Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Klien Misterius
Renata membuka pintu hanya sedikit.
Nathan berdiri di luar membawa nampan berisi sup dan biskuit tawar.
“Aku boleh masuk?” tanyanya lagi.
“Hari ini aku capek sekali. Aku mau sendiri dulu.”
Nathan melihat wajahnya, lalu pintu yang tetap tertahan oleh kaki Renata. Ia tidak memaksa.
“Makan beberapa suap. Nampannya kutaruh di sini.”
“Terima kasih.”
“Kalau pusing lagi, panggil Bik Inah.”
Renata menutup pintu setelah Nathan turun. Ia memeriksa kunci laci, memasukkan kuncinya ke dompet, lalu bersandar pada daun pintu.
Malam itu ia tidur dengan satu tangan di atas perut.
Keesokan siang, Renata bekerja dari lantai keamanan Purnama di SCBD. Xavier masih berada di Maladewa, tetapi ia memberi Renata satu ruang kerja sementara untuk menyelesaikan laporan jarak jauh.
Nathan sedang menjalani jadwal penerbangan Angkasa dan setelah itu harus menemui Reno tentang catatan kecelakaan lama. Untuk beberapa jam, ia berada jauh dari kehidupan Renata.
Tania mengirim voice note.
Ren, kamu sedang hamil. Jangan ambil terlalu banyak kerjaan.
Renata membalas sambil menyalakan laptop.
Justru karena hamil, aku harus punya cukup uang untuk pergi.
Pukul dua, resepsionis mengantar seorang perempuan ke ruang rapat. Usianya sekitar akhir tiga puluhan, pakaiannya sederhana tetapi setiap geraknya membuat orang otomatis memberi jalan. Di pergelangan tangan kirinya ada gelang kayu cendana berwarna gelap.
Seorang asisten berjalan setengah langkah di belakang.
“Saya Amanda,” katanya.
Ia tidak menyebut nama belakang.
Renata mempersilakan keduanya duduk. “Tim Purnama bilang Anda meminta konsultan yang menangani proyek luar negeri.”
“Saya meminta JK.”
Jari Renata berhenti di atas tablet.
“Saya nggak mengenal nama itu.”
Amanda menatapnya tenang. “Kalau begitu anggap saya salah orang dan tolak uang muka yang sudah masuk.”
Nominal di layar cukup membiayai perawatan Yolanda selama berbulan-bulan. Namun bukan angka itu yang mengganggu Renata. Perempuan asing tersebut menghubungkan identitas profesionalnya dengan kode yang seharusnya hanya diketahui Tania.
“Dari mana Anda mendapat nama saya?”
“Dari pencarian yang mahal dan sangat terbatas.”
“Siapa lagi yang tahu?”
“Saya dan satu orang yang terikat kerahasiaan keluarga.”
Renata tidak langsung percaya. Ia membuka ruang lingkup permintaan.
Amanda ingin memeriksa kebocoran arsip lama sebuah perusahaan keluarga di luar negeri. Insiden terjadi lebih dari satu dekade lalu. Beberapa data telah berpindah melewati tiga sistem yang kini tidak lagi aktif.
“Tujuan pemeriksaannya?” tanya Renata.
“Menemukan siapa yang mengakses data keluarga.”
“Kenapa sekarang?”
“Saya membayar Anda supaya nggak menanyakan alasan pribadi.”
“Biaya saya membeli kerja, bukan ketaatan buta. Saya perlu tahu apakah hasilnya akan dipakai melanggar hukum.”
Amanda menyodorkan surat kuasa perusahaan dan dokumen kepemilikan arsip. “Anda hanya bekerja pada data yang secara sah kami kuasai.”
Renata memeriksa semuanya sebelum menerima tahap pertama.
Ia menambahkan tiga syarat: tidak menyentuh data pribadi pihak di luar surat kuasa, tidak menyerahkan hasil mentah kepada pihak ketiga, dan semua pencarian dihentikan jika ditemukan perkara aktif yang harus ditangani penegak hukum.
Amanda menerima tanpa menawar. “Saya ingin kebenaran, bukan alat untuk memeras siapa pun.”
“Semua klien bilang begitu.”
“Anda selalu sekeras ini?”
“Hanya kepada orang yang datang mengetahui nama rahasia saya.”
Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di wajah Amanda. Ada kesedihan di sana yang tidak sesuai dengan pembicaraan bisnis.
Di tengah pertemuan, mual mendadak naik. Ia meminta waktu lima menit dan masuk ke toilet. Setelah muntah ringan, Renata membasuh wajah dengan air dingin, mengatur napas, lalu kembali seolah tidak terjadi apa pun.
Amanda menatap pucat di bawah matanya. “Anda sakit?”
“Kelelahan.”
Pandangan Amanda turun sesaat ke tangan Renata, lalu kembali ke wajah. Beberapa kali selama diskusi, ia memperhatikan garis hidung dan mata Renata terlalu lama.
“Ada masalah lain?” tanya Renata.
“Tidak.” Amanda menggenggam gelang kayunya. “Anda mengingatkan saya pada seseorang.”
“Siapa?”
Amanda tidak menjawab.
Setelah kontrak tahap awal ditandatangani, ia menyerahkan kartu nama pribadi. Ujung jarinya berhenti sepersekian detik di punggung tangan Renata.
“Saya ingin bertemu lagi setelah Anda melihat arsipnya.”
“Melalui jadwal resmi.”
Amanda mengangguk dan pergi bersama asistennya.
Begitu pintu lift tertutup, Amanda menarik napas yang sejak tadi ditahan.
“Wajahnya mirip,” bisik asistennya.
“Mirip bukan bukti.”
“Usianya juga cocok.”
Amanda menutup mata. Bertahun-tahun ia mengejar jejak yang selalu berakhir pada dokumen palsu atau keluarga yang berharap uang. Kali ini, perasaan mengenali seseorang muncul sebelum satu bukti pun lengkap.
Ia menggenggam gelang kayu cendana, peninggalan keluarga yang selalu dipakai saat mencari.
“Jangan beri tahu Papa,” katanya. “Belum.”
“Kalau memang dia...”
“Aku nggak akan membiarkan keluarga datang dan menakutinya sebelum yakin.”
Amanda keluar dari lift dengan mata yang kembali terkendali. Pertemuan berikutnya harus memberi alasan wajar untuk melihat tanda yang selama ini hanya ada dalam ingatannya.
Renata membalik kartu tersebut.
Di belakangnya tercetak lambang Mystara dan nama lengkap Amanda Tanuwijaya.
Renata pernah melihat lambang itu di laporan perusahaan keluarga terkaya di kawasan. Ia menatap pintu yang baru tertutup.
“Tanuwijaya,” gumamnya. “Untuk apa orang seperti dia mencari saya?”
Untuk pertama kalinya, pekerjaan yang ia terima demi kebebasan justru membuka pintu menuju masa lalu yang bahkan tidak pernah ia ketahui dan mungkin tidak siap ia hadapi.