Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Malam makin merambat pekat di Sayap Timur Istana Blackwood. Angin dingin meniup gorden beludru emas di dalam kamar megah Pangeran Arthur, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas dinding marmer.

Pintu kamar berukir itu sengaja dibiarkan tidak terkunci dari dalam—sebuah celah kecil yang disiapkan Arthur dengan jantung berdebar kencang, menantikan kehadiran Snow sesuai pesan tersiratnya tadi siang.

Suara gemericik air dari kamar mandi utama terdengar samar. Di dalam sana, Arthur membiarkan air hangat membilas tubuh tegapnya yang dipenuhi ketegangan.

Benaknya tak henti-hentinya membayangkan detik-detik saat Snow melangkah masuk, menerima penjelasannya, dan akhirnya bersedia berada di dalam pelukannya tanpa batas dingin yang merintangi.

Namun, di luar kamar mandi, daun pintu utama perlahan terdorong.

Bukan Snow yang melangkah masuk ke dalam kamar bertabur aroma kayu cendana itu. Melainkan Savea.

Dengan langkah pelan tanpa suara, Savea menyusup masuk. Wajahnya yang pucat polesan bedak tipis tampak kontras dengan balutan lingerie merah sutra yang luar biasa tipis dan transparan, mengekspos hampir seluruh lekuk tubuhnya.

Matanya yang merah dan berbingkai lingkaran hitam memancarkan kebingungan yang bercampur dengan rasa haus akan pembalasan. Ia menatap sekeliling kamar suaminya yang sangat jarang diinjaknya, lalu perlahan duduk di tepi ranjang king-size berlapis sprei abu-abu tersebut.

Klek.

Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menguar keluar membasahi udara malam.

Arthur melangkah keluar hanya dengan selembar handuk putih yang melilit pinggang kekatnya. Tetesan air dari rambut gelapnya jatuh melintasi dadanya yang bidang.

Tanpa melihat secara jelas sosok yang duduk membelakanginya di tepi ranjang dalam temaram lampu dinding, sebuah senyuman hangat dan nada suara yang amat lembut meluncur begitu saja dari bibir sang Pangeran.

"Snow... kau akhirnya datang?" tanya Arthur penuh kerinduan.

Langkah kaki Arthur mendadak terhenti kaku. Sosok yang perlahan membalikkan badan di atas ranjang bukanlah wanita bermata bening yang dirindukannya setengah mati, melainkan istrinya sendiri—Savea, yang menatapnya dengan senyum miring yang teramat mengerikan.

Raut wajah Arthur berubah drastis dalam satu detik. Ketenangan dan kehangatan di matanya hilang, berganti menjadi kilatan jijik dan murka yang membekukan udara.

"KELUAR!" bentak Arthur dengan suara rendah yang menggelegar, menunjuk lurus ke arah pintu.

"TIDAK!" sergap Savea cepat, tidak bergeser sedikit pun dari ranjang. Tawa pelan yang dingin keluar dari tenggorokannya. "Aku tidak akan keluar, Arthur! Kenapa? Kau terkejut? Kau mengharapkan kehadiran seorang jalang murahan yang melayani tubuhmu di atas tempat tidurmu malam ini, hm?"

Arthur mengepalkan tangannya rapat-rapat, urat-urat di lehernya menegang. "Kubilang keluar dari kamarku, Savea!"

Savea bangkit berdiri, melangkah mendekati Arthur tanpa rasa takut sedikit pun. "Bagaimana kalau kabar manis ini didengar oleh para menteri dinasti, Arthur? Seorang Pangeran Blackwood yang agung berselingkuh dengan seorang pelayan murahan tepat di bawah atap istana kerajaan?!"

Deg.

Arthur terkekeh sinis, menyunggingkan senyum penuh kejelakan. "Coba saja. Lempar tuduhanmu dan lihat siapa yang akan dipercayai dewan. Sekarang, keluar dari kamarku sebelum aku memanggil pengawal!"

Namun, bukannya takut, Savea justru melakukan aksi gila. Kedua tangannya secara mendadak meraih bagian depan lingerie tipisnya dan merobeknya dengan kasar hingga kain sutra itu terkoyak di bagian dada.

Pemandangan liar itu ia pamerkan tanpa rasa malu sedikit pun saat ia terus maju mengikis jarak dengan Arthur.

"Aku tidak ada bedanya dengan Snow!" jerit Savea dengan suara tercekik, napasnya memburu gila. "Snow itu murahan, Arthur! Dia hanya pelayan! Kenapa kau begitu menginginkannya?!"

"Cukup hentikan pembicaraan gilamu, Savea!" bentak Arthur tajam, melangkah mundur untuk menghindari sentuhan wanita itu. "Keluar dari kamarku sekarang juga!"

"Tidak!" Savea menerjang maju, berusaha mengikis jarak dan merengkuh pinggang telanjang Arthur. "Aku akan melayanimu malam ini! Kau hanya milikku, Arthur! Hanya milikku!"

Savea bertingkah bak wanita yang kerasukan rasa haus akan kepemilikan. Dengan jemarinya yang gemetaran, ia berusaha meraba dada bidang suaminya, memajukan wajahnya untuk mendaratkan kecupan dan hisapan kasar di leher tegap Arthur.

Namun, Arthur dengan sigap menepis tangan Savea secara kasar, terus bergerak mundur menjauhi ranjang sembari meraih kemeja hitam di atas kursi dan mengenakannya cepat.

Savea tak menyerah. Dengan lingerie yang telah robek dan rambut terurai acak-acakan, ia kembali melompat mendekat, menangkup wajah Arthur dan berusaha menyatukan bibir mereka secara paksa.

Srett!

Kilatan perak memotong udara temaram. Sebelum bibir Savea sempat menyentuh permukaan kulitnya, sebuah pisau taktis bermata dua yang dingin dan tajam telah bersandar tepat di atas pembuluh darah leher Savea.

Arthur menatapnya dari jarak beberapa sentimeter dengan mata sehitam jelaga—dingin, hampa, dan tanpa sedikit pun keraguan untuk membunuh.

"Keluar sendiri..." desis Arthur dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan, "...atau kepalamu yang keluar lebih dulu dari ruangan ini?"

Deg.

Savea mematung sempurna. Bilah pisau yang menempel ketat di kulit lehernya membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata Arthur, mencari sedikit saja sisa-sisa kehangatan dari pria yang pernah menjadi sahabatnya dulu. Namun yang ditemukannya hanyalah jurang kegelapan yang tak berdasar.

Pilu yang teramat besar mendadak merayapi seluruh rongga dada Savea. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya meleleh deras, membasahi pipinya yang pucat, merusak polesan bedak tipisnya.

"Kau... kau benar-benar tidak pernah melirikku sedikit pun, kan, Arthur?" bisik Savea dengan suara parau yang amat melankolis, dadanya naik turun tersengal oleh rasa sakit hati yang luar biasa. "Tiga tahun kita menikah... tiga tahun aku menyandang gelar sebagai istri sahmu..."

Arthur tidak menurunkan pisaunya sedikit pun. "Kau tahu pernikahan ini sejak awal hanyalah kesepakatan formalitas."

"Formalitas?!" jerit Savea lirih dengan air mata yang terus mengalir deras. "Tahu tidak kau, Arthur?! Keperawananku... kehormatanku sebagai seorang wanita... aku serahkan pada tabung medis dingin di laboratorium! Hanya demi proses bayi tabung gila yang kau setujui itu! Aku menyerahkannya pada alat-alat besi karena suamiku sendiri bahkan tidak sudi menyentuh kulitku satu kali pun!"

Isak tangis Savea pecah di tengah temaram kamar. Suaranya terdengar begitu hancur, meratapi harga dirinya yang telah rata dengan tanah.

"Apa kurangnya aku, Arthur?!" tangis Savea memohon, jemarinya yang gemetaran menunjuk dadanya sendiri. "Aku mencintaimu sejak kita masih remaja! Aku memberikan segalanya untukmu! Apapun yang kau minta, aku penuhi! Tapi kenapa kau selalu menatapku seolah-olah aku ini sampah yang menjijikkan?!"

Arthur menatap wanita di hadapannya tanpa goyah. Tidak ada rasa iba, hanya ada kepahitan dari kenyataan yang terdistorsi.

"Kau memaksakan kehendakmu sendiri sejak awal, Savea," balas Arthur dingin, suaranya menusuk tepat di ulu hati Savea. "Obsesi gilamu untuk memilikiku telah merugikan banyak orang, menghancurkan hidupmu sendiri, dan merusak segalanya. Cinta yang dipaksakan bukanlah cinta... itu racun."

Savea terdiam. Kalimat Arthur bergaung keras di kepalanya, meremukkan sisa-sisa harapan terakhirnya menjadi abu.

Lalu, di tengah histeria dan air mata yang membasahi wajahnya, raut muka Savea perlahan berubah. Isak tangisnya mendadak berhenti. Sebuah tawa pelan muncul dari tenggorokannya, makin lama makin kencang, hingga menjadi tawa meledak yang teramat gila dan mengerikan.

"Hahaha... HAHAHAHA!" Savea tertawa histeris, menepis pelan ujung pisau Arthur tanpa peduli kulit lehernya tergores tipis dan mengeluarkan darah segar.

"Orang seperti mu tidak akan pernah memiliki anak, Arthur!" jerit Savea dengan mata melotot gila, menunjuk wajah suaminya. "Lihat dirimu?! Kau pikir Ocean itu putramu?! Ha?!"

Arthur menyipitkan matanya tajam. "Apa maksudmu?"

"Ocean BUKAN putramu, Bajingan!" raung Savea penuh kemenangan gila. "Bayi dari benihmu dari rahimku itu sudah MATI! MATI Tiga bulan yang lalu! Dan kau tahu kenapa?! Itu karena kau tidak pernah mencintaiku! Takdir dan alam pun menolak keturunan dari pria dingin seperti mu!"

DUARRR!

Bagaikan hantaman petir di siang bolong, dunia Arthur serasa berhenti berputar. Jantungnya berdesir hebat, darah di seluruh tubuhnya mendadak membeku. Kata-kata Savea menghantam benaknya dengan daya rusak yang luar biasa.

"Apa yang kau katakan...?" Arthur berusaha keras mengendalikan nada suaranya yang mulai bergetar hebat, meski jemarinya yang memegang gagang pisau tampak goyah. "Kau sudah benar-benar gila, Savea! Kau membual!"

"Ya! Aku memang gila karena mu, Arthur!" jerit Savea tanpa ampun, melangkah mendekati Arthur dengan wujudnya yang berantakan bagai iblis. "Kau ingin tahu kebenaran soal Snow?! Ha?! Snow... wanita jalang murahan yang kau puja-puja itu... dia telah ditinggalkan oleh kekasihnya di luar sana karena dia menjadi pelacur murahan!"

Mata Savea menyala-nyala oleh kepuasan dendam saat melihat raut wajah Arthur yang mulai retak.

"Kau membanggakan wanita itu?!" desis Savea tepat di depan wajah Arthur. "Kau menyembah ibu susu itu?! Padahal kau hanya memungut bekas dari banyak pria di luar sana yang telah menikmati tubuhnya—"

"TUTUP MULUTMU, SIALAN!" teriak Arthur menggelegar, gema kemurkaannya sanggup memecahkan keheningan malam di seluruh Sayap Timur.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!