Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Ngiung! Ngiung!

Suara sirene memekakkan telinga terdengar bersahut-sahutan di tengah kepulan debu reruntuhan Teater Harapan.

Borgol besi yang terasa sangat dingin langsung mengunci pergelangan tangan Reyhan di belakang punggung.

"Jangan bergerak atau kami tembak!" bentak seorang anggota pasukan taktis bersenjata laras panjang.

Reyhan sama sekali tidak melawan saat tubuhnya didorong dengan kasar menempel ke kap mobil polisi.

"Pelan-pelan, dia tidak bersenjata!" teriak Alena dari arah kiri Reyhan.

Alena juga sedang diborgol paksa oleh dua orang petugas Propam berwajah garang.

"Tutup mulutmu, Detektif pengkhianat," balas salah satu petugas Propam itu dengan nada sangat sinis.

Reyhan menoleh ke arah Alena dan memberikan anggukan kecil dari kejauhan.

"Aku baik-baik saja, Alena."

"Fokus saja pada keselamatanmu sendiri," ucap Reyhan dengan nada tenang untuk meredakan kepanikan wanita itu.

Di kejauhan, Reyhan melihat tubuh Gilang diangkat ke atas tandu ambulans dengan pengawalan yang sangat ketat.

"Kalian tidak bisa menyita peralatanku begitu saja!" terdengar suara Kania berteriak memecah keributan.

"Saya jurnalis independen, saya punya hak liputan yang dilindungi undang-undang!"

Seorang perwira polisi menghampiri Kania dan langsung merampas tas serta kamera DSLR miliknya.

"Anda akan ikut kami ke markas sebagai saksi utama, Nona."

Kania terus meronta, namun ia sengaja melemparkan pandangan penuh arti ke arah Reyhan.

Pandangan itu seolah memberikan sinyal bahwa ia sudah mengamankan data paling penting sebelum polisi tiba.

Reyhan membalasnya dengan senyuman tipis yang nyaris tidak terlihat oleh siapa pun.

Brak.

Pintu mobil tahanan ditutup rapat dari luar.

Reyhan kini terkurung di dalam kegelapan mobil yang melaju membelah malam menuju Mabes Polri.

Empat jam kemudian, di dalam ruang interogasi khusus yang berbau karbol.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Suara jarum jam dinding memecah keheningan ruangan tanpa jendela yang sangat dingin itu.

Reyhan duduk diam di kursi besi yang dipaku permanen ke lantai.

Tangannya masih terborgol erat ke sebuah cincin besi di atas meja.

Ceklek.

Pintu besi ruangan terbuka perlahan dengan suara derit pelan.

Masuklah sosok pria tegap berseragam dinas dengan pangkat bintang satu di pundaknya.

Pria itu adalah Brigadir Jenderal Surya, salah satu petinggi Propam yang ditakuti.

Surya meletakkan sebuah map tebal di atas meja dan duduk tepat di hadapan Reyhan.

"Reyhan Mahardika," sapa Brigjen Surya dengan suara bariton yang berat dan mengancam.

"Aktor figuran rendahan yang tiba-tiba menjelma menjadi dalang terorisme nasional."

Reyhan menatap jenderal itu dengan pandangan kosong yang sangat datar.

"Saya bukan teroris, Jenderal Surya."

"Saya hanya orang yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah setiap kali kejahatan terjadi."

Surya mendengus pelan seolah mendengar lelucon konyol.

Srat.

Jenderal itu membuka map di depannya dan mengeluarkan beberapa lembar foto.

"Jangan bermain-main dengan saya, Reyhan."

"Kami punya ratusan saksi warga sipil yang melihatmu memimpin kerusuhan di kawasan kumuh Sektor Utara."

"Mereka memujamu sebagai Sang Penerus Keadilan dan bersujud di kakimu."

"Bahkan kami sudah mengamankan rekaman videomu yang sedang mengintimidasi Kombes Darmawan sebelum beliau diracun."

Reyhan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi dengan sikap santai.

"Kalau saya memang dalang dari semua ini, untuk apa saya berada di Teater Harapan malam ini?"

"Untuk apa saya hampir mati terkena ledakan bom C4 bersama detektif Anda?"

Surya mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam mata Reyhan.

"Karena itu bagian dari pertunjukanmu untuk menghilangkan jejak, kan?"

"Temanmu yang bernama Gilang itu sudah kami periksa latar belakang keluarganya."

"Dia hanya warga sipil biasa yang tidak punya keahlian militer."

"Tidak mungkin dia bisa merakit bom dan melakukan pembunuhan berantai serumit ini sendirian."

Reyhan tersenyum sinis mendengar kesimpulan prematur dari jenderal tersebut.

Pihak kepolisian jelas ingin menutup kasus ini secepat mungkin demi nama baik institusi.

Mereka butuh kambing hitam yang populer untuk menenangkan kepanikan publik di luar sana.

Dan Reyhan, sang Aktor Kematian yang kini dipuja masyarakat, adalah kandidat yang paling sempurna untuk dieksekusi.

"Jenderal Surya," panggil Reyhan dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat berat.

Wenggg.

Reyhan mengaktifkan Skill Karisma dan Manipulasi Pikirannya secara bersamaan, meski ia membatasi dosisnya karena energinya belum pulih total.

Surya tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri sesaat saat menatap mata hitam pemuda itu.

Ada aura intimidasi yang sangat pekat menguar dari balik tatapan tenang Reyhan.

"Kalian sebenarnya tahu dengan sangat sadar kalau saya bukan pembunuh aslinya."

"Kalian hanya ingin segera menutup kasus ini untuk melindungi nama-nama besar yang ada di balik Yayasan Pelita Hati."

Mata Surya sedikit melebar mendengar nama yayasan tersebut disebut secara gamblang di ruang interogasi.

"Tutup mulutmu sekarang juga."

"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, bocah," desis Surya memperingatkan dengan nada rendah.

"Oh, saya tahu sangat banyak, Jenderal."

"Saya tahu yayasan itu digunakan untuk mencuci uang suap bagi para pejabat penegak hukum, dan mungkin termasuk Anda juga."

"Dan saya tahu persis bahwa Gilang membunuh mereka semua untuk membalas dendam atas kematian ayahnya di teater itu sepuluh tahun lalu."

Brak!

Surya menggebrak meja besi itu dengan keras hingga ruangan bergema.

"Itu semua hanya omong kosong karanganmu untuk lepas dari jerat hukum!"

"Tidak ada satu pun bukti fisik yang mengarah pada tuduhan gila itu!"

Reyhan tersenyum semakin lebar, sebuah senyuman psikopat yang membuat insting Surya merinding.

"Buktinya tertulis jelas di jurnal asli milik Bintang Sanjaya."

"Dan untungnya, jurnal itu sekarang berada di tangan orang yang sama sekali tidak bisa kalian sentuh."

Drrtt. Drrtt.

Ponsel di saku celana dinas Brigjen Surya tiba-tiba bergetar sangat hebat.

Surya menatap Reyhan dengan penuh kecurigaan sebelum mengambil dan mengangkat teleponnya.

"Ada apa? Saya sedang menginterogasi tersangka utama," ucap Surya kesal.

Terdengar suara panik dari seberang telepon yang bisa ditangkap oleh pendengaran Reyhan yang sangat peka.

"Jenderal, gawat darurat!"

"Sebuah portal berita independen baru saja merilis artikel besar-besaran di semua platform digital."

"Mereka membongkar semua alur cuci uang Yayasan Pelita Hati beserta daftar panjang nama penerimanya."

Wajah Surya seketika berubah menjadi sangat pucat pasi.

"Apa katamu?"

"Siapa jurnalis bodoh yang berani merilis berita rahasia itu?!" bentak Surya kehilangan wibawanya.

"Namanya Kania, Jenderal."

"Artikel itu sudah dibagikan jutaan kali oleh netizen dalam waktu kurang dari lima belas menit."

"Masyarakat yang marah sekarang sedang berkonvoi untuk mengepung kantor Yayasan Pelita Hati dan Mabes Polri!"

Surya mematikan teleponnya dengan tangan yang terlihat sedikit gemetar.

Ia perlahan menatap Reyhan yang masih tersenyum tenang di kursinya tanpa rasa bersalah.

"Ini semua ulahmu, kan?" desis Surya dengan napas memburu penuh amarah.

"Kalian sengaja mengatur serangan opini publik ini dari luar sana."

Reyhan mengangkat kedua bahunya dengan santai meski tangannya terborgol.

"Saya sudah bilang berkali-kali, saya bukan dalangnya."

"Tapi saya kebetulan punya sekutu yang sangat benci melihat keadilan dibungkam oleh seragam."

[Ding! Pemberitahuan Sistem.]

Suara mekanik itu tiba-tiba bergema sangat nyaring di dalam kepala Reyhan.

[Reputasi Host kembali mengalami fluktuasi besar.]

[Publik mulai mempercayai narasi konspirasi Yayasan Pelita Hati secara penuh.]

[Perhatian: Sistem Sutradara Tragedi sedang melakukan sinkronisasi pemulihan.]

[Target Gilang diperkirakan akan sadar dari masa kritisnya dalam waktu kurang dari 12 jam.]

Reyhan menyipitkan matanya mendengar laporan terbaru dari sistem tersebut.

"Dua belas jam," batin Reyhan mengevaluasi waktu yang tersisa.

"Kalau Gilang sadar, dia pasti akan langsung menggunakan poin sistemnya untuk memanipulasi bukti-bukti forensik di lapangan."

"Sutradara gila itu tidak akan membiarkanku menang semudah ini hanya dengan sebuah artikel berita."

Brigjen Surya berdiri dari kursinya dengan kasar dan merapikan seragamnya.

"Kau mungkin merasa menang hari ini berkat jurnalis itu, Reyhan."

"Tapi selama kau masih ada di dalam sel penjara kami, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa."

"Kami akan memastikan kau membusuk di ruang isolasi paling bawah tanpa ada yang tahu kabarmu."

Surya berjalan cepat keluar dari ruang interogasi dengan raut wajah murka.

Brak.

Pintu besi itu dibanting sangat keras dan dikunci dari luar.

Ruangan kembali menjadi hening, menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa umur Reyhan.

Reyhan menatap borgol di pergelangan tangannya yang mulai meninggalkan bekas merah.

"Alena pasti sedang mengalami tekanan yang sama beratnya di ruang interogasi Propam sayap kiri."

"Aku hanya berharap dia tidak mengucapkan hal bodoh yang bisa menyudutkannya sendiri."

Reyhan menarik napas panjang dan memejamkan matanya rapat-rapat.

Ia harus menghemat tenaganya dan memulihkan kondisi fisiknya menggunakan kemampuan dari sistem.

Pertarungan selanjutnya bukan lagi adu fisik di jalanan atau kejar-kejaran di gedung tua yang terbakar.

Pertarungan selanjutnya adalah perang narasi, intrik hukum, dan manipulasi bukti di dalam ruang sidang.

Dan Gilang yang memiliki Sistem Sutradara Tragedi pasti sudah menyiapkan naskah balasan yang jauh lebih mematikan saat ia membuka matanya nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!