakan peristiwa yang sudah terjadi.
“Aku masih tidak mengerti kenapa penglihatan yang sekarang justru memperlihatkan kejadian yang sudah berlangsung. Apa jangan-jangan perempuan itu sudah menjadi korban?”
“Jangan terlalu menyimpulkan terlalu cepat. Mungkin saja ingatanmu memang bukan hanya tentang masa depan, tapi masa lalu.”
“Maksudnya gimana?” tanya Saka bingung.
“Aku berpikir begini, penglihatan masa depan memintamu untuk menyelamatkan orang yang terkena musibah. Sementara penglihatan masa lalu membuatmu harus memecahkan kejadian di masa lalu.”
“Ehm … ucapanmu masuk akal juga. Boleh kulihat lagi rekamannya?”
Firlan memberikan ponselnya kepada Saka. Pria itu melihat kembali rekaman tersebut. Dia akan mencoba melatih penglihatannya. Semalaman dia berpikir dan menemukan satu cara. Semoga saja ini berhasil.
Saka berkonsentrasi penuh saat melihat video rekaman CCTV di layar ponsel. Pria itu memusatkan pikirannya hanya pada rekaman itu, tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya.
Apa yang dilakukan berhasil. Saka sekarang mendapat penglihatan. Layar ponsel Firlan berubah. Tayangan rekaman CCTV tadi berganti menjadi adegan penglihatan.
Kali ini, layar ponsel menunjukkan perempuan yang dilihatnya kemarin tergeletak di salah satu ruangan.
Tempat gadis itu berbaring hanya dilapisi kardus bekas. Selain gadis itu, ada perempuan lain di dekatnya. Dua perempuan lainnya yang terbaring tidak jauh darinya.
Penglihatan Saka berakhir. Tak mau menyerah, Saka kembali berkonsentrasi. Penglihatan barusan tidak memberinya petunjuk apa pun.
Berkat usahanya, Saka mendapat penglihatan lagi. Kali ini dia melihat kondisi ruangan di mana perempuan itu berada.
Ruangan tempat perempuan itu berada lebih mirip kamar di sebuah rumah kosong. Lantainya berdebu dan di bagian sudut terdapat sarang laba-laba.
Kemudian Saka melihat bagian depan ruangan. Saka tetap menjaga konsentrasinya agar penglihatannya tidak terputus. Sekarang dia melihat bagian luar rumah. Di sana ada sebuah minimarket dan di sebelahnya ada tempat laundry.
Begitu dia berhasil membaca nama tempat laundry, penglihatannya berakhir. Saka memijat pelipisnya yang terasa pening. Pria itu menundukkan kepala seraya menutup mata untuk mengusir pening yang melanda.
Beberapa menit kemudian pria itu mengangkat kepalanya. Rasa pusingnya sudah sedikit berkurang. Dirga tampak cemas melihat keadaan sahabatnya.
“Kamu nggak apa-apa, Ar?” tanya Dirga cemas.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Saka untuk menenangkan Dirga. “Aku berhasil mendapat penglihatan lagi. Perempuan itu masih hidup. Ada dua perempuan lain yang bersamanya.
Mereka disekap di sebuah ruangan. Aku tebak itu adalah rumah kosong. Di depan rumah itu ada Alifmart dan laundry. Nama laundry-nya KINCLONG.”
“Bagaimana kamu bisa mendapat penglihatan lagi?”
“Aku mencoba berlatih dengan cara berkonsentrasi ke satu masalah. Dan ternyata berhasil. Aku mendapat penglihatan tambahan.
Fokus kita adalah mencari rumah kosong yang di seberangnya ada Alifmart dan laundry KINCLONG.”
Firlan segera menghubungi anak buahnya. Dia memerintahkan anak buahnya melacak di mana saja cabang Alifmart yang ada di kota ini.
Bukan hanya mencari cabang Alifmart, lokasi laundry KINCLONG juga ikut dicari.
Dirga tidak mau kalah. Dia segera mengirimkan pesan di grup sopir PRIMA TAKSI. Sebagai sopir taksi, mereka pasti sudah mengunjungi banyak tempat.
[Mohon informasinya, aku lagi nyari rumah kosong yang diseberangnya ada Alifmart dan laundry KINCLONG. Kalau ada yang tahu, langsung info japri. Terima kasih.]
Saka juga tidak mau kalah. Dia langsung melakukan pencarian di internet. Ternyata cukup banyak Alifmart di kota ini. Saka harus memeriksa satu per satu.
Sambil menunggu kabar, Dirga berinisiatif memesan makanan dan minuman. Untuk mencari perempuan yang ada di penglihatan Saka juga butuh tenaga.
Sambil menikmati kopi dan camilan, Saka terus memeriksa lokasi Alifmart.
Dirga langsung membuka ponselnya begitu ada pesan masuk. Rupanya salah satu rekan kerjanya mengirimkan foto Alifmart yang dimaksud.
[Alifmart yang ini bukan?]
Dirga memperlihatkan foto yang dikirimkan temannya. Saka memperhatikan foto tersebut. Posisi Alifmart dan laundry KINCLONG sama seperti yang dilihatnya.
“Iya. Itu di mana?” tanya Saka.
“Di jalan Tekukur.”
“Kita ke sana sekarang,” ajak Saka.
Saka, Firlan, dan Dirga bergegas meninggalkan kedai kopi tersebut. Mereka menuju jalan Tekukur dengan menggunakan tiga mobil berbeda.
Saat di perjalanan, Firlan menghubungi kantornya dan meminta dikirimkan personel tambahan ke lokasi.
Dalam waktu dua puluh menit, mereka sudah tiba di lokasi. Saka turun lebih dulu. Pandangannya menyapu ke sekeliling.
Posisi Alifmart dan laundry KINCLONG sama seperti dalam penglihatannya. Pria itu kemudian melihat bangunan yang ada di seberangnya.
Saka mendekati tukang parkir yang berdiri di depan Alifmart. “Maaf, Pak. Kalau bangunan di seberang itu, rumah atau kantor?” tanya Saka sambil menunjuk bangunan rumah di seberang Alifmart.
“Rumah. Tapi udah lama kosong.”
“Pemiliknya di mana?” tanya Saka lagi.
“Pemiliknya ada di luar kota.”
“Terima kasih, Pak.”
Saka segera mendekati Firlan dan Dirga lalu menyampaikan informasi yang didapatnya barusan.
“Bagaimana? Apa kita akan langsung masuk?” tanya Dirga tidak sabar. Tiba-tiba saja dia merasa sangat bersemangat.
Saat mereka sedang berdiskusi, Saka melihat ada seseorang mengintip dari balik gorden rumah tersebut. “Ada orang di dalam. Kita masuk aja sekarang!” seru Saka.
***
Kemampuan Saka bertambah nih
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/